Misteri Kematian Tan Malaka




Bersama dengan beberapa orang pengikutnya, Tan Malaka melarikan diri ke belantara hutan di selatan Jawa Timur pada Februari 1949. Namun setelah dua hari berjalan, rombongan ini tiba-tiba disergap di sebuah desa di lereng gunung Wilis. Menurut cerita pengawalnya, Tan Malaka ditembak mati di sana. Namun ada rumor yang mengatakan bahwa ia dibuang di kali Brantas, ada pula yang mengatakan ia berhasil menyelamatkan diri. Namun teori yang paling terkenal adalah tokoh kontroversial ini ditembak mati dan dikuburkan secara rahasia di tengah hutan...

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka adalah salah satu tokoh kontroversial Indonesia. Ia merupakan tokoh sayap kiri dan juga pejuang kemerdekaan Indonesia. Sepak terjangnya dalam kemerdekaan republik ini membuatnya disebut-sebut sebagai Che Guevara-nya Indonesia. Sayangnya tak banyak yang mengenal sosok satu ini sehingga ia dianggap sebagai Bapak Republik yang terlupakan.


Lahir di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat, 2 Juni 1897, Tan Malaka pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengenyam pendidikan di Rijkskweekschool, Belanda pada usia 16 tahun. 

Perkenalannya dengan paham sosialisme dan komunisme berawal saat dirinya seringkali membaca buku-buku karya Karl Marl, Friedrich Engels, hingga Vladimir Lenin pasca jatuhnya Dinasti Romanov Tsar Nikolas II yang diikuti pembunuhan keluarga kerajaan yang kemudian disusul dengan Revolusi Oktober atau Revolusi Rusia pada Oktober 1917.

Baca juga:

Tan Malaka adalah sosok yang gigih berjuang bagi kemerdekaan Indonesia, pun ketika negeri ini telah merdeka. Namun Datuk mengambil jalan perjuangan yang berbeda dengan Soekarno dan Hatta. Sosok yang diketahui tak pernah menikah hingga akhir hayatnya karena perhatian yang besar bagi perjuangan kemerdekaan ini, tak senang dengan politik diplomasi yang dilakukan Soekarno dan kawan-kawan. Baginya untuk apa berunding dengan Belanda yang jelas-jelas menjajah dan merampok bangsa ini. 

"Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya" (Tan Malaka)

Setelah kemerdekaan, ia menjadi pelopor pergerakan sayap kiri. Tan Malaka terlibat dalam pembentukan Persatuan Perjuangan yang disebut-sebut sebagai dalang dari penculikan Sutan Syahrir yang kala itu menjabat sebagai perdana menteri.

Akibatnya, ia dijebloskan ke dalam penjara tanpa diadili. Tan Malaka mendekam selama 2,5 tahun yang merupakan periode di mana ia menuliskan sebuah karya fenomenalnya, Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi). Sementara 5 tahun sebelumnya ia menulis karya lainnya yang tak kalah sensasionalnya yaitu Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Semua karya-karya Tan Malaka tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi republik ini saat itu.

Pada September 1948, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara, menyusul meletusnya pemberontakan FDR/PKI di Madiun yang dipimpin Muso dan Amir Syarifuddin. Menurut beberapa pendapat dikeluarkannya Tan Malaka tak lain adalah sebagai kekuatan yang dapat menyaingi Muso yang saat itu baru saja pulang dari Uni Soviet.

Hal yang menarik adalah komunisme dan sosialisme Tan Malaka dan Muso sangat berbeda. Ia bahkan berseberangan pemikiran dengan kebijakan PKI tahun 1926 dan 1948 yang menginginkan adanya kudeta. Tan juga berpandangan untuk menggandeng kekuatan Islam yang ditolak oleh komintern dan PKI.



Tan Malaka dibebaskan pada 16 September 1948. Tampaknya sang Datuk jengah dengan situasi Indonesia dari hasil Perundingan Linggarjati (1947) dan Perjanjian Renville (17 Januari 1948) di mana pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir dan Amir Syarifudin. 

Begitu keluar dari penjara dan setelah pembubaran PKI Madiun pada 1948 yang kemudian dilarang pemerintah, Tan kemudian menggagas sebuah partai baru yaitu Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) pada 7 November 1948 di Yogyakarta. Partai ini berasaskan pada antifasisme, antikapitalisme, dan antiimperialisme. Tan Malaka sendiri enggan untuk menjadi pemimpin partai.

