Konspirasi di Balik Pembunuhan Martin Luther King




Martin Luther King tengah berada di balkon kamarnya di Motel Lorraine, Memphis. Rencananya ia akan memberi dukungan pada aksi mogok yang dilakukan warga kulit hitam yang merupakan pekerja sanitasi di kota tersebut. Saat itulah tiba-tiba sebuah peluru mengenai lehernya. Tokoh pejuang hak-hak warga kulit hitam itu terkapar bersimbah darah...

Dr. Martin Luther King Jr. adalah pendeta Baptis dan juga seorang aktivis asal Amerika Serikat yang memimpin gerakan hak-hak sipil pada periode tahun 1954-1968. Aksi perjuangan King dilakukan tanpa kekerasan yang terinspirasi oleh Mahatma Gandhi.

Pada tanggal 3 April 1968, King tiba di Memphis, Tennessee. Ia menginap di Lorraine Motel. Motel berlantai dua ini merupakan tempat yang sebelumnya pernah disewa King untuk menginap pada kunjungannya ke Memphis beberapa waktu sebelumnya.

Beberapa bulan sebelumnya King sangat menaruh perhatian pada pada masalah ketimpangan ekonomi di Amerika. Ia kerap menggalang kampanye untuk memperjuangkan kesetaraan ekonomi bagi warga miskin. Salah satu aksi nyatanya dilakukan pada Maret 1968. King berkunjung ke Memphis guna mendukung aksi mogok para pekerja sanitasi Afrika-Amerika yang mendapatkan perlakuan sangat buruk.

Martin Luther King dalam sebuah orasi

Pada tanggal 28 Maret 1968, aksi yang dipimpin oleh King berakhir ricuh. Seorang remaja kulit hitam terbunuh dalam insiden kerusuhan tersebut. Kerusuhan besar itu kemudian memaksa King untuk meninggalkan Memphis. Tapi ia berjanji akan kembali lagi ke sana untuk memimpin unjuk rasa lainnya.

Tanggal 3 April, King yang terkenal akan pidato kesetaraan ras "I have a Dream" itu tiba di Memphis. Ia sempat memberikan pidato yang sampai saat ini masih sangat diingat publik di Gereja Mason Temple, Memphis. Tak ada yang menyangka bahwa itu akan menjadi pidato terakhirnya. Di waktu yang bersamaan, seorang kriminal menyewa sebuah ruangan persis di depan Lorraine Motel bersiap-siap dengan senapan di tangannya..


Kronologi Penembakan Martin Luther King

Lorraine Motel yang saat ini sudah berubah menjadi Museum Hak Sipil Nasional (National Civil Rights Museum) merupakan bangunan berlantai dua yang terletak di 450 Mulberry Street.

Lorraine Motel yang kini telah menjadi National Civil Rights Museum

Persis di seberang jalan penginapan tersebut ada beberapa gedung tak terpakai yang salah satunya merupakan sebuah asrama.

Pada tanggal 4 April 1968, pemilik gedung William Anshook mendapati kamar mandi ruangan terkunci. Di dalamnya rupanya tengah bersiap seorang kriminal dengan sebuah senapan di tangannya, membidik ke arah ruangan 306 di Lorraine Motel. Di sanalah Martin Luther King menginap.

Martin Luther King (dua dari kanan) tengah berada di balkon Lorraine Motel, foto diambil sebelum ia ditembak

Kriminal itu bernama James Earl Ray. Ia sebenarnya adalah tahanan yang kabur dari penjara Missouri di mana ia ditahan dan dihukum 20 tahun penjara untuk kasus perampokan.

Saat itu pukul 6 sore, King baru saja akan keluar hendak makan malam. Pada saat itulah sebuah peluru melesat mengenai leher pejuang hak sipil itu. King langsung terkapar di balkon lantai dua motel. Beberapa orang kemudian berteriak dan menujuk ke arah depan, menyadari bahwa peluru berasal dari salah satu ruangan di bangunan depan motel.

Martin Luther King terkapar di balkon motel setelah tertembak

King segera dilarikan ke rumah sakit. Namun malangnya nyawanya tak terselamatkan. Ia meninggal dunia di rumah sakit St.Joseph tak lama kemudian.

James Earl Ray yang melakukan penembakan segera melarikan diri. Dalam pelariannya itu, ia sempat membuang senapan yang digunakannya untuk membunuh beserta tas yang telah dibungkus dengan seprai kasur. Ray membuang barang bukti tersebut di depan pintu Canipe Amusement Company. Beberapa orang saksi mata melihat sebuah mobil Mustang putih melaju cepat saat barang-barang bukti itu dilemparkan.

