Sejarah Awal dan Asal Usul Bangsa Inggris




Jauh sebelum penaklukkan oleh Normandia dan duduknya William Sang Penakluk di singgasana raja, Inggris telah mencatatkan sejarah panjangnya. Ribuan tahun sebelum masehi, kepulauan Britania telah dihuni oleh campuran berbagai ras yang berdatangan ke pulau tersebut. Namun dari berbagai ras itu, orang-orang dengan rambut hitam merupakan ras yang paling dominan. Dan dari sanalah sejarah awal dan asal muasal bangsa Inggris dimulai...

Iberia nama suku tersebut. Rambut mereka kehitam-hitaman dan suku ini telah lama menghuni kepulauan Britania. Orang-orang Iberia telah menetap sejak zaman batu ke zaman logam, dari fase kehidupan nomaden berburu hingga bertani dan mulai menetap.

Suku Iberia adalah sejumlah suku bangsa di pesisir timur dan semenanjung Iberia. Orang-orang Romawi biasa menggunakan istilah Hispania untuk menyebut orang-orang Iberia. Orang-orang inilah yang diperkirakan menyusun bongkahan batu-batu raksasa di Wiltshire yang kita kenal sebagai Stonehenge.

Stonehenge

Peradaban yang demikian maju pada masa itu dengan keberadaan Stonehenge pada zaman perunggu disebut-sebut berkaitan erat dengan adanya hubungan antara orang-orang Iberia tersebut dengan orang-orang Mesopotamia yang  merupakan salah satu peradaban tertua yang muncul di dunia. Rupanya sejak sekitar 2500 SM, orang-orang Mesopotamia telah melakukan interaksi melalui perdagangan dengan penduduk kepulauan Britania tersebut.

Pada abad ke 7 SM, gelombang suku bangsa Kelt (Celtic) datang. Orang-orang Kelt pada awalnya mendiami Jerman Barat Laut dan Belanda. Orang-orang ini bermigrasi besar-besaran melintasi benua Eropa kala itu. Sebagian dari mereka sampai dan akhirnya menetap di Perancis, Italia, Spanyol, hingga negeri-negeri Balkan (Eropa bagian tenggara). Sementara itu sisanya menyeberangi lautan dan melakukan penyerbuan secara bergelombang ke kepulauan Britania.



Orang-orang Kelt memiliki ciri fisik yang sama sekali berbeda dengan orang Iberia. Jika suku Iberia rambutnya kehitaman, maka orang Kelt memiliki rambut dengan warna yang lebih terang. Selain itu pula ukuran fisik orang-orang Kelt lebih besar dibandingkan orang Iberia.

Lalu bagaimana dengan nasib orang-orang Iberia yang telah lebih dahulu menetap di kepulauan Britania? Ya, seperti banyaknya kisah penyerbuan bangsa asing dan penaklukan, suku Iberia ditundukkan oleh orang-orang Kelt. Mereka dimusnahkan dan sisanya melarikan diri ke pegunungan dan daerah-daerah terpencil yang terletak di sebelah barat dan utara.

Namun meskipun orang-orang Iberia tadi melarikan diri menjauh dari orang-orang Kelt, namun lama kelamaan kedua suku bangsa ini mulai menyatu.


Kedatangan Romawi 

Saat itu sekitar tahun 55 atau 54 Sebelum Masehi, balatentara Romawi menginvasi Inggris di bawah komando Julius Caesar. Apa tujuan mereka? Rupanya penyerbuan ini berkaitan dengan usaha Romawi untuk menaklukkan Gaul (sekarang Perancis) yang kala itu dihuni oleh suku Kelt. Jadi suku Kelt yang berada di Gaul dan Inggris masih memiliki hubungan.

Tentara Romawi melakukan penyerbuan ke Inggris dengan harapan bila Inggris berhasil ditaklukkan, maka akan mudah untuk menundukkan Gaul. Tetapi penyerbuan pertama ini belum membuat Romawi menguasai Inggris sepenuhnya, karena memang pada penyerbuan tahap pertama itu mereka belum berencana menduduki Inggris secara tetap.

Penyerbuan balatentara Romawi pada Gaul akhirnya membuahkan hasil. Gaul akhirnya berhasil ditaklukkan. Pada tahun 43 Sebelum Masehi, Romawi kembali melakukan penyerbuan terhadap Inggris. Sebagian besar wilayahnya berhasil ditundukkan, namun tidak dengan Skotlandia dan Wales. Orang-orang Kelt di sana melakukan perlawanan sengit sehingga menyulitkan bala tentara Romawi melakukan penyerbuan. Wales pada akhirnya takluk. Sementara itu di Skolandia, tentara-tentara Romawi hanya berhasil menyerbu hingga ke perbatasan Inggris Utara.

