Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kematian Aneh Alfred Loewenstein "The Man who Fell from the Sky"

“Tuan, Anda baik-baik saja?,” tanya Baxter sambil mengetuk pintu toilet beberapa kali.

Sudah lebih dari 10 menit berlalu, tapi bossnya itu tidak kunjung kembali dari toilet. Sebelumnya ia mengatakan akan pergi ke belakang menggunakan kamar kecil itu sebentar. Lama ditunggu, tapi ia tak juga muncul. Menyadari majikannya masih belum kembali juga ke tempat duduknya, Baxter memutuskan untuk memeriksa.

“Tuan, apakah Anda tidak sehat?,” serunya lagi, tapi kali ini nada suaranya jelas terdengar sangat khawatir.

Namun tak ada jawaban juga dari dalam. Baxter khawatir bossnya itu jatuh sakit. Oleh karena itulah dia terus mengawasinya sepanjang perjalanan.

Tak ada pilihan, Baxter memutuskan untuk membuka paksa pintu. Tapi pintu tersebut ternyata sama sekali tidak terkunci. Toilet itu kosong. Tak ada siapa pun di sana. Lalu ia segera memeriksa pintu yang lainnya, sebuah pintu masuk di belakang pesawat. Ia tak percaya pada apa yang ada di hadapannya. Angin kencang berhembus masuk. Pintu itu terbuka!


 

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Seorang pria beranjak dari tempat duduknya, di salah satu kursi penumpang pesawat, mengatakan kalau ia akan pergi ke toilet. Namun saat diperiksa, pria itu tak ada di dalamnya. Sebuah pintu yang mengarah keluar pesawat terbuka. Misteri ini digambarkan oleh The New York Times sebagai salah satu yang teraneh sepanjang sejarah penerbangan komersial. Misteri itu dikenal juga dengan sebutan “The Man Who Fell from the Sky”.

Pria yang jatuh dari langit. Begitulah misteri ini biasa disebut. Sebuah kejadian ganjil dan misterius terjadi padanya dalam sebuah penerbangan. Peristiwa itu barangkali hanya akan dianggap sebagai kecelakaan biasa, andaikan ia bukan siapa-siapa. Tapi yang saya bicarakan ini adalah pria terkaya ketiga di dunia pada tahun 1920an. Mungkin sekarang namanya setara dengan Elon Musk.

Pria itu bernama Alfred Leonard Loewenstein. Lahir di Brussel, Belgia pada tanggal 11 Maret 1877.  Ia adalah putra Bernard Loewenstein, seorang bankir Jerman-Yahudi. Menginjak dewasa, Alfred mengikuti jejak ayahnya.


Dengan keahliannya, ia berhasil membangun portofolio investasi yang luar biasa. Sebagian besar kekayaannya berasal dari pembelian tenaga listrik dan sutra sintetis. Ia juga menyediakan fasilitas tenaga air dan listrik untuk negara-negara berkembang di seluruh dunia melalui perusahaannya yang berbasis di Belgia,  Société Internationale d'Énergie Hydro-Électrique (SIDRO).

Tahun 1920-an ia termasuk salah satu pemodal paling kuat se-Eropa. Pada puncaknya ia memiliki kekayaan sekitar £ 12 juta dalam mata uang saat itu. Jumlah yang luar biasa fantastis. Reputasi Loewenstein meroket sedemikian rupa sehingga ia sering bertemu dengan para kepala negara dari seluruh dunia. Jelas pria ini bukanlah orang sembarangan.

Loewenstein bahkan pernah menawarkan kepada pemerintah Belgia dana sebesar 50 juta dolar, bebas bunga, demi menstabilkan mata uang sebagai imbalan atas hak untuk mencetak franc Belgia. Pada akhir perang dunia pertama, dia juga bermitra dengan rumah investasi Sir James Dunn dari Kanada dalam beberapa usaha bisnis. Kedua orang ini memperoleh keuntungan lebih dari £ 1.000.000 dari investasi mereka tersebut.

Pada tahun 1926 Loewenstein diketahui mendirikan sebuah perusahaan bernama International Holdings and Investments Ltd., yang mengumpulkan uang dalam jumlah besar dari banyak orang kaya yang tertarik untuk berinvestasi padanya.

