Sejarah Monarki dan Silsilah Dinasti Kerajaan Inggris (1066-Sekarang) - Bagian I




Dinasti kerajaan Inggris yang telah berusia nyaris 1000 tahun telah dianggap sebagai dinasti kerajaan paling bergengsi di dunia. Wangsa atau dinastinya selama ratusan tahun itu pula telah silih berganti mewarnai sejarah monarki Inggris. Inilah sejarah dan silsilah lengkap dinasti keluarga kerajaan Inggris, raja dan ratu kerajaan yang dimulai sejak Dinasti Normandia hingga saat ini yaitu keluarga Windsor.


Dinasti Normandia

Raja William I Sang Penakluk

Wangsa atau Dinasti Keluarga Normandia adalah dinasti pertama yang menguasai Inggris. Dinasti ini dimulai oleh Duke William dari Normandia yang kemudian dikenal sebagai William I dari Inggris atau William Sang Penakluk yang merupakan anak dari Robert Duke Normandia dan Herleve atau Herlette dari Falaise.

William inilah yang memimpin penyerangan orang-orang Normandia, Bretagne, Perancis, dan Flandria terhadap Inggris. William mengklaim bahwa Edward the Confessor, Raja Inggris Anglo Saxon, menjanjikan padanya menjadi penerus tahta Inggris sebelum ia meninggal dunia.

Rupanya Harold Godwindson juga mengklaim tahta tersebut sehingga meletuslah Pertempuran Hastings. Pasukan Inggris yang dipimpin Harold kalah yang berakhir dengan tewasnya dirinya pada tahun 1066. Hal ini sekaligus menandai naiknya William I sebagai Raja Inggris setelah menang dalam Pertempuran Hastings tersebut.

William I Sang Penakluk

William yang menikah dengan Matilda dari Flandria pada 1053 diketahui memiliki 9 anak. Dua di antaranya yang naik menjadi raja adalah William II Rufus dan Henry I.

Baca juga: Sejarah Awal dan Asal Usul Bangsa Inggris


Raja William II Rufus

Setelah William I Sang Penakluk mangkat pada tahun 1087, putranya William II naik tahta. Ia dijuluki Rufus karena warna rambutnya yang merah, wajahnya yang merah, dan tempramennya yang buruk.

Raja William II tidak begitu lama menjadi raja, hanya 13 tahun. Pada suatu hari di tanggal 2 Agustus 1100, Sang Raja yang pergi berburu bersama sahabatnya bernama Walter Tirel. Entah apa yang menimpa William, ia sempat berpisah dari rombongan dan begitu ditemukan raja ini sedang duduk di sebuah bangku dengan anak panah menancap dadanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada raja tak pernah terungkap.

Raja William II Rufus yang terkena anak panah

Banyak yang menduga kalau William II sebenarnya telah dibunuh oleh salah seorang dari pihak keluarga. Selain itu William II yang tempramen memang dikenal punya banyak musuh. Tetapi anehnya meskipun ditemukan masih dalam keadaan hidup, William tak mengatakan apa yang menimpanya atau siapa yang telah melakukan itu padanya. Merinding.com sudah pernah membahas mengenai kematian William II ini selengkapnya klik link di bawah ya.



Raja Henry I

Raja Henry I rupanya tidak lebih beruntung dari saudaranya. Henry I memiliki banyak anak, 25 orang dari 8 gundiknya. Tetapi nyaris semua anaknya itu adalah anak tidak sah, selain Pangeran William dan Putri Matilda. Maka sang raja begitu terpukul ketika mengetahui putra satu-satunya yang sah itu tenggelam di Selat Inggris tahun 1120.

Maka tersisalah Matilda, sebagai satu-satunya keturunan Henry I yang sah. Tetapi pada abad ke-12 itu, seorang wanita maju menjadi pemimpin adalah hal yang dianggap tidak pantas. Tetapi Henry bersikeras putrinya itu kelak akan menggantikannya.