Pada masa itu Romawi berada di bawah kekuasan Kaisar Hadrian. Karena selama bertahun-tahun Romawi selalu gagal menundukkan Inggris Utara, maka Kaisar Hadrian memerintahkan pembangunan sebuah tembok pertahanan untuk mengkonsolidasi pertahanan Romawi di wilayah itu. Sebuah tembok akhirnya mulai di bangun pada tahun 122 Masehi.

Tak tanggung-tenggung, tentara Romawi yang dikerahkan untuk melakukan pembangunan tembok pertahanan itu berhasil membangun hingga sepanjang 117 km. Tembok itu memanjang dari Segedunum, Sungai Tyne hingga ke pantai Solway Firth dengan lebar 6 meter dan tinggi 3,5 meter. Tembok itu dinamakan sesuai dengan nama sang Kaisar yaitu Tembok Hadrianus (Hadrian's Wall) atau dalam bahasa Latin Vallum aelium. Sampai saat ini kita masih bisa menjumpai Hadrian's Wall ini di Inggris Utara.

Hadrian's Wall

Orang-orang Romawi pada kenyataannya tidak memaksakan peradaban mereka kepada penduduk pribumi. Jika penduduk lokal tak menyukai peradaban yang dibawa oleh orang-orang Romawi, maka mereka dapat menggunakan adat istadat pribumi. Toleransi Romawi ini diharapkan dapat meminimalisir tentangan dari suku-suku lokal yang dapat membahayakan kekuasaan Romawi. Lagi pula pengaruh peradaban Romawi tidak merata di seluruh Inggris. Hanya di Inggris Selatan dan Timur saja yang pengaruhnya cukup kuat. Di wilayah lain seperti Inggris Utara, Wales, pengaruh ini hampir tidak dirasakan sama sekali.

Saat seratus tahun kemudian bala tentara Romawi ditarik mundur dari tanah Inggris, maka perlahan-lahan peradaban Romawi mengalami kemusnahan. Satu-satunya peninggalan Romawi yang masih bertahan dan permanen adalah agama kristen yang masuk ke Inggris sejak abad ke 4.


Serangan Suku-Suku Germanik dan Runtuhnya Peradaban Romawi di Inggris

Pada akhir abad ke 4 Masehi, kekaisaran Romawi berangsur-angsur mengalami kemunduran. Mereka diserang bertubi-tubi oleh suku-suku Celtic (Kelt) primitif dari Utara. Tidak hanya itu, serbuan suku-suku Germanik kian mengganas.

Siapakah sebenarnya suku-suku Germanik ini? Orang-orang Germanik ialah orang-orang dari suku-suku Jute, Angle, dan Saxon. Orang-orang ini seringkali disingkat dengan sebutan Anglo-Saxon.



Suku Jute berasal dari Jutland, Denmark Utara, namun kemudian pindah ke Frisia (wilayah pantai Jerman Utara dan Belanda). Sementara itu suku-suku Angle dan Saxon berasal dari sebagian wilayah pantai Denmark dan Jerman Utara (muara sungai Elbe). Ketiga suku ini memiliki budaya serta bahasa yang hampir sama. Peradaban suku-suku Jute, Anglo, dan Saxon ini sesungguhnya masih rendah jika dibandingkan dengan Romawi.

Sekarang kita kembali pada situasi Romawi di Inggris. Keadaan dan pengaruh Romawi yang kian merosot diperparah lagi semakin sedikitnya tentara Romawi yang dikirim ke Inggris. Puncaknya adalah pada awal abad ke 5 Masehi, tentara Romawi ditarik seluruhnya dari Inggris akibat dari keadaan di pusat pemerintahan Romawi yang sudah sangat kacau.

Penarikan tentara Romawi ini akhirnya membuat suku-suku Germanik semakin leluasa. Mereka berdatangan ke Inggris dalam kelompok-kelompok besar. Mereka menghancurkan sisa-sisa peradaban dan kebudayaan Romawi yang masih tersisa, berbagai serangan, perampokan, hingga pembunuhan menghantui orang-orang Kelt yang mendiami Inggris.

Tak seperti Romawi yang hanya bertujuan ingin menundukkan Inggris, orang-orang Germanik ini memang ingin menetap di Inggris dan merebut tanah orang-orang lokal. Mereka menempati dataran-dataran subur, yang menyebabkan orang-orang Kelt harus rela menyingkir ke belantara Cornwall dan juga pegunungan Wales. Sebagian dari orang Kelt kemudian ada pula yang memutuskan untuk pergi ke Perancis, yang memang didiami oleh suku Kelt.

Seabad kemudian yaitu pada abad ke 6, penyerbuan suku Germanik mereda. Segera setelah itu terbentuklah beberapa kerajaan di Inggris yang dikenal dengan Anglo-Saxon Heptarchy, yang terdiri dari Northumbria, Mercia, East Anglia, Kent, Essex, Wessex, dan Sussex. Uniknya kerajaan-kerajaan ini tidaklah bersifat tetap. Kadangkala dua kerajaan atau lebih dipimpin oleh satu raja, terkadang pula satu kerajaan dibagi antara beberapa raja.


