Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yang Tersisa Dari Kasus Junko Furuta....



“Jun-chan, aku tidak pernah bermimpi kalau kita akan bertemu lagi dengan cara seperti ini. Kamu pasti sangat kesakitan, begitu banyak penderitaan. Kami tidak akan pernah melupakanmu. Aku mendengar kalau kepala sekolah telah memberimu sertifikat kelulusan. Jadi kita semua lulus bersama-sama. Jun-chan, tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi penderitaan. Beristirahatlah dengan tenang... “ (salah satu teman pada upacara pemakaman Junko Furuta 2 April 1989)

Selama bertahun-tahun menulis di blog ini, saya sudah beberapa kali membahas tentang kasus pembunuhan, pembantaian, atau serial killer. Kasus-kasus seperti itu begitu mengerikan. Dari kasus-kasus tersebut ada beberapa di antaranya yang begitu sadis sampai rasanya tidak sanggup saya tuliskan dengan detail.  

Salah satunya adalah kasus pembunuhan Junko Furuta. Saya yakin kebanyakan kalian sudah tahu kasus ini. Sudah banyak sekali yang membahasnya.

Junko Furuta adalah seorang siswi di Yashio-Minami High School. Tinggal bersama orang tua dan dua saudara laki-lakinya, Junko tampaknya berasal dari keluarga sederhana.

Junko Furuta

Junko termasuk siswi yang populer di sekolah itu. Punya banyak teman, pintar, dan juga berparas cantik. Banyak yang mengincarnya untuk dijadikan pacar. Tetapi gadis itu tak begitu menghiraukan setiap ajakan kencan yang datang padanya. Ia serius belajar. Maka tak heran ia selalu mendapatkan nilai tinggi. 

Rencananya setelah lulus sekolah, Junko akan langsung bekerja. Ia  juga kabarnya sudah diterima bekerja di salah satu toko elektronik di kota itu.

Seperti kebanyakan film yang kita tonton, gadis pintar, cantik, dan punya banyak teman seperti Junko membuat sebagian orang iri dan tidak suka. Popularitas Junko itulah yang akhirnya menarik perhatian Hiroshi Miyano, seorang siswa yang dikenal sebagai pengganggu di sekolah itu dan sudah beberapa kali putus sekolah.

Miyano terlihat mengincar Junko dan beberapa kali memintanya menjadi pacarnya. Tetapi gadis itu juga berkali-kali menolaknya dengan halus. Penolakan-penolakan itu rupanya membuat Miyano kesal. Suatu kali begitu ditolak Junko ia berujar, "Gadis yang bungkuk itu perlu diberi pelajaran. Tidak ada yang menolak Miyano! ”

Dan inilah awal mula nasib tragis yang menimpa Junko Furuta.

 
Penyiksaan Brutal Selama 44 Hari

Malam itu tanggal 25 November 1988, jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Junko yang baru pulang dari bekerja, mengayuh sepedanya seorang diri menuju rumah. Di tengah perjalanan itulah Miyano dan seorang temannya yang bernama Nobuharu Minato melihatnya. Kedua pemuda itu rupanya tengah berkeliaran di sekitar Misato dengan tujuan untuk merampok dan memperkosa wanita.

Jadi Miyano ini bukan hanya siswa nakal di sekolah, tetapi sudah merupakan pelaku kriminal. Ia juga tampaknya sudah terbiasa mengincar korban di sekitar wilayah itu.

Melihat Junko yang bersepeda seorang diri, seketika timbul niat jahat yang memang sudah terpendam sejak lama dalam diri Miyano. Ia kemudian memerintahkan Minato menendang Furuta dari sepedanya, sementara dia bersembunyi di suatu tempat di dekat sana.

Begitu Junko jatuh dari sepedanya dan Minato segera melarikan diri, Miyano dengan sikap bak pahlawan keluar dari tempat persembunyiannya dan menawarkan bantuan pada Junko. Miyano mengatakan bahwa dirinya akan mengantarkan Junko pulang sampai ke rumah.

Junko menerima tawaran itu tanpa sedikit pun rasa curiga. Ia tidak menyadari kalau Miyano sebenarnya sedang menuntunnya ke gudang terdekat.

Dalam kegelapan malam dan gudang yang pengap itu, Miyano mengancam akan membunuh Junko sambil mengatakan bahwa dirinya memiliki koneksi Yakuza. Di bawah ancaman itulah, Miyano memperkosanya dan ia melakukannya lagi di hotel terdekat.