Tetapi ketika Henry I wafat tahun 1135 terjadi perebutan kekuasaan. Matilda yang sebelumnya disekap di Kastil Oxford melarikan diri beserta 4 ksatrianya sampai akhirnya ia kembali lagi ke London. Sepupu Matilda, Stephen de Blois yang didukung oleh mayoritas baron yang menjadi saingannya segera membuat perang saudara yang mengakibatkan terjadinya kekacauan besar di Inggris.


Raja Stephen

Raja Stephen kemudian naik tahta menggantikan Raja Henry, di mana Matilda sebelumnya telah menyerah dan pulang ke Normandia. Tetapi lima tahun kemudian putra sulungnya yang akan mewarisi tahta, Eustace meninggal dunia tahun 1153. Istri Stephen meninggal setahun sebelumnya. Hal ini memukul hati Stephen.

Pada tahun 1153, ia membuat kesepakatan dengan Matilda dan putranya hasil pernikahannya dengan Geoffrey Plantagenet, Henry Plantagenet untuk menjadi penerus. Kurang dari setahun kemudian Stephen wafat pada 25 Oktober 1154 dan menjadi raja terakhir Normandia. Sekarang Henry Plantagenet menjadi raja pertama dari Dinasti Plantagenet.


Dinasti Plantagenet

Pada usia 55 tahun, Henry I sudah menjadi pria tua yang lelah dan sakit-sakitan. Ia wafat dalam keadaan diterlantarkan oleh keluarga dan para baron. Kematian sang raja sungguh menyedihkan. Ia kemudian digantikan oleh Henry II.

Raja Henry II

Henry II bukan hanya merupakan raja Inggris, tetapi kekuasaannya meliputi Normandia, Anjou, Tourine, Maine, dan Poitou di Perancis. Ia mendapatkan wilayah Poitou di Perancis itu setelah menikahi Eleanor of Aquitaine yang merupakan mantan permaisuri raja Perancis.

Henry II adalah raja otoriter dan bila mengamuk menjadi sangat menakutkan. Pada tahun 1154, Henry II menunjuk Thomas Becket sebagai Menteri Utama Inggris. Meskipun Becket berusia jauh lebih muda, tetapi mereka berdua menjadi teman dekat. Henry bahkan memberikan Becket banyak tanah dan anugerah kerajaan. Becket juga ditunjuk sebagai Uskup Agung Canterbury.

Raja Henry II

Tetapi persahabatan itu kemudian berubah menjadi permusuhan. Puncaknya adalah pada 20 Desember 1170. Empat ksatria suruhan Henry menyerbu Katedral Canterbury di mana Becket sedang berdoa di depan altar. Di sana Becket dihabisi.

Sementara itu, Raja Henry II dari pernikahannya dengan Eleanor mendapatkan keturunan, tetapi dua di antaranya meninggal ketika muda yaitu Henry Raja Muda dan Geoffrey. Sementara itu dua putra Henry yang lainnya yang kelak akan menjadi penguasa tak lain adalah Raja Richard I yang dikenal Berhati Singa dan seorang lagi yaitu Raja John. Putra-putranya ini pada akhir hidup Henry I melakukan pengkhianatan pada ayah mereka sendiri.


Raja Richard I

Richard I menjadi raja pada tahun 1189. Ia merupakan pejuang ternama pada masanya sehingga julukan "Berhati Singa" atau Lion Heart tersemat padanya. Ia adalah salah satu tokoh dalam Perang Salib yang termasyur. Pada Perang Salib Ketiga ia memperoleh keberhasilan yang membuatnya disambut bak pahlawan.

Richard the Lion Heart dalam Perang Salib III

Kekuasaan Richard I dibayang-bayangi oleh permusuhannya dengan Raja Perancis Philip II dan juga adiknya sendiri, John. John adalah tipe orang yang tidak akan sungkan untuk mengkhianati saudaranya sendiri untuk mengambil kekuasaan.

