Misteri di Balik Sosok Joan of Arc




Seorang gadis muda anak seorang petani di Domremy muncul pada masa Perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis. Ia mengaku mendapatkan sebuah pencerahan untuk membantu Perancis merebut kembali bekas wilayah kekuasaan mereka yang dikuasai Inggris dan Burgundi. Hingga akhirnya ia ditangkap dan dieksekusi dengan cara dibakar hidup-hidup. Namun cerita tidak berhenti sampai di sana, sosok ini kemudian menimbulkan tanda tanya mengenai siapa dirinya sebenarnya dan juga teori bahwa ia berhasil lolos dari eksekusi mati dan hidup sebagai orang lain...

Joan of Arc atau Jeanne d'Arc adalah anak seorang petani sederhana yang lahir pada 1412 di Domremy, sebuah kota kecil yang terletak di Perancis Timur Laut. Orang tuanya Jacques d'Arc dan Isabelle Romee bekerja sebagai petani. Selain sebagai petani, ayahnya juga bekerja menjadi pegawai kecil di pemerintah daerah setempat.

Joan of Arc / Jeanne d'Arc

Wilayah Domremy yang merupakan kampung halaman Joan adalah sebuah daerah terisolasi yang tetap setia kepada Perancis, meskipun wilayah itu dikelilingi daerah kekuasaan Burgundy. Masa-masa sebelum Joan lahir dan ketika ia kecil adalah masa-masa sulit dan titik nadir dalam sejarah Perancis.

Perang berlarut-larut menyebabkan kesengsaraan rakyat. Masa itu adalah masa di mana Perancis terlibat dalam Perang Seratus Tahun dengan Inggris. Di lain pihak, Perancis saat itu dipimpin oleh Raja Charles VI yang diduga menderita penyakit kejiwaan dan sering kali dianggap tidak mampu memerintah kerajaannya.

Raja Charles VI

Dampak dari itu adalah munculnya dua saudara Raja Charles VI yaitu John dari Burgundi dan Louis dari Orleans. Keduanya terlibat dalam sengketa perebuatan atas hak perwalian. Persengketaan ini mencapai puncaknya saat John memerintahkan pembunuhan terhadap Louis di tahun 1407.

Melihat penguasa-penguasa Perancis yang tengah bertikai, Raja Inggris, Henry V kemudian mengambil kesempatan untuk menguasai Perancis. Henry V memenangkan pertempuran di Agincourt pada 1415 dan kemudian secara perlahan mulai menguasai kota-kota di bagian utara Perancis. Sebagian besar wilayah Perancis kemudian jatuh ke tangan Inggris.

Saat Joan kecil, terjadi beberapa kali penyerangan ke Domremy. Pada suatu penyerangan, menyebabkan tempat itu terbakar. Namun tempat itu tetap bertahan dalam kekuasaan Perancis.

Pada suatu ketika, Joan mengaku bahwa St. Michael, St. Catherine, dan St. Margaret memerintahkan kepadanya untuk mengusir Inggris dan membawa sang dauphin ke Reims untuk diangkat sebagai raja. Pencerahan ini pertama kali didapatkannya pada tahun 1424 saat usianya masih 12 tahun.



Lalu pada umur 16 tahun di tahun 1428, gadis muda yang sama sekali tak ada latar belakang politik dan peperangan ini tiba-tiba meminta salah satu keluarganya yaitu Durand Lassois untuk membawanya ke Vaucouleurs. Di sana, ia meminta agar komandan garnisum, Count Robert de Baudicourt memberinya izin untuk mengunjungi balairung agung Perancis di Chinon. Menghadapi gadis muda itu dengan nada meremehkan, Boudicourt menolaknya.

Tak patah arang, pada Januari 1429, Joan kembali lagi dan kali ini ia mendapatkan dukungan penuh dari dua bangsawan Perancis yaitu Jean de Metz dan Bertrand de Poulengy. Berkat dukungan dua orang itulah, Joan akhirnya mendapat kesempatan untuk berbicara di mana pada kesempatan itu ia berhasil membuat ramalan tentang kekalahan dalam Pertempuran Herrings.

Pada tahun 1429 itu, nyaris semua bagian utara dan barat daya Perancis berhasil dikuasai pihak asing. Inggris menguasai Paris, sementara Burgundi mendapatkan Reims. Inggris juga melakukan pegepungan di Orleans sebelum akhirnya melakukan serangan ke Paris.

Sementara itu, setelah mendengar ramalan yang dibuat Joan terbukti benar, Baudicourt lalu mengabulkan permintaan Joan untuk mengabulkan permohonannya untuk menemaninya mengunjungi Chinon. Dalam perjalanan itu, Joan menggunakan pakaian laki-laki saat melewati wilayah Burgundi.

Joan of Arc kemudian diketahui berbicara secara pribadi dengan Raja Perancis saat itu, Charles VII dan berhasil meyakinkannya untuk ikut terlibat dalam dewan perang.