Namun, sampai tahun 1928 orang-orang itu tidak melihat pengembalian investasi. Kecurigaan dengan cepat menyeruak, mendugai pria itu bermain-main dengan uang mereka. Dengan kecerdikannya, investor ini disebut-sebut telah menggelapkan dana investasi yang jumlahnya luar biasa.

Desas-desus miring seputar Loewenstein tak berhenti sampai di sana. Pria itu juga diduga terlibat dalam beberapa transaksi kotor, termasuk di dalamnya sejumlah usaha yang melibatkan narkotika ilegal dan kesepakatannya dengan Arnold Rothstein alias “The Brain”.

Rothstein dikenal sebagai pengusaha sekaligus pemeras dan juga penjudi Amerika yang menjadi gembong dari gerombolan Yahudi di New York City. Kabarnya Loewenstein dan Rothstein berencana untuk meningkatkan pasokan heroin ke Amerika Serikat dan menciptakan jaringan narkoba internasional di seluruh Eropa dan Amerika.

Misteri Di Balik Pintu

Sore itu tanggal 4 Juli 1928. Loewenstein berangkat dari Bandara Croydon untuk terbang ke Brussel, Belgia dengan pesawat pribadinya, sebuah Fokker F.VIIa / 3m trimotor (G-EBYI). Hari itu rencananya ia akan pulang ke rumahnya, di Brussel, di mana ia tinggal bersama istrinya, Madelaine. Sebenarnya ini adalah perjalanan rutin yang biasa dilakukannya secara teratur.

Dalam penerbangannya hari itu, Loewenstein tidak sendirian. Bersama dengannya ikut pula pelayannya Fred Baxter, sekretaris bernama Arthur Hodgson, dan juga dua orang stenografer Eileen Clarke dan Paula Bidalon. Pesawat mewah itu dipiloti oleh Donald Drew dan dibantu pula oleh mekanik Robert Little. Jadi total ada 7 orang dalam pesawat tersebut.

Sore itu cuacanya sangat bagus, langit cerah, dan angin sangat kondusif. Segalanya sempurna untuk bepergian. Sang kapten juga mengatakan kalau penerbangan itu akan berjalan mulus dan lancar.

Donald Drew, berdiri di dekat pintu pesawat saat para penumpang naik. Dia kemudian bergabung di kokpit bersama dengan Robert Little, sang mekanik. Kokpit adalah unit tertutup tanpa pintu penghubung ke bagian pesawat lainnya. Perlu diketahui setelah Fokker lepas landas, Drew dan Little tidak memiliki akses ke kabin.


Pesawat lepas landas. Loewenstein tampak sibuk dengan beberapa berkas sampai akhirnya ia mengatakan akan menggunakan toilet yang letaknya di bagian belakang pesawat. Saat itu sekitar pukul 18:30, pesawat sedang berada pada ketinggian 4.000 kaki atau 1.200 meter di atas Selat Inggris.

Pesawat tersebut tak begitu besar. Ruang pilot terpisah dengan kabin penumpang di belakang. Sebuah pintu di bagian belakang kabin penumpang utama terbuka ke sebuah lorong pendek dengan dua pintu: yang sebelah kanan mengarah ke toilet, sedangkan yang di kiri adalah pintu masuk pesawat. Jadi pintu toilet dan pintu keluar letaknya berseberangan.

Sepuluh menit berlalu sejak Loewenstein pergi ke toilet. Fred Baxter menyadari bahwa majikannya itu cukup lama berada di sana dan belum juga kembali ke kursinya. Baxter yang khawatir lalu memutuskan untuk pergi memeriksa dan memastikan semuanya baik-baik saja.


Ia mengetuk pintu toilet, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Baxter lalu mencoba membuka pintu. Pelayan itu terkejut menemukan bilik toilet kosong dan pintu keluar pesawat terbuka dan mengepak di slipstream, diterpa aliran udara yang mengalir di atas pesawat yang terbang tinggi. Loewenstein lenyap!

Baxter bersama dengan yang lainnya di pesawat yakin kalau Loewenstein telah jatuh melalui pintu belakang pesawat. Kemungkinan peristiwa itu terjadi tepat di atas Selat Inggris ketika pesawat tengah terbang di atasnya. Pilot lalu memutuskan mendarat darurat di sebuah pantai sepi di dekat Dunkirk.