John sempat beberapa kali berkhianat bahkan mendekati Philip Raja Perancis. Meskipun ia memaafkan adiknya, tetapi Richard tidak memberi kekuasaan apa pun pada John. Richard menghabiskan 5 tahun masa terakhir hidupnya bertempur demi mencegah Philip menguasai tanah Angevin. Sampai akhirnya pada tahun 1199, Richard mendapatkan luka parah dalam pengepungan Kastil Chalus di Limousin. Luka itu menimbulkan infeksi yang akhirnya membunuh Richard.


Raja John

Raja John dinobatkan sebagai raja di Westminster Abbey pada tanggal 27 Mei 1199. Raja John kemudian menikahi Isabella yang usianya 20 tahun lebih muda pada tahun 1200.

Meskipun diangkat sebagai raja Inggris, tetapi sejatinya John adalah budak dari raja Perancis. Ia memberi penghormatan pada Raja Philip itu demi tanah-tanahnya di Perancis.

Raja John

Selain pemerintahan yang lemah, raja John juga rupanya memiliki banyak kebiasaan buruk. Ia biasa menggoda istri, putri, dan saudara perempuan para baron. Ratu Isabella yang merupakan istri sahnya sangat kesal akan perilaku John yang di luar batas. Ia membalas John dengan mencoba memiliki banyak kekasih baru. Tetapi tindakan ini dibalas John dengan menggantung mayat para kekasih istrinya itu di ranjang Isabella.

John meninggal secara mendadak karena penyakit disentri pada 18 Oktober 1216. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang masih berusia 9 tahun yang kemudian menjadi Raja Henry III.


Raja Henry III

Henry III akhirnya memegang kekuasaan sepenuhnya saat usianya cukup yaitu tahun 1227. Raja Henry III adalah orang yang terobsesi dengan Perancis. Ia sangat menginginkan agar tanah Angevin bisa kembali dan bisa memperluas kekuasaannya sampai wilayah Jerman. Henry menikahi seorang wanita dari Perancis yaitu Eleanor of Provenc pada tahun 1236.

Banyak gejolak dalam masa kekuasaannya. Setelah Henry mampu merebut kembali tahtanya pada 1265, Henry III menyerahkan segala urusan politik pada putranya Pangeran Edward. Di masa-masa terakhir kepemimpinannya, Henry III mengerjakan resorasi Westminster Abbey di London.


Raja Edward I

Edward I jauh lebih berani dibandingkan ayahnya. Ia bersemangat dan sangat brutal, sosok yang tidak segan menumpahkan darah demi mendapatkan keinginannya. Ia menjadi raja terkuat dan dominan yang belum pernah dimiliki oleh raja-raja Inggris terdahulu. Kelemahannya hanya satu, ia sulit digantikan.

Putra Edward I yang menggantikanya pada tahun 1307 sama sekali bukan sosok raja yang dapat diandalkan.


Raja Edward II

Edward II diangkat menjadi Raja Inggris pada tahun 1307 merupakan bencana bagi Inggris. Berbeda dengan ayahnya yang merupakan sosok yang berani dan kejam, Edward II sungguh kebalikannya. Sang Raja yang lemah ini bahkan memiliki kebiasaan-kebiasaan ganjil dan ketertarikan aneh.

Edward II sama sekali tidak terampil dalam urusan kerajaan. Dibandingkan harus duduk membahas pemerintahan bersama dengan orang-orang istana, ia lebih suka mengaduk-aduk tanah seperti seorang petani. Tampaknya ia jauh lebih cocok menjadi petani dibandingkan seorang raja.



Kelemahannya bukan hanya itu saja, raja yang lemah ini diketahui pula sebagai seorang homoseksual. Meskipun ia menikahi Isabella setahun setelah penobatannya, tetapi itu tidak mengubah ketertarikannya. Ia bahkan terang-terangan memilki kekasih bernama Piers Gaveston. Pasangan ini membuat muak seluruh Inggris.

