Kisah Mengerikan Pied Piper of Hamelin




Beberapa cerita dongeng anak-anak sebenarnya berasal dari kisah nyata yang terjadi berabad-abad yang lalu. Namun cerita-cerita tersebut telah mengalami perubahan dan penyesuaian dari masa ke masa. Sementara itu beberapa dongeng dan cerita anak-anak tersebut ada yang kisah aslinya sebenarnya mengerikan, namun diubah sedemikian rupa. Nah, Pied Piper of Hamelin ini adalah salah satunya..

Tahukah kalian kisah Pied Piper of Hamelin? Pied Piper of Hamelin adalah kisah seorang peniup seruling yang datang ke kota Hamelin untuk mengusir tikus-tikus. Sedikit yang menyadari bahwa cerita ini sebenarnya didasarkan pada kisah nyata yang berkembang selama ratusan tahun yang kemudian menjadi dongeng yang dibuat untuk menakuti anak-anak.

Pied Piper of Hamelin (bahasa Jerman: Rattenfanger von Hameln) atau Peniup Seruling dari Hamelin adalah tokoh dalam kisah menghilangnya anak-anak di Hamelin pada abad pertengahan.

Baca juga: Misteri Anak-Anak Hijau dari Woolpit

Kisah ini dimulai di sebuah kota kecil bernama Hamelin di Lower Saxony, Niedersachsen, Jerman. Pada tahun 1284, kota ini menghadapi masalah serius yakni serangan hama tikus. Tikus-tikus itu jumlahnya sangat banyak, memenuhi tempat-tempat kotor dan masuk ke rumah-rumah penduduk.

Kemudian pada suatu hari datanglah pria berpakaian warna-warni mengaku sebagai pengusir tikus. Walikota Hamelin kemudian memanggil peniup seruling itu atau yang disebut Piper untuk mengusir tikus-tikus keluar dari kota Hamelin. 

Piper berjanji akan menyingkirkan semua tikus-tikus dari kota Hamelin. Sebagai gantinya, Walikota berjanji akan memberikan imbalan begitu pekerjaanya selesai. Piper kemudian mulai melakukan pekerjaannya. Begitu suling yang dibawanya itu ditiup, secara ajaib tikus-tikus itu mulai berkumpul.

Pied Piper yang meniup serulingnya dan mengusir tikus-tikus pergi

Suara seruling yang dimainkan Piper itu memikat tikus-tikus di setiap rumah untuk mengikutinya hingga ke sungai Weser. Di sana semua tikus ditenggelamkan kecuali satu ekor. Akhirnya kota Hamelin terbebas dari tikus-tikus pengganggu.

Setelah pekerjaannya selesai, Piper menagih imbalan yang telah dijanjikan sebelumnya. Namun meskipun telah melakukan pekerjaan sesuai dengan apa yang diperintahkan, walikota Hamelin enggan menepati janjinya. Piper yang marah kemudian pergi dan berjanji akan kembali lagi untuk menuntut balas.

Baca juga: 7 Kisah Mengerikan di Balik Dongeng Anak-Anak Terkenal

Pada musim panas di tahun yang sama yaitu tanggal 26 Juli 1284 yang bertepatan dengan Hari Yohanes dan Paulus, Piper kembali lagi ke kota Hamelin. Kala itu para penduduk dewasa sedang berkumpul di gereja.

Sang peniup seruling kemudian mulai meniup seruling seperti yang dulu dilakukannya kala mengusir tikus-tikus. Tetapi kali ini bukan tikus-tikus yang dipikatnya, melainkan anak-anak kota Hamelin. Sekitar 130 anak laki-laki dan perempuan mengikutinya sampai ke luar kota. Ia lalu membawa anak-anak itu ke sebuah gua dan tak pernah kembali lagi. 

Peniup seruling mengumpulkan anak-anak kota Hamelin

Menurut beberapa versi cerita ada 3 anak yang tertinggal. Anak yang pertama pincang sehingga tak mampu mengikuti anak yang lainnya yang berjalan dengan cepat. Anak yang kedua adalah anak yang tuli yang ikut-ikutan karena penasaran, sedangkan anak yang terakhir adalah anak yang buta sehingga tidak mampu melihat ke mana anak-anak lainnya pergi.

Dari ketiga anak yang tertinggal itulah kemudian para penduduk mengetahui tentang apa yang terjadi pada 130 anak yang menghilang.


Asal-Usul Kisah Pied Piper of Hamelin

Dokumentasi paling awal mengenai asal usul kisah peniup seruling yang membawa pergi anak-anak Hamelin adalah jendela kaca patri yang dibuat untuk gereja Hamelin yang berasal dari tahun 1300. Kaca-kaca patri tersebut sebenarnya telah dihancurkan pada sekitar tahun 1660, namun ada beberapa catatan tertulis yang mengisahkannya.

Catatan tertulis tertua berasal dari tahun 1440an yakni Manuskrip Lueneburg yang isinya kurang lebih seperti ini: "Pada tahun 1284, pada hari Santo Yohanes dan Paulus tanggal 26 Juni, oleh seorang peniup seruling yang memakai pakaian berwarna-warni, 130 anak yang lahir di Hamelin hilang di dekat Koppen."

Baca juga: Teror Keluarga Kanibal Sawney Bean

Anak-anak itu terakhir kalinya terlihat di sebuah jalan yang saat ini bernama "Bungelosenstrasse" yang artinya "jalan tanpa drum". Di tempat ini orang-orang dilarang keras untuk membunyikan alat musik maupun menari. Namun anehnya pada beberapa sumber sama sekali tak disebutkan mengenai adanya wabah tikus di kota Hamelin tersebut. Cerita mengenai adanya hama tikus rupanya baru ditambahkan dalam cerita pada sekitar abad ke-16.

Sebuah patung Pied Piper of Hamelin berdiri di kota Hameln, Jerman

Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak Hamelin, ke mana mereka semua pergi? Ada berbagai teori apa yang sebenarnya menimpa 130 anak di kota tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Pied Piper sebenarnya adalah simbol dari kematian, sementara wabah tikus mewakili Wabah Hitam (The Black Death) yang melanda tanah Eropa pada sekitar tahun 1384-1350.

Teori lainnya mengatakan bahwa anak-anak itu sebenarnya diusir oleh orang tua mereka lantaran kemiskinan parah yang dialami oleh penduduk Eropa kala itu. Sementara sebuah teori menyeramkan mengatakan bahwa anak-anak itu sebenarnya telah diculik oleh pedofil selagi mereka tertidur.

Dari berbagai sumber dan dokumentasi dapat dipastikan bahwa kasus hilangnya anak-anak kota Hamelin memang sungguh pernah terjadi, namun apa penyebabnya masih menjadi misteri. Kisah ini sendiri menyebar sebagai dongeng dan ditulis berulang kali oleh Johann Wolfgang von Goethe, Grim Brothers, dan juga Robert Browning.

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Peniup_Seruling_dari_Hamelin
https://www.ancient-origins.net/myths-legends/disturbing-true-story-pied-piper-hamelin-001969

1 Response to "Kisah Mengerikan Pied Piper of Hamelin"

  1. Legenda yg menarik, film Korea The Piper (2015) terinspirasi dari kisah ini.

    ReplyDelete