Pada 29 April 1429, Joan akhirnya sampai di Orleans. Jean d'Orleans, kepala keluarga bangsawan Orleans awalnya tidak melibatkan Joan dalam perang dan memberitahukannya jika pasukan telah menyerang musuh. Namun Joan mengabaikan hal ini dan ambil bagian dalam setiap penyerangan. Dalam setiap pertempuran, Joan selalu menempatkan dirinya di garis depan dengan membawa bendera.



Selain itu, Joan tidak pernah mengikuti strategi hati-hati yang sebelumnya menjadi ciri khas pasukan Perancis. Alih-alih berhati-hati, wanita muda itu malah menyerang secara frontal pada benteng pertahanan musuh.

Joan ditugaskan oleh Raja Charles VII untuk mengepung Orleans dengan tujuan membebaskan kota tersebut. Hanya dalam waktu 9 hari ia berhasil mengakhiri pengepungan yang membawanya memperoleh kemenangan. Kemenangan ini mengantarkan pemahkotaan Charles VII di Reims. Joan of Arc sendiri menjadi salah satu tokoh penentu dalam Perang Seratus Tahun dan ia diproklamirkan sebagai pahlawan Perancis.



Setelah kemenangan itu, pasukan Perancis mencoba melakukan operasi militer lanjutan, namun sayangnya tak berhasil. Dalam keadaan terluka, Joan menolak untuk mundur saat mencoba untuk merebut Paris.

Pada 23 Mei 1430, Joan bertolak ke Campiegne untuk bertahan terhadap pengepungan pihak Inggris dan Burgundi. Perempuran hari itu menyebabkan Joan tertangkap. Biasanya seorang tawanan perang dapat ditebus dengan uang tebusan, tetapi pihak Burgundi tidak mengizinkan tebusan untuk Joan. Joan berkali-kali mencoba melarikan diri dari tahanan, tetapi gagal. Duke Phillip dari Burgundi akhirnya menyerahkan Joan ke pemerintah Inggris.



Pengadilan berbau politis diadakan Inggris dan mendakwa Joan telah melakukan ajaran sesat dan diadili dengan 70 dakwaan. Ia diadili oleh Uskup yang pro Inggris yaitu Pierre Cauchon. Penguasa Inggris setempat, John dari Bedford kemudian memerintahkan untuk menghukum Joan dengan cara dibakar hidup-hidup.

Joan dieksekusi pada 30 Mei 1431 di Rouven, Normandia. Usianya baru 19 tahun saat itu. Ia terikat di tiang tinggi, sementara tumpukan kayu bakar ada di bawahnya. Joan meminta dua petugas, Martin Ladvenu dan Isambart de la Pierre untuk memegang salib di belakangnya. Seorang prajurit Inggris juga membuatkan salib kayu untuk ditempatkan di dadanya.



Sebelum eksekusi, Joan berkali-kali berkata dengan suara keras dan menyebut nama Yesus tanpa henti dan memohon bantuan orang suci dari surga. Kayu bakar dinyalakan. Orang-orang ramai berkerumun melihat eksekusi yang mengerikan itu.

Setelah eksekusi usai, orang-orang Inggris membongkar arang dan menunjukkan tubuh wanita muda itu telah hangus dan memastikan bahwa ia memang tak selamat dari hukuman. Petugas lalu membakar ulang tubuh itu hingga menjadi abu. Ada sebuah sumber yang mengatakan bahwa Joan bahkan dibakar sampai 3 kali. Mereka kemudian membuang abu jenazah ke Sungai Seine.

Sekitar 20 tahun kemudian setelah Perancis akhirnya berhasil mengusir Inggris keluar dari Perancis, ibu Joan, Isabella, berhasil meyakinkan Inquisitor-General dan juga Paus Kallixtus III untuk membuka kembali kasus Joan. Akhirnya dakwaan terhadap Joan yang ditujukan Inggris gugur.

Joan of Arc atau Jeanne d'Arc dikenal sebagai pahlawan Perancis sekaligus orang suci (santo) dalam agama Katolik. Di Perancis, wanita ini dijuluki sebagai La Pucelle yang artinya "sang perawan".


Misteri dan Konspirasi Joan of Arc

Meskipun dianggap sebagai pahlawan dan salah satu tokoh berpengaruh dalam Perang Seratus Tahun, namun ada banyak misteri dan kontroversi di balik sosok Joan of Arc.

Misalnya saja bagaimana seorang gadis muda yang tak memiliki pengalaman di bidang politik dan militer sama sekali dapat tiba-tiba muncul dan terlibat dalam perang, lalu menjadi pahlawan negaranya. Apakah ia telah dilatih militer sebelumnya?

Selain itu pengaruh kepemimpinan militernya sebenarnya telah banyak diperdebatkan dalam sejarah. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa wanita muda itu sebenarnya "hanya" seringkali memberikan usulan cerdas dalam medan pertempuran. Sementara itu sejawaran Edouard Perroy berpendapat bahwa Joan sebenarnya hanya pembawa bendera biasa yang pengaruhnya hanya sebagai pembangkit semangat bagi pasukan.



