Benito Mussolini, Akhir Tragis Sang Diktator Fasis




Sungguh banyak peristiwa bersejarah yang terjadi pada tahun 1945. Di Indonesia, proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Di Jepang, dua kota Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan dengan bom atom. Selain itu di Jerman, Hitler melakukan bunuh diri bersama istrinya Eva Braun, dan dua hari sebelumnya, pemimpin Fasis Italia, Mussolini dieksekusi mati. Sang Il Duce bukan hanya dieksekusi mati tetapi jasadnya menjadi bulan-bulanan dan amukan kemarahan massa.

Benito Amilcare Andrea Mussolini (1883-1945) hanyalah putra seorang pandai besi dari wilayah Emilia-Romagna, Italia. Namun sang ayah adalah seorang fanatik sosialis yang kelak akan diwariskan kepada putranya ini.

Mussolini muda menjadi editor sebuah koran sosialis Ia Lotta di Class tahun 1908. Di sinilah kecintaannya pada ajaran Karl Marx tumbuh dan semakin besar. Penggagas Das Capital itu bagai idola yang begitu disanjungnya. Tak butuh waktu lama, Mussolini kemudian menduduki jabatan sebagai sekretaris partai Sosialis di Forli tahun 1910.

Benito Mussolini muda

Pada awal tahun 1919, perekonomian Italia mulai memburuk akibat perang. Pengangguran di mana-mana, harga barang meroket tajam. Saat itulah gerakan fasis lahir. Gerakan ini mengumpulkan para kriminal dan preman sebagai tukang pukul. Penampilan mereka sangar dan seringkali membuat keributan di jalan-jalan. Mereka menemakan diri sebagai kelompok Baju Hitam (Blackshirts).

Kelompok fasis tambah mendapatkan pengaruh di Italia. Tahun 1921 Partai Fasis Nasional (PFN) akhirnya berdiri. Setahun kemudian, yaitu 1922 orang-orang fasis ini terang-terangan menolak parlemen. Dengan jumlah massa yang begitu besar mereka kemudian melakukan berbaris menuju Roma (March on Rome).


Raja Vittorio Emanuele III yang melihat gerakan massa bertampang sangar dalam jumlah sangat besar mendadak ciut nyalinya. Ia kemudian secara terpaksa menerima Mussolini di istana, bahkan memberikannya posisi pemimpin. 

March on Rome

Mussolini menjadi Perdana Menteri Italia termuda yang diangkat pada tahun 1922. Namun seperti yang diduga, Mussolini bertingkah otoriter. Seluruh elemen politik disingkirkannya dan hanya menyisakan satu partai yang tak lain adalah sosialis. Ia memerintah dengan bengis. Para penentangnya ditangkapi dan dieksekusi mati. 


Mussolini dan Hitler

Pada akhir tahun 1930an, Mussolini mendekat ke pimpinan Nazi Jerman, Adolf Hitler. Kedua tokoh penting di Italia dan Jerman ini membuat poros dan saling bahu membahu pada Perang Dunia II. Namun malangnya kedua negara ini digempur habis-habisan oleh kekuatan sekutu. 

Kekalahan besar yang diderita Italia akhirnya berdampak pada mosi tidak percaya pada Mussolini yang disampaikan Dewan Besar Fasis. Tanggal 25 Juli 1943, Mussolini dipecat dari jabatannya oleh Raja Victor Emmanuel III. Ia kemudian ditahan di Hotel Campo Imperatore, sebuah resor pegunungan terpencil di Abruzzo.  Hitler yang mendengar kabar ini pun tak tinggal diam.

Tanggal 12 September 1943, para tentara Nazi dikerahkan untuk menyerbu tempat di mana Mussolini ditahan. Penyerbuan itu kemudian dikenal sebagai Gran Sasso. Mussolini berhasil dibebaskan.

Kekuasaan Mussolini di Italia Utara dikembalikan. Namun yang sebenarnya terjadi adalah sang Il Duce hanyalah dijadikan sebagai pemimpin boneka. Sedangkan yang sebenarnya berkuasa tak lain adalah Nazi Jerman.


Akhir Perjalanan Sang Diktator Fasis

Pada masa akhir Perang Dunia II tahun 1945, Mussolini beserta kekasihnya Claretta (Clara) Petacci berusaha untuk melarikan diri ke Swiss. Rencananya sepasang kekasih ini akan naik pesawat menuju Spanyol dan memimta perlindungan kepada pemimpin fasis lainnya, Fransisco Franco. Naas, keduanya ditangkap oleh 2 oarng gerilyawan komunis Italia, Valerio dan Bellini di Desa Dongo pada 27 April 1945.

