Sejarah Bangsa Fenisia




Dalam daftar bangsa-bangsa dari zaman kuno, mungkin Fenisia tidaklah setenar Mesir kuno, Babilonia, Assyria atau bahkan Yunani. Kenyataannya bangsa ini memang bukanlah bangsa yang melakukan berbagai penaklukan dengan kekuatan militer besar. Meskipun budayanya telah lenyap, namun pengaruh bangsa Fenisia masih tertinggal. Sebuah literatur menyebutkan bahwa bangsa inilah yang mengajarkan kepada dunia bagaimana menulis.

Bangsa Fenisia (Phoenicia) adalah bangsa yang hidup di sebuah negeri sempit dengan panjang 150 mil dan lebar 24-30 mil, sebuah wilayah yang terkunci di anatar laut Suriah dan dataran tinggi Lebanon. 

Wilayah ini terdiri dari rangkaian lembah sempit beserta jurang yang dibatasi oleh bukit-bukit yang landai ke laut. Lembah-lembahnya dipenuhi ara, anggur, delima,dan zaitun. Di punggung bukit tumbuh cemara dan pinus, sedangkan di daerah rendaj pohon kurma tumbuh subur bahkan sampai wilayah pantai.


Perdagangan Bangsa Fenisia

Kota-kota di Fenisia dihubungkan dengan rute laut. Kota-kotanya yang terkenal antara lain Kartago yang merupakan kota pusat perdagangan, Tirus (Tyre), Sydon, dan Byblos. Akibat dari wilayah mereka yang terletak di sepanjang Laut Tengah ini, maka lahirlah bangsa yang berisikan orang-orang pelaut dan pedagang paling terkenal di zaman kuno.

Kota-kota penting di Fenisia

Bangsa yang diperkirakan berdiri pada tahun 2500 SM ini sungguh merupakan kumpulan orang-orang yang berani berlayar. Bayangkan saja saat itu, saat bangsa-bangsa macam Mesir, Assyria, bahkan suku barbar dari Barat seperti Spanyol, Italia, dan Galia, bahkan belum memiliki angkatan laut, mereka telah berlayar hingga ke berbagai belahan dunia utamanya untuk berdagang.

Bangsa Fenisia telah lama membangun kapal-kapal mereka dari pohon aras atau kayu cedar yang didorong oleh layar dan dayung. Kapal itu memiliki bentuk unik dengan kepala naga di depannya dan juga terdapat banyak kargo untuk memuat barang dagangan.

Kapal Fenisia yang sangat unik, memiliki bentuk kepala naga di depannya
 dan juga banyak kargo untuk memuat barang dagangan

Kepada bangsa-bangsa beradab bangsa Fenisia menjual produk industri mereka. Salah satu komoditas paling terkenal sendiri adalah kerajinan celup ungu. Mereka merupakan penemu dari warna ungu. Saat itu warna ini mereka hasilkan dari kerang Murex. Warna ini dianggap sangat indah dan memiliki nilai yang sangat mahal. Hanya pejabat tinggi di kekaisaran Romawi saja lah yang bisa memiliki kain dengan warna ungu.

Warna ungu dari kerang Murex (National Museum in Beirut)

Mereka juga membuat semacam kaca dari jenis pasir. Meskipun orang-orang Mesir kuno telah lama membuat komoditas yang sama, namun buatan Fenisia jauh lebih indah. Kaca dari Mesir berwarna buram, sedangkan kerajinan kaca Fenisia berwarna cerah karena banyak mengandung kuarsa.

Di negeri-negeri barbar mereka pergi untuk mencari apa yang tidak mereka temukan di Timur. Dari Sardinia dan Spanyol mereka membawa perak yang diperoleh dari tambang-tambang. Di setiap negara mereka juga memperoleh budak. Budak-budak ini diperjual belikan. Mereka membeli orang-orang negro di pantai Afrika, kadang mereka turun di pantai lalu menculik perempuan dan anak-anak untuk membawa mereka ke Fenisia untuk ditawan, sementara sebagian lainnya dijual ke luar negeri.

