7 Penyebab di Balik Runtuhnya Khilafah Utsmani




Kesultanan Utsmaniyah atau Kekaisaran Utsmaniyah atau Kesultanan Turki atau Kekaisaran Ottoman adalah kekaisaran yang didirikan oleh suku-suku Turki pada tahun 1299 di bawah pimpinan Osman Bey di barat laut Anatolia. 

Pada tahun 1354, Utsmaniyah berhasil melintas Eropa dan mulai menaklukkkan wilayah Balkan. Negara Utsmaniyah yang awalnya hanyalah kadipaten kecil segera berubah menjadi negara yang disegani dalam percaturan elit dunia. Bahkan pada tahun 1453, di bawah Mehmed II, Utsmani dapat mengakhiri kekuasaan kekaisaran Romawi Timur dan juga menaklukkan Konstantinopel.

Kesultanan ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke 16 dan 17 di bawah kekuasaan Suleiman Al-Qanuni yang menguasai sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat, hingga Afrika Utara.

Peta wilayah Utsmaniyah

Namun kesultanan ini harus berakhir pada 3 Maret 1924, setelah berdiri selama 625 tahun. Kesultanan Utsmaniyah dihapuskan. Sultan terakhir Utsmaniyah, Mehmed VI meninggalkan Istanbul pada 17 November 1922 dan meninggal di pengasingan di Sanremo, Italia pada tahun 1926.

Sementara itu wangsa Utsmaniyah sempat mempertahankan status sebagai khalifah sebelum akhirnya secara resmi dibubarkan oleh Majelis Nasional Agung sekaligus menghapuskan selamanya jabatan khalifah sejak Februari 1924. Abdul Majid II, selaku khalifah terakhir diminta angkat kaki dari Turki bersama dengan seluruh keluarganya. Inilah akhir dari kisah Kekhalifahan Utsmani.

Lalu bagaimana kekaisaran yang telah berdiri lebih dari 600 tahun ini dapat runtuh dan hancur? Ini bukan proses yang terjadi dalam semalam. Berikut ini merinding.com akan membeberkan apa yang membuat busuk dan bobroknya internal kesultanan ini selama beberapa dasawarsa terakhirnya dan kuatnya pengaruh luar yang begitu ngotot ingin merobohkan kesultanan Islam terbesar ini.

Berikut ini adalah 7 penyebab utama runtuh dan hancurnya Kekhalifahan Utsmaniyah yang telah berdiri selama 625 tahun.


1. Sultan/Khalifah yang Lemah dan Tak Berwibawa



Gambar di atas merupakan 10 sultan dan khalifah terakhir yang memegang kekaisaran Utsmaniyah. Tahukah kalian bahwa delapan dari sepuluh orang di atas mengakhiri masa jabatannya dengan cara yang menyedihkan dan tragis?

Mulai dari khalifah Selim III (1789-1807) hingga khalifah Abdul Majid II (1922-1924), khalifah-khalifah ini mengakhiri masa jabatannya dengan mengenaskan. Beberapa diturunkan oleh menterinya sendiri dan oleh insiden pemberontakan, ada yang hanya berkuasa sebagai simbol semata, ada pula yang ditemukan tewas (bunuh diri/dibunuh), ada yang dieksekusi mati, dan sisanya yaitu dua sultan dan khilafah terakhir harus angkat kaki dari tanah Utsmaniyah dan berakhir di pengasingan.

Pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1640-1648) kerajaan Ottoman kacau balau. Ibu suri hingga permaisuri masuk dan mengendalikan pemerintahan. Masa kekuasaan Ibrahim bertambah rapuh kala ia hanya menjadi boneka, sedangkan segala keputusan pemerintahan berada di tangan wazir Mustafa. Sang wazir (perdana menteri) memperburuk keadaan dengan membuat banyak permusuhan di kalangan para pembesar Islam. Maka lengkaplah sudah bobroknya kekhalifahan.

Beberapa dasawarsa kemudian tak jadi lebih baik. Saat Sultan Hamid II naik tahta tahun 1876, pemerintahannya dijalankan dengan absolut. Kekerasan erjadi di mana-mana. Hal ini segera saja memantik rasa benci dan kemarahan dari pihak sipil dan juga militer.