Pesawat Fokker FVII tergolong pesawat ringan. Landasan pacu bandara bukanlah persyaratan penting untuk lepas landas dan mendarat, yang artinya kendaraan itu cukup dapat mendarat di tempat dengan dataran yang tak begitu besar.

Tapi karena pendaratan itu mendadak, entah karena ia sangat terkejut atau ketakutan, Donald Drew tak menyadari kalau pantai itu rupanya juga digunakan oleh unit tentara untuk pelatihan. Wilayah itu sendiri berada di bawah kendali militer Perancis.

Pihak berwenang setempat yang menyadari bahwa pesawat itu pastilah mengalami kesulitan bergegas menawarkan bantuan. Mereka bahkan membutuhkan waktu sekitar enam menit untuk mencapai pesawat tersebut.

Namun seorang perwira senior, Letnan Marquailles, menemukan sesuatu yang aneh. Drew mengelak ketika diinterogasi. Pihak berwenang bahkan butuh waktu hampir setengah jam untuk menanyainya sebelum akhirnya pilot tersebut mengakui bahwa seseorang dalam pesawat telah menghilang ketika mereka terbang di atas Selat Inggris.

Setelah interogasi tersebut, pesawat itu akhirnya lepas landas dari pantai. Tetapi alih-alih melanjutkan perjalanan ke Brussel, pesawat itu dialihkan ke lapangan terbang lokal bernama St. Inglevert, sebelum kembali ke Croydon.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Pada Alfred Loewenstein?

Berita tentang apa yang terjadi pada Loewenstein menyebabkan panic selling luar biasa di lantai bursa. Saham perusahaan anjlok drastis nilainya sampai lebih dari lima puluh persen. Sampai saat itu tak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi pada Alfred Loewenstein.

Tanggal 12 Juli 1928, sebuah percobaan dilakukan oleh Cabang Kecelakaan Kementerian Udara Inggris menggunakan pesawat Loewenstein. Pada ketinggian 1.000 kaki (300 m) salah satu petugas diuji coba untuk melemparkan dirinya ke pintu masuk pesawat yang telah terbuka sekitar 6 inci (150 mm).

Baca juga: Teori-Teori Mengerikan Kasus Hilangnya Jimmy Hoffa

Hasilnya mengejutkan. Petugas tersebut langsung terlempar kembali ke dalam pesawat ketika slipstream menutup pintu dengan keras. Jadi disimpulkan bahwa tidak mungkin seseorang secara tidak sengaja membuka pintu dan jatuh.

Percobaan lainnya pun dilakukan. Stabilitas pintu Fokker Tri-Motor tersebut kembali diuji secara ketat, termasuk oleh Kementerian Udara Inggris. Pengujian menunjukkan bahwa tidak mungkin pintu pesawat ini dibuka secara tidak sengaja.



Dua minggu setelah peristiwa mengejutkan itu terjadi, jadas Loewenstein akhirnya ditemukan di dekat Boulogne pada 19 Juli 1928 oleh kapal penangkap ikan di dekat pantai Perancis. Mayat Loewenstein itu kemudian dibawa dengan perahu nelayan ke Calais, di mana identitasnya dikonfirmasi melalui arloji yang dikenakannya.

Setelah mayatnya ditemukan, istri Loewenstein meminta jasad suaminya untuk diotopsi. Hasil otopsi mengungkapkan tidak ada tanda-tanda pukulan atau luka pada tubuhnya ataupun adanya indikasi bunuh diri.

Satu-satunya temuan yang mencurigakan adalah jejak alkohol dalam darahnya, padahal Loewenstein diketahui tidak pernah minum. Selain itu otopsi tersebut juga mengungkapkan beberapa tulang patah serta retak tulang tengkorak. Disimpulkan pula bahwa dia masih hidup ketika tubuhnya menabrak air.

Adik ipar Loewenstein menyatakan bahwa keluarga tidak mencurigai siapa pun telah melakukan pembunuhan berencana, misalnya dengan meracuninya lalu melempar pria itu keluar dari pesawat.

Loewenstein dimakamkan di sebuah pemakaman di luar Evere, di sebuah makam milik keluarga istrinya, keluarga Misonnes. Namun anehnya namanya tidak pernah terukir di lempengan yang menutupi peti mati. Alfred Loewenstein dikuburkan di makam yang tidak bertanda.

