Kisah Iqbal Masih, Pahlawan Perbudakan Anak dari Pakistan




Pada tahun 1980an di Pakistan, marak terjadi pabrik-pabrik dan industri yang mempekerjakan anak di bawah umur. Mirisnya, anak-anak ini harus bekerja dalam jam-jam kerja yang panjang dan dengan kondisi yang sangat tak manusiawi dengan bayaran yang begitu rendah. Tak jarang pula para pemilik pabrik sengaja mengikat mereka agar tak melarikan diri. Kondisi inilah yang dialami seorang anak yang berasal dari sebuah desa terpencil di Pakistan bernama Iqbal Masih.

Iqbal Masih lahir pada tahun 1983 di Muridke, sebuah desa terpencil di luar Lahore, Pakistan. Iqbal lahir dari keluarga yang amat miskin. Suatu ketika keluarga Iqbal meminjam uang sebesar 600 rupee pada seorang pemilik bisnis karpet. Mirisnya karena tak juga mampu membayar, maka keluarga itu akhirnya menjual Iqbal saat usianya masih 4 tahun.

Di usia yang masih begitu muda, Iqbal sudah dipaksa untuk bekerja agar dapat melunasi hutang keluarganya. Ia bekerja pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit dengan jam kerja hingga 12 jam sehari dan 7 hari seminggu. Dalam jam kerja yang sangat panjang itu, ia bersama dengan anak-anak lainnya di pabrik hanya mendapatkan istirahat 30 menit. Tak ada hari sama sekali. 

Bekerja di pabrik penenunan karpet itu, Iqbal hanya mendapat bayaran 10 rupee per hari. Tapi pinjaman itu terusmeningkat dikarenakan kebutuhan keluarganya yang akhirnya memaksa Iqbal bekerja bertahun-tahun lamanya.



Saat dirinya berusia 10 tahun, Iqbal nekat melarikan diri setelah tahu bahwa pengadilan Pakistan telah menyatakan bahwa mempekerjakan anak di bawah umur apalaagi dengan kondisi dirantai adalah ilegal.

Begitu berhasil melarikan diri, Iqbal segera bergegas ke kantor polisi untuk melaporkan kondisinya dan juga teman-teman sebayanya yang mendapatkan perlakuan tak manusiawi di pabrik penenunan karpet tersebut. Namun rupanya justru polisi-polisi tempat Iqbal mengadukan nasibnya itu malah membawanya kembali ke pabrik karpet. Maka tak dapat dihindari lagi, Iqbal disiksa dan dipukuli habis-habisan oleh pemilik bisnis karpet itu. 

Namun keinginan untuk keluar dari cengkraman mafia bisnis karpet, membuatnya bertekad kembali melarikan diri. Pada suatu hari saat usianya 12 tahun ia mendapatkan kesempatan untuk kabur. Setelah berhasil melarikan diri, ia kemudian segera pergi dan mengadukan nasibnya pada Bonded Labour Liberation Front (BLLF).



Berkat usahanya yang tak mengenal lelah Iqbal kemudian bukan hanya berhasil menolong dirinya keluar dari cengkraman majikannya dan mafia karpet di Pakistan, namun juga berhasil menolong 3000 orang anak yang memiliki nasib yang sama seperti dirinya.

Iqbal memulai kampanye menolak perbudakan anak dan membagikan kisahnya ke seluruh dunia. Ia bahkan berpidato dalam forum-forum internasional di Swedia dan Amerika Serikat. Ia juga berhasil menyabet penghargaan Reebok Human Rights Award di Boston kala itu.



Namun rupanya mafia karpet di Pakistan masih menaruh dendam pada Iqbal. Terbukti bahwa anak 12 tahun itu kerap kali menerima ancaman pembunuhan. Hari itu tanggal 16 April 1995, saat dirinya berkunjung ke tanah kelahirannya di Muridke untuk perayaan paskah, dirinya ditembak mati oleh Ashraf Hero, seorang pecandu heroin. 

Anak 12 tahun yang telah menjadi pahlawan bagi lebih dari 3000 anak yang menjadi budak pekerja itu telah pergi meninggalkan dunia tanpa sempat mewujudkan cita-cita mulianya menjadi pengacara untuk memperjuangkan nasib para pekerja anak.

Berita penembakan Iqbal segera menjadi sorotan dunia. Bisnis karpet di Pakistan mengalami pemerosotan tajam. Banyak ekspor produk ke luar negeri yang ditolak. Apalagi saat itu banyak yang telah mengetahui bahwa karpet-karpet indah yang diproduksi tak lain adalah hasil dari memperbudakkan anak di bawah umur. 

0 Response to "Kisah Iqbal Masih, Pahlawan Perbudakan Anak dari Pakistan"

Post a Comment