Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Pilu Shah Jahan di Balik Megahnya Taj Mahal




Mungkin banyak dari kalian yang sudah mengetahui bahwa Taj Mahal adalah monumen yang dibangun Shah Jahan untuk mengenang istri tercintanya Mumtaz Mahal yang meninggal setelah melahirkan anak mereka. Tetapi mungkin sebagian masih belum megetahui kesedihan yang dialami Shah Jahan rupanya tidak cukup sampai di sana. Lima tahun setelah Taj Mahal selesai dibangun, ia harus merasakan pengkhianatan dari orang yang terdekatnya....

Taj Mahal adalah monumen marmer putih menakjubkan yang terletak di tepi selatan Sungai Yamuna di kota Agra, Uttar Pradesh, India. Bangunan bersejarah ini dibangun oleh Kaisar Mughal yang bernama Shah Jahan yang dipersembahkan untuk mendiang istri tercintanya Arjumand Banu Begum atau Mumtaz-ul-Zamani atau yang lebih populer dikenal sebagai Mumtaz Mahal.

Taj Mahal merupakan maha karya di bidang arsitektur. Pembangunannya membutuhkan waktu 21 tahun yaitu dimulai sejak tahun 1632 dan akhirnya selesai pada tahun 1653. 

Menempati area kompleks seluas 42 hektar, monumen indah ini dianggap sebagai salah satu Keajaiban Dunia Baru. Arsitekturnya adalah perpaduan antara arsitektur Mughal dengan Persia. Taj Mahal yang juga terdapat di dalamnya wisma dan masjid ini memiliki kesempurnaan simetri, keindahan struktural, kaligrafi rumit yang menakjubkan, hiasan batu permata, dan taman yang indah bersatu padu di satu bangunan.



Taj Mahal boleh dikatakan lebih dari sekedar makam, ia adalah pernyataan cinta abadi dari Shah Jahan kepada belahan jiwanya Mumtaz Mahal.


Kisah Cinta Shah Jahan dan Mumtaz Mahal

Shah Jahan lahir pada tahun 1592. Pada tahun 1607 cucu Akbar Agung ini pertama kali bertemu dengan pujaan hatinya. Pada saat itu Shah Jahan yang masih remaja belum menjadi kaisar kelima Kekaisaran Mughal. Kerajaan itu masih dibawah kekuasaan ayahnya, Jahangir.

Baca juga: Babur, Kaisar Ajaib Pendiri Kerajaan Mughal

Shah Jahan muda saat itu dipanggil Pangeran Khurram. Dalam sebuah acara istana, Pangeran Khurram bertemu dengan Arjumand Banu Begum yang kelak akan menjadi istrinya. Wanita muda yang berusia 15 tahun merupakan putri dari calon perdana menteri, sementara bibinya akan menikah dengan ayah Pangeran Khurram.

Meskipun keduanya telah jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi keduanya tidak diizinkan untuk segera menikah. Pangeran Khuram harus menikah terlebih dahulu dengan Kandahari Begum. 

Pada tanggal 27 Maret 1612, Pangeran Khurram akhirnya menikah dengan pujaan hatinya yang kemudian dikenal sebagai Mumtaz Mahal. Mumtaz Mahal sendiri adalah istri ketiga Shah Jahan tetapi wanita inilah yang paling dicintainya.

Mumtaz Mahal dan Shah Jahan

Mumtaz Mahal adalah sosok wanita cantik, berhati lembut, dan juga cerdas. Rakyat suka padanya. Ia juga dikenal sangat peduli pada orang miskin dan sering memberikan makanan dan juga uang pada mereka.

Dalam pernikahannya, pasangan ini mendapatkan 14 anak tetapi hanya 7 di antaranya yang bertahan hidup melewati masa bayi. Saat itu bayi dan anak-anak rentan sekali meninggal dunia. Tetapi saat melahirkan anak ke-14 itulah, Mumtaz Mahal meninggal dunia.

