Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

7 Bencana Alam Terbesar dan Mematikan yang Pernah Mengguncang Dunia Kuno




Bencana besar selalu terjadi sepanjang sejarah dan menyebabkan tewasnya banyak nyawa. Bencana alam adalah sesuatu yang tak terhindarkan, apalagi pada zaman dunia kuno di mana segala informasi masih sangat terbatas. Bencana alam tidak hanya dapat memusnahkan populasi manusia maupun hewan, tetapi juga mampu mengubah struktur Bumi kala itu. Bahkan pada beberapa peristiwa, bencana alam menjadi akhir bagi sebuah peradaban.

Peristiwa bencana alam yang terjadi di masa lalu telah menarik minat arkeolog karena biasanya peristiwa-peristiwa tersebut akan meninggalkan sisa peradaban, pemukiman, dan sejumlah fosil makhluk hidup, manusia khususnya yang dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana orang pada saat itu bereaksi terhadap bencana alam yang menghancurkan.

Bukti-bukti arkeologi bencana alam pada masa dunia kuno juga dapat menjawab misteri sejarah dan mengungkap kehidupan manusia dan alam di masa lalu.

Berikut ini adalah 7 bencana alam dahsyat yang paling mematikan dan mengguncang yang pernah terjadi pada zaman dunia kuno.


1. Letusan Gunung Vesuvius



Gunung Vesuvius adalah satu-satunya gunung berapi aktif di Eropa. Letaknya berada di sebelah timur Napoli, Italia. Pada tahun 79 Masehi gunung ini meletus dan menyebabkan hancurnya kota Pompeii dan kota Herculaneum. Vesuvius bahkan mungkin adalah gunung berapi paling berbahaya di Bumi. Masalahnya adalah banyak orang yang tinggal di sekitar Gunung Vesuvius tersebut saat itu.

Pada tahun 79 Masehi, orang-orang sudah diperingatkan akan kemungkinan terjadinya gempa bumi. Tetapi peringatan ini tidak dipedulikan. Kemudian terjadi gempa yang diikuti munculnya awan hitam di langit. Pompeii hanya berjarak 5 mil dari gunung berapi, Herculaneum bahkan lebih dekat lagi.

Tak lama setelah itu, gunung meletus dan abu vulkanik menyapu kota dalam waktu sekejap dan menimbun apa pun yang ada. Kota ini bahkan sempat hilang selama 1.600 tahun lamanya sebelum akhirnya ditemukan kembali secara tidak sengaja.

Jasad-jasad yang ditemukan dalam puing bekas meletusnya Vesuvius

Apa yang membuat bencana ini sangat menarik adalah bahwa sampai saat ini masih ada bukti yang menggambarkan dengan sangat nyata apa yang terjadi saat itu. Puing-puing bekas bencana serta manusia dan makhluk hidup lain terawetkan dengan sangat baik di bawah puing-puing gunung berapi. Penggalian kota ini memberikan pemandangan yang luar biasa terperinci. Tubuh-tubuh manusia yang tertutup abu vulkanik masih utuh sempurna bak patung.

Baca selengkapnya: Pompeii, Negeri yang Dibinasakan


2. Bencana Kekeringan di Zaman Perunggu

Zaman Perunggu (source:history.com)

Zaman perunggu adalah masa di mana perkembangan peradaban ditandai dengan pemnggunaan teknik melebur tembaga dari hasil bumi untuk dibuat menjadi perunggu. Zaman ini berada di antara Zaman Batu dan Zaman Besi atau sekitar 8.000 tahun yang lalu.

Namun ternyata bagi mereka yang tinggal di Mediterania timur selama zaman perunggu, kehidupan berjalan sangat menyedihkan. Perang dan kelaparan menjadi bencana yang mematikan. Akibatnya banyak peradaban dan budaya hancur termasuk Yunani kuno atau benar-benar lenyap seperti orang Het.

Penurunan curah hujan menjadi penyebab utama. Bayangkan saja, pada masa itu kekeringan tudak berlangsung selama setahun atau dua tahun saja, tetapi mencekik wilayah itu selama 300 tahun! Larnaca Salt Lake di Siprus, sebuah danau dahulunya pernah menjadi pelabuhan terbuka ke laut lepas, setidaknya sebelum tahun 1.450 SM.

