Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Deretan Para Diktator Dunia, Siapa yang Membunuh Paling Banyak?




Dalam catatan sejarah dunia ada sejumlah nama diktator dan pemimpin dunia yang dengan tega menghabisi nyawa orang. Tokoh-tokoh ini memimpin dengan otoriter yang menindas rakyat, sebagian menerapkan kerja paksa, ada pula yang mengakibatkan kelaparan, ada yang melakukan genosida massal, sementara sebagian lagi meletuskan perang yang mengakibatkan pada tewasnya jutaan orang.

Kita pasti sudah familiar dengan nama-nama seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, maupun Benito Mussolini. Tetapi siapakah dari para deretan diktator dunia yang sesungguhnya dianggap sebagai penyebab dari kematian paling banyak?

Berikut ini adalah seretan nama para diktator dunia, sepak terjang mereka, dan perkiraan jumlah korban yang nyawanya hilang.


1. Yakubu Gowon





Jenderal Yakubu "Jack" Dan-Yumma Gowon adalah mantan kepala negara (kepala pemerintah militer federal) Nigeria yang menjabat selama kurun waktu 1966-1975. Selama masa jabatannya itulah diperkirakan pria yang lahir pada 19 Oktober 1934 ini telah menyebabkan kematian sekitar hampir 3 juta orang, yang sebagian besarnya merupakan penduduk sipil.

Peristiwa ini bermula pada 30 Mei 1967, Ojukwu menanggapi pengumuman Gowon dengan mendeklarasikan pemisahan resmi wilayah Timur (sekarang Republik Biafra). Hal ini kemudian memicu meletusnya perang yang berlangsung selama 30 bulan lamanya yang menyebabkan kematian lebih dari 100.000 tentara dan lebih dari 1 juta warga sipil. Sebagian besar dari mereka tewas karena kelaparan yang disebabkan blokade yang dilakukan Nigeria di bawah perintah Gowon.

Kini nama Yakubu Gowon termasuk ke dalam sepuluh besar diktator paling mematikan dalam sejarah. Namun, Gowon sendiri selalu membantah tuduhan bahwa dirinya adalah diktator kejam. Saat ini pasca perang Nigeria, negara itu menikmati peningkatan ekonomi dan taraf hidup. 

Tetapi sayangnya hal ini dinodai dengan tingginya tingkat suap dan korupsi oleh pemerintah federal. Meskipun Jenderal Gowon tidak pernah ditemukan terlibat dalam praktik ini, tetapi ia sering kali dituduh acuh terhadap bobroknya mental para staf pemerintahan federal.


2. Mengitsu Haile Mariam





Mengitsu Haile Mariam adalah mantan tentara Ethiopia dan juga politisi yang merupakan pemimpin negara tersebut sejak tahun 1977 hingga 1991. Dia adalah ketua dari Derg (pemerintahan junta militer sementara Ethiopia yang berhaluan komunis Marxis-Leninis antara tahun 1974-1987) yang kemudian menjadi presiden Republik Demokratik Rakyat Ethiopia (PDRE) selama kurun waktu 1987-1991.

Melalui Derg yang dipimpinnya, Mengitsu kemudian mengambil alih kekuasaan dalam Revolusi Ethiopia setelah Kaiser Haile Selassie I digulingkan pada 1974. Mengitsu memberangus semua saingannya demi memuluskan jalannya menjadi orang nomor satu di Ethiopia.

Selama masa kekuasaannya, ia berusaha memodernisasi ekonomi feodal Ethiopia dengan kebijakan yang terinspirasi dari Marxis-Leninis. Konsolidasi kekuasaannya yang paling terkenal terjadi pada tahun 1977-1978 di mana saat itu dikenal sebagai masa Teror Merah Ethiopia. Kelompok oposisi dan warga sipil ditumpas secara brutal.

Pemerintah Mengitsu diperkirakan bertanggung jawab atas kematian 1,2 hingga 1,5 juta orang Ethiopia.