Baca juga: 7 Sejarah Gelap Dinasti Mughal


Kematian Mumtaz Mahal, Kesedihan Seumur Hidup Shah Jahan

Pada tahun 1631 atau tiga tahun setelah pemerintahan Shah Jahan berjalan, terjadi sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Khan Jahan Lodi. Shah Jahan membawa pasukannya ke Deccan, sekitar 400 mil dari Agra, untuk menghancurkan pemberontakan tersebut.

Mumtaz Mahal seperti biasanya menemani sang suami meskipun saat itu ia tengh hamil besar. Pada tanggal 16 Juni 1631, di tengah-tengah pertempuran itu ia melahirkan bayi perempuan yang sehat di tendanya di tengah-tengah perkemahan kerajaan. Bayi perempuan itu dinamai Gauhara Begum. Awalnya semua tampak baik-baik saja, tetapi tampaknya telah terjadi masalah saat persalinannya.

Shah Jahan yang menerima kabar tentang kondisi istrinya segera bergegas pergi menuju tenda. Pagi-pagi sekali pada tanggal 17 Juni atau keesokan harinya setelah melahirkan putrinya, Mumtaz Mahal meninggal dunia. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan suaminya.



Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Shah Jahan saat itu. Sebuah sumber mengatakan bahwa Shah Jahan sedih luar biasa karena kematian Mumtaz Mahal. Dia pergi ke tenda dan menangis sejadi-jadinya di sana. Mumtaz Mahal lalu dimakamkan dengan cara Islam di dekat perkemahan di Burbanpur.

Pada Desember 1631, Khan Jahan Lodi menang atas pertempuran dengan kaisar. Tak ada yang diminta Shah Jahan sebagai pihak yang kalah. Ia hanya minta agar bisa membawa tubuh istrinya yang dikuburkan di tanah itu. Makam Mumtaz Mahal kemudian digali dan jasadnya dibawa sejauh 700 km ke Agra. Di sana Mumtaz Mahal kembali dimakamkan dengan prosesi pemakaman besar dengan melibatkan ribuan tentara dan pelayat.

Mumtaz Mahal dimakamkan pada 8 Januari 1632 di tanah yang disumbangkan oleh Raja Jai Singh. Di tempat inilah kelak Taj Mahal dibangun.


Pembangunan Taj Mahal

Kesedihan sepertinya tidak pernah pergi dari Shah Jahan setelah kepergian mendiang istrinya. Ia lalu berniat membangun sebuah monumen untuk mengenang istrinya. Ia mencurahkan segalanya untuk merancang sebuah makam yang megah, mahal, sekaligus rumit, namun indah. Bangunan ini dipersembahkan tak lain untuk Mumtaz Mahal.

Arsitek yang membangun Taj Mahal adalah Ahmad Lahauri, tetapi diyakini bahwa Shah Jahan sendirilah yang merancang bangunan indah ini. Ia juga dibantu oleh sejumlah arsitek terbaik pada masa itu di Agra.

Kekaisaran Mughal saat itu adalah salah satu kekaisaran terkaya di dunia terutama pada masa pemerintahan Shah Jahan. Ini artinya sang kaisar punya sumber daya yang lebih dari cukup untuk membangun sebuah monumen megah.

Baca juga: Kisah di Balik Kastil Neuschwanstein

Untuk mempercepat proses pembangunan, sekitar 20.000 orang pekerja dilibatkan dalam pembangunan ini. Pembangunan pertama kali dilakukan dengan mendirikan pondasi dan kemudian membuat landasan raksasa sepanjang 624 kaki. Ini akan menjadi dasar dari bangunan Taj Mahal dan sepasang bangunan batu pasir merah akan mengapitnya, yaitu masjid dan wisma.

Taj Mahal menggunakan desain perpaduan arsitektur Mughal dan Persia. Pembangunan dan rancanganTaj Mahal juga terinspirasi dari bangunan Timurid, Makam Humayun, Makam Itmad-Ud-Daulah, dan Masjid Jama milik Shah Jahan di Delhi.

Marmer putih adalah salah satu fiur yang paling mencolok dan menonjol dari Taj Mahal. Marmer yang digunakan unuk pembangunan secara khusus digali di Makrana, 200 mil jauhnya dari Agra. Dilaporkan butuh 1.000 gajah dan lembu yang untuk membawa marmer-marmer yang sangat berat itu menuju ke lokasi pembangunan.

