Misteri Hilangnya Michael Rockefeller, Cucu Konglomerat Rockefeller di Papua




Nelson Rockefeller mungkin tak akan pernah menyangka kepergian putra kesayangannya pada tahun 1961 untuk ekspedisi ke tanah Papua akan berakhir tragis. Michael tak pernah kembali, bahkan jasadnya tak pernah ditemukan. Apa yang sebenarnya terjadi padanya masih menyimpan misteri dan menyisakan teori mulai dari mati tenggelam, diserang buaya, hingga dibunuh dan dimakan oleh suku Asmat.

Michael Clark Rockefeller lahir pada 18 Mei 1938. Ia adalah putra bungsu gubernur negara bagian New York, Nelson Rockefeller sekaligus cicit John D. Rockefeller, pendiri Standard Oil yang juga merupakan salah satu orang paling kaya dalam sejarah.



Tidak seperti saudaranya yang lain yang menaruh minat pada dunia bisnis dan investasi, Michael merupakan pribadi yang cinta pada alam. Jadi begitu lulus kuliah dari Harvard, ia memilih berpetualang dan melakukan ekspedisi dibanding duduk di ruang rapat atau mengadakan pertemuan bisnis.

Baca juga: 7 Fakta dan Sejarah Gelap Keluarga Rockefeller

Ayahnya, Nelson Rockefeller, ternyata adalah kolektor seni yang baru membuka Museum Seni dan pameran. Berbagai benda-benda dari peradaban kuno seperti Aztec dan Maya begitu memikat Michael. Lalu ia memutuskan untuk mencari benda-benda dari peradaban primitif. Ia kemudian mulai aktif dalam dewan museum yang dimiliki sang ayah.

Keluarga Rockefeller, Michael berdiri di kanan belakang

Untuk memenuhi hasratnya itu, Michael pergi ke berbagai penjuru dunia. Ia bahkan pernah menetap selama beberapa waktu di Jepang dan juga Venezuela. Imiannya adalah melakukan ekspedisi antropologis di tempat yang belum banyak dijamah manusia modern.


Ekspedisi Michael ke Tanah Papua

Setahun berangkat ke Papua, pada tahun 1960 sebenarnya Michael bertugas selama 6 bulan sebagai tamtama di Angkatan Darat Amerika Serikat. Ia lalu melanjutkan ekspedisi ke Museum Arkeologi dan Etnologi Peabody Harvard untuk mempelajari antropologi suku Dani di Papua. Michael juga terlibat dalam sebuah film dokumenter bertajuk "Dead Birds" yang diproduksi Robert Gardner, di mana di sana ia bertugas sebagai perekam suara. 

Tetapi Michael dan temannya tidak mengembangkan penelitian tersebut. Mereka justru pindah dan mulai mempelajari Suku Asmat di selatan Papua.



Setelah menyelesaikan tugas penelitian di Museum Peabody, Rockefeller kembali lagi ke Papua untuk mempelajari suku Asmat sekaligus mengumpulkan barang kesenian suku tersebut untuk museumnya. 

Sebenarnya pada tahun 1960an, kolonial Belanda dan juga misionaris sudah berada di pulau tersebut selama hampir satu dekade lamanya. Tetapi kebanyakan orang Suku Asmat belum pernah melihat orang kulit putih.

Baca juga: Insiden Ekspedisi Franklin

Menurut pemikiran orang suku Asmat pada masa itu, tanah di luar pulau yang mereka tempati dihuni oleh arwah, dan ketika melihat orang kulit putih datang dari seberang lautan, mereka melihat orang-orang tersebut semacam makhluk gaib. Pemikiran seperti ini muncul karena kontak suku Asmat dengan dunia luar saat itu masih sangat terbatas.

Michael Rockefeller dan timnya mendatangi desa Otsjanep yang merupakan kampung bagi komunitas utama Asmat di pulau tersebut. Saat kedatangan Michael dan timnya, orang-orang suku tak mengizinkan mereka untuk membeli artefak budaya yang ada di sana, seperti pilar kayu berukir dan beberapa benda yang digunakan untuk ritual Asmat.