Isabella membalas dengan memiliki kekasih lain bernama Roger Mortimer. Keduanya hidup bersama-sama secara terang-terangan dan berencana menjatuhkan Edward II. Edward II dipaksa menyerahkan tahtanya pada 24 Januari 1327. Isabella dan Roger Mortimer menjadi penguasa Inggris sampai akhirnya Raja Edward III naik tahta dan menghancurkan pasangan ini.


Raja Edward III

Diangkatnya Edward III sebagai raja membuat banyak pihak lega. Inggris akhirnya mendapatkan raja yang terhormat. Ia juga tahu bagaimana cara menyenangkan para baron. Edward III dan putranya Edward si Pangeran Hitam kerap kali menang atas pertempuran melawan Perancis yang tambah membuat rakyat bangga.

Masa Raja Edward III dianggap sebagai masa keemasan dalam sejarah Inggris, terlepas dari peristiwa Wabah Hitam yang mengerikan yang melanda daratan Eropa dan juga menerjang Inggris selama tahun 1349-1350 yang telah membunuh seperempat rakyat Inggris.

Edward III hidup hingga usia yang cukup tua sampai-sampai ia menderita pikun selama 7 tahun sebelum kematiannya pada tahun 1377 dalam usia 64 tahun.


Raja Richard II

Tiga minggu setelah mangkatnya Edward III, cucu Edward dan juga putra Pangeran Hitam, Richard II dinobatkan menjadi raja yang baru di Westminster Abbey. Usianya baru 10 tahun saat itu dan awalnya ia diperkirakan akan menjadi raja yang baik.

Karena masih di bawah umur, dewan perwakilan kerajaan lah yang kemudian berkuasa atas namanya. Pada saat itu ia tinggal di rumah bersama ibunya Joan of Kent. Tetapi sang "anak baik" ini segera menunjukkan siapa dirinya.

Raja Richard II

Tahun 1382, ia memecat menteri utamanya, Earl of Suffolk karena tidak mematuhi titahnya. Ia kemudian berkata pada parlemen bahwa dirinya akan memilih sendiri penasihat yang sesuai dengan keinginannya. Ia juga bersikeras agar parlemen menuruti segala kemauannya. Maka tak menunggu waktu lama, raja yang baru ini punya banyak musuh.

Pada tahun 1399, Richard dibawa dan dipenjarakan di dalam Tower of London. Pada September di tahun yang sama parlemen memaksanya untuk turun tahta. Ia lalu dibawa ke Kastil Pontefract di sebelah barat Yorkshire di mana di sana ia perlahan-lahan dibuat kelaparan sampai mati. Sepupu Henry yang bernama Henry Bolingbroke kemudian dinobatkan menjadi Raja Henry IV.


Raja Henry IV

Raja Henry IV dinobatkan menjadi raja pada 13 Oktober 1399. Tetapi sejatinya ia adalah perebut kekuasaan yang sah. Henry menyadari hal ini dan merasa bersalah seumur hidupnya. Ia gelisah dan terus berhati-hati menjaga agar tahtanya tidak jatuh ke tangan orang lain.

Nyatanya memang ada banyak rencana pembunuhan terhadap dirinya. Kecurigaan, rasa was-was, dan rasa bersalah lambat laun menggerogoti kesehatannya. Henry mengalami beberapa kali serangan stroke. Ia juga menderita lepra dan sering mengalami kejang-kejang epilepsi. Raja Henry IV yang telah secara fisik dan mental sakit ini akhirnya meninggal dunia tahun 1413. Usianya baru 47 tahun.


Raja Henry V

Raja Henry V yang menggantikan Henry IV adalah salah satu raja Inggris terhebat. Ia adalah pejuang dan pahlawan Inggris. Tetapi pada tahun 1422 ia tiba-tiba meninggal dunia. Usianya baru 35 tahun saat itu. Sayangnya putra dan pewarisnya kelak adalah tipe raja yang segera menjadi santapan para lawannya.


