Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Kekejaman Ratu Ranavalona I




Dalam catatan sejarah terdapat deretan para penguasa kejam yang tega menumpahkan darah manusia demi ambisi kekuasaan. Namun tahukah kalian dari para penguasa kejam tersebut ada nama seorang penguasa wanita dari Madagaskar yang begitu sadis dan terkenal akan kebrutalannya. Selama masa kekuasaannya lebih dari 3 dekade, ia bertanggung jawab atas kematian jutaan orang...

Ratu tersebut bernama Ranavalona I. Ranavalona I terlahir pada sekitar tahun 1778 dengan nama Rabodoandrianampoinimerina (Ramavo) dari pasangan Pangeran Andriantsalamanjaka dan juga Putri Rabodonandriantompo. Ia dibesarkan di kediaman kerajaan di Ambatomanoina.

Saat Ramavo masih kecil, terjadi suatu insiden. Raja Andrianampoinimerina mendapatkan ancaman pembunuhan. Beruntung, ayah Ramavo berhasil mengetahui rencana pembunuhan yang didalangi oleh Andrianjafy, yang tak lain adalah paman raja yang telah diturunkan sebelumnya oleh Raja Andrianampoinimerina.

Sebagai balas budi serta penghargaan karena telah menyelamatkan nyawanya, Raja Andrianampoinimerina kemudian menjodohkan putra mahkota kerajaan tersebut, Pangeran Radama dengan putri Raja Andriantsalamanjaka yang tak lain adalah Ramavo.

Queen Ranavalona I

Namun rupanya Ramavo bukanlah istri yang diinginkan Radama. Ia sama sekali tak mencintai wanita itu. Terlebih lagi pasangan ini tak memperoleh keturunan, tambah membuat pernikahan mereka tak harmonis.

Raja Andrianampoinimerina mangkat tahun 1810 dan segera digantikan oleh putranya Radama. Setelah duduk di singgasana raja, Radama kemudian melakukan adat kerajaan. Ia menghukum mati sejumlah kerabat Ramavo yang dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaannya. Tindakan ini kemudian benar-benar membuat dendam di hati Ramavo.

Raja Radama meninggal dunia pada 27 Juli 1828 tanpa meninggalkan keturunan. Menurut adat istiadat yang berlaku di sana, putra sulung kakak perempuan tertua Radama lah yang akan menggantikan posisi Radama sebagai raja Kerajaan Imerina. Orang itu bernama Rakatobe. Ia adalah seorang pemuda yang cerdas dan juga berkepribadian baik. Sangat cocok untuk menduduki kursi raja.

Namun rupanya terjadi sesuatu saat Radama menjelang ajal. Pada saat kematiannya, ia hanya ditemani oleh dua orang kepercayaannya yang juga mendukung Rakatobe naik tahta. Namun sayangnya kedua orang ini tak melaporkan kabar kematian sang raja selama beberapa hari dikarenakan takut adanya tindakan balasan yang akan mereka terima.

Di saat yang sama salah satu abdi kerajaan yaitu seorang perwira militer berpangkat tinggi bernama Andriamamba mengetahui perihal ini. Ia kemudian segera mengumpulkan para perwira lainnya untuk menggalakkan dukungan dan mengangkat Romavo sebagai pewaris tahta. Sementara itu Ramavo juga sibuk merencanakan bagaimana dirinya dapat naik tahta. Ia menggunakan pengaruhnya dan juga pendukungnya yang kaya raya. 

Hanya berselang 2 minggu setelah kematian Radama, Ramavo mendeklarasikan diri sebagai penerus Radama. Ramavo mengklaim hal itu merupakan keputusan Radama sebelum ia wafat. Upacara pemahkotaan dilakukan pada 12 Juni 1829. Ramavo naik tahta dengan nama Ranavalona. Ia merupakan penguasa wanita pertama di Kerajaan Imerina sejak kerajaan itu berdiri tahun 1540. 

Kompleks Rova Antananarivo, istana kayu yang disebut Manjakamiadana

Pada hari penobatannya, Ranavalona melakukan tindakan mengejutkan. Segera setelah dirinya menjadi ratu, ia menangkap dan menghukum mati para pesaing politiknya, termasuk di dalamnya adalah Rakatobe beserta degan beberapa anggota keluarga Radama lainnya. Ramavo perlahan-lahan menjadi semakin brutal.