Selain keanehan itu, saat pemakaman berlangsung kabarnya Madeleine, istri Loewenstein sama sekali tidak muncul. Hal ini jelas menyebabkan spekulasi liar berkembang, menduga bahwa istrinya itu ada di balik apa yang menimpa Loewenstein. Hal ini tampaknya cukup beralasan mengingat kekayaan luar biasa yang diterima Madelaine begitu suaminya wafat.

Kecelakaan, Bunuh Diri, ataukah Pembunuhan?

Banyak teori telah dikemukakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Loewenstein. Beberapa percaya kalau yang menimpa pria itu tak lebih dari kecelakaan naas tunggal. Ada pula yang meyakini kalau Loewenstein sebenarnya telah bunuh diri, bahkan beberapa mengatakan ia sengaja memalsukan kematiannya sendiri untuk menghindari adanya tuntutan keuangan. Sisanya percaya kalau ada konspirasi besar yang ingin melenyapkannya, mengingat beberapa pihak jelas memperoleh keuntungan finansial dengan jumlah yang fantastis jika Loewenstein tewas.

Kecelakaan

Sudah lebih dari 90 tahun sejak peristiwa ini terjadi. Sulit untuk membayangkan bahwa pintu keluar pesawat bisa saja dibuka secara tidak sengaja di tengah penerbangan tanpa ada yang menyadarinya.

Apakah Loewenstein berjalan melalui pintu yang salah? Bahkan dengan sejumlah kecil alkohol yang ditemukan dalam darahnya, itu tampaknya sangat tidak mungkin. Kedua pintu itu sama sekali tidak sulit untuk dibedakan. Pintu keluar bertanda “EXIT” dan dilengkapi dengan kait bermuatan pegas yang dikendalikan dari dalam yang, secara teori, hanya bisa dibuka oleh dua orang.

Baca juga: Insiden Kecelakaan Penerbangan Andes 1972

Beberapa berteori bahwa pintu keluar secara tidak sengaja dibiarkan terbuka saat lepas landas. Kemudian pria itu masuk ke dalamnya, melihat-lihat, dan mencoba menutupnya. Tetapi naas yang terjadi justru dia terlempar keluar dari pesawat.

Dan kemungkinan lain adalah bahwa pintu itu tertutup, tetapi tidak diamankan. Mungkin dia bersandar lalu jatuh. Teori kecelakaan ini seolah diperkuat dengan adanya kesaksian dari pilot dan mekanik yang menyebutkan kalau pintu keluar itu mudah dibuka.

Bunuh Diri

Mungkinkah pria kaya raya itu melakukan bunuh diri? Paling tidak inilah teori yang dipercya oleh The Evening Independent (Inggris) dan Healdsberg Tribune (Amerika Serikat)  yang meyakini kalau Loewenstein sebenarnya telah melakukan bunuh diri.

The New York Times berhipotesis bahwa sikap linglung yang dialami Loewenstein belakangan yang dicatat oleh banyak kenalan pria tersebut, mungkin telah menyebabkan dia keluar dari pintu pesawat yang salah. Loewenstein diduga telah meninggalkan jaringan usaha bisnis yang kusut. Ada pula yang berteori bahwa kerajaan bisnisnya sebenarnya sudah berada di ambang kehancuran. Beberapa bahkan menyatakan bahwa praktik bisnis yang korup akan segera terungkap dan oleh karena itu Loewenstein memutuskan untuk bunuh diri.

Namun memang jika benar demikian anehnya tidak ada indikasi sebelum kejadian bahwa Loewenstein terlihat akan bunuh diri. Menurut kesaksian orang-orang terdekatnya, Loewenstein justru terlihat sangat bersemangat. Tentu saja, ini juga tidak dapat sepenuhnya membuktikan atau menyangkal teori bunuh diri.

Mungkinkah dia sengaja membuka pintu dan melompat untuk bunuh diri? Dia mungkin saja berada di bawah tekanan dari investor, dan beberapa bahkan berspekulasi bahwa karena praktik korupsinya akan diungkap, dia mungkin memilih mati daripada aibnya terbongkar. Tapi salah satu kelemahan teori ini adalah bahwa tidak pernah ada bukti langsung yang mengaitkan Loewenstein telah melakukan tindakan korupsi.