Baca juga: Monster 21 Wajah (The Monster with 21 Faces)

Tidak puas dengan tindakan keji yang dilakukannya, Miyano menelepon Minato dan teman-temannya yang lain, Jō Ogura dan Yasushi Watanabe. Sekitar jam 3:00 pagi, Miyano mengajak Furuta ke taman terdekat, dimana Minato, Ogura, dan Watanabe sudah menunggu.

Kembali lagi di bawah ancaman, keempatnya mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui di mana Junko tinggal dan mereka mengancam anggota yakuza akan membunuh keluarganya jika dia berusaha melarikan diri.

Pelecehan seksual pun dilakukan kelompok ini. Miyano dan teman-temannya ternyata memiliki riwayat pemerkosaan berkelompok dan belum lama sebelumnya mereka telah menculik dan memperkosa gadis lain yang kemudian dibebaskan.

Tak lama berselang keempatnya lalu membawa Junko ke sebuah rumah di distrik Ayase di Adachi. Rumah ini adalah rumah orang tua Minato sekaligus sering menjadi tempat berkumpul kelompok ini. Di sanalah kemudian mereka memperkosa Junko beramai-ramai.

Rumah di mana Junko disekap dan disiksa

Sementara itu orang tua Junko yang tak mendapati anaknya pulang ke rumah menghubungi polisi pada 27 November. Para penculik Junko tahu kalau orang tua Junko menghubungi polisi untuk mencari putri mereka yang hilang. Jadi untuk mencegah pencarian terhadap Junko, mereka memaksa gadis itu menelepon ibunya. Junko dipaksa untuk mengatakan bahwa dia pergi dan tinggal bersama seorang teman. Dengan begitu, proses penyelidikan terhadap Junko terhenti.

Mungkin kita bertanya-tanya, di mana orang tua Minato? Bagaimana mungkin orang di rumah itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di rumah tersebut. Rupanya saat orang tua Minato ada di rumah, Junko dipaksa berpura-pura menjadi pacar salah satu dari mereka.

Tapi ternyata keluarga Minato sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan putra mereka dan teman-temannya itu. Belakangan diketahui mereka menyatakan bahwa mereka tidak ingin ikut campur karena mengetahui Miyano memiliki koneksi dengan yakuza. Mereka takut kalau Miyano akan melakukan pembalasan. Mereka bahkan tidak melakukan apa pun untuk menolong Junko.

Gadis malang itu disekap di rumah Minato selama 40 hari. Di sana dia disiksa dan diperkosa. Seolah tak puas, mereka juga mengajak teman-teman Yakuza mereka untuk melakukan hal yang sama. Belakangan diketahui bahwa lebih dari 100 pria telah melakukan pemerkosaan dan penyiksaan.

Junko Furuta meninggal dunia setelah 44 hari merasakan siksaan yang tidak pernah terbayangkan orang waras. Dalam persidangan terungkap fakta yang bukan hanya memilukan tetapi membuat orang-orang bertanya apakah keempat pemuda itu sungguh manusia.

Keempatnya mengaku kalau mereka telah memperkosa Junko lebih dari 400 kali, memukulinya, membuatnya kelaparan, dan menggantungnya di langit-langit kamar. Mereka juga menjatuhkan barbel ke perutnya dan menggunakan tubuhnya seolah-olah itu adalah karung tinju.

Hadirin yang hadir pada persidangan kasus Junko harus mendengar kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Para terdakwa juga mengaku telah memaksanya untuk makan kecoak dan meminum air kencingnya sendiri. Mereka juga memaksanya menari dan melakukan masturbasi di depan mereka sambil dipukuli.

Penyiksaan pada organ-organ intimnya sangat brutal dan itu dilakukan berulang-ulang. Dan setiap kali tubuhnya tak sanggup lagi dengan siksaan itu, Junko pingsan. Dan ketika dia tak sadarkan diri, mereka akan memasukkan kepalanya ke dalam ember berisi air dan melanjutkan penyiksaan. Tubuhnya dipukuli hingga dibakar, menyebabkan luka parah di sekujur tubuhnya yang membuatnya sampai lumpuh. Barangkali saat itu Junko berkali-kali memohon kepada keempat orang itu meminta agar ia dibunuh saja.

Detail pengakuan para pelaku tentang apa saja yang mereka lakukan pada Junko sangat biadab. Saya bahkan tidak sanggup menuliskannya. Kalian bisa membuka halaman Wikipedia, di sana tertera detail peristiwanya secara lengkap.