Clara Petacci dan Benito Mussolini

Mussolini dan Petacci kemudian dibawa ke rumah keluarga De Maria di Desa Guilino di Mezzegra sebelum akhirnya keesokan harinya tanggal 28 April 1945 kedua orang ini bersama dengan beberapa orang pejabat sosialis lainnya dieksekusi tembak.


Namun jasad Mussolini dan Petacci tak segera dikebumikan. Keesokan harinya tanggal 29 April, mayat keduanya diangkut menggunakan truk menuju Milan. Jasad Mussolini dan Petacci dibawa ke area pom bensin di Piazza Loreto, Milan. Di tempat inilah dahulunya 15 orang aktivis anti fasis pernah dieksekusi mati.

Jasad Mussolini dan Petacci

Jasad Mussolini dan Petacci bersama dengan jasad pengikut fasis lainnya dibariskan dan digantung terbalik di area pom bensin itu. Sebelumnya mayat-mayat itu telah ditembaki berkali-kali, diludahi, dan dilempari batu oleh rakyat yang marah atas apa yang pernah diperbuat Mussolini. Mayat-mayat itu kemudian menjadi tontonan dan juga pelampiasan amarah warga.

Tak lama kemudian, kaum partisan menangkap seorang pengikut fasis bernama Achille Starace. Pengikut setia Mussolini itu dihadapkan pada Mussolini yang telah menjadi mayat tergantung. Namun bukannya ketakutan, Starace justru memberikan penghormatan terakhirnya pada pimpinan fasis itu sebelum akhirnya ditembak. Mayatnya kemudian digantung bersama dengan Mussolini dan para pengikut lainnya.

Dari kiri ke kanan : Bombacci, Barracu, Geromini, Mussolini, Petucci, Pavolini, dan Starace

Mayat Mussolini dikuburkan di sebuah makam tak bertanda di Mussoco. Namun setahun kemudian bertepatan pada hari Paskah, sisa-sisa pendukung Mussolini melakukan penggalian dan mencuri jasad Mussolini. Jasad itu disembunyikan di Certosa de Pavia yang tak jauh dari Milan. Sampai akhirnya mayat Mussolini kemudian ditemukan dan disimpan selama 10 tahun sebelum akhirnya dikuburkan di Predappio, Emilia-Rogmana, tempat kelahirannya.


Apakah Keputusan Hitler Bunuh Diri Dipengaruhi oleh Eksekusi Mussolini?

Berita kematian Benito Mussolini akhirnya sampai juga ke telinga Sang Fuhrer. Melalui siaran radio tanggal 29 April 1945, Hitler mendengar tentang kematian Mussolini beserta dengan fakta bagaimana rakyat Italia yang marah memperlakukan jasadnya, kekasihnya, beserta dengan para pengikutnya.

Menurut beberapa sejarawan, eksekusi mati Mussolini dan juga bagaimana jenazahnya diperlakukan setelah kematiannya sedikit banyak mempengaruhi Hitler. Seperti yang dicatata sejarawan Hugh Trevor-Roper dalam The Last Days of Hitler (1987). Pimpinan Nazi itu tak butuh waktu lama untuk mengambil keputusan tentang bagaimana ia akan membunuh dirinya sendiri di akhir perang.


"Itu tidak akan terjadi padaku", ujar Hitler seperti yang disam paikan pejabat Nazi, Hermann Goring. Di hari itu pula ia menuliskan surat wasiat agar mayatnya kelak tak akan jatuh ke tangan musuh yang kemudian akan berakhir sebagai tontonan dan pelampiasan amarah sebagaimana halnya terjadi pada Mussolini. Ia memerintahkan pada orang kepercayaannya untuk membakar mayatnya dan istrinya usai bunuh diri.

Tanggal 30 April 1945, Hitler mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang terdekatnya termasuk Martin Bormann dan Joseph Goebbels. Tak lama kemudian suara tembakan terdengar dari Fuhrerbunker. Keesokan harinya, Joseph Goebbels bersama istrinya Magda, melakukan bunuh diri bersama dengan 6 anak mereka.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Benito_Mussolini
https://foreignpolicy.com/2015/04/28/did-the-brutal-death-of-mussolini-contribute-to-hitlers-suicide/


0 Response to "Benito Mussolini, Akhir Tragis Sang Diktator Fasis"

Post a Comment