Sejarah Kelam Kongo di Bawah Kekuasaan Raja Leopold II




Nama King Leopold II dari Belgia barangkali tidaklah setenar Hitler atau Stalin yang kerap berada di puncak daftar pemimpin paling bengis dan kejam dalam sejarah. Kalian juga pasti tidak begitu familiar dengan sosok yang satu ini. Terang saja, ia sukses menyembunyikan kekejian di luar batas nalar manusia di balik kampanye "Congo Free State" alias Negara Bebas Kongo yang digembar-gemborkan untuk menyejahterakan rakyat Kongo. Nyatanya, bisa kalian lihat sendiri pada gambar di atas.

Seorang ayah tengah menatap pada potongan tangan dan kaki putrinya yang berusia 5 tahun. Tangan dan kaki mungil itu dipotong sebagai hukuman karena gagal memenuhi kuota karet harian Belgian Congo. 

Nsala memandangi potongan tangan dan kaki anaknya yang diputus
karena tidak memenuhi kuota pengumpulan karet

Foto tersebut diambil oleh Alice Seeley Harris. Nama pria itu adalah Nsala. Dalam bukunya, "Don't Call Me Lady: Journey Lady Alice Seeley Harris" disebutkan bahwa Nsala tidak memenuhi kuota karet untuk hari itu sehingga pengawas yang ditunjuk Belgia kemudian memotong tangan dan kaki putrinya. Namanya Boali dan baru berusia 5 tahun. Lalu setelah itu mereka membunuhnya dan juga istrinya. Seolah tak puas setelah melakukan semua itu, mereka mengkanibal Boali dan ibunya, lalu memberikan pada Nsala potongan dari tubuh putrimya itu. 

Nsala hanyalah satu kasus dari banyak sekali kasus pembunuhan dan pemotongan anggota tubuh yang dilakukan pada masa kekuasaan Raja Leopold II di Kongo. Bagaimana awalnya Leopold II bisa menguasai Kongo?


Ambisi Gila Leopold II 

Bagaimana bisa sampai Kongo berada di bawah kepemilikan pribadi Leopold II? Tampaknya kita harus menarik waktu sejarahnya jauh ke belakang.

Leopold II ketika muda

Leopold II (1835-1909) merupakan anak kedua Leopold I. Setelah sang ayah mangkat, Leopold II naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 1865.

Baca juga: Misteri Penyakit Hemofilian Pada Keturunan Ratu Victoria

Sedari muda. rupanya Leopold II ini sangat terobsesi untuk memiliki koloni di luar Belgia. Ia sangat percaya bahwa koloni di luar negeri adalah kunci kebesaran suatu negara. Alhasil untuk mewujudkan impiannya itu ia berusaha keras demi memperoleh wilayah kolonial Belgia.

Pada tahun 1866 Leopold menginstruksikan duta besar Belgia di Madrid untuk berbicara kepada Ratu Isabella II mengenai penyerahan Filipina kepada Belgia. Namun duta besar itu tampaknya tak melakukan apa pun. Leopold yang tampak sudah muak dengan kinerja duta besar yang tak sesuai dengan harapannya dengan cepat menggantikannya dengan seseorang yang lebih simpatik yang sejalan dengan rencananya.

Pada tahun 1868 Ratu Isabella II digulingkan. Leopold kembali mencoba peruntungannya menekan rencana awalnya untuk menguasai Filipina. Tetapi tanpa dana yang memadai rencananya itu tidak berhasil. Leopold kemudian menyusun rencana berikutnya yaitu mendirikan Filipina sebagai negara merdeka namun kemudian negara itu nantinya bisa diperintah Belgia. Tetapi seperti rencana pertamanya, rencana keduanya ini juga gagal. Leopold kemudian mulai mengalihkan rencananya ke Afrika.

Setelah bertahun-tahun tampaknya rencananya selalu gagal untuk memperoleh koloni di Asia ataupun di Afrika. Pada tahun 1876 Leopold mengorganisir sebuah perusahaan induk swasta yang bekerja sebagai asosiasi ilmiah dan filantropis internasional yang ia sebut International African Society untuk eksplorasi dan peradaban Kongo. Tetapi ini ternyata hanyalah kedok.

Dua tahun kemudian, di bawah naungan perusahaan tersebut dengan licik ia menyewa seorang penjelajah bernama Henry Stanley untuk menjelajahi sekaligus membangun koloni di wilayah Kongo. Tahun berganti tahun tampaknya rencananya itu berjalan mulus. Lalu pada tahun 1884-1885 dalam Konferensi Berlin yang diikuti oleh 14 negara Eropa dan juga Amerika Serikat, Leopold diakui sebagai penguasa sebagian besar wilayah yang ia dan Henry Stanley klaim.

Konferensi Berlin (1884-1885)

Akhirnya pada tanggal 5 Februari 1885 impian Leopold menjadi kenyataan. Negara Bebas Kongo, area yang 76 kali lebih besar daripada Belgia didirikan di bawah pemerintahan pribadi Leopold II dan tentara swasta yang disebut Force Publique.

Leopold II

Namun tak seperti janjinya di awal yang akan mensejahterakan rakyat Kongo, Leopold mulai mengumpulkan kekayaan pribadi yang sangat besar dengan cara mengeksploitasi sumber daya alam Kongo. Pada awalnya gading diekspor, tetapi sepertinya komoditas ini tidak menghasilkan pendapatan seperti yang diharapkan.