Baca juga: Sejarah Wabah Kelaparan di Irlandia dan Bantuan Sultan Turki Ottoman


2. Orang-Orang Kesultanan yang Gemar Hidup Mewah 


Pada masa kejayaannya, Istanbul adalah ibu kota Kesultanan Turki Utsmani. Sebelumnya kota ini bernama Konstantinopel dan merupakan ibu kota kekaisaran Bizantium yang berhasil direbut Turki Utsmani tahun 1453 dan sejak itu dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

Telah menjadi rahasia umum bahwa para pembesar kekhalifahan hidup dalam kemewahan. Di ibu kota saja banyak sekali bangunan super megah yang dibangun untuk khalifah dan keluarganya.

Istana Dolmabahce, salah satunya. Istana yang dibangun tahun 1843-1856 ini merupakan istana yang sangat megah yang dibangun sebagai pengganti Istana Topkapi yang dianggap tak memadai dan juga kurang mewah sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan. Pembangunan istana ini bahkan menelan biaya yang tak main-main, setara dengan 35 ton emas. Belum lagi kehidupan mewah di harem dengan segala sarana hiburan bagi para keluarga khalifah.


3. Kekalahan Perang Berturut-Turut



Pada masa Khalifah Sulaiman, jumlah penduduk Utsmaniyah mencapai hingga 15 juta jiwa yang tersebar di benua Eropa, Asia, hingga daratan Afrika. Kesultanan ini memegang kekuatan laut besar yang mampu mengendalikan sebagian besar wilayah laut Mediterania.

Namun sultan-sultan berikutnya setelah Sulaiman sangat lemah dan tidak tegas dalam memimpin. Kesultanan Utsmaniyah perlahan dikalahkan oleh bangsa Eropa dalam bidang teknologi militer. Inovasiteknologi dalam kekhalifahan sendiri lebih banyak dihambat dengan konservatisme agama.

Sementara itu pada 7 Oktober 1571 di Eropa Selatan meletus Pertempuran Lepanto, di mana koalisi Katolik yang dipimpin Philip II dari Spanyol mengalahkan armada Utsmaniyah. Kekalahan ini merupakan pukulan telak bagi kekhalifahan. Enam tahun sebelumnya Utsmaniyah juga kalah dengan para Ksatria Malta dalam Pemgepungan Malta. Dalam beberapa pertempuran itu Utsmani rugi besar dengan kehilangan banyak sekali tenaga ahli perang mereka.

Pada Pengepungan Wina kedua tahun 1683, pasukan Utsmani yang dipimpin wazir agung, Kara Mustafa Pasha dipaksa mundur oleh aliansi pasukan Jerman, Habsburg, dan Polandia yang dipimpin oleh Raja Polandia, Jan III Sobieski. Kekalahan Utsmani di Wina kemudian berlanjut pada penandatanganan Perjanjian Karlowitz (1699) di mana Kesultanan Turki Utsmani bersedia menyerahkan sejumlah wilayahnya secara permanen.

Wilayah Utsmani lagi-lagi harus diserahkan kepada pihak musuh tatkala mereka kalah pada Perang Rusia-Turki (1877-1878). Alhasil wilayah Utsmani menyusut dengan cepat. Pada saat itu Bulgaria didirikan, Rumania mendapat kemerdekaan penuh, Serbia dan Montenegro mendapatkan kemerdekaan pula. Sementara itu Austria dan Hongaria secara bersama-sama mulai menduduki Bosnia-Herzegovina dan Novi Pazar. Satu persatu wilayah kekuasaan Utsmani hilang.


4. Mandeknya Pertumbuhan Pasukan Janisari



Ketika ekspansi Utsmani terhenti, maka pasukan elit Turki Utsmani ini juga mulai mengalami kemandekan. Para janisari yang semula tidak diperbolehkan menikah dan memiliki ahli waris (sebuah perangkat yang dirancang agar hanya orang-orang baru bukan berdasarkan keturunan yang berada dalam administrasi pemerintahan) mulai melanggar ketetapan ini.

Para tentara elit itu mulai menikah dan memiliki anak. Para janisari ini kemudian menggunakan pengaruh mereka agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan juga pekerjaan yang lebih baik. Hal ini kemudian lambat laun membuat janisari menjadi elit permanen turun temurun yang kemudian menggerogoti kekuaan kekhalifahan.

Para ahli dan spesialis tak lagi diambil berdasarkan kemampaun dan kecakapan mereka, tetapi diambil secara ekslusif dari anak-anak yang orang tuanya memegang peranan penting. Tak peduli anak itu memiliki kemampuan atau tidak.