Kisi-kisi marmer pada Taj Mahal

Pada bagian atas Taj Mahal terdapat kubah bercangkang ganda besar yang membentang 240 kaki dan juga ditutupi oleh marmer putih. Sebenarnya masih ada detail dan kerumitan yang membuat Taj Mahal sangat istimewa.



Di masjid, wisma, dan gerbang utama di ujung selatan kompleks terdapat kaligrafi ayat-ayat Al-Quran. Shah Jahan menyewa ahli kaligrafi terbaik bernama Amanat Khan untuk mengerjakan kaligrafi yang indah ini. Kaligrafi itu bertahtakan marmer hitam. Meski terbuat dari batu, lekuknya meniru tulisan tangan asli.



Selain kaligrafi itu ada detail menakjubkan lainnya yaitu bunga hias halus yang ditemukan di seluruh kompleks Taj Mahal. Pemotongan batu yang mengukir desain bunga yang rumit ke dalam marmer putih dan kemudian menatanya dengan batu-batu berharga untuk membentuk tanaman merambat dan rangkaian bunga adalah maha karya yang sangat mengagumkan.



Arsitektur yang menakjubkan itu seolah bertambah sempurna dengan empat sungai air yang berkumpul di kolam pusat Taj Mahal. Kebun dan sungai dipenuhi oleh air dari Sungai Yamuna melalui sistem air bawah tanah yang rumit. Secara keseluruhan, pembangunan Taj Mahal pada tahun 1653 memakan biaya sekitar 32 juta rupee.



Kematian Shah Jahan

Shah Jahan tetap berkabung setelah kepergian istrinya dan ia tidak pernah sepenuhnya pulih dari duka. Lima tahun setelah Taj Mahal rampung, putranya, aurangzeb, mengambil alih kekuasaan. Aurangzeb membunuh tiga kakak laki-lakinya dan memenjarakan ayahnya sendiri demi duduk di singgasana raja.

Shah Jahan kemudian dipenjarakan di Benteng Merah di Agra pada tahun 1658, tak lama setelah Aurangzeb naik tahta. Pria tua itu dilarang untuk meninggalkan tempat Benteng Merah. Shah Jahan menghabiskan 8 tahun terakhir hidupnya di dalam sana sambil menatap keluar pada sebuah jendela kecil. Melalui jendela itulah ia bisa melihat Taj Mahal. 

Shah Jahan meninggal dunia pada 22 Januari 1666. Aurangzeb meminta ayahnya dimakamkan dengan Mumtaz Mahal di ruang bawah tanah di bawah Taj Mahal.

Baca juga: 7 Makam Paling Misterius di Dunia



Pada tahun 1800-an ketika Inggris masuk ke India dan berhasil menggulingkan Kekaisaran Mughal, Taj Mahal menjadi sasaran penjarahan karena keindahannya. Orang-orang itu memotong batu permata yang ada di dinding, mencuri lilin dan pintu dari perak, bahkan beberapa orang berusaha menjual marmer putih ke luar negeri.

Tetapi untunglah Gubernur Jenderal India yang saat itu menjabat, Lord Curzon, menaruh perhatian lebih pada kelestarian bangunan ini. Alih-alih menjarah Taj Mahal, Curzon justru memerintahkan untuk melakukan perbaikan untuk membuat Taj Mahal seperti sedia kala.

Selama bertahun-tahun Taj Mahal menjadi destinasi wisata yang dikunjungi 7-8 juta orang setiap tahunnya (2014). Setiap sebulan sekali, pengunjung memiliki kesempatan untuk melakukan kunjungan singkat selama bulan purnama untuk melihat bagaimana Taj Mahal tampak bersinar dari dalam ke luar di bawah sinar rembulan. Taj Mahal sendiri telah ditetapkan sebagai Daftar Warisan Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1983.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Taj_Mahal
https://id.wikipedia.org/wiki/Shah_Jahan
https://www.thoughtco.com/the-taj-mahal-1434536
https://www.bbc.com/news/world-asia-india-27970693

Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

Post a comment for "Kisah Pilu Shah Jahan di Balik Megahnya Taj Mahal"