Eksploitasi, Kekejaman, Pembunuhan, dan Mutilasi 

Ketika permintaan global akan karet meledak, perhatian bergeser pada pengumpulan getah dari pabrik karet. Leopold II kini benar-benar melupakan janji Konferensi Berlin. Pemerintah Negara Bebas yang didirikannya membatasi akses asing dan juga mempraktikkan kerja paksa bagi penduduk asli, seperti yang dilakukan Belanda pada negara jajahannya di Hindia Belanda.

Pada masa inilah banyak sekali dilakukan kekerasan termasuk perbudakan penduduk asli, pemukulan, pembakaran desa, pembunuhan, dan mutilasi anggota tubuh yang sering terjadi ketika kuota produksi karet tidak terpenuhi. Kegagalan memenuhi kuota pengumpulan karet dapat dijatuhi dihukum mati. Sementara itu Force Publique diharuskan untuk memberikan tangan korban mereka sebagai bukti bahwa mereka telah menembak dan membunuh seseorang. "Tangan" di sini dalam arti harfiah.

Sejumlah orang Kongo yang menjadi korban pemotongan tangan

Seorang pendeta Katolik mengutip seorang pria bernama Tswambe, berbicara tentang pejabat negara yang dibenci bernama Leon Fievez, yang mengelola sebuah distrik di sepanjang sungai 500 km di utara Stanley Pool. Semua orang kulit hitam melihat pria ini sebagai iblis.

Baca juga: Sejarah Kelam Eksperimen Senjata Biologi di Unit 731

Mayat-mayat bergelimpangan di ladang, dan para prajurit (Force Publique) memotong tangan orang-orang itu. Dia ingin melihat jumlah tangan dipotong oleh masing-masing prajurit dan dimasukkan ke dalam keranjang. Sebuah desa yang menolak untuk menyediakan karet akan benar-benar dibakar habis. Para prajurit Fievez mengambil jaring besar lalu menempatkan 10 penduduk asli yang ditangkap, meletakkan batu-batu besar ke jaring, dan menjatuhkannya ke sungai. Mereka juga membuat para pemuda desa memperkosa ibu atau saudara perempuannya sendiri.

Keranjang berisi tangan-tangan yang terputus itu kemudian diletakkan di kaki komandan pos, menjadi simbol Negara Bebas Kongo. Pasukan Force Publique lalu membawa keranjang-keranjang itu ke stasiun sebagai ganti kuota karet yang tidak terpenuhi. Potongan-potongan tangan itu menjadi semacam mata uang. Bahkan tentara Force Publique diganjar bonus berdasarkan berapa banyak tangan yang berhasil mereka kumpulkan.

Dua kakak beradik dipotong tangannya sebagai hukuman karena tidak mendapat karet
seperti yang sudah ditentukan

Secara teori, setiap tangan yang terpotong berarti sang tentara berhasil membunuh. Dalam praktiknya, tentara terkadang berbuat curang dengan hanya memotong tangan dan membiarkan korban hidup atau mati. Sejumlah orang berhasil hidup. Mereka mengatakan bahwa mereka terkadang berpura-pura mati ketika tangan mereka terputus, lalu menunggu sampai para tentara itu pergi sebelum mencari bantuan.

Beberapa orang Kongo menunjukkan potongan tangan

Ironisnya, dalam beberapa kasus, seorang prajurit dapat mempersingkat masa tugasnya dengan membawa lebih banyak tangan daripada prajurit lainnya. Hal ini yang kemudian menyebabkan praktik mutilasi dan pemotongan anggota tubuh dari manusia hidup kian meningkat.

Tangan mereka dipotong oleh tentara Force Publique

Leopold menggunakan sejumlah besar uang yang didapatnya dari eksploitasi ini untuk proyek konstruksi publik dan swasta di Belgia. Diperkirakan sekitar 1 juta hingga 15 juta orang Kongo tewas akibat praktik yang dilakukan Raja Belgia tersebut.


Akhir Hidup Leopold, Bahkan Sejumlah Orang Menganggapnya Pahlawan

Laporan kematian dan juga praktik yang dilakukan di Kongo segera menimbulkan skandal internasional besar-besaran di awal abad ke-20. Namun setelah ketahuan membantai 10 juta orang, Leopold II dengan entengnya memberikan kekuasaan pada parlemen pada 1908. Memang hal ini membuat posisinya sebagai raja berakhir, namun ia terbebas dari segala tuntutan. Ia masih bisa menikmati hidup dengan harta yang dimilikinya. 

Leopold II meninggal pada 17 Desember 1909 di Laeken. Iring-iringan pemakamannya dicemooh oleh banyak orang.

Prosesi Pemakaman Leopold II

Namun tidak sedikit pula yang menghadiri pemakannya serta menghormatinya. Setelah kematiannya  dan pemindahan koloninya ke Belgia, terjadilah apa yang disebut "Lupa Besar". Banyak orang Belgia di abad 20 dan 21 mengingatnya sebagai "Builder King".

Baca juga: Deretan Para Diktator Dunia, Siapa yang Membunuh Paling Banyak?



Bahkan di Ostend terdapat monumen patung untuk Leopold II dan catatan di bawahnya betapa warga Kongo berterima kasih padanya. Pada tahun 2004, sebuah kelompok aktivis memotong tangan patung  perunggu Leopold ini sebagai protes kekejaman yang dilakukannya terhadap rakyat Kongo yang menorehkan sejarah kelam yang akan terus dikenang anak cucu mereka sampai kapan pun.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Leopold_II_of_Belgium
https://en.wikipedia.org/wiki/Congo_Free_State
https://rarehistoricalphotos.com/father-hand-belgian-congo-1904/

2 Responses to "Sejarah Kelam Kongo di Bawah Kekuasaan Raja Leopold II "