Kisah Ratu Mary I dari Inggris, Sang Bloody Mary




Ratu Mary I awalnya adalah wanita baik hati yang penuh belas kasih dan pengampun. Namun seiring berjalannya waktu, sang ratu berubah menjadi pemimpin yang kejam. Sejarah menyebutkan cucu dari Ratu Isabella dari Castila ini pernah membakar hidup-hidup 300 orang di tiang sula. Sejak saat itu ia mendapatkan julukan sebagai Bloody Mary yang legendaris.

Ratu Mary I adalah putri dari Raja Henry VIII dan Catherine dari Aragon. Ia merupakan ratu pertama yang berkuasa di Inggris dan merupakan ahli waris pertama dari Dinasti Tudor. 

Saingannya dalam menduduki singgasana tertinggi di Inggris tak lain adalah Edward Seymour, putra semata wayang Henry VIII dari istri ketiganya Jane Seymour dan Elizabeth (kelak akan menjadi Ratu Elizabeth I) yang tak lain adalah putri Henry VIII bersama dengan istrinya yang dihukum mati, Anne Boleyn.


Tanggal 3 Agustus 1553, Ratu Mary memasuki kota London setelah sebelumnya berhasil menumpas penghianatan John Dudley. Arak-arakan sang ratu pertama Inggris begitu meriah. Orang-orang berkumpul dan bersorak-sorai. Beberapa di antaranya menangis bahagia. Tak pernah ada raja Inggris yang mendapatkan sambutan begitu meriah seperti ini.

Ratu Mary saat itu berusia 37 tahun. Wajahnya yang pucat dipenuhi dengan kerutan yang membuatnya tampak lebih tua. Pada masa-masa awal kekuasaannya sang ratu banyak memberikan pengampunan kepada orang-orang yang pernah melakukan pemberontakan. Sebagian rakyat memuji dan kagum dengan ratu baru mereka tanpa tahu bahwa ia hanya belum memperlihatkan siapa ia sebenarnya.

Sebanyak 5 orang tawanan yang berada di Tower of London yang merupakan konspirator yang pernah mencoba merebut tahtanya, diberikan maaf dan pengampunan oleh sang ratu. Sebenarnya para penasihat Mary berharap ia menghukum berat orang-orang itu. Namun hal itu tak terjadi.

Guildford Dudley dan istrinya Lady Jane Grey (pernah menjadi ratu selama 9 hari) tidak dieksekusi oleh Mary, meskipun keduanya tetap ditahan di Tower of London.

Awal mula dari kekejaman sang ratu adalah niat Mary untuk mengembalikan Inggris kepada Gereja Katolik Roma. Sayangnya, rakyat Inggris sendiri telah menjadi penganut Protestan. Karena hal inilah muncul pertikaian sengit antara ratu dengan rakyatnya. Pertikaian memuncak tatkala rencana pernikahan Mary terkuak. Rencananya sang ratu akan menikahi Philip, putra Raja Charles dari Spanyol yang merupakan penganut Katolik yang taat.

Sebenarnya Parlemen Inggris menentang rencana ini begitu juga dengan uskup-uskup Protestan dari Gereja Inggris. Namun Mary tetap pada pilihannya.

Desas-desus mengerikan tersebar ke seluruh Inggris. Kabarnya pasukan Spanyol yang membawa 8.000 orang prajurit tengah dalam perjalanan menuju Inggris untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan, angkatan laut, beserta Tower of London. Namun kisah itu ternyata tak benar.

Namun sebuah pemberontakan terjadi. Sir Thomas Wyatt berencana masuk ke London pada 25 Januari 1554 beserta dengan pasukannya untuk memaksa ratu agar menghentikan rencana pernikahannya dengan Philip. Kerusuhan terjadi di seluruh London.

Para prajurit berjaga-jaga di jalan-jalan siap dengan baju zirahnya. Mary bahkan memerintahkan agar jembatan-jembatan yang menyeberangi Sungai Thames untuk segera dihancurkan. Tak habis akal, pada malam hari tanggal 6 Februari, Wyatt berenang menyeberangi Sungai Thames yang membeku. Dengan sebuah perahu ia lalu memperbaiki salah satu jembatan yang kemudian membuat 7.000 orang pemberontak berhasil masuk ke London.

Satu pasukan kavaleri Ratu Mary berhasil memberangus Wyatt beserta pasukannya. Wyatt akhirnya menyerah. Diawali dari pemberontakan Wyatt inilah ratu Mary yang pengampun berubah menjadi ratu yang kejam.

Eksekusi mati Lady Jane Grey

Tak kurang dari 200 orang dihukum mati. Bahkan sebanyak 46 orang digantung di London hanya dalam satu hari saja. Termasuk di antara mereka adalah Guildford Dudley dan Lady Jane Grey. 


Pada 7 Maret 1554, Elizabeth ditangkap dan dibawa ke Tower of London. Ia diduga telah berkomplo dengan Wyatt. Namun Elizabeth sendiri menolak tuduhan itu. Lagi pula tak ada bukti yang mengarah ke sana. Setelah ditahan selama 2 bulan, Elizabeth kemudian dilepaskan dengan penjagaan ketat.

Melihat dan merasakan ratu mereka yang berubah menjadi kejam, rakyat Inggris kemudian mulai berpaling pada Elizabeth. Elizabeth tiba-tiba menjadi terkenal dan dicintai rakyat Inggris. Mereka mengelu-elukan namanya. Ratu Mary terkejut mendapati kenyataan ini.

Sementara iu para pemberontak dijatuhi hukuman penggal. Wyatt sendiri menerima hukuman gantung. Setelah itu tubuhnya diseret dan dipotong-potong. Pihak Parlemen yang awalnya menentang pernikahan Mary, lambat laun melunak setelah menyaksikan bagaimana Wyatt menerima hukuman. Meskipun tak rela, mereka akhirnya mau tak mau harus menerima Philip.