3. Kim Il Sung





Kim Il Sung (1912-1994) yang merupakan kakek Kim Jong Un ini adalah politikus komunis yang memimpin Korea Utara sejak tahun 1948 hingga 1994. Ia awalnya menjabat sebagai perdana menteri (1948-1972) lalu kemudian menjadi presiden negara Korea Utara pada tahun 1972 hingga akhir hayatnya.

Kim secara umum dikenal sebagai Pemimpin Besar dan menurut konstitusi negara Korea Utara dirinya merupakan Presiden Abadi negara tersebut. Bahkan hari kelahiran Kim Il Sung selalu diperingati setiap tahunnya dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Sepak terjang Kim Il Sung sangat menarik untuk dibahas. Kim Il Sung berkuasa setelah berakhirnya pemerintahan Jepang di negara tersebut pasca Perang Dunia II. Kebijakannya yang mengizinkan invasi Korea Selatan tahun 1950 sempat membuat PBB ikut turun tangan. 

Keputusan Kim untuk menyerang Korea Selatan berakibat fatal, perang saudara meletus. Pada Juni dan Juli 1950, pasukan Korea Utara menduduki sebagian besar wilayah Korea Selatan, kecuali sebagian kecil wilayah di tenggara Korea Selatan. 

Hal ini kemudian mendorong Amerika Serikat melakukan serangan di Incheon yang dibantu pula oleh pasukan Korea Selatan. Mereka melakukan serangan balik ke Pyongyang. Setelah serangkaian serangan-serangan dari kedua belah pihak tercatat lebih dari 2,5 juta orang meninggal dunia selama Perang Korea ini.

Di bawah kepemimpinan Kim Il Sung, Korea Utara menjadi negara komunis. Salah satu hal yang menarik adalah pada awal masa kekuasaannya, warga Korea Utara memiliki standar hidup yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Korea Selatan. Namun situasi tersebut berbalik pada tahun 1970an. Korea Selatan dengan dorongan investasi dari Jepang dan Amerika berubah menjadi kekuatan ekonomi baru di kawasan Asia, sementara Korea Uara mengalami stagnasi dan cenderung terus turun pada tahun 1980an.


4. Pol Pot





Pol Pot (1928-1998) adalah seorang revolusioner Kamboja yang memimpin Khmer Merah dari tahun 1963-1997. Pria yang lahir dengan nama Saloth Sar ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Kamboja pada 1963-1981. 

Pol Pot dikenal luas sebagai diktator kejam yang menyebabkan kematian hingga 25 persen warga Kamboja. Setelah dilantik pada 13 Mei 1976, Pol Pot mulai menerapkan perubahan sosial besar-besaran di negara tersebut. Ia memindahkan penduduk kota ke pedesaan untuk bekerja di pertanian dalam proyek kerja paksa. Ribuan oposisi dan politikus yang kritis terhadap dirinya dikejar dan dibunuh. Phnom Penh dalam sekejap berubah menjadi kota hantu.

Ada banyak kisah orang-orang yang disiksa dan dibantai mulai dari politikus, orang-orang berpendidikan, hingga rakyat biasa dan anak-anak tidak luput dari kekejaman Pol Pot. Ia dinilai bertanggung jawab atas kematian 1,7 juta orang Kamboja.

Namun Pol Pot sendiri tidak pernah dihukum secara resmi atas apa yang sudah dilakukannya. Pria ini meninggal dunia pada 15 April 1998. Untuk mengetahui tentang kekejaman Rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot kalian bisa membaca selengkapnya pada link di bawah ya.

Baca selengkapnya: Sejarah Kelam Kamboja di Bawah Rezim Khmer Merah


5. Ismail Enver Pasha




Ismail Enver Pasha (1881-1922) adalah perwira militer Utsmani yang juga merupakan pemimpin Revolusi Turki Muda tahun 1908. Ismail adalah sosok perwira militer yang memiliki peran penting dan juga tokoh terkuat dalam pemerintahan Kesultanan Utsmaniyah. Ia jugalah yang memutuskan untuk melibatkan Utsmaniyah dalam Perang Dunia I di pihak Jerman sekaligus membuat Kesultanan itu makin terseok-seok segera setelah Perang Dunia berakhir.