Insiden penembakan terhadap Martin Luther King menyulut kerusuhan di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat. Pemerintah federal bahkan sampai harus mengirimkan garda nasional ke Memphis untuk mengendalikan situasi yang sangat kacau itu.

Sebenarnya beberapa tahun sebelumnya, aktivis hak asasi manusia yang memperjuangkan hak warga kulit hitam, Malcolm X, juga tewas ditembak pada 21 Februari 1965 di Audubon Ballroom.

Dua tahun sebelumnya juga terjadi insiden penembakan paling menggemparkan dalam sejarah Amerika, yaitu penembakan terhadap Presiden John F. Kennedy pada 22 November 1963. Sementara itu hanya beberapa bulan setelah penembakan King, adik Kennedy, Robert atau Bobby Kennedy juga mengalami hal serupa. Semua peristiwa ini dikaitkan dengan adanya teori konspirasi.

Baca juga: Insiden Penembakan John F. Kennedy

Tanggal 9 April 1968, King dimakamkan di kampung halamannya di Atlanta, Georgia. Ribuan orang tumpah ruah menghadiri pemakaman tokoh berpengaruh ini untuk memberikan penghormatan terakhir.

Istri dan anak-anak Martin Luther King di depan peti mati King

Siapa Sebenarnya James Earl Ray?

Seperti telah disebutkan di atas, James Earl Ray adalah seorang kriminal biasa yang ditahan atas kasus perampokan di sebuah penjara di Missouri. Lalu apa motivasi Ray membunuh Martin Luther King? Apakah itu hanya misi pribadi atau ada sesuatu di balik pembunuhan tersebut?

James Earl Ray

Malam hari tanggal 4 April tak lama setelah insiden itu, polisi menemukan sebuah senapan berburu jenis Remington 30-06 tergeletak di trotoar dekat sebuah rumah yang terletak hanya satu blok dari Lorraine Motel. Pada senapan itu ditemukan sidik jari James Earl Ray.

Sementara itu di kamar mandi asrama yang berada di gedung persis di depan Lorraine Motel yang diyakini sebagai lokasi tersangka melakukan penembakan ditemukan senapan, teleskop, dan binokular yang semuanya memiliki bekas sidik jari Ray. Segera setelah itu pencarian besar-besaran terhadap Ray pun digencarkan.

Dalam proses pengejaran yang melibatkan FBI itu, diduga Ray telah kabur ke luar negeri dengan menggunakan paspor beridentitas palsu. Dua bulan kemudian tanggal 8 Juni 1968, tim dari Scotland Yard berhasil menangkap Ray. Ia ditangkap di bandara Heathrow saat mencoba kabur ke Belgia.

Setelah diekstradisi ke Amerika Serikat, Ray segera menjalani proses persidangan. Ia menjalani proses persidangan pada Maret 1969 di Memphis. Pada tanggal 10 di bulan itu ia dinyatakan bersalah atas kasus pembunuhan dan didakwa 99 tahun hukuman penjara.

Tiga hari setelah putusan tersebut, Ray mengklaim bahwa dirinya hanyalah korban dari konspirasi besar. Ia sengaja telah diseret dalam kasus penembakan tersebut. Ketua dari Komite King, Walter Fauntleroy, juga meyakini bahwa Ray tak bekerja sendiri atau pembunuhan itu bukanlah misi pribadinya. Fauntleroy meyakini bahwa Ray harus diselidiki karena bukan tak mungkin ia termasuk dalam sebuah konspirasi besar.

Denah lokasi penembakan Martin Luther King di Communal Bathroom

Dalam keterangannya, Ray mengatakan bahwa beberapa waktu sebelum penembakan tersebut, dirinya mengenal seseorang yang bernama Raoul yang juga orang yang merencanakan penembakan itu.

Baca juga: Konspirasi Pembunuhan Abraham Lincoln

Raoul adalah orang yang membantunya melarikan diri dari penjara. Setelah berhasil kabur, ia terbang ke Chicago. Ray menggunakan paspor palsu dan nama samara "Eric Starvo Galt". Menurut Ray, Raoul yang memberinya paspor tersebut.

Raoul rupanya meminta Ray untuk melakukan penyelundupan barang gelap di Amerika dan Kanada dekat perbatasan Detroit. Atas pekerjaan itu, Ray mengaku mendapatkan bayaran $750. Setelah itu, Ray menuju ke Birmingham, Alabama. Raoul kemudian memberinya uang sebesar $2000 yang kemudian digunakan untuk membeli mobil Mustang putih.

Tanggal 30 Agustus 1967, Ray membeli mobil tersebut. Ray dan Raoul kