Misteri Lenyapnya Peradaban di Angkor Wat




Setidaknya sebelum tahun 1586, dunia barat tak pernah mengetahui bahwa di dalam hutan lebat di Kamboja terdapat kompleks bangunan super megah. Bangunan candi yang setara dengan peninggalan Yunani dan Romawi ini menjadi bukti kuat bagaimana peradaban di Kamboja dulu pernah begitu maju, sangat kontras dengan masyarakat Kamboja pada abad ke 19. Bagaimana peradaban di Angkor Wat hilang masih menjadi misteri dunia kuno yang belum terjawab...

Sebuah kompleks bangunan megah yang dipersembahkan bagi Dewa Wisnu dibangun oleh Raja Suryawarman II dari Kekaisaran Khmer. Bangunan ini dikenal dengan nama Angkor Wat (dalam bahasa Khmer berarti Candi Kota).

Raja Suryawarman II sendiri merupakan raja dari Kekaisaran Khmer yang berkuasa dari tahun 1113 hingga 1145-1150 M. Banyak sejarawan yang menyebutnya sebagai salah satu penguasa terbesar di Kekaisaran Khmer.

Menurut sejarawan Charles Higham, Suryawarman seringkali digambarkan sebagai sosok manusia setengah dewa. Ia dideskripsikan memiliki tubuh tinggi besar. Menurut legenda, Suryawarman membunuh pamannya sendiri untuk memuluskan jalannya duduk di singgasana raja.

Suryawarman II, Raja Kekaisaran Khmer yang membangun Angkor Wat

Angkor Wat yang memiliki luas sekitar 1.626.000 m2 dan ditambah berbagai bangunan dengan arsitektur canggih menjadikan Angkor Wat sebagai salah satu monumen keagamaan terbesar yang pernah dibangun dalam sejarah umat manusia.

Komplek candi ini dibangun pada permulaan abad ke 12 di Yasodharapura (sekarang Angkor) yang merupakan ibu kota Kerajaan Khmer kala itu. Candi ini dibangun sebagai candi agama Hindu kerajaan Khmer untuk Dewa Wisnu, dengan proses pembangunan memakan waktu sekitar 30 tahun lamanya. Namun kemudian pada akhir abad ke 13, lambat laun candi ini berubah menjadi candi agama Budha.

Pada tahun 1586, seorang biarawan Katolik Portugis bernama Antonio da Madalena mengunjungi Angkor Wat. Ia adalah salah satu orang barat pertama yang mendatangi situs ini.

Henri Mouhot

Madalena begitu terpesona oleh kemegahan Angkor Wat, sampai-sampai ia mengatakan bahwa bangunan yang dihiasi dengan menara-menara indah itu pastilah dibangun oleh manusia jenius. Ia juga menambahkan tak ada bangunan lain di dunia yang menyerupainya.

Pada pertengahan abad ke 19, Angkor Wat dikunjungi oleh penjelajah Perancis, Henri Mouhot. Dalam catatannya ia menggambarkan tentang kemegahan Angkor Wat yang bersaing dengan peninggalan Yunani dan Romawi. Mouhat bahkan menambahkan bangunan itu begitu kontras dengan masyarakat di sana saat itu, seolah-olah bangunan itu dibuat oleh bangsa lain.

Angkor Wat yang digambar oleh Henri Mouhot

Penggalian dan pembersihan di sekitar candi kemudian dilakukan besar-besaran pada abad ke 20.  Proses pemugaran dan pembersihan sempat terhenti pada saat rezim Khmer Merah berkuasa di negara ini pada sekitar tahun 1970an. Pada masa itu terjadi banyak pencurian dan penjarahan pada situs bersejarah ini.

Baca juga: Sejarah Kelam Kamboja di Bawah Rezim Khmer Merah

Pada saat proses pemugaran berlangsung, sejarawan dan arkeolog merasa aneh karena mereka sama sekali tidak ditemukan sisa pemukiman rumah penduduk, perabotan masak, senjata, bekas pakaian, atau apa saja yang biasanya ditemukan di situs purbakala. Hanya monumen itu saja yang ditemukan di kawasan tersebut.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada penduduk di Angkor Wat? Mengapa peradaban mereka bisa hilang begitu saja?

Salah satu sudut di Angkor Wat

Runtuhnya Kekaisaran Khmer dan Hilangnya Peradaban Angkor Wat

Kekaisaran Khmer pada masa jayanya memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara terutama pada abad ke 9 hingga abad ke 15. Kekaisaran ini memiliki hubungan dagang yang erat dengan bangsa India dan China. Itulah sebabnya budaya dan peradaban Khmer sangat dipengaruhi oleh dua bangsa tersebut.

Kekaisaran Khmer terkenal akan sistem perairannya yang kompleks dan canggih serta arsitektur yang inovatif. Namun rupanya tak begitu lama sejak Angkor Wat dibangun, peradaban di negeri itu hancur.

Baca juga: 7 Kota Terkenal yang Hilang dari Peradaban Dunia

Jatuhnya kekaisaran Khmer sendiri masih merupakan teka-teki yang belum sepenuhnya terjawab oleh para sejarawan dan arkeolog selama beberapa dekade ini.



Menurut beberapa sumber, kekaisaran Khmer jatuh sekitar tahun 1431 ketika terjadinya peperangan besar dengan kerajaan tetangga, Ayutthaya. Namun dimulai tahun  1327, memang mulai terjadi bencana kekeringan di Angkor Wat. Menurut catatan-catatan yang ditemukan, hal ini terjadi ketika Jayawarman Parameswara mulai berkuasa. Bencana kekeringan terus berlanjut hingga pertengahan tahun 1300an.

Angkor mengalami penurunan jumlah populasi yang sangat signifikan akibat hal tersebut. Tingkat populasi menurun tajam antara tahun 1350-1450 M.

Sistem hidrologi yang canggih di Angkor tak dapat menahan bencana kekeringan jangka panjang yang melanda wilayah itu. Para penguasa Angkor telah berupaya mengatasi kekeringan dengan teknologi jaringan kanal, namun gagal. Akhirnya para penguasa Angkor memindahkan ibu kota mereka ke Phnom Penh.

Para arkeolog menggunakan analisis sedimen tanah untuk mengetahui periode kekeringan di Angkor. Hasilnya, Angkor memang mengalami kekeringan yang panjang di mulai pada abad ke 13, kemudian abad ke 14 dan 15 (merupakan masa kekeringan paling dahsyat) dan yang terakhir pada pertengahan hingga akhir abad ke 19.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Angkor_Wat
https://id.wikipedia.org/wiki/Suryawarman_II
https://www.ancient-origins.net/ancient-places-asia/mysteries-angkor-wat-00310
https://news.nationalgeographic.com/2017/04/angkor-wat-civilization-collapsed-floods-drought-climate-change/
https://www.thoughtco.com/the-collapse-of-angkor-171627

0 Response to "Misteri Lenyapnya Peradaban di Angkor Wat"

Post a Comment