Setelah terjadinya kudeta Utsmaniyah pada Januari 1913, Ismail Enver Pasha bersama dengan dua "Pasha" lainnya (mereka dikenal sebagai "Tiga Pasha") yaitu Talat Pasha dan Djemal Pasha memegang kekuasaan de facto atas Kesultanan dari tahun 1913-1918. "Pasha" sendiri adalah gelar kehormatan Utsmaniyah bagi perwira militer yang naik pangkat ke Mirliva (Jenderal Besar).

Ketiga Pasha inilah yang merupakan pelaku utama Genosida Armenia yaitu pembantaian minoritas etnis Armenia dalam perjalanan mereka ke Gurun Suriah pada tahun 1915. Mereka disebut bertanggung jawab atas kematian sekitar 1.800.000 orang Armenia.

Ismail Enver Pasha sendiri tewas terbunuh dalam aksi pemberontakan melawan Tentara Merah Bolsheviks yang terjadi tanggal 4 Agustus 1922 di dekat Dushanbe, Turkestan (sekarang Tajikistan). 


6. Hideki Tojo




Hideki Tojo (1884-1948) adalah jenderal Jepang sekaligus Perdana Menteri Jepang yang ke-40. Ia adalah sosok di balik segala tindak tanduk Jepang selama masa Perang Dunia II. Dirinya juga lah yang memberikan persetujuan atas percobaan biologis yang dilakukan terhadap para tawanan perang.

Setelah Jepang mengalami serangkaian kekalahan pada akhir Perang Dunia II, Tojo sempat berusaha bunuh diri dengan menembakkan pistol ke dadanya. Tetapi upaya itu gagal. Diktatr ini kemudian diseret ke Pengadilan Militer Internasional dan dinyatakan bersalah sebagai penjahat perang.

Ia didakwa atas sejumlah tuduhan di antaranya adalah memerintahkan dan mengizinkan perilaku sadis dan tak berperikemanusiaan terhadap tawanan perang. Ia dianggap bertanggung jawab atas kematian 4 juta orang. Tojo dihukum gantung pada 12 November 1948.


7. Leopold II




Leopold II adalah raja Belgia yang berkuasa dari tahun 1865 sampai kematiannya pada 1909. Leopold naik tahta setelah ayahnya, Leopold I wafat. Saat berkuasa ia diketahui telah menewaskan sekitar 10 juta orang. 

Leopold II memang sedari awal begitu bernafsu untuk melakukan penjajahan terhadap bangsa lain di Asia dan Afrika. Eksapansi awalnya adalah Kongo yang diklaimnya sebagai daerah jajahan Belgia. Ia mengeksploitasi kekayaan alam negeri itu dan juga rakyatnya. Rakyat Kongo nyaris semuanya dijadikan budak yang digunakan untuk mengeruk kekayaan alam Kongo yang setelahnya digunakan untuk memperkaya dirinya.

Tidak hanya menjadikan rakyat Kongo sebagai budak, ia melalui para prajuritnya kerap melakukan pembantaian dan juga pemotongan anggota tubuh jika orang-orang itu tidak mau menuruti perintahnya. Sekitar 5-10 juta orang Kongo tewas selama masa penjajahan Belgia itu.

Mirisnya, Leopold sama sekali tidak mendapatkan hukuman atas tindakannya pada rakyat Kongo. Setelah dunia mengetahui apa yang dilakukannya terhadap rakyat Kongo, ia masih bisa mengelak bahkan memberikan kuasa pada parlemen. Setelah posisinya sebagai raja berakhir, ia bebas dari segala tuntutan.


8. Adolf Hitler




Jika kalian mengikuti blog ini, maka kalian akan menemukan cukup banyak artikel menyangkut Hitler. Diktator asal Jerman yang merupakan tokoh utama Nazi dan berperan penting selama Perang Dunia II ini sudah lama dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya jutaan orang. Ia juga dianggap sebagai otak di balik pembantaian terhadap jutaan orang Yahudi. Diperkirakan ada 17 juta kematian yang disebabkan oleh pria berkumis ala Charlie Chaplin ini.

Setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia II, ia memutuskan untuk bunuh diri di bunkernya bersama dengan wanita yang baru dinikahinya, Eva Braun pada 30 April 1945. Ia berpesan agar jasadnya dibakar. Alasan Hitler mengambil keputusan tersebut adalah karena dirinya takut mayatnya akan menjadi bulan-bulanan seperti yang terjadi pada diktator Italia Benito Mussolini.

Baca juga:



9. Joseph Stalin




Josef Stalin (1878-1953) adalah tokoh revolusi dan politikus Uni Soviet. Karirnya di bidang militer berawal dari menjadi anggota dari Partai Buruh Demokrat Sosial Rusia yang beraliran Marxis. Ia kemudian menjadi anggota badan eksekutif partai komunis tak lama setelah jatuhnya Tsar Nicholas II dalam Revolusi Oktober 1917.

Stalin mendapatkan puncak kekuasaan sebagai pemimpin Uni Soviet setelah wafatnya Lenin pada tahun 1924. Segera setelah dirinya berkuasa, mimpi paling buruk menimpa rakyat. Kebijakan ekonomi yang tadinya dicanangkan Lenin diubah menjadi ekonomi terpimpin yang tersentralisasi. Akibatnya produksi pangan mengalami kekacauan yang berimbas pada merebaknya kelaparan di segala penjuru negara tersebut. 

Bencana kelaparan yang merenggut jutaan jiwa ini ditambah pula dengan pembersihan terhadap musuh-musuh kelas pekerja. Selain itu, Stalin juga dianggap bertanggung jawab atas tindakan pembersihan etnis, penindasan massal, dan ratusan ribu hukuman mati. Ia dianggap sebagai orang di balik kematian lebih dari 20 juta rakyat bahkan hingga ke negara tetangga Ukraina.



10. Mao Zedong





Mao Zedong (1893-1976) adalah tokoh penggerak komunis sekaligus merupakan bapak pendiri Republik Rakyat China. Mao dikenal sebagai Ketua Partai Komunis China sejak tahun 1935 hingga kematiannya tahun 1976. Masa kekuasaannya sering disebut sebagai masa-masa penuh ketakutan di China.

Mao yang berhasil menjadi orang nomor satu di China setelah ia berhasil memenangkan perang saudara pasca Perang Dunia II. Perang saudara itu sendiri merenggut tidak kurang dari 9 juta nyawa.

Pada masa kekuasaanya di tahun 1958, Mao meluncurkan apa yang disebutnya sebagai Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward). Program yang disusun oleh Partai Komunis China yang berlangsung dari tahun 1958 sampai 1960  tersebut bertujuan untuk membangkitkan ekonomi China melalui industrialisasi secara besar-besaran dan memanfaatkan tenaga kerja dalam jumlah besar namun murah. Menurutnya sistem ini akan merubah wajah China menjadi negara hebat.

Pada masa itulah daerah pedesaan direorganisasi secara total. Orang-orang dipaksa bekerja dalam jam kerja panjang yang tidak manusiawi. Sektor pertanian juga sepenuhnya dikuasai oleh pemerintah yang membuat rakyat hanya mendapatkan makanan dari pemerintah pusat. Akibat dari hal ini sungguh fatal. Banyak orang di berbagai daerah mengalami kelaparan parah. Benaca kelaparan segera menyebar ke semua wilaya. Banyak orang yang ditemukan mati mengenaskan.

Kekejaman Mao tidak hanya sampai di sana saja. Ia juga memburu dan membunuhi banyak intelektual muda. Aksinya mirip dengan Pol Pot yang mendata nama orang-orang berpendidikan dan dapat berbahasa asing, lalu membunuh mereka karena orang-orang ini dianggap akan menjadi penghambat bagi segala tindakannya.

Tidak ada angka pasti berapa jumlah orang yang tewas di bawah kekuasaan Mao. Beberapa sumber menyebutkan angka di atas 20 juta jiwa, sementara yang lainnya bahkan yakin pria yang berasal dari Shaosan ini bertanggung jawab atas kematian 70 juta jiwa.


Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

Post a comment for "Deretan Para Diktator Dunia, Siapa yang Membunuh Paling Banyak?"