Tanggal 4 Januari 1989, Junko Furuta menghembuskan nafas terakhirnya setelah lebih dari 40 hari menahan siksaan. Takut dihukum karena pembunuhan, keempat orang  itu kemudian membungkus jasad Junko dengan selimut dan memasukkannya ke dalam tas travel. Mereka lalu memasukkan tubuhnya ke dalam drum 208 liter dan mengisinya dengan beton basah. Sekitar pukul 20.00 di hari yang sama, mereka akhirnya membuang drum tersebut ke dalam truk semen di Kōtō , Tokyo.

Baca juga: Kasus "Otaku Killer" Tsutomu Miyazaki

Tanggal 23 Januari 1989, Hiroshi Miyano dan Jō Ogura ditangkap karena pemerkosaan berkelompok terhadap wanita lainnya yang mereka culik pada bulan Desember. Pada 29 Maret, dua petugas polisi datang untuk menginterogasi mereka.

Saat interogasi inilah, salah satu petugas membuat Miyano yakin kalau polisi mengetahui pembunuhan yang telah mereka lakukan terhadap Junko. Jadi Miyano berpikir bahwa Jō Ogura telah mengakui kejahatan terhadap Junko. Miyano serta merta memberi tahu polisi di mana mereka menyembunyikan tubuh Junko.  Jadi terungkapnya kasus pembunuhan Junko ini bisa dikatakan tidak disengaja.

Polisi lalu menemukan drum berisi tubuh Junko keesokan harinya. Dia diidentifikasi melalui sidik jari. Pada 1 April 1989, Jō Ogura ditangkap karena penyerangan seksual terpisah, dan kemudian ditangkap kembali atas pembunuhan Furuta. Penangkapan tersangka lainnya yaitu Yasushi Watanabe, Nobuharu Minato, menyusul kemudian.


Bagaimana Hukuman Terhadap Keempat Orang Itu?

Meskipun tindakan mereka terhadap Junko sangat biadab, jangan berharap mereka mendapatkan hukuman mati yang setimpal dengan perbuatan mereka.

Kenyataannya, keempatnya dianggap remaja saat kejahatan itu terjadi. Identitas mereka bahkan ditutup oleh pengadilan. Namun berkat seorang wartawan dari majalah Shūkan Bunshun, identitas keempatnya kemudian terbongkar ke publik.

Para tersangka pelaku penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan Junko Furuta


Keempat anak laki-laki itu memang mengaku bersalah tapi mirisnya alasannya adalah karena "melakukan cedera tubuh yang mengakibatkan kematian", bukan pembunuhan.

Pada Juli 1990, pengadilan menjatuhkan hukuman 17 tahun penjara kepada Hiroshi Miyano, yang dianggap sebagai pemimpin kejahatan itu. Ia mengajukan banding atas hukumannya, tetapi hakim Pengadilan Tinggi Tokyo Ryūji Yanase menjatuhkan hukuman tambahan tiga tahun penjara.

Jadi total Miyano mendapatkan hukuman 20 tahun penjara. Dia berusia 18 tahun pada saat pembunuhan itu. Ibu Miyano dilaporkan mengirim orang tua Junko uang sebesar 50 juta yen (US $ 425.000), setelah menjual rumah keluarga mereka.

Beberapa tahun kemudian, Miyano mengajukan pembebasan bersyarat, tetapi ditolak pada 2004. Setelah bebas dari hukuman penjara, apakah ia bertobat? Sepertinya tidak karena pada Januari 2013, Miyano yang sudah berusia 42 tahun kembali ditangkap kali ini karena kasus penipuan. Tapi karena tidak cukup bukti, dia kemudian dibebaskan tanpa dakwaan pada akhir bulan itu.

Nobuharu Minato, yang awalnya menerima hukuman empat sampai enam tahun, dijatuhi kembali hukuman lima sampai sembilan tahun oleh Hakim Ryūji Yanase setelah naik banding. Dia berusia 16 tahun pada saat pembunuhan itu. Orang tua dan saudara laki-laki Minato tidak dituntut meskipun mereka melakukan pembiaran saat Junko disiksa.

Orang tua Junko sangat kecewa dengan hukuman yang diterima oleh pembunuh putri mereka dan memenangkan gugatan perdata terhadap orang tua Nobuharu Minato.

Setelah dibebaskan, Minato tinggal bersama ibunya. Dia tidak bekerja sejak itu. Pada tahun 2018 lalu ia diketahui ditangkap karena percobaan pembunuhan setelah memukuli seorang pria berusia 32 tahun dengan tongkat logam dan memotong lehernya dengan pisau.