5. Reformasi Pemeritahan



Pada masa Tanzimat (1839-1876) serangkaian reformasi pemerintahan digalakkan. Reformasi besar-besaran ini dilakukan meliputi berbagai aspek mulai dari pasukan wajib militer modern, mereformasi sistem perbankan, perubahan hukum agama menjadi sekuler, serikat pengrajin dan saudagar memiliki pabrik modern, hingga dekriminalisasi (menghilangkan ancaman pidana) bagi para kaum homoseksual.

Sementara itu di bidang pendidikan, penduduk Kristen di kesultanan perlahan-lahan mulai menunjukkan keunggulan mereka jauh di atas para penduduk muslim. Tingkat pendidikan Kristen yang lebih tinggi kemudian membuat mereka mendapatkan kepercayaan untuk mendapakan peranan penting di dalam perekonomian negara. Sementara itu pendidikan siswa muslim terus mengalami kelambatan.


6. Munculnya Gerakan Oposisi



Seperti telah disebutkan dalam poin pertama, pada tahun 1876, Sultan Hamid II mulai memegang kekuasaan dan naik menjadi khalifah. Namun pemerintahan khalifah yang satu ini rupanya dipenuhi dengan kekerasan. Pemerintahan yang dijalankannya sendiri bersifat absolut. Hal ini kemudian mengundang kemarahan dan antipati dari rakyat jelata hingga pihak militer.

Akibatnya fatal, muncul banyak gerakan oposisi di masyarakat terhadap pemerintahan Sultan Hamid II. Gerakan-gerakan oposisi ini yang paling terkenal adalah Gerakan Turki Muda yang pelopornya antara lain Muhammad Murad, Ahmad Riza, dan Pangeran Sahabuddin.

Sementara itu di pihak militer semakin memperkuat kekuatan mereka guna menggulingkan Sultan. Berbagai komite-komite rahasia berdiri. Nah, salah satu dari pimpinan komite rahasia ini tak lain adalah Mustafa Kemal yang kelak akan menjadi Mustafa Kemal Attaturk (Bapak Bangsa Turki) yang akan membuat perombakan besar-besaran di negara itu mulai dari kenegaraan hingga keagamaan, sekaligus menandai berakhirnya kekhalifahan.


7. Perdagangan Orang-Orang Eropa



Ini sebenarnya adalah faktor yang paling menarik. Menurut Tamim Ansary dalam bukunya "Dari Puncak Bagdad", faktor ini bahkan mengalahkan faktor kekalahan perang yang menyebabkan runtuhnya kekhalifahan Turki. Lalu bagaimana bisa?

Dalam kekaisaran Utsmani, serikat mengendalikan manufaktur dengan cara mengunci persaingan. Jadi satu serikat misalnya memonopoli atas sabun, misalnya maka serikat yang lain memonopoli dalam pembuatan sepatu. Serikat tak bisa mendongkrak harga karena negara telah menetapkan batasan. Negara melindungi masyarakat sekaligus juga serikat. Semuanya berjalan baik.

Hingga kemudian datanglah orang-orang Eropa dalam perdagangan. Mereka tidak melakukan persaingan dengan para serikat tersebut. Alih-alih menjual sabun atau sepatu, mereka justru membeli bahan baku di sana seperti misalnya kulit, wol, minyak, logam, dan sebagainya. Pemasok tentu saja gembira, begitu juga dengan negara. Orang-orang itu membawa emas sebagai alat tukar bahan baku tadi yang sebagian besarnya didapatkan dari Amerika.

Sementara negara senang dengan masuknya emas, bahan baku terus menerus dibawa keluar. Hasilnya serikat kehabisan bahan baku untuk produksi. Dan untuk mengatasi hal ini mereka melarang ekspor. Namun larangan itu justru membuat timbulnya penyelundupan yang melahirkan birokrat pemakan suap yang berakhir dengan meningkatnya korupsi.

Uang tunai dari luar yang masuk ke sistem Utsmani kemudian menimbulkan dampak inflasi yang secara pelan namun pasti menghancurkan kekhalifahan.

Referensi :

Ansary, Tamim. 2018. Dari Puncak Bagdad "Sejarah Dunia Versi Islam". Jakarta: Serambi.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_sultan_Utsmaniyah
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Mejid_II
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/05/27/om8pwu282-faktorfaktor-penyebab-hancurnya-khilafah-utsmani
https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/09/05/pekppo313-istana-megah-peninggalan-turki-utsmani

0 Response to "7 Penyebab di Balik Runtuhnya Khilafah Utsmani"

Post a Comment