Pada saat itu perang antar desa adalah hal yang sudah biasa terjadi. Michael mengetahui bahwa para pejuang Asmat sering kali mengambil kepala musuh-musuh mereka dan memakan dagingnya. 

Meskipun demikian, Michael percaya bahwa perburuan kepala dan praktik kanibalisme di Asmat hanyalah bagian dari siklus balas dendam yang menjadi tradisi suku-suku di sana.

Meskipun demikian, Michael dalam surat yang dikirmkan ke rumahnya mengaku ia melewati hari-hari yang menyenangkan di tanah Papua. Ia banyak menghabiskan waktu dengan aktif terlibat dalam budaya dan kesenian sambil mengambil data etnografi setempat.



Namun rupanya hanya beberapa tahun sebelum kedatangan Michael dan timnya ke Otsjanep, para tetua di sana telah dibunuh oleh polisi Nugini Papua. Ada kemungkinan bahwa apa yang nanti akan menimpa Michael merupakan kejadian yang tak disengaja, di mana pria muda itu sebenarnya hanyalah korban dari motif balas dendam suku Asmat yang dimulai oleh polisi Nugini Belanda.


Ekspedisi Terakhir Michael Rockefeller

Michael kemudian diketahui kembali lagi ke Papua pada November 1961. Kali ini ia datang bersama antropolog Belanda, Rene Wassing.

Baca juga: 7 Ekspedisi Penjelajahan yang Berakhir Tragis

Pada tanggal 19 November 1961, Michael dan Wassing tengah berada di sebuah sampan dengan lebar 12 meter. Ketika kapal itu mulai mendekati Otsjanep kira-kira 12 km dari tepian pantai, badai tiba-tiba datang. Air mengguncang yang dengan cepat membuat sampan yang mereka naiki bocor dan terbalik. Michael dan Wassing berpegangan di lambung sampan yang terbalik.

Michael kemudian berinisiatif untuk berenang dan pergi mencari bantuan. Namun Michael tak pernah lagi kembali. Keesokan harinya Wassing berhasil diselamatkan. Pencarian telah diupayakan oleh tim, tapi mereka sama sekali tak menemukan jejak sang pewaris Rockefeller tersebut.



Hilangnya Michael segera menjadi berita utama di seluruh dunia. Keluarga bahkan datang langsung untuk membantu upaya pencarian. Kapal, pesawat terbang, dan helikopter dikerahkan bersama dengan sejumlah besar sukarelawan.

Berhari-hari upaya pencarian tak juga menemukan titik terang. Setelah sembilan hari lamanya pencarian itu, menteri dalam negeri Belanda menyatakan,"Sepertinya tidak ada lagi harapan untuk menemukan Michael Rockefeller dalam keadaan hidup-hidup".



Keluarga Michael meninggalkan Papua dan dua minggu kemudian Belanda menghentikan pencarian dan menyatakan bahwa penyebab resmi kematian Michael adalah tenggelam. Meskipun jasadnya tak ditemukan.

Hilangnya Michael Rockefeller di pedalaman Papua kemudian membuat rumor dan teori menyebar. Beberapa mengatakan ia telah dimakan hiu atau buaya saat memutuskan untuk berenang. Seperti diketahui wilayah itu sendiri memang masih banyak menyimpan hewan-hewan buas di perairannya. Bukan tidak mungkin Michael memang diserang oleh hewan-hewan tersebut.



Teori lainnya meyakini bahwa ia telah dibunuh dan dimakan oleh orang-orang Asmat. Praktik perburuan kepala dan kanibalisme memang saat itu masih ada di sana. Sementara itu yang lainnya percaya bahwa ia sebenarnya tidak meninggal melainkan tinggal di suatu tempat di Papua dan melarikan diri dari kehidupan keluarganya yang glamor.

Pada tahun 1969, jurnalis Milt Machlin datang ke Papua untuk menyelidiki hilangnya Michael Rockefeller. Machlin menolak beberapa laporan yang menyatakan bahwa Michael masih hidup dan menjadi tawanan di hutan.

Penulis bernama Paul Toohey dalam bukunya yang berjudul "Rocky Goes West" mengklaim bahwa ibu Michael menyewa seorang penyidik swasta untuk pergi ke Papua dan mencoba menyelidiki hilangnya sang putra.....


