Sejarah Spartacus, Gladiator yang Memimpin Pemberontakan Budak




Banyak orang menduga bahwa Spartacus adalah tokoh fiktif, tetapi sebenarnya sama halnya seperti Alexander Agung atau pun Julius Caesar, dia adalah tokoh sejarah yang benar-benar ada. Sejarah kehidupan Spartacus memang tidak begitu banyak diketahui, terutama sebelum Perang Budak Ketiga. Namun kisah hidupnya yang legendaris, mulai dari menjadi budak, gladiator, hingga memimpin pemberontakan begitu sangat fenomenal hingga menginspirasi banyak buku, film, dan cerita modern sampai saat ini. 

Spartacus: Dari Seorang Budak, Gladiator, Lalu Menjadi Pemberontak 

Spartacus lahir pada tahun 109 SM di daerah sekitar aliran sungai Strymon. Menurut sejumlah sumber, Spartacus berasal dari Thrace (Thrakia) yaitu sebuah daerah di Eropa tenggara (sekarang terpecah antara Bulgaria, Yunani, dan Turki) yang tertindas oleh bangsa Romawi pada abad pertama Sebelum Masehi.

Spartacus

Spartacus pernah bertugas di unit tambahan Angkatan Darat Romawi. Menurut berbagai sumber, Spartacus diambil oleh legiun Romawi di wilayah Laut Hitam, kemudian ia dijual sebagai budak kepada seorang pria bernama Gnaeus Cornelius Lentulus Batiatus yang kadang-kadang disebut "Vatia".

Vatia rupanya memiliki sekolah gladiator yang berada di Capua (dekat gunung Vesuvius), sekitar 120 mil (193 km) tenggara Roma.

Baca juga: Letusan Dahsyat Gunung Vesuvius dan Binasanya Pompeii

Ketika berada di sekolah tersebut pada tahun 73 SM, Spartacus melarikan diri dari barak gladiator bersama dengan sekitar 70 rekannya yang juga gladiator. Beberapa di antara mereka adalah Crixus, Gannicus, Cactus, dan Oenomaus.



Sebelum melarikan diri, mereka melengkapi diri dengan pisau, parang, dan senjata lainnya yang mereka dapatkan dari dapur. Pelarian inilah yang nantinya akan berujung pada pemberontakan budak yang kemudian dikenal sebagai Perang Budak Ketiga yang terjadi pada tahun 73-71 SM. Pemberontakan ini, yang ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai contoh orang-orang yang tertindas yang berjuang untuk kebebasan mereka melawan oligarki yang memiliki budak, telah memberikan inspirasi bagi banyak pemikir politik.

Spartacus dan rombongan ini kemudian menuju hutan di sekitar Gunung Vesuvius. Gunung itu ditutupi dengan tanaman merambat dan memiliki tanah pertanian subur di dekatnya. Kondisi gunung ini sangat cocok dijadikan sebagai tempat berlindung. Di sana mereka sekaligus juga berlatih keterampilan bertempur yang belum sempurna. Spartacus diyakini telah memimpin pemberontakan para gladiator ini bersama dengan Gannicus, Cactus, Crixus dan Oenamus.

Rombongan ini memutuskan untuk melanjutkan pemberontakandan mereka berhasil memenangkan setidaknya 9 kemenangan besar atas Romawi.

Awalnya, Roma tidak menganggap tentara budak ini sebagai kekuatan serius. Mereka bahkan tidak mengirimkan pasukan untuk melawan mereka. Pada saat itu, militer Romawi tengah bertempur di Spanyol, Eropa Tenggara dan Kreta. Selain itu kelompok budak yang melarikan diri tidak dianggap sebagai tantangan serius bagi tentara Romawi, jadi mereka tidak begitu mengambil perhatian.



Namun selagi Roma masih belum menyadari kekuatan Spartacus dan tentara budak, mereka telah berhasil merekrut lebih banyak budak untuk bergabung. Pada puncaknya pasukan ini diyakini memiliki kekuatan 90.000-120.000 orang. Dalam perjalanan mereka, Spartacus, Crixus, dan Oenomaus melakukan penggerebekan dan merekrut budak di pedesaan.

Roma bergetar oleh rumor yang merebak pada tahun 73 SM bahwa kota itu akan diserang oleh pasukan gladiator dan para budak yang memberontak. Berita tentang pasukan Romawi yang dibanggakan telah dikalahkan, menyebar hingga ke penjuru kota. Berita tentang kekejaman terhadap mereka menjadi pembicaraan dan meneror publik. Nama pemimpin pemberontakan itu tak lain adalah Spartacus. Spartacus segera menjadi terkenal seantero Romawi.