Pada masa kekuasaannya, Ranavalona tak pernah mengizinkan pihak luar untuk turut campur dengan sistem dan juga hukum yang berlaku di kerajaan tersebut. Ia menerapkan kebijakan isolasionisme. Ranavalona memukul mundur dan mengusir orang Inggris dan Perancis, serta melarang adanya penyebaran ajaran Kristen di sana. 

Pada masa kepemimpinannya selama lebih dari 3 dekade (1828-1861), merupakan masa teror bukan hanya bagi pihak luar, tapi juga bagi rakyatnya sendiri. Sang ratu seringkali melakukan penyiksaan dan eksekusi pada orang-orang yang menentangnya.

Ratu Ranavolan biasa menerapkan hukuman merebus, membakar, dan mengubur hidup-hidup. Ada ribuan kasus dari orang-orang yang menghadapi hukuman ini. Hukuman tersebut secara langsung harus disaksikan para anggota keluarga dan teman orang tersebut sebagai peringatan agar mereka tak membangkang.

Hukuman bakar hidup-hidup bagi siapa pun yang menentang ratu Ranavalona

Hukuman lainnya yang tak kalah sadis adalah hukuman gantung. Hukuman gantung ini dilakukan di pinggir tebing curam. Orang yang dihukum itu akan digantung selama berhari-hari sementara sanak keluarganya akan menyaksikan di mana tali yang digunakan untuk menggantung makin lama makin genting dan akhirnya putus. 

Hukuman gantung di tebing curam

Ranavalona juga memerintahkan untuk melakukan kerja paksa bagi para tahanan. Praktik tradisional kerja paksa ini disebut juga fanompoana yang dilakukan sebagai pembayaran pajak. Orang-orang ini akan ditugasi pembangunan konstruksi yang nyaris tak masuk akal, membuat banyak nyawa melayang.


Untuk menjaga ketertiban di negaranya ia menerapkan praktik peradilan tradisional yang disebut Tangena. Orang-orang yang diadili akan dipaksa menelan racun yang diperoleh dari kucang tangena (Cerbera manghas) dan hasilnya akan memperlihatkan orang tersebut bersalah atau tidak. Racun tersebut akan diberikan bersama dengan tiga potong kulit ayam, di mana jika potongan-potongan kulit ayam tersebut dimuntahkan maka berarti ia dinyatakan tak bersalah dan sebaliknya. Diperkirakan 20-50% dari orang-orang yang menjalani peradilan tradisional ini tewas. 

Lukisan Percobaan Tangena karya seniman abad ke 19

Ratu Ranavaona juga begitu sadis pada orang luar. Beberapa pasukan Perancis yang berhasil tertangkap akan dipenggal kepalanya. Kepala-kepala tersebut kemudian ditancapkan pada kayu yang kemudian akan dideretkan sepanjang pantai di pesisir Foulpointe. Benar saja peringatan ini bukan hanya sebagai peringatan tapi sekaligus membuat ngeri pasukan luar yang ingin menginvasi Madagaskar.

Selama masa kekuasaan Ranavalona yang berlangsung selama 33 tahun, para ahli sejarah memperkirakan 50-70% populasi Madagaskar meninggal dunia akibat perang, penyakit, serta sistem barbar Ratu Ranavalona. Jumlah penduduk Madagaskar menyusut drastis dari 5 juta jiwa hanya tertinggal 2,5 juta jiwa saja. Dengan kematian sebesar itu maka tak heran ratu ini digelari sebagai ratu paling mematikan di dunia.

Pada 16 Agustus 1861, Ranavalona meninggal dunia di istana Manjakamiadana di Rova Antananarivo. Sebagai penghormatan atas mendiang sang ratu, masa berkabung secara resmi ditetapkan berlangsung selama 9 bulan.

Jenazah dibaringkan di dalam sebuah peti perak di makam kota kerajaan Ambohimanga. Selama upacara pemakaman, sebuah percikan api secara tak sengaja menyalakan mesiu yang digunakan pada upacara. Mesiu tersebut kemudian memicu ledakan dan kebakaran yang menewaskan sejumlah pelayat serta menghancurkan tiga kediaman kerajaan sekaligus.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Ranavalona_I
https://www.historicmysteries.com/queen-ranavalona-i/

Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

Posting Komentar untuk "Kisah Kekejaman Ratu Ranavalona I"