Lebih dari 100 tahun, danau tersebut kemudian menyusut ke laguna. Pada tahun 1200 SM, serbuk sari membuktikan bahwa pertanian di sekitarnya pada masa itu berhenti berproduksi selama berabad-abad. Kurangnya makanan kemudian menyebabkan migrasi besar-besaran selama beberapa generasi.

Danau Larnaca bukan satu-satunya bukti terjadinya kekeringan hebat zaman itu. Sahara dulunya bukanlah gurun. Wilayah ini dihujani curah hujan yang cukup menyebabkan Sahara menjadi tempat beternak sapi yang bagus.

Kehijauan yang membentang luas itu kemudian hilang secara perlahan. Hujan nyaris berhenti dan tidak pernah turun lagi yang mengubah tempat ini menjadi gurun seperti sekarang. Kota-kotanya yang dulu pernah ada di sana kemudian ditinggalkan.


3. Naiknya Air Laut



Ketika zaman es berakhir karena perubahan iklim seluruh wilayah dataran rendah terendam air laut. Pulau-pulau seperti Irlandia dan Inggris menyusut ke ukuran sekarang. Seluruh wilayah Inggris antara Norwegia, Belanda, Denmark, dan Inggris, yang dulu disebut Doggerland, tenggelam dan menjadi Laut Utara.

Taiwan dan China dulunya adalah sebuah daratan menyatu yang kemudian terpisah. Selain itu, Thailand dapat dilewati dengan jembataran darat ke Australia, yang sekarang menjadi pulau yang dipisahkan oleh laut.

Kenaikan permukaan laut juga menjadi penyebab utama tenggelamnya Atlantis, kota kepulauan legendaris. Selain itu juga tenggelamnya Sunda, Mu, dan pulau-pulau China, dan negeri-negeri lain di Pasifik juga akibat dari naiknya permukaan laut ini.

Indonesia pada zaman es masih merupakan darata menyatu

Suku Celtic dan Thracian harus melarikan diri dari rumah dan kota yang terendam air. Air akhirnya menembus Dardanella ke laut Aegean, menggenangi garis pantai dan pulau-pulau seperti Samo-Thrace.

Meningginya air laut juga berdampak sampai ke India Barat. Sebuah kota terkenal bernama Dwarka yang terletak 100 km ke pedalaman, tenggelam ditelan ombak sekitar tahun 1.500 SM. Sisa-sisa kota ini telah ditemukan di dalam air.

Penemuan ini juga sekaligus dapat menjelaskan kota-kota lain di India kuno yang mungkin lenyap karena banjir, seperti Indraprashta dan Pataliputra, Kumari Kundam, dan yang pernah dibahas di blog merinding tentu saja jembatan Rama atau jembatan Adam yang terkenal.

Baca selengkapnya: Misteri Jembatan Adam (Adam's Bridge)


4. Erupsi Minoan di Thera Santorini



Sekitar tahun 1645 SM, gunung berapi meletus di pulau Thera (Santorini). Letusan masif ini menyebabkan kerusakan luas di Santorini dan pemukiman Minoan di Akrotiri, serta komunitas dan area pertanian di pulau Kreta. Pada saat itu, orang Minoa menduduki kedua pulau tersebut. Kota di Santorini tidak ditemukan kembali sampai zaman modern.

Dugaan yang berkembang adalah bahwa penduduk kuno pulau-pulau ini sudah menerima peringatan bahwa gunung berapi akan meletus, sehingga tidak ada korban letusan yang ditemukan. Selain itu tampak semua barang berharga telah dipindahkan sebelum erupsi terjadi. Meskipun demikian, para arkeolog telah menemukan bangunan dan barang-barang besar lainnya tertinggal.

Letusan Minoa adalah letusan gumpalan abu terbesar, di mana volume magma yang meletus sekitar 30-40 km3. Letusan sebesar ini memiliki dampak luas pada lingkungan dan peradaban di wilayah tersebut. Letusan Krakatau yang jauh lebih kecil terjadi di Indonesia pada tahun 1883 di mana letusan itu menciptakan tsunami setinggi 100 kaki yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.

Tidak ada catatan kuno yang jelas tentang bencana ini, tetapi mungkin telah menyebabkan kekacauan di Mesir. Selain itu, bencana ini disinggung pula dalam kronik China yang mendokumentasikan runtuhnya dinasti Xia dan musim dingin vulkanik dari letusan di akhir abad ke 17 SM. Runtuhnya dinasti Xia dan kebangkitan dinasti Shang sekitar 1618 SM digambarkan dengan matahari redup, embun beku pada bulan Juli, bencana kelaparan, dan adanya kabut kuning.