Ada sebuah cerita di mana pada tahun 1436, seorang wanita muncul di sebuah desa yang terletak dekat Metz, Perancis. Wanita itu mengaku sebagai Joan of Arc. Orang-orang tentu saja meragukan wanita tersebut menganggapnya sebagai lelucon.

Tetapi kemudian diketahui bahwa dua orang saudara laki-laki Joan pergi ke Metz untuk melihat sendiri wanita yang mengaku sebagai Joan tersebut. Kedua pria itu kemudian dengan tegas mengatakan bahwa wanita itu memang saudara mereka.

Pengakuan itu bukan hanya datang dari saudara Joan, melainkan juga dari rekan-rekannya yang terlibat selama peperangan. Mereka menyatakan bahwa wanita itu memang benar-benar Joan. Bahkan raja pun mempercayai wanita di Metz yang mengaku sebagai Joan itu sungguh Joan of Arc. Seorang penggawa menyatakan bahwa Raja Charles VII berbicara secara pribadi dengan wanita yang mengaku sebagai Joan dan ia terkejut mengetahui wanita itu tahu segala apa yang menjadi rahasianya dengan Joan saja.

Waktu pun berjalan. Wanita itu yang kemudian dikenal sebagai Joan des Armoises dan dianugerahi penghargaan finansial atas jasanya selama perang. Ibadah gereja yang sebelumnya diatur untuk mengenang Joan kemudian dihentikan pada tahun 1436.

Tetapi anehnya setelah beberapa waktu berlalu dan orang-orang percaya dia adalah Joan of Arc, wanita itu justru mengaku sebagai penipu. Tetapi nyatanya orang-orang tak peduli dan bersikeras bahwa dia memang benar Joan of Arc.

Pada tahun 1907 setelah ratusan tahun peristiwa itu terjadi, seorang cendekiawan bernama Albert Bayet kemudian membandingkan tanda tangan Joan yang diketahui dnegan tanda tangan wanita misterius itu melalui lisensi pernikahannya. Bayet kemudian menyatakan bahwa dua orang itu adalah orang yang sama.

Beberapa tahun sebelumnya yaitu tahun 1867, ditemukan abu bekas pembakaran di loteng sebuah apoteker di Paris. Ilmuwan Perancis yang mempelajari abu itu mengkonfirmasi bahwa pada abu itu ditemukan sisa kain yang merupakan potongan gaun Joan of Arc. Setelah diperiksa, kain linen itu diperkirakan berasal dari abad ke-15.

Sementara itu pada relik itu juga ditemukan sebuah tulang. Tetapi ternyata itu adalah tulang paha kucing. Memang pada abad pertengahan itu, ada praktik untuk melemparkan kucing hitam dan penyihir ke dalam api karena dianggap membawa petaka.

Relik yang diduga adalah milik Joan of Arc

Ada sebuah klaim kontroversial yang menyatakan bahwa kematian Joan of Arc salah. Seorang antropolog Ukraina, Sergey Gorbenko menyatakan Joan tidak dibakar di tiang pancang melainkan berhasil selamat dan bertahan hidup sampai usia 57 tahun. Ia menyatakan bahwa ada orang lain yang menggantikan Joan di tiang pancang yang dibakar hidup-hidup.

Anehnya jika memang wanita dari Metz itu adalah Joan of Arc yang asli, lalu mengapa ia mengungkapkan identitasnya lalu setelah itu berpura-pura sebagai penipu? Perlu diketahui bahwa penipu pada masa itu biasanya dikenai hukuman berat, sering kali berupa hukuman mati. Tetapi mengapa wanita ini malah diampuni tanpa tindakan apa pun?

Sejumlah sejarawan meyakini bahwa ini adalah bagian dari politik Perancis. Raja tidak ingin mengecewakan rakyatnya. Jadi mungkin dia telah mengirim Joan ke dalam pertempuran yang tidak akan bisa dimenangkannya. Dia mungkin telah mengatur eksekusi terhadap wanita lain untuk menggantikan Joan.

Ada kemungkinan bahwa sebelumnya telah ada kesepakatan yang diambil di mana Joan memutuskan untuk tetap bersembunyi selama sisa hidupnya dan hidup damai di tempat lain.

Namun terlepas dari segala kontroversi sosoknya dalam sejarah dan juga teori bahwa ia berhasil selamat dari eksekusi dibakar hidup-hidup itu, Joan of Arc atau Jeanne d'Arc tetaplah menjadi pahlawan yang sosoknya sangat melekat dan dikenang dalam sejarah Perancis.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Jeanne_d%27Arc
https://www.theguardian.com/world/2006/dec/17/france.alexduvalsmith
https://www.historicmysteries.com/joan-of-arc/

0 Response to "Misteri di Balik Sosok Joan of Arc"

Post a Comment