Invasi Orang-Orang Skandinavia dan Lahirnya Kerajaan di Inggris

Pada tahun 827, di bawah kekuasaan Raja Wessex yang bernama Egbert, Mercia dan Northumbria berhasil ditaklukkan. Saat itu merupakan pertama kalinya bangsa Inggris berada di bawah satu orang raja.

Egbert, King of Wessex

Pada akhir abad ke 8, Inggris diserang oleh orang-orang Viking. Memang pada akhir abad ke 8 hingga abad ke 10, orang Viking dikenal merupakan pelaut-pelaut ulung yang menguasai daerah pantai Atlantik dan Lautan Tengah, mulai dari Amerika Utara, Eslandia, Inggris, Perancis, hingga Konstantinopel. Orang-orang Viking ini datang dalam kelompok besar dengan motivasi untuk merampok dan menetap di negeri orang.

Invasi Viking

Pertengahan abad ke 9, orang-orang Skandinavia sudah menguasai Inggris bagian timur dan utara. Mereka lalu mulai membidik wilayah Wessex yang saat itu dipimpin oleh Raja Alfred. Raja Alfred berhasil mengalahkan Viking, dan bukan hanya itu saja ia pun memaksa Viking meninggalkan Wessex dan menetap di sebelah timur garis antara Chester dan London. Wilayah ini dinamakan Danelaw.

The Danelaw

Raja Alfred yang telah memperoleh kemenangan atas orang-orang Viking kemudian melakukan pembenahan di seluruh aspek. Ia memerintahkan untuk perbaikan pusat-pusat ilmu yang telah hancur serta memerintahkan untuk menerjemahkan buku-buku mulai dari sejarah, ilmu bumi, teologi, dan sebagainya dari bahasa Latin ke bahasa Inggris. Raja Alfred juga mendatangkan sarjana-sarjana dari luar Inggris.

Raja Alfred melakukan perbaikan pada bidang pertahanan dan keamanan serta memperbaiki sistem administrasi pemerintahan. Raja Inggris satu-satunya yang memiliki julukan "Yang Agung" ini membuat banyak perubahan di Inggris.  Orang-orang Anglo-Saxon dan Skandinavia perlahan-lahan mulai bersatu, terutamanya setelah penyerangan oleh bangsa Viking. Orang-orang Viking yang masih tersisa pun kemudian bersedia untuk hidup dan menetap di Inggris di bawah raja Inggris.

Pada akhir abad ke 10 terjadi penyerbuan. Serbuan datang dari Norwegia yang dipimpin oleh Olaf dan juga Svein, Raja Denmark. London dan juga beberapa wilayah di Inggris menjadi sasaran penyerangan. Mereka meminta uang tebusan yang makin lama semakin besar. Svein kemudian memutuskan menjadi Raja Inggris, namun ia meninggal dunia sebelum hal tersebut terwujud. Ia lalu digantikan oleh putranya Canute pada tahun 1016. Ia berhasil menjadi raja setelah setelah dipilih oleh dewan Witenagemot dan berhasil menyingkirkan Edmund Ironside, keturunan Alfred.

Canute

Canute bukan hanya menjadi Raja Inggris, namun ia juga merangkap menjadi Raja Denmark. Namun bersatunya Inggris dan Denmark hanyalah sebentar. Sepeninggal Canute, Denmark dan Inggris terpisah. Dan raja pertama sesudah dua negeri itu terpisah adalah Edward the Confessor, keturunan Alfred dari Wessex. Ia adalah raja Anglo-Saxon yang terakhir. Edward tak berorientasi ke Skandinavia, namun ke Normandia di Perancis.

Edward the Confessor

Saat Edward meninggal dunia tahun 1066, ia kemudian digantikan oleh Harold Godwinson. Namun di tahun yang sama pula Godwinson dibunuh oleh Normandia di bawah pimpinan William Sang Penakluk dalam pertempuran paling legendaris dan bersejarah di Inggris, Pertempuran Hastings. Pertempuran yang terjadi pada 14 Oktober 1066 ini sekaligus sebagai penetuan kemenangan Normandia dalam penaklukan Inggris.

Ilustrasi Pertempuran Hastings (Battle of Hastings)

Sejak saat itu, Inggris diambil alih dan berada di bawah kepemimpinan William The Confessor. Dan sejak saat itu pula lah dimulai dinasti/wangsa Normandia di Inggris.


Referensi :

Samekto. 1998. Ikhtisar Sejarah Bangsa Inggris. Jakarta : Grasindo
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_England
https://id.wikipedia.org/wiki/William_Sang_Penakluk
https://id.wikipedia.org/wiki/Tembok_Hadrianus
https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Hastings


0 Response to "Sejarah Awal dan Asal Usul Bangsa Inggris"

Post a Comment