Memalsukan Kematiannya Sendiri

Penulis kriminal Robert dan Carol Bridgestock berspekulasi bahwa Loewenstein memalsukan kematiannya sendiri, dan menghilang karena ketidakberesan keuangan dalam bisnisnya. Teori ini didukung oleh fakta bahwa jenazah dikuburkan di kuburan yang tidak bertanda, dan istrinya bahkan tidak menghadiri pemakamannya.

Banyak yang menunjuk ke Madeleine yang tidak menghadiri pemakaman pengusaha tersebut sebagai bukti keterlibatannya. Kabarnya, Madeleine telah menguburkan Loewenstein di kuburan tak bertanda untuk menghilangkan kemungkinan penyelidikan selanjutnya karena pria itu sebenarnya tak pernah dikuburkan.

Pembunuhan

Kematian Loewenstein agaknya sedikit banyak mirip dengan plot novel Agatha Christie “Murder on the Orient Express”, jika kita mulai mempertimbangkan kemungkinan adanya persekongkolan dari banyak orang.

Ada beberapa hal aneh yang menimbulkan kecurigaan. Salah satunya adalah keputusan yang sangat aneh oleh pilot, Donald Drew, untuk mendarat di pantai yang sepi, bukan di lapangan terbang. Ketika militer Prancis tiba, dia juga menghindari pertanyaan mereka selama setengah jam sampai dia akhirnya mengakui bahwa mereka telah kehilangan Loewenstein ketika pesawat tengah berada di atas Selat Inggris.

Pada tahun 1987, penulis William Norris menyelidiki kasus ini dan menerbitkannya dalam sebuah buku berjudul "The Man Who Fell From the Sky." Ia menemukan bahwa mitra bisnis Loewenstein, Albert Pam dan Frederick Szarvasy, akan mendapatkan keuntungan dari kematiannya.



Teori Norris menyebutkan bahwa Pam dan Szarvasy menyewa setidaknya dua orang untuk membunuh Alfred. Kemungkinan besar, dua orang tersebut adalah mereka yang memberikan kesaksian yang meyakinkan tentang betapa mudahnya membuka pintu keluar, tak lain yaitu pilot Donald Drew dan mekanik Robert Little.

Norris menyimpulkan bahwa Loewenstein telah dilempar dari pesawat oleh kedua orang tersebut atas perintah Madeleine Loewenstein, dengan motif untuk menguasai kekayaan Loewenstein. Dia juga menambahkan pintu belakang pesawat memang dilepas seluruhnya saat berada di udara, dan rencananya penggantinya kemudian dipasang di pantai tempat mereka mendarat darurat.

Perusahaan mereka, International Holdings, melonjak di pasar saham setelah tragedi itu karena keuntungan misterius $ 13 juta yang muncul entah dari mana. Norris menemukan bahwa jumlah ini cocok dengan sejumlah polis asuransi anonim yang diambil dari Loewenstein sebelum kematiannya.

Perilaku Drew setelah diberi tahu tentang hilangnya Loewenstein juga sangat aneh. Tapi kita tidak bisa mengesampingkan faktor keterkejutan dan ketakutan sebagai alasannya. Kita dapat membayangkan bagaimana ini akan mengguncang pilot, dan mengapa dia bersikeras bahwa kecelakaan sangat mungkin terjadi.

Loewenstein jelas memiliki musuh, meskipun tampaknya tidak ada hubungan apa pun antara mereka yang berada di dalam pesawat dengan orang yang kemungkinan menjadi musuhnya. Namun demikian, ketidakkonsistenan dalam laporan Baxter tentang peristiwa dan penghindaran Drew ketika ditanyai, membuat banyak orang mencurigai adanya persekongkolan.

Diketahui bahwa hubungan Loewenstein dengan istrinya tidak baik, dan diduga bahwa dia sangat ingin mendapatkan kekayaannya yang sangat besar. Mungkinkah dia berkomplot dengan orang-orang dalam pesawat untuk melemparnya keluar dari pesawat.