Usai kongres pendirian Partai Murba ini, Tan segera memutuskan untuk segera melakukan pergerakan. Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota dirasa tidak aman karena bahaya penangkapan pemerintah dan terjadinya pendudukan Belanda. Tan lalu mengarahkan tujuannya ke Jawa Barat. Namun di daerah ini Darul Islam sangat aktif. Tan lalu memutuskan untuk melakukan pergerakannya ke JawaTimur yang dianggap aman bagi pergerakan kiri kala itu.

Selain itu juga, rupanya ada jaminan keamanan dari komandan divisi Soengkono dan tawaran bantuan dari komandan batalion Sabarudin di Jawa Timur. Maka berangkatlah Tan Malaka bersama dengan para pengikutnya ke Kediri pada 12 November 1948.



Akhir November 1948, Tan Malaka menuju Kediri dan mengumpulkan sisa-sisa pasukannya yang masih ada. Tan kemudian membentuk Gerilya Pembela Proklamasi. Tan mengecam politik diplomasi ala Soekarno Hatta dan menyebut dirinya sebagai pemimpin dari revolusi Indonesia.

Sepak terjang dan propaganda Tan Malaka kemudian dianggap sebagai ancaman besar bagi kedaulatan negara. Kemudian diputuskanlah gerakannya harus dihentikan.

Tan Malaka yang berpindah-pindah tempat dan markas akhirnya disergap oleh TRI (sekarang TNI) di kawasan Pace, Jawa Timur. Namun pasukan TRI urung menangkap Tan Malaka dan pengikutnya. Mereka ditarik mundur lantaran akan menghalau pasukan Belanda. Tan beserta 60 orang pengikutnya kemudian dibebaskan.

Tan Malaka bersama pengikutnya tersebut kemudian melarikan diri ke daerah selatan Jawa Timur. Naasnya di tengah perjalanan mereka ditembaki oleh kelompok bersenjata. Rombongan Tan kocar-kacir. Tan kemudian memutuskan untuk membagi rombongan demi keamanan. Tan bersama 4 pengikutnya kemudian berjalan ke daerah Tulung Agung.



Harry A. Poeze, dalam bukunya menuturkan bahwa Tan Malaka dibunuh dengan cara ditembak. Hal ini sesuai dengan kesaksian seorang pengawal Tan yang bernama Sukarna. Sukarna sendiri berhasil melarikan diri dan menceritakan kisahnya pada Jamaludin Tamim, seorang pengikut Tan saat di Bangkok.

Harry Poeze sendiri adalah sejarawan Belanda yang mendedikasikan hidupnya untuk menelusuri kehidupan Datuk Tan Malaka. Rahasia kematian Tan Malaka terungkap pada tahun 1990 saat Harry Poeze melakukan penelitian mencari jejak Tan Malaka di wilayah Kediri, Jawa Timur.

Harry Poeze, sejarawan Belanda yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti kehidupan Tan Malaka

Dalam perjalanannya menyelusuri lereng Gunung Wilis di Selopanggung, Kediri, itulah Tan Malaka ditangkap oleh Letnan dua Soekotjo dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya.

Tan Malaka dieksekusi mati pada 21 Februari 1949 oleh Suradi Tekebek yang merupakan orang yang ditugasi oleh Sukotjo. Setelah peristiwa penembakan itu, ada perjanjian antara Soektjo dan Surachmad untuk merahasiakan tentang kematian Tan Malaka. Kematian Tan Malaka tanpa laporan apa pun. Jasadnya kemudian dimakamkan di tengah hutan dekat markas Soekotjo. Hilangnya Tan Malaka dan kematiannya misterius hingga puluhan tahun lamanya.

Harry Poeze berhasil menemukan makam Tan Malaka di Selopanggung. Sekelompok dokter ahli forensik dari Universitas Indonesia pernah mengambil sampel DNA dari keluarga Tan namun hasilnya belum dapat dipastikan 100%. Harry Poeze sendiri sangat yakin bahwa kuburan di Selopanggung itu adalah tempat peristirahatan terakhir Tan Malaka.

Makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur

Pada 21 Februari 2017, jenazah Tan Malaka secara simbolis dipindahkan dari Kediri ke Sumatera Barat, tanah kelahiran Datuk. Hal ini dilakukan dengan cara membawa tanah dari pekuburan Tan Malaka setelah pihak keluarga besar Tan Malaka dan kelompok dari Tan Malaka Institute gagal membawa jenazah secara utuh.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka
https://www.antaranews.com/berita/416024/kisah-di-balik-tewasnya-tan-malaka
https://historia.id/politik/articles/hari-ini-adalah-hari-kematian-tan-malaka-6kRrj
https://news.okezone.com/read/2009/09/13/1/257032/menguak-misteri-kematian-tan-malaka

0 Response to "Misteri Kematian Tan Malaka"

Post a Comment