Yasushi Watanabe, yang pada awalnya dijatuhi hukuman tiga hingga empat tahun penjara, menerima peningkatan hukuman lima hingga tujuh tahun. Dia berusia 17 tahun pada saat pembunuhan itu. Tidak ada data lagi yang didapat tentang Yasushi Watanabe.

Jō Ogura menjalani delapan tahun di penjara remaja sebelum dia dibebaskan pada Agustus 1999. Dia berusia 17 tahun pada saat pembunuhan itu. Setelah dibebaskan, dia dikatakan telah membual tentang perannya dalam penculikan, pemerkosaan, dan penyiksaan Furuta.

Pada Juli 2004, dia ditangkap karena menyerang seorang pria bernama Takatoshi Isono. Ia memukuli dan mendorongnya ke dalam truk. Dia lalu mengantarnya dari Adachi ke bar ibunya di Misato, di mana dia diduga memukuli Isono di sana selama empat jam. 

Selama waktu itu, Ogura juga berulang kali mengancam akan membunuh pria itu dan mengatakan kepadanya bahwa dia pernah membunuh sebelumnya dan tahu bagaimana caranya lolos dari hukuman.

Dia dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara atas penyerangan terhadap Isono dan setelah itu dibebaskan. Yang mengejutkan Ibu Ogura merusak kuburan Junko dan menyatakan kalau gadis itu telah menghancurkan hidup putranya. Bukannya sebaliknya?!

Hukuman-hukuman yang diterima para pelaku sebagian besar dianggap terlalu ringan jika dibandingkan dengan kejahatan yang mereka lakukan. Keempatnya kini telah menghirup udara bebas dan mirisnya sama sekali tidak meyesali perbuatan mereka.

Pada satu kesempatan, seorang teman Miyano mengatakan kalau pria itu sama sekali tidak melarang orang lain bertanya padanya tentang pembunuhan Junko. Setiap kali membicarakan tentang pembunuhan itu dia selalu ceria dan gembira seolah-olah itu hal biasa.

“Sometimes I wonder will God ever forgive us for what we’ve done to each other?”

 
Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_of_Junko_Furuta


Kasih komentar yaa.. Tanpa kalian apalah arti aku menulis. Kalian adalah penyemangat setiap kalimat demi kalimat yang kutulis, setiap artikel yang kuposting.. ;)

Perhatian: Mohon hargai penulis dengan tidak mengambil atau copy paste artikel di blog ini untuk dijadikan postingan blog/website ataupun konten Youtube. Terima kasih.. ^^

Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

6 comments for "Yang Tersisa Dari Kasus Junko Furuta...."

  1. Akhirnya muncul juga kasus yang paling seram,sadis dan kejam menurut saya. Saya pernah membaca kisah ini sebelumnya secara lengkap dan cukup sekali saja, karena membuat pikiran kita campur aduk, bagi yang gak kuat jangan dicari tahu ya. untungnya admin sudah memberitahu dan meringkas tulisannya, saya apresiasi 👍👍👍.
    Ntah kenapa kalau versi film gore selalu dipegang Jepang contohnya shogun sadism, grotesque, guinea pig. Belum lagi dilihat dari sejarahnya yg namanya Jugun Ianfu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikel ini memang sudah banyak sekali yang saya potong Harllie, karena rasanya kurang etis dan tidak tega menuliskan detail apa saja yang para pelaku itu lakukan pada Junko. Membaca versi lengkapnya sungguh ngeri dan entah kenapa terbayang hari demi hari dia melewati semua itu.. Oya Harllie, apa sudah pernah baca Unit 731? Sudah pernah dibahas juga di blog ini.

      Delete
    2. Sudah saya baca mbak 👍, tapi saya bukan tipe orang yg tahan dengan cerita dan gambar2 disturbing seperti itu.

      Delete
    3. Iya memang sangat disturbing

      Delete
  2. Ah,disatu sisi ane sedih dengan apa yg dialami oleh Junko Furuta.
    Disisi yg laen,ane juga kesal,kenapa para pembunuhnya dibiarkan bebas begitu saja?
    Malah ibu dari salah satu pembunuh itu menyalahkan Junko dan merusak makamnya.
    Apa karena mereka memiliki koneksi dengan Yakuza,makanya tidak bisa dihukum mati?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak memang yang menyayangkan para pelaku dihukum relatif ringan alasannya karena mereka dianggap masih remaja. Bahkan identitas mereka sempat ditutupi.

      Delete