Ada salah satu kisah menarik dari seorang cenayang yang pernah ditanyai tentang kasus ini. EM Taylor, seorang medium yang dihormati pada saat itu, mengaku telah dihubungi oleh arwah Alfred Loewenstein, yang dia duga telah membuat pernyataan berikut:

“Tidak ada ide bunuh diri yang masuk ke kepala saya sampai saya pergi untuk memeriksa pesawat sebelum lepas landas. Kemudian saya tiba-tiba merasakan dorongan yang tak tertahankan untuk membuka pintu dan mengakhiri hisup saya. Saya melawannya tetapi keinginan itu menjadi semakin kuat. Apa yang saya alami, Anda tidak akan pernah mengerti. Kenapa, saya tidak bisa menjelaskan. Haruskah saya melupakan kejadian mengerikan itu saat terjun ke luar angkasa? Ya, sesaat saya menyadari kesalahan saya, tapi itu sudah terlambat… ”


Referensi:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Alfred_Loewenstein
https://www.grunge.com/297597/the-mysterious-disappearance-of-alfred-loewenstein/
https://medium.com/the-mystery-box/how-did-alfred-loewenstein-fall-out-of-a-plane-41d2f80b94ba
https://www.chicagotribune.com/news/ct-xpm-1987-05-03-8702030421-story.html
https://themutineer.org/the-mysterious-death-of-alfred-loewenstein/

Kasih komentar yaa.. Tanpa kalian apalah arti aku menulis. Kalian adalah penyemangat setiap kalimat demi kalimat yang kutulis, setiap artikel yang kuposting.. ;)

Perhatian: Mohon hargai penulis dengan tidak mengambil atau copy paste artikel di blog ini untuk dijadikan postingan blog/website ataupun konten Youtube. Terima kasih.. ^^

Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

13 comments for "Kematian Aneh Alfred Loewenstein "The Man who Fell from the Sky""

  1. Wah lagi2 kasus misterius seperti misterius nya yg punya blog..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar legendaris dari Nur Rizal pun muncul kembali.. :D

      Delete
  2. Wah saya telat, tp kenapa belum ada komentar yg muncul?
    Teori sy Loewenstein dibunuh dgn persengkongkolan dgn semua yg ada di pesawat tsb. Dalam novel “Murder on the Orient Express” detektif Hercule Poirot kesulitan mengungkap, bagaimana dgn kasus nyata seperti ini, tanpa ada seorang detektif hebat di tkp tsb sudah pasti sulit diungkap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Harllie telat..^^ Baru pulang dari jalan-jalan sepertinya. Kemarin ditanya Alice loh hehe..
      Jadi keenam orang dalam pesawat itu kompak bersekongkol ya? Dan dalang di baliknya adalah..
      Novel "Murder on the Orient Express" sendiri adalah novel dengan ending yang sama sekali tidak tertebak. Saya pernah baca bukunya, tidak menyangka kalau pelakunya semua orang hehe.. Novel ini bersanding dengan "And Then There Were None" yang disebut-sebut sebagai masterpiece nya Agatha Christie.
      Oh ya, keduanya sama-sama terjadi di atas kendaraan yang tengah berjalan ya.

      Delete
    2. Wah ngasih spoiler bagi yg blm tahu nih wkwkwk. Saya bukan pembaca novel tp penikmat film dari adaptasi novel 😄, btw film mini seri "And Then There Were None" sudah masuk watchlist saya, tq @eya 👍👍

      Delete
    3. Spoiler kah? Yang terjadi di kendaraan itu maksudnya kasus Loewenstein ini dan cerita "Murder on the Orient Express"..^^ Kalau "And Then There Were None" saya malah belum pernah nonton filmnya, cuma baca saja Harllie. Ini kisah detektif tanpa detektif. Tidak ada Hercule Poirot, tidak ada Miss Marple. Sudah spoiler belum itu wkwk..

      Delete
  3. aduh....knp komenq lagi lagi tidak muncul padahal q rutin ngecek blog ini tiap kali update artikel baru pasti q komen....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa bisa begitu ya Haidar? Komentar yang lainnya ada kok.. Mungkin masalah jaringan..

      Delete
  4. lama mantau post ini, g muncul2 komen nya. kirain liburan panjang. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak sempat liburan hehe..

      Delete
    2. harus disempat kan liburan. sapa tau bisa dapet sesuai di saat liburan. mungkin berkeliling petit trianon gitu. hehe..

      Delete
    3. Atau mengunjungi Machu Picchu..^^

      Delete
    4. waahh,, itu bisa jadi. belum ada bayangan. xixixi

      Delete