Jules Brunet dan The Last Samurai




Film "The Last Samurai" menceritakan tentang Nathan Algren, seorang perwira militer Amerika yang ditugasi  untuk melatih seni perang modern. Di waktu yang sama, pemerintah juga berupaya untuk menumpas kelas pejuang samurai kuno. Namun seiring berjalannya waktu, Algren justru berbalik menjadi bagian dari para samurai. Kisah menarik ini ternyata diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi di Jepang pada masa restorasi Meiji. 

Namanya Jules Brunet. Berbeda dengan cerita di film di mana orang asing yang datang ke Jepang adalah perwira militer Amerika, Brunet adalah anggota militer Perancis.

Jules Brunet lahir di Belfort, Perancis pada tahun 1838. Ia lulus dari Ecole Polytechnique pada tahun 1857. Spesialisasinya di bidang artileri. Selama kurun waktu 1862-1867, Brunet berpartisipasi dalam misi yang dikirim oleh Napoleon III ke Mexico. Dalam misi itu ia mendapatkan penghargaan Legion d'Honneur.

Jules Brunet

Pada tahun 1867, Brunet tiba di Yokohama. Kedatangannya dan tim merupakan misi militer pertama Perancis di Jepang. Ia ditugaskan untuk membentuk sekaligus melatih pasukan elit Shogun Tokugawa Yoshinobu.


Selama berada di Jepang, Brunet terkesan dengan kebudayaan dan tradisi orang-orang Jepang. Di lain pihak, situasi politik di sana tengah memanas. Pasalnya, terjadi konflik kekuasaan antara Shogun Tokugawa dengan Kaisar Meiji. 

Shogun Tokugawa dan Kaisar Meiji

Pada awal tahun 1868, Kaisar Meiji, yang didukung oleh banyak klan secara resmi kembali menguasai Jepang setelah 600 tahun Shogun berkuasa. Namun di lain pihak, shogun menolak meletakkan kekuasaannya. Maka meletuslah Perang Boshin/Boshin War (1868-1869), yakni perang saudara antara keshogunan Tokugawa dengan faksi yang ingin mengembalikan kekuasaan ke tangan kekaisaran.

Samurai klan Satsuma yang bertempur di pihak ke kaisaran selama Perang Boshin

Pasukan kaisar mencapai Edo, sebuah rencana kemudian dibuat oleh legislator pemerintah Perancis di Jepang, Leon Roches untuk mempertahankan kota. Tetapi shogun menolak untuk menerapkan rencana tersebut dan meletuslah Pertempuran Koshu-Katsunama pada 29 Maret 1868.

Dua bulan kemudian Edo terkepung. Shogun Tokugawa Yoshinobu yang meyadari posisinya kian terjepit akhirnya menyerah. Namun beberapa pasukan Shogun, termasuk di antaranya orang-orang Brunet menolak untuk tunduk menyerah. Dipimpin oleh Laksamana Enomoto Takeaki, mereka yang masih setia pada shogun mundur dan melarikan diri ke hutan wilayah utara, Hokadate.

Enomoto Takeaki

Sementara itu, Edo jatuh ke tangan Kaisar Meiji. Pada September 1868 Kaisar memindahkan ibu kota kekaisaran dari Yokohama ke Edo seklaigus menggantinya menjadi Tokyo.

Jules Brunet ikut dalam pasukan pimpinan Emoto Takeaki. Bersama-sama mereka membangun pemukiman dan berlatih. Ia melatih para samurai teknik bertempur dengan menggunakan senjata modern. 

Di waktu yang bersamaan, kekaisaran Perancis yang dipimpin Kaisar Napoleon III merevisi perjanjian kerjasama dengan Jepang. Isinya adalah Perancis berada dalam posisi netral dan tak ingin terlibat dalam konflik dan perang sipil yang terjadi di Jepang. Sebagai hasilnya, Napoleon memerintahkan para tentara untuk kembali ke Perancis. Namun Jules dan beberapa orang Perancis lainnya yang ikut dalam pemberontakan bersama dengan Enomoto Takeaki menolak kembali. Mereka tetap bertahan dengan para samurai untuk melancarkan serangan balasan.


Di pimpin oleh Jules Brunet, pasukan shogun melakukan pemberontakan dan berhasil merebut benteng Goryokaku sekaligus menaklukkan Hokkaido.

Pada 15 Desember 1868, mereka kemudian memproklamirkan berdirinya Republik Ezo dengan Enomoto Takeaki sebagai presidennya. Namun Kaisar Meiji tak tinggal diam. 

Pada Maret 1869, sebanyak 10.000 orang tentara kekaisaran Meiji tiba di Hokkaido. Pertempuran pun pecah nantara sisa angkatan bersenjata Keshogunan Tokugawa yang mengonsolidasi diri menjadi pemberontak Republik Ezo melawan Angkatan Darat Kaisar Meiji yang baru daja dibentuk. Pertempuran yang dikenal dengan Perang Hokadate ini juga merupakan akhir dari Perang Boshin.

Perang Hokadate

Tentara Ezo yang hanya berjumlah sekitar 3000 orang saja berusaha mati-matian mempertahankan benteng Goryokaku. Sampai akhirnya pada bulan Mei tahun 1869, benteng jatuh ke tangan tentara kaisar. 

Jules Brunet selamat dalam pertempuran itu dan ia dievakuasi oleh French Corvette Coetlogon. Brunet tak menerima hukuman. Ia kembali ke Perancis dan meneruskan karir militernya dengan pangkat tertinggi Jenderal. Hubungan Perancis dan Jepang juga tak terpengaruh karena aksi Brunet  dan beberapa tentara Perancis lainnya yang sempat memihak pada keshogunan Tokugawa.

Pada saat Shogun berkuasa selama ratusan tahun, hubungan Jepang dengan asing sangat terbatas. Jepang bahkan sempat mengisolasi diri. Orang-orang asing hanya dapat melakukan perdagangan melalui Pelabuhan Nagasaki. Namun sejak dimulainya restorasi Meiji, Jepang mulai membuka diri. Beberapa kebudayaan dan gaya berpakaian ala Barat pun mulai banyak dipakai masyarakat.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Jules_Brunet
https://juaranews.com/berita/26043/01/05/2017/kisah-nyata-di-balik-film-the-last-samurai
https://updatesejarah.blogspot.com/2016/05/last-samurai-mitos-dan-fakta.html
https://www.newzealand.com/id/feature/about-the-last-samurai/

0 Response to "Jules Brunet dan The Last Samurai"

Post a Comment