Baca juga: 7 Kota Terkenal yang Hilang dari Peradaban


5. Hujan Bola Api yang Menghancuran Sodom dan Gomora



Sekitar tahun 2000 SM, dua kota bernama Sodom dan Gomorah yang terletak di lembah selatan Laut Mati mengalami ledakan besar yang berasal dari aspal dan belerang yang dalam waktu sekejap menghancurkan seluruh wilayah kedua kota tersebut dan desa-desa di sekitarnya.

Cairan panas dan belerang terbakar jatuh dari langit seperti bola api, membakar rumah dan bangunan dengan ganasnya, dan juga orang-orang yang ada di sana terbakar seperti daun-daun kering. Peristiwa ini ada dalam Al-Quran yang menyebutkannya sebagai hukuman bagi orang-orang dengan penyimpangan seksual.

Sekelompok tim arkeologi yang dipimpin oleh Steven Collins dari Trinity Southwest University mengumumkan pada September 2015 telah ditemukan reruntuhan kota Sodom. Hasil ekskavasi selama 10 tahun menghasilkan temuan struktur bangunan masif dan banyak artefak dari Zaman Perunggu yang berada di lembah sungai Yordan bagian selatan.


6. Banjir Besar di Masa Nabi Nuh



Peristiwa banjir maha dahsyat pernah terjadi di dunia pada sekitar tahun 2400-2350 SM. Peristiwa ini dipercaya adalah peristiwa yang ada di dalam Al-Quran di mana Nabi Nuh membuat bahteranya dan membawa hewan-hewan dengan berpasangan. Peristiwa ini disebut pula dengan The Global Flood.

Peristiwa banjir besar ini dikatakan sebagai bencana alam besar dan paling menghancurkan yang pertama terjadi dalam sejarah dunia kuno.

Hujan yang berlangsung selama 40 hari lamanya menenggelamkan semua makhluk darat, kecuali orang-orang yang berada di dalam bahtera dan hewan-hewan. Banjir ini mengendapkan stratifikasi batuan sedimen dari lumpur, pasir, dan puing, mencampur mayat manusia, hewan, dan tumbuhan yang kemudian berubah menjadi fosil.

Baca selengkapnya: Di Manakah Sebenarnya Bahtera Nuh Terdampar?


7. Jatuhnya Komet ke Bumi



Pada sekitar 13.000 tahun yang lalu, terjadi ledakan dahsyat di Bumi yang diakibatkan oleh jatuhnya asteroit komet ke muka bumi. Peristiwa dahsyat ini diduga merupakan penyebab kepunahan hewan-hewan raksasa yang ada pada masa kuno. Sejak saat itu, wajah bumi tak lagi sama.

Tabrakan tersebut telah memicu kepunahan massal di planet Bumi. Sejumlah budaya kuno mungkin sudah mulai berkembang pada masa itu. Bumi mendingin dengan cepat. Para ilmuwan menemukan bahwa dalam rentang waktu hanya beberapa tahun, suhu rata-rata Bumi turun secara tiba-tiba yang mengakibatkan di beberapa tempat memiliki suhu -10 derajat celcius.

Jatuhnya komet ini berakibat pula pada terganggunya lapisan es glasial dan menyebabkan arus lautan terhenti. Selain itu, tabrakan kosmik ini juga diyakini telah memicu serangkaian kebakaran hutan besar-besaran di planet Bumi yang akhirnya menghalangi sinar matahari karena munculnya asap pekat.

Perubahan iklim ekstrem ini kemudian membawa ilmuwan pada penemuan bukti bahwa periode dingin ini berlangsung hingga 1.400 tahun lamanya. Pada masa inilah terjadi penurunan drastis pada jumlah fauna raksasa yang sebelumnya hidup menghuni bumi.

Salah satu bukti dari peristiwa ini terdapat pada Gobekli Tepe, yaitu sebuah situs kuno tertua yang diperkirakan berasal dari tahun 10.000 SM. Pada permukaan pilar-pilar Gobekli Tepe terdapat bukti dari dampak tabrakan kosmik di bumi pada saat itu. Ada beberapa simbol binatang dan juga manusia tanpa kepala yang diyakini dimaksudkan untuk mewakili banyaknya yang tewas akibat dari peritiwa tersebut.


Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

Post a comment for "7 Bencana Alam Terbesar dan Mematikan yang Pernah Mengguncang Dunia Kuno"