Phoenician Life by Judith Juste

Maka tak heran mereka mendapatkan julukan Middleman yang berarti sekelompok orang yang membawa barang dari satu negara ke negara lain. Mereka pergi ke setiap bangsa untuk membeli barang dagangan dan menjualnya untuk ditukar dengan komoditas dari negara lain. Mereka telah menguasai perdagangan di Laut Tengah sejak 1200 SM.


Rahasia Bangsa Fenisia

Bangsa Fenisia perlahan-lahan juga mulai kedatangan para pesaing mereka dari berbagai negeri. Namun mereka tak ambil pusing dengan hal itu. Pelaut Fenisia terkenal selalu menyembunyikan rahasia perjalanan yang telah mereka begitu kembali dari negeri-negeri jauh. 

Saat tak ada satu pun di zaman kuno yang mengetahui di manakan letak kepulauan Cassiterides, mereka telah lebih dahulu mencapai pulau yang kaya akan timah tersebut. Mereka menyimpan rahasia dengan sangat rapi. 

Bahkan mereka pernah menenggelamkan kapal pedagang asing yang mereka temukan di Sardinia atau pantai Gibraltar agar jalur ke lokasi-lokasi yang penuh dengan komoditas dagang tak bisa ditemukan para pelaut lain. Bahkan ada sebuah kisah saat pedagang dari Kartago, kota dagang Fenisia, melihat ada sebuah kapal asing yang mengikutinya dari belakang, sang nahkoda kapal sengaja mengandaskan kapal agar orang asing itu tak melihat ke mana ia akan berlayar.



Uniknya sepanjang sejarahnya, mereka menyerahkan diri kepada semua penakluk, bangsa Mesir, Assyria, Babilonia, dan Persia. Mereka enggan untuk bertarung dan melakukan perlawanan. Sebagai gantinya mereka menyanggupi untuk membayar sejumlah upeti kepada bangsa-bangsa penakluk itu. Dan mereka pun umumnya mengizinkan orang-orang Fenisia untuk melakukan perdagangan dan pelayaran.

Semuanya mulai berubah ketika bangsa Yunani di bawah Alexander Agung masuk ke Fenisia. Tak seperti para penakluk sebelumnya, gelombang besar orang-orang Yunani datang dan menetap secara permanen di sana. Mereka tentu saja membawa budayanya yang kemudian perlahan menggantikan budaya Fenisia.


Pengaruh Bangsa Fenisia

Seperti telah dikemukakan di atas, bangsa Fenisia dalah para pelayar dan pedagang ulung. Mereka mendirikan berbagai pusat perdagangan dan dapat diduga bahwa mereka hanya peduli dengan kepentingan mereka sendiri. Tapi ada banyak kontribusi dan pengaruh apa yang telah dilakukan oleh bangsa Fenisia. Salah satunya adalah terhadap peradaban orang barbar dari Barat. 

Orang-orang barbar Barat yang selama bertahun-tahun menerima perhiasan, peralatan, hingga kain dari dunia Timur kemudian mulai belajar untuk meniru dan membuat sendiri barang-barang tersebut.

Pada waktu yang sama bangsa Fenisia juga mengekspor abjad mereka. Memang orang-orang Mesir sudah mengetahui cara menulis berabad-abad sebelum bangsa Fenisia, tapi abjad mereka masih diwarnai dengan tanda-tanda kuno. Tanda-tanda kuno ini sebagiannya mewakili suku kata. Sementara itu Fenisia menolak untuk menggunakan tanda kuno itu. 

Sebaliknya mereka melestarikan 22 huruf yang masing-masing menandai suatu bunyi. Bangsa-bangsa lain kemudian mulai mengadopsi 22 abjad ini. Yunani kemudian menambahkan 4 abjad lagi yang kita gunakan sampai hari ini.

22 Abjad Fenisia

Abjad-abjad Fenisia memang telah diadopsi oleh bangsa-bangsa lain dan dalam perkembangan sejarahnya telah sedikit banyak mengubah bentuk, tetapi abjad Fenisia telah menjadi dasar dari semua abjad, Ibrani, Lisia, Iberia, Yunani, Etruska, hingga Italia.

Referensi :

Seignobos, Charles. 2017. Sejarah Peradaban Dunia Kuno. Yogyakarta : Indoliterasi.
https://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Fenisia

0 Response to "Sejarah Bangsa Fenisia"

Post a Comment