Raja Henry VI

Raja Henry VI masih berada di dalam ayunan ketika ia menjadi raja. Ia tumbuh menjadi sosok yang lemah dan rapuh. Tak banyak yang bisa diharapkan darinya, ia bahkan bisa memberikan jabatannya kapan pun bila didesak.

Raja Henry VI

Henry VI sama sekali tidak punya keterampilan militer, tidak suka peperangan dan melihat pertumpahan darah. Ia beberapa kali kedapatan memaafkan penjahat hanya karena takut tidak sanggup melihat eksekusi mati. Henry adalah sosok yang sangat religius. Ketika ia dipakaikan mahkota, ia merasa berdosa karena telah berbangga diri.

Raja Henry VI seharusnya lahir sebagai biarawan. Menjadi raja sama sekali tidak sesuai dengan kata hatinya. Raja yang lemah ini merasa tugas menjadi raja sangat berat baginya hingga pada Agustus 1453 ia menjadi gila. Ia bahkan tidak lagi mengenal siapa dirinya.

Posisinya sebagai raja menjadi sangat rentan ketika ia terlihat secara jelas memiliki gangguan kesehatan mental. Henry sendiri memiliki keturunan, seorang anak laki-laki tetapi sayangnya anaknya itu masih bayi sehingga perlu seorang pelindung. Maka naiklah Richard, Duke of York.

Richard mengklaim tahta kerajaan untuknya. Pria ini memiliki sifat yang jauh berbeda dengan Henry VI. Ia sombong, tamak, dan ambisius. Richard dapat terus bertahan menjadi pelindung raja selama ketidakwarasan Henry VI terus berlangsung. Tetapi saat menjelang Natal tahun 1454, kondisi raja membaik dan Richard kehilangan pekerjaannya. Tetapi sayanganya perebutan kekuasaan sudah terlalu jauh.

Keluarga kerajaan dinasti Plantagenet sudah terbagi menjadi dua faksi, yaitu Raja Henry dari Keluarga Lancaster dan Richard dari keluarga York. Dengan dua faksi yang berseteru ini akhirnya pecahlah perang saudara yang dikenal sebagai Perang Mawar atau War of the Roses. Nama ini diambil dari lambang kedua kerajaan yang sama-sama bunga mawar; mawar merah lambang keluarga Lancaster, sementara mawar putih lambang keluarga York.

War of Roses

Singkat cerita, Richard of York tewas terbunuh dalam salah satu pertempuran melawan Ratu Margaret, istri Richard VI. Namun kemudian putranya, Edward of York yang berusia 18 tahun mengklaim tahta kerajaan. Pria ini adalah pria yang tampan dengan kemampuan militer yang hebat. Setelah berhasil mengalahkan keluarga Lancaster, ia naik tahta menjadi Raja Edward IV.


Raja Edward IV

Raja Edward IV resmi menjadi raja Inggris pada 28 Juni 1461. Raja baru yang tampan ini hidup mewah dan begitu populer di kalangan wanita. Banyak wanita mengejarnya, dan Edward sendiri adalah sosok mata keranjang yang suka menggoda wanita. Tetapi sang raja justru terpaut hatinya pada seorang janda 27 tahun yang sudah memiliki beberapa anak. Namanya Elizabeth Woodville.

Sementara itu pendukung Edward sekaligus merupakan orang yang berjasa pada keberhasilannya menjadi raja, adalah pria bernama Richard Neville yang bergelar Earl of Warwick.

Edward memang hebat, tetapi karena usianya masih muda, ia takut pada Richard Neville. Maka pada Mei 1464, raja menikahi Elizabeth secara diam-diam. Tetapi pernikahan ini akhirnya ketahuan juga 4 bulan kemudian. Tetapi masalah yang ditimbulkan dari pernikahan itu sudah terlampau banyak. Saudara-saudara Elizabeth mengambil keuntungan dari raja. Mereka meminta uang, tanah, dan juga gelar kebangsawanan.

