Mansa Musa dan Kisah Kejayaan Islam di Tanah Afrika




Jika disebutkan negara Mali, sebagian besar orang pasti akan langsung mendeskripsikan negara ini sebagai negara miskin dengan angka harapan hidup yang rendah. Kenyataannya memang demikian. Negara dengan angka buta huruf tinggi dan juga dikenal dengan kekerasaan yang dilakukan pemberontak suku Tauregs ini semakin membuat suram negara yang berada di sebelah selatan Gurun Sahara tersebut. Padahal 7 abad yang lalu wilayah Kekaisaran Islam ini begitu makmur, dipimpin oleh seorang raja kaya raya hingga dijuluki sebagai salah satu manusia paling kaya dalam catatan sejarah, namanya Mansa Musa.

Musa Keita I atau Mohammed ibn Gao (1280-1337) adalah Mansa kesepuluh Kekaisaran Mali. Mansa sendiri berarti Kaisar atau Raja dalam bahasa Mandika. Mansa Musa naik tahta pada tahun 1312 tak lama setelah pamannya Mansa Abu Bakari (Mansa Qu) berangkat memimpin ekspedisi melintasi Samudera Atlantik untuk melakukan penjelajahan samudera.



Namun sayangnya pada ekspedisi tersebut Abu Bakari beserta rombongannya menghilang. Tak kurang dari 2000 kapal dikerahkan untuk melakukan pencarian. Namun usaha itu sia-sia. Diduga Mansa Abu Bakari tewas di Samudera Atlantik.

Bayangkan, pada awal abad ke 14 kekaisaran ini telah mengirimkan orang untuk penjelajahan samudera, nyaris 1,5 abad jauh sebelum Christopher Columbus lahir.

Baca juga: 7 Bukti Columbus Bukanlah Penemu Benua Amerika

Pada saat Mansa Musa berkuasa, ia memperluas wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan 24 kota dan wilayah-wilayah di sekitar Mali, yang dahulu disebut Nyeni atau Niani. Wilayah Kekaisaran Mali saat itu juga mencakup wilayah-wilayah Afrika Barat, dari Samudera Atlantik hingga Timbuktu, mencakup Chad, Gambia, Guinea, Mali, Mauritania, Nigeria, hingga Senegal. Wilayah kekuasaannya ini total mencapai 2.000 mil.

Wilayah kekuasaan Kekaisaran Mali

Kekaisaran Mali tumbuh subur berkat aktivitas perdagangannya. Komoditas utamanya sendiri hanya 2. Ya, wilayah yang dihimpit daratan tandus padang gurun ini kaya raya berkat emas dan juga tambang garamnya. Pada awal abad ke 14 itu, Mali merupakan penghasil emas terbesar di dunia.

Emas dan garam menjadi komoditi utama Mali selama ratusan tahun. Para pedagang dari Afrika Utara akan membeli emas dan garam yang kemudian dikirim ke belahan dunia lainnya bahkan hingga mencapai Eropa. Kisah kejayaan tanah Afrika di bawah kekaisaran Islam ini berlangsung mana kala orang-orang di daratan Eropa berjibaku dengan kelaparan dan wabah penyakit ganas.

Baca juga: The Black Death, Wabah Kematian yang Melanda Eropa


Kisah Perjalanan Haji yang Melegenda

Salah satu kisah paling terkenal dari Mansa Musa adalah pada saat dirinya pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Kisahnya ini begitu terkenal dan membekas khususnya di tempat-tempat yang dilewati rombongan sang kaisar. Menggambarkan bagaimana dahulunya sebuah kekaisaran Islam di tanah Afrika begitu makmur dan kaya.

Mansa Musa berangkat menunaikan rukun islam yang kelima itu pada tahun 1324. Menempuh perjalanan sekitar 6437,38 km, ia berangkat bersama dengan rombongannya yang berjumlah 60.000 orang termasuk di dalamnya istrinya, Inari Konte, rakyat, pelayan kaisar, hingga budak menemani selama perjalanan.

Ilustrasi Mansa Musa

Namun jangan membayangkan pelayannya itu biasa saja. Pelayan Mansa Musa bahkan mengenakan pakaian sutra dan tongkat emas. Sebanyak ratusan kereta yang ditarik kuda dan unta membawa kaisar beserta rombongan, di mana masing-masing kereta unta dan kuda itu memuat batangan emas berkualitas tinggi dalam jumlah yang sangat banyak. Emas-emas tersebut kemudian disedekahkan kepada orang-orang miskin yang mereka temui di sepanjang perjalanan. 

Namun ternyata apa yang dilakukan Mansa Musa dan rombongannya itu berdampak buruk pada perekonomian berbagai wilayah mulai dari Mesir, Madinah, hingga tanah Mekkah. Harga emas jatuh, harga barang-barang naik dan sempat melumpuhkan perekonomian di sana.

Dalam perjalanannya, Mansa Musa juga membangun banyak masjid di Dukurey, Gundam, Wanko, Direy, dan Bako. Masjid-masjid yang dibangunnya tersebut kebanyakan masih berdiri hingga hari ini.

Sekembalinya Mansa Musa dari tanah suci, ia membawa serta cendekiawan dan orang-orang yang cerdas untuk membangun Mali. Mansa Musa membangun Timbuktu, pusat kota Mali sebagai pusat kegiatan Islam, baik kebudayaan maupun pendidikan.

Mansa Musa menyewa arsitek langsung dari Andalusia dengan mengeluarkan dana lebih dari 200 kg emas untuk pembangunan Masjid Djinguereber, yang masih berdiri hingga saat ini. Ia juga membangun Universitas Timbuktu untuk menarik para pemuda dari berbagai belahan dunia untuk menggali ilmu di sana.

Masjid Djinguereber

Universitas Timbuktu

Ibnu Batutah yang beberapa tahun kemudian mengunjungi Mesir dalam ekspedisi perjalanannya masih dapat merasakan dampak dari kedermawanan Mansa Musa. Kisah begitu hebatnya kekaisaran Mali dengan penguasanya yang baik hati begitu tersohor diceritakan dari mulut ke mulut secara turun temurun. Dari sanalah Ibnu Batutah mengetahui betapa kayanya kekaisaran Mali saat itu.

Baca juga: 7 Catatan Unik Penjelajahan Ibnu Batutah

Begitu tersohor dan berpengaruhnya Mansa Musa, namanya berada dalam Catalan Atlas tahun 1375, yang merupakan salah satu peta dunia terpenting di abad pertengahan di Eropa.



Mansa Musa meninggal tahun 1337 dan tahta kerajaan dilanjutkan anaknya, Maghan I. Namun Maghan I hanya memimpin kerajaan selama 4 tahun saja sebelum akhirnya digantikan pamannya Mansa Sulayman. Kekaisaran ini mulai menampakkan kemunduran setelah itu. Hingga akhirnya Mali menjadi tanah jajahan Perancis.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Mansa_Musa
https://kisahmuslim.com/4576-sejarah-mali-emas-di-tengah-gurun-pasir.html
https://www.ancient-origins.net/history-famous-people/mansa-musa-richest-man-history-006847
https://www.re-tawon.com/2016/05/kekaisaran-mali-negeri-afrika-barat.html

0 Response to "Mansa Musa dan Kisah Kejayaan Islam di Tanah Afrika"

Post a Comment