Jalaluddin Rumi, Penyair Mistik Terbesar Dalam Sejarah





Pada saat tasawuf baru berkembang di Asia Kecil, bermunculanlah banyak mistikus keliling. Beberapa berasal dari Persia dan sisanya berasal dari wilayah yang lebih jauh ke timur. Salah satu dari orang-orang itu adalah Rumi yang kelak akan berubah menjadi sosok sufi dan penyair terbesar paling berpengaruh yang pernah dikenal dunia.

Serangan bangsa Mongol menarik kedatangan rombongan nomaden Turki dari Asia Tengah. Kelompok-kelompok ini berjalan hingga ke Asia Kecil. Wilayah ini dikenal pula dengan Anatolia. Nah, di sinilah mulai banyak bermunculan para mistikus. Mereka biasanya berkeliling dan sebagian besar merupakan darwish, yaiu orang yang sengaja hidup dalam kemiskinan dengan tujuan spiritual. Jadi mereka tidak bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup dari sedekah.

Di antara para darwish itu, ada darwish Maulawi. Para intelektual dan orang-orang cerdik pandai biasa berkumpul di sekitarnya. Ia adalah Jalaluddin-i Balkhi yang di kemudian hari akan lebih dikenal sebagai Jalaluddin Rumi atau Rumi.

Ia dilahirkan pada 6 Rabiul Awal 604 H/30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand) sehingga pada masa awal hidupnya ia memiliki nama Jalaluddin-i Balkhi. Di wikipedia kita akan menemukan namanya sebagai Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakri. Bagaimana ia mendapatkan nama Rumi? Nanti kalian akan mengetahuinya.

Ayah Rumi bernama Bahauddin Walad yang masih keturunan Abu Bakar, sementara itu ibunya masih keturunan kerajaan Khawarizmi. Ayah Rumi adalah seorang cendekia dan juga guru terkenal di Balkh. Ia bahkan mendirikan sebuah sekolah di sana.

Ketika Rumi berusia 3 tahun, invasi Mongol di bawah Jenghis Khan mulai mengancam. Maka dari itu, sang ayah segera memindahkan keluarganya ke wilayah barat. Mereka meninggalkan Balkh melalui Khurasan dan Suriah, hingga akhirnya ke Provinsi Rum di Anatolia Tengah. Oleh karena itulah dunia mengenal sang penyair sebagai Jalaludin-i Rumi atau Jalaludin Rumi (Jalaludin Romawi).

Dalam perjalanan keluarga itu, mereka sempat singgah di Nishpur dan bertemu dengan seorang yang tampak seperti orang spiritual yang meramalkan bahwa bocah kecil itu kelak akan menjadi orang yang masyur.

Keluarga Rumi menetap di Qonya, ibukota Rum. Saat Rumi beranjak dewasa, ia mulai mengajar di sekolah ayahnya. Di sanalah ia mulai menuliskan risalah berbagai agama konvensional yang membuatnya dikenal luas. Setiap kali dirinya mengajar, ruangan kelas dipenuhi oleh murid-muridnya yang datang dengan antusias.

Hingga pada suatu hari di tahun 1244 ketika ia tengah mengajar, datanglah orang asing ke kelasnya. Orang ini berpakaian comapng-camping dan duduk di kursi paling belakang. Ia mengganggu kelas karena terus saja melantunkan nyanyian. Tampaknya ia adalah pengemis gila. Murid-murid Rumi yang marah pada pria itu segera saja menyeretnya keluar.

Rumi kemudian menghentikan murid-muridnya itu, dan bertanya pada sang pengemis siapa dia dan apa yang diinginkannya.

Pria berpakaian compang-camping itu memperkenalkan dirinya sebagai Syams-i Tabriz. Tak lama setelah perkenalan singkat itu, Rumi menutup bukunya dan mengatakan kepada para muridnya bahwa hari itu adalah hari terakhirnya mengajar. Pria itu adalah gurunya.

Rumi berjalan keluar kelas bersama Syams-i Tabriz. Semenjak itu ia tidak pernah kembali dan segalanya berubah bagi dirinya.

Jalaluddin Rumi

Jalaluddin Rumi dan Syams terus bersama tak terpisahkan. Keduanya terikat kuat dalam ikatan spiritual murni. Maka beberapa tahun setelahnya banyak puisi-puisi Rumi yang ditandatanganinya dengan nama gurunya. 

Pada periode ini ia mengumpulkan lirik-lirik puisi Karya-Karya Syams-i Tabriz, yang sebenarnya adalah karangannya. Beberapa tahun kemudian Syams menghilang secara misterius.

Rumi kemudian bertemu dengan Husamuddin Ghalabi. Sosok inilah yang kemudian mengilhaminya untuk menuliskan pengalaman spiritualnya dalam salah satu karya monumentalnya yakni Matsnawi Ma'nawi (Manuskrip Spiritual). Ia mendiktekan karyanya kepada Husamuddin hingga akhir hayatnya tahun 1273.

"Mengapa melodi seruling itu begitu pedih menusuk? Karena seruling pada mulanya adalah buluh, tumbuh di tepi sungai, berakar di dalam tanah. Ketika dibuat menjadi seruling, ia dilepaskan dari akar-akarnya. Kesedihan yang mengalun dalam nyanyiannya adalah kerinduan buluh mengenang keterpisahannya dari rumpunnya.


Referensi :

Ansary, Tamim. 2017. Dari Puncak Baghdad. Jakarta : Serambi.
https://id.wikipedia.org/wiki/Jalaluddin_Rumi


0 Response to "Jalaluddin Rumi, Penyair Mistik Terbesar Dalam Sejarah"

Post a Comment