Rupanya Philip sendiri enggan dengan rencana pernikahan itu. Ia sama sekali tak tertarik pada Ratu Mary. Tetapi ia terpaksa melakukan itu karena ayahnya, Raja Charles, ingin bersekutu dengan Inggris. Dengan pernikahan ini Raja Charles berharap mendapatkan dana dan dukungan untuk peperangannya melawan Perancis.

Mary sendiri tak sadar tentang apa yang ada di balik pernikahannya. Bahwa pernikahannya itu tak lebih dari sekedar politik semata. Yang ia tahu hanyalah ia akan menikah dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda darinya. Bayangan tentang pernikahan yang indah dan bahagia segera menyeruak dalam bayangannya.

Philip II dari Spanyol dan Ratu Mary I dari Inggris

Ratu Mary dan Philip akhirnya menikah pada 25 Juli 1554 di Katedral Winchester. Setelah menikah beberapa hari, Mary merasa ia mengandung. Persiapan dan sambutan akan bayinya kemudian dibuat besar-besaran dan meriah. Sebuah misa keagamaan diselenggarakan untuk syukur atas kehamilannya. Mary duduk di singgasananya sembari mengelus perutnya yang membesar dengan perasaan bangga.

Sementara itu, rencana Mary untuk mengembalikan Inggris dalam keyakinan Katolik tak berjalan lancar. Ia mendapatkan pertentangan dan perlawanan di mana-mana. Mary kemudian mengambil tindakan fatal. Ia membakar para penentangnya itu di hadapan umum. Kerumunan rakyat yang menyaksikan pemandangan pilu dan mengerikan itu marah. Kebencian terhadap ratu semakin menjadi-jadi. Ratu Mary segera mendapatkan julukan baru "The Bloody Mary".

Baca juga: Asal Usul Legenda Bloody Mary

Tidak kurang dari 300 orang meregang nyawa di tiang sula. Mereka dibakar hidup-hidup. Sebagian besar dari orang-orang ini sebenarnya hanyalah rakyat biasa. Sementara ada pula beberapa orang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan juga menjalani eksekusi ini.



Thomas Cramer, Uskup Agung Canterbury selama pemerintahan Raja Henry VIII dan Edward VI dibakar pada 6 Oktober 1555. Cranmer begitu ketakutan ketika dirinya diseret ke tiang sula.

Bahkan ketika hukuman mengerikan itu hendak dilaksanakan, tubuh pria tua itu bergetar hebat karena ketakutan. Ia bahkan sempat mengaku dirinya telah keliru karena menjadi penganut Protestan untuk menghindari hukuman. Ia juga menandatangani pengakuannya tentang hal itu. Tetapi malangnya Cranmer tetap dihukum mati.

Begitu sadar betapa pengecut dirinya, ia memutuskan untuk memperbaiki kesalahannya. Pria tua itu mengulurkan tangannya ke dalam api yang menyala-nyala. Tangan itu dibiarkannya hangus terbakar. Denagn tangan itulah ia menandatangani pengakuannya.


Hukuman Bagi Sang Ratu

Ratu Mary diperkirakan akan melahirkan pada 23 Mei 1555. Tetapi setelah tanggal itu lewat bahkan hingga berminggu-minggu tak ada tanda-tanda dirinya akan melahirkan, ratu mulai cemas. Karena hal itulah timbul kesan bahwa sebenarnya ratu tak pernah mengandung dan ia melakukan kekeliruan dengan menyangka ia telah hamil seorang bayi.

Pada akhirnya ratu menerima dan mengakui bahwa ia memang tak pernah mengandung. Mary sangat sedih dan tertekan dengan kejadian ini. Namun di saat-saat sang ratu rapuh, suaminya Philip justru pergi dari Inggris yang menyatakan dirinya muak dengan rakyat Inggris dan juga ratunya yang tak lain adalah istrinya sendiri. Philip pergi ke wilayah kekuasaan Spanyol di Belanda. Mary menangis sejadi-jadinya.

Tahun 1556 Raja Charles menyerahkan tahta kerajaan Spanyol pada Philip. Philip kini menjadi Raja Philip II dari Spanyol. Guna mempertahankan wilayah kekuasaannya, ia membutuhkan dana yang besar. Segera saja Philip kembali ke Inggris demi uang. Mary yang tak menyadari hal itu menyambut Philip dengan hangat menyangka sang suami kembali padanya karena cinta. 

Kegembiraan itu hanya sesaat saja. Tak lama kemudian Philip kembali pergi. Kali ini ia tak pernah kembali lagi.

Pada November 1558 Ratu Mary sekarat. Dalam kondisi komanya itu ia mengigau melihat anak-anak kecil dalam mimpinya. Ketika pendeta mengucapkan doa, Mary meninggal dunia. Berita tentang kematian Mary langsung menyebar ke seluruh Inggris. Rakyat bersorak-sorai. Sang Bloody Mary telah tiada. Mereka menari dan bernyanyi di jalan-jalan. Lonceng-lonceng berdentangan riuh seolah hari itu adalah hari kemerdekaan mereka.

Selama bertahun-tahun kemudian tanggal 17 November dirayakan di Inggris sebagai hari libur nasional.

Referensi :

Lewis, Brenda Ralph. 2016. Sejarah Gelap Raja & Ratu Inggris. Jakarta : Elex Media Komputindo. 
https://www.history.com/news/queen-mary-i-bloody-mary-reformation

0 Response to "Kisah Ratu Mary I dari Inggris, Sang Bloody Mary"

Post a Comment