Rajan Edward IV

Richard Neville dengan bantuan Ratu Margaret kemudian berupaya menggulingkan Edward IV. Tapi usaha itu gagal total. Neville terbunuh bersama dengan Pangeran Edward. Sementara Raja Henry VI dibunuh di Tower of London pada 21 Mei 1471. Ratu Margaret selamat setelah ditebus oleh ayahnya Raja Rene of Sicily. Wanita ini kemudian hidup di Perancis sampai wafat.

Edward IV menikmati kehidupan mewahnya di istana dengan banyak gundik sampai akhirnya ia menderita serangan stroke yang menyebabkan kematiannya. Ia digantikan putranya Edward V yang berusia 12 tahun. Tetapi karena Edward V masih di bawah umur, maka dewan perwakilan kerajaan lah yang kemudian menjalankan pemerintahan.

Posisi ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk merebut kekuasaan. Salah satu dari mereka yang paling ambisius adalah pria bernama Richard of Gloucester.

Pada tanggal 1 Mei 1483, Richard of Gloucester menculik Edward V ketika pemuda remaja ini sedang dalam perjalanan menuju London. Ibu Edward V, Ratu Elizabeth Woodville yang ketakutan lari membawa adik laki-laki Edward yaitu Richard dan mencari perlindungan di Katedral Westminster. Tetapi kemudian Richard of Gloucester mengancam Ratu untuk menyerahkan putranya Richard of York.

Edward V dan Richard of York di atas Tower of London

Sang pangeran lalu dibawa ke Tower of London bergabung bersama kakaknya. Setelah beberapa lama kedua kakak beradik itu tak diketahui keberadaannya dan apa nasib yang menimpa keduanya. Keduanya hilang begitu saja dan ini merupakan salah satu misteri terbesar dan tak terungkap dalam sejarah kerajaan Inggris.

Baca selengkapnya: Misteri 2 Pangeran di Atas Menara (Princess in the Tower)

Richard of Gloucester mengklaim tahta. Ia membuat propaganda bahwa Edward V dan Duke of York adalah anak tidak sah. Richard kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Raja Richard III pada 6 Juli 1483.


Raja Richard III

Sebagai raja yang naik dari hasil merebut kekuasaan, Richard segera memiliki banyak musuh. Orang-orang kemudian berpikir bahwa laki-laki itu sangat kejam dan akan melakukan apa saja untuk memuluskan jalannya.

Jadi ketika istrinya, Anne Neville meninggal pada 1484, orang-orang percaya bahwa istrinya itu telah diracuni oleh Richard sendiri. Alasannya agar ia dapat menikah dengan keponakannya, Elizabeth yang tak lain adalah putri Edward IV. Tetapi itu semua hanya isapan jempol belaka. Musuh sebenarnya Richard III adalah Henry Tudor. Ia adalah penuntut tahta utama dari Keluarga Lancaster

Henry Tudor telah hidup berpindah-pindah dan sembunyi-sembunyi demi mengelabui orang-orang yang dikirimkan oleh keluarga York untuk membunuhnya. Ia berhasil lolos dari semua upaya pembunuhan sampai akhirnya pada tahun 1485 ia bersiap untuk menggulingkan Richard III.

Pertempuran Bosworth (1485) antara Richard III melawan Henry Tudor

Tanggal 7 Agustus, Henry Tudor membawa 5.000 orang pasukan untuk bertempur melawan Richard yang punya 12.000 pasukan. Pada pertempuran itu, Richard terbunuh. Setelah 330 tahun lamanya dinasti Plantagenet berkuasa di Inggris, Henry Tudor kemudian menjadi raja dari dinasti yang baru, Dinasti Tudor.

(Bersambung ke Bagian II)


Referensi:

Lewis, Brenda Ralph. 2016. Sejarah Gelap Raja dan Ratu Inggris 1066 Hingga Saat Ini. Jakarta: Elex Media Komputindo.


4 Responses to "Sejarah Monarki dan Silsilah Dinasti Kerajaan Inggris (1066-Sekarang) - Bagian I"