Kasus Kembali Dibuka

Pada tahun 2014, reporter National Geographic, Carl Hoffman menyatakan bahwa dua misionaris Belanda yang telah bertahun-tahun tinggal di pulau itu dan berbicara dalam bahasa mereka mengatakan kepada pihak berwenang setempat bahwa mereka pernah mendengar dari suku Asmat bahwa beberapa dari mereka telah membunuh Michael Rockefeller.

Petugas polisi, Wim van de Waal kemudian dikirim untuk menyelidiki hal ini. Dalam penyelidikannya ia membawa tengkorak yang diklaim Asmat sebagai tengkorak Michael Rockefeller.

Baca juga: Percy Fawcett dan Ekspedisi Maut Pencarian Kota Z yang Hilang

Namun semua laporan tersebut terkubur dalam file yang bersifat sangat rahasia dan tidak diselidiki lagi lebih lanjut. Keluarga Rockefeller sendiri diberitahu bahwa tidak ada desas-desus yang menyatakan bahwa Michael dibunuh oleh penduduk lokal.

Carl Hoffman kemudian memutuskan untuk pergi sendiri menyelidiki kasus ini. Ia memulainya dengan melakukan perjalanan ke Otsjanep. Di sana ia menyamar sebagai seorang jurnalis yang mendokumentasikan budaya orang Asmat. Penerjemahnya kemudian mendengar seorang pria mengatakan kepada anggota suku yang lain bahwa mereka tidak boleh membicarakan tentang turis kulit putih yang meninggal di sana.

Carl Hoffman dalam sebuah kunjungan ke Papua

Atas desakan Hoffman yang mengatakan siapa turis yang mereka maksud, ia mengatakan bahwa pria itu adalah Michael Rockefeller. Dia mengetahui bahwa sudah menjadi rahasia umum di pulau tersebut bahwa orang Asmat di Otsjanep membunuh pria kulit putih dan mereka tidak boleh menyebutkannya karena takut adanya pembalasan.

Pada tahun 1957, sekitar 3 tahun sebelum Michael tiba di sana, sebuah pembantaian terjadi antara dua suku yaitu suku desa Otsjanep dan Omadesep yang menewaskan puluhan orang.

Pemerintah kolonial Belanda yang baru saja mengambil alih pulau tersebut berupaya untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di sana. Mereka lalu memutuskan untuk melucuti orang suku Otsjanep, tetapi karena adanya kesalahpahaman Belanda kemudian melepaskan sejumlah tembakan yang membuat beberapa orang Otsjanep tewas.



Jadi menurut cerita yang beredar, saat Michael datang ke perbatasan, orang-orang suku segera mengenalinya sebagai penjajah Belanda karena warna kulitnya. Meskipun sempat ragu-ragu, mereka kemudian menombaknya. Michael yang bersimbah darah lalu tewas. Kemudian yang terjadi adalah peristiwa mengerikan mulai dari pemotongan kepala sampai menguliti jasadnya dan dijadikan makanan. Tulang paha Michael menurut desas-desus dijadikan senjata.

Beberapa waktu kemudian desa itu diserang wabah kolera. Banyak orang di sana yang meninggal dunia karena penyakit tersebut. Beberapa orang kemudian mengaitkannya dengan pembunuhan terhadap Michael. Mereka percaya kalau wabah itu sebenarnya adalah hukuman atas perbuatan yang mereka sudah lakukan terhadap Michael.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Rockefeller
https://allthatsinteresting.com/michael-rockefeller
https://www.smithsonianmag.com/history/What-Really-Happened-to-Michael-Rockefeller-180949813/

2 Responses to "Misteri Hilangnya Michael Rockefeller, Cucu Konglomerat Rockefeller di Papua"

  1. Tujuan utamanya adalah meneliti, lalu hasil penelitiannya akan dibawa kembali pulang utk museum ayahnya dan dipublikasi secara umum, bagaimana mungkin dia berencana hanya utk menetap di Papua utk menghindari kehidupan yg glamor?
    Kasus ini harusnya sudah selesai, hanya saja mereka datang dalam situasi konflik dan kondisi yg kurang tepat pada saat itu.

    ReplyDelete