Baca juga: Misteri Lenyapnya Legiun ke-9 Tentara Romawi

Pemberontakan budak sebenarnya bukanlah hal baru di Roma. Kekejaman yang ekstrem terhadap para budak memang telah lama memicu pemberontakan misalnya saja yang terjadi di pulau Sisilia pada tahun 135 SM. Saat itu lebih dari 70.000 budak mengangkat senjata dan memerangi milisi lokal. Tetapi pemberontakan itu dapat teratasi dua tahun kemudian saat pasukan Romawi menang atas para pemberontak.



Spartacus menganjurkan untuk melintasi pegunungan Alpen untuk menjaga jarak antara mereka dan tentara Roma demi menemukan jalan menunju kebebasan mereka. Pada saat itu, komandan Crixus rupanya ingin menyerang Roma sendiri, di mana sejumlah besar budak kemungkinan besar akan meningkatkan barisan mereka. Crixus terputus dari pasukan utama, membawa 30.000 orang bersamanya dan mulai menyerbu pedesaan. Namun malang, ia dan pasukannya dapat dikalahkan. Crixus terbunuh dalam penyerangan tersebut.

Orang-orang Romawi mengutus seorang praetor bernama Gayus Claudius Glaber dan seorang pria bernama Publius Valerius untuk membentuk pasukan guna menghancurkan para budak. Pasukan Glaber tidak mencoba untuk menyerang Spartacus. Sebagai gantinya mereka memblokir jalan utama ke Vesuvius, mendirikan kemah dan mencoba membuatnya mereka kelaparan dengan blokade.

Tak mau kalah, Spartacus mengambil inisiatif memerintahkan budak-budaknya yang baru dibebaskan untuk membuat tali dari tanaman merambat liar yang banyak terdapat di sana sehingga mereka dapat bergerak menuruni lereng gunung ke tempat yang tidak dijaga tentara Romawi. Sementara itu, tentara Romawi yang masih di kemah tidak menyadari apa para budak tengah lakukan.

Para budak kemudian mengepung para tentara itu dan mengejutkan mereka dengan serangan mendadak. Ketika orang-orang Romawi melarikan diri, para budak merebut tenda mereka. Keberhasilan ini membuat banyak budak baru lainnya berbondong-bondong bergabung ke pasukan Spartacus.

Pertumbuhan kekuatan dan orang-orang yang mengikuti Spartacus makin besar. Sepanjang pemberontakannya, pasukannya menghabiskan sebagian besar waktu di daerah pedesaan dan kota-kota kecil, di mana banyak budak berada di sana. Mereka kemudian segera bergabung dengan Spartacus. Selain itu, Spartacus juga rupanya membagi rampasan dalam setiap pertempuran bagi para budak yang membuat perekrutan menjadi semakin mudah. Spartacus juga bahkan berhasil mendapatkan orang-orang yang bukan budak untuk ikut bergabung dalam pemberontakannya.



Spartacus terus menyergap dan mengalahkan unit-unit Romawi sambil membebaskan para budak di pedesaan dan juga mengumpulkan perbekalan. Sementara itu, senat Roma mengirim pasukan besar yang dipimpin oleh konsul Lucius Gellius Publicola dan Gnaeus Cornelius Lentulus Clodianus. Mereka berdua masing-masing mungkin telah memerintahkan 10.000 orang pasukan.

Pada musim semi 72 SM, Spartacus memiliki 40.000 pasukan. Tetapi pasukan Romawi di bawah Gellius mengejar Crixus, membunuh pemimpin bersama banyak pemberontaknya. Gellius kemudian melanjutkan untuk maju dari selatan dan Lentulus melaju dari utara. Spartacus terjebak di antara dua pasukan yang kemungkinan dilengkapi dengan senjata dan baju besi yang lebih baik daripada yang mereka miliki.

Baca juga: 10 Rentetan Kegilaan dan Kekejaman Kaisar Nero dari Romawi

Tetapi satu hal yang tampaknya tidak diperhitungkan oleh komandan pasukan Romawi adalah Spartacus telah membentuk pasukan kavaleri yang cukup besar beberapa bulan sebelumnya. Orang Thracia memang dikenal sebagai penunggang kuda yang hebat dan juga mampu menjinakkan kuda liar. Gellius kemudian dapat dikalahkan oleh Spartacus.



Setelah mengalahkan pasukan Romawi lainnya yang dipimpin oleh Gayus Cassius, pasukan Spartacus sekarang bebas untuk mendaki Alpen dan pergi ke Gaul, Thrace atau daerah lain yang bebas dan tidak dikendalikan oleh Roma.

Namun karena alasan yang tidak pernah diketahui, Spartacus entah mengapa justru memilih untuk tidak melakukan itu. Ia justru memilih kembali ke Italia. Mengapa dia melakukan blunder semacam ini masih menjadi misteri sejarah yang belum terjawab.

Apapun alasannya, Spartacus memimpin pasukannya kembali ke selatan, melewati Italia mengatasi perlawanan di sepanjang jalan, sampai mereka tiba di di Selat Messina, dengan harapan mereka bisa menyeberang ke Sisilia, sebuah pulau pertanian dengan banyak budak yang menunggu untuk dibebaskan.

