Misteri Stonehenge




"The more we dig. the more the mystery seems to deepen."
(William Hawley)


Letnan Kolonel William Hawley (1851-1941) adalah arkeolog Inggris yang bekerja meneliti Stonehenge pada masa setelah Perang Dunia I (1919-1926). Hawley boleh jadi adalah arkeolog pelopor dan resmi pertama yang bertugas meneliti bangunan bersejarah itu.

Tugas pertama Hawley pada akhir tahun 1919 adalah menegakkan beberapa batu-batu raksasa Stonehenge yang memang telah jatuh ke tanah. Hawley untuk pertama kalinya berhasil mengidentifikasi Lubang Aubrey (Aubrey Holes), Lubang Y dan Z, serta stoneholes yang terdapat di tengah monumen.

William Hawley (ketiga dari kanan) bersama para pekerja pada penelitian Stonehenge (1920)

Meskipun berhasil mengidentifikasi beberapa batuan dan lubang yang terdapat di sekitar situs bersejarah itu, namun Hawley sendiri tak memungkiri dirinya sempat frustasi dan bingung kala melakukan penelitian yang lebih mendalam pada Stonehenge. Penelitiannya bahkan tak menunjukkan perkembangan berarti dan belum benar-benar usai hingga tahun 1926. Hawley sendiri meninggal dunia tahun 1941.

Pada tahun 1950an, Richard Atkinson melanjutkan apa yang diteliti oleh Hawley. Dan sejak saat itu pula mulai banyak ahli yang mencoba untuk melakukan penelitian terhadap Stonehenge.

Stonehenge adalah salah satu situs bersejarah paling terkenal di dunia. Lingkaran batu tegak ini terletak berdekatan dengan Amesbury di Wiltshire, Inggris atau kurang lebih 13 km arah barat laut Salisbury.

Lokasi Stonehenge

Situs batu bersusun yang menyerupai situs pemakaman ini memiliki parit dengan diameter 340 kaki dengan kedalaman 5 kaki. Sementara itu 4 baris batu, di mana dua lingkaran membentuk pola seperti tapak kuda. Lingkaran luar memiliki diameter sekitar 100 kaki dan aslinya memiliki 30 batu tegak lurus (masih tersisa 17 yang tegak berdiri) dengan berat rata-rata 25 ton dan menyambung pada bagian atas yang disebut juga dengan cincin batu.

Batu-batu Stonehenge terbuat dari sarkasen, yaitu batu pasir yang memiliki tinggi rata-rata 26 kaki. Batu-batu raksasa yang berpasangan memiliki pilar horizontal di atasnya sehingga terlihat seperti ambang pintu. Pada ambang pintu dikunci oleh pahatan. Semua batu-batu ini halus dan licin serta telah dibentuk.

Lingkaran kedua terdiri dari batuan biru, dengan ukuran yang lebih kecil. Di dalam lingkaran terdapat 5 pasang ambang pintu yang terbuat dari batu sarkasen dengan bentuk sepatu kuda. Bentuk sepatu kuda lainnya dengan batuan biru terdapat di tengah-tengah. Satu-satunya batuan yang masih tegak berdiri disebut juga dengan Heel Stone posisinya berada di tengah-tengah.

Ilustrasi susunan Stonehenge

Beberapa batuan Stonehenge menurut sejarahnya memang mengalami kejatuhan pada masa Romawi di Inggris yakni antara tahun 55 SM dan 410 M. Dua batuan yang tegak berdiri dan sebuah ambang pintu pernah jatuh pada 1797 dan dua yang lainnya jatuh pada tahun 1900. Lima batuan yang jatuh sejak tahun 1797 diletakkan kembali di tempatnya pada tahun 1958.

Perkiraan bentuk awal Stonehenge

Teori dan Tujuan Dibangunnya Stonehenge

Beberapa teori muncul mengenai berdirinya Stonehenge serta apa tujuan dari situs batu raksasa ini. Stonehenge sendiri mulai disebut-sebut dalam catatan sejarah pada abad ke 12, terutama oleh Geoffrey of Monmouth (1100-1154) pada History of The Kings of Britain. Namun kisah dari Geoffrey ini dicampur bersama dengan peristiwa-peristiwa yang didokumentasi bersama cerita rakyat dan beberapa kisah lainnya yang tak akurat.

Geoffrey kemudian mempercayakan Stonehenge kepada Merlin, orang pintar yang sering dikaitkan dengan King Arthur. Menurut catatan Geoffrey, Merlin diminta oleh Ambrosius Aurelianus, saudara laki-laki Uther Pendragon dan paman King Arthur untuk menegakkan monumen di mana di situs itu pula dahulunya banyak orang-orang Inggris terbunuh oleh orang Saxons. Konon Merlin menggunakan sihir untuk memindahkan batuan-batuan raksasa tersebut.

Teori lainnya menyebutkan bahwa Stonehenge merupakan sisa peradaban Mycenae Yunani yang berpusat di Laut Aegean pada masa lampau. Sementara itu ada pula yang meyakini bahwa Stonehenge tak lain adalah sisa dari peradaban kebudayaan Celtic yang ada sebelum kedatangan bangsa Romawi ke Inggris.

Ilustrasi upacara sakral di Sonehenge yang dipimpin oleh Druids

Pendeta-pendeta Celtic yang disebut dengan Druids dipercaya sebagai orang dibalik pembangunan sekaligus pendesain Stonehenge. Druids diyakini memegang pengetahuan sekaligus sebagai pimpinan dalam setiap upacara sakral yang dikaitkan dengan berbagai ritual mistik hingga pengorbanan manusia. Slaughter Stone yang berada di Stonehenge dipercaya merupakan altar bagi upacara pengorbanan manusia.

Teori lainnya yang tak kalah terkenal mengaitkan situs Stonehenge dengan astronomi. Setidaknya inilah teori yang diamini oleh Gerald Hawkins dari Boston University. Hawkins mempublikasikan temuannya pada tahun 1963 dalam Nature yang kemudian diluaskan dalam bentuk buku yang berjudul Stonehenge Decoded (1965). Hawkins meyakini bahwa Stonehenge dahulunya digunakan sebagai tempat untuk mengamati semacam observatorium benda-benda langit. Ia juga berpendapat bahwa Stonehenge berfungsi sebagai kalender.

Referensi :

http://www.unexplainedstuff.com/Places-of-Mystery-and-Power/Stonehenge.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Stonehenge
https://en.wikipedia.org/wiki/William_Hawley

0 Response to "Misteri Stonehenge"

Posting Komentar