Namun ternyata Spartacus menemukan masalah saat melintasi selat Messina karena selat itu sangat kecil. Saat itu musim dingin 72-71 SM. Spartacus membutuhkan 2 kapal untuk dapat mendaratkan pasukan maju melintasi selat. Dia berpaling ke sekelompok bajak laut Cilician yang sering mengunjungi daerah itu yang dilengkapi dengan perahu cepat dan juga pengetahuan navigasi.

Namun para perompak punya rencana lain. Meskipun para Cilicia membuat perjanjian dengan Spartacus dan mereka menerima imbalan atas itu, tapi ternyata mereka ingkar janji. Apakah bajak laut itu sebenarnya telah disupa oleh orang-orang Romawi? Sepertinya tidak ada yang tahu.

Spartacus yang tidak gentar kemudian memerintahkan pasukannya untuk merakit kapal mereka sendiri, tetapi upaya mereka untuk menyeberangi selat gagal, membuat pasukan itu terjebak di daratan Italia. Ini membuat Spartacus tidak punya pilihan selain membawa pasukannya ke utara untuk menghadapi pasukan Romawi yang ganas yang telah menunggu mereka bak singa kelaparan.

Pada saat Spartacus mencapai selat, seorang pemimpin baru bernama Marcus Linicius Crassus telah mengambil alih komando pasukan Romawi.

Marcus Linicius Crassus

Crassus adalah sosok yang kejam. Ia memilih setiap orang dari legiun konsuler dan menyuruhnya dieksekusi. Dia juga menghidupkan kembali praktik penghancuran di mana unit-unit yang melarikan diri dari musuh akan dipukuli atau dilempari batu sampai mati. Disiplin dijalankan dengan sangat ketat di bawah kepemimpinan Crassus.

Spartacus tampaknya sadar akan posisinya yang sulit. Ia manawarkan perjanjian damai, namun dengan cepat ditolak oleh Crassus. Mungkin melihat tentaranya sendiri mulai goyah semangatnya, Spartacus menguatkan tekad mereka. Tak tanggung-tanggung, ia menyalibkan seorang prajurit Romawi. Spartacus berhasil menerobos jebakan Crassus dengan menggunakan kavaleri.



Sementara Spartacus lolos dari jebakan Crassus, ia menghadapi konsekuensi serius. Ia kehilangan ribuan tentara dalam pelariannya. Selanjutnya perpecahan muncul di kamp pemberontakan. Sekeompok pembangkang yang dipimpin oleh  Castus dan Gannicus, yang termasuk banyak pasukan Celtic dan Jerman, memisahkan diri dari Spartacus dan berangkat sendiri.

Pada musim semi 71 SM, Spartacus dan pasukannya kian terjepit. Castus dan Gannicus dikalahkan oleh Crassus, kemungkinan sebelum April dalam pertempuran Cantenna.


Pertempuran Terakhir dan Kematian Spartacus

Setelah pertempuran di Cantenna, Spartacus menerima berita bahwa pasukan Lucullus telah mendarat di Brundisium, menghancurkan harapan para pemberontak untuk keluar dari Italia dengan menggunakan pelabuhan itu.

Baca juga: Kematian Tragis Cleopatra dan Makamnya yang Misterius

Namun bukannya melarikan diri ke pelabuhan lain, Spartacus berbalik dan menyerang Crassus. Pertempuran terakhir itu pun meletus pada tahun 71 SM. Spartacus dikepung oleh musuh dan ia terbunuh. Dengan kematiannya itu, pasukannya berantakan kocar kacir melarikan diri. Crassus dan pasukannya memburu para pemberontak lainnya yang tersisa.

Lukisan "The Death of Spartacus" karya Hermann Vogel (1882)

Sementara itu, tubuh Spartacus sendiri tampaknya tidak pernah diidentifikasi. Dia kemungkinan besar dimakamkan di kuburan massal bersama sisa pasukannya. Bahkan jika arkeolog menemukan itu suatu hari nanti maka kemungkinan besar tidak akan dapat membedakan apakah itu komandan atau pasukan biasa karena kemungkinan besar Spartacus hanya mengenakan baju besi biasa pada pertempuran terakhirnya.

Kisah Spartacus telah menjadi inspirasi bagi banyak buku dan film di dunia. Dia telah menjadi simbol bagi orang-orang yang tertindas yang memberontak demi satu impian: kebebasan. 

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Spartacus
https://www.historynet.com/spartacus-the-grecian-slave-warrior-who-threatened-rome.htm
https://www.livescience.com/39730-spartacus.html
https://www.ancient-origins.net/history-important-events/legendary-spartacus-gladiator--slaves-against-romans-part-1-012133
https://www.ancient.eu/article/871/the-spartacus-revolt


0 Response to "Sejarah Spartacus, Gladiator yang Memimpin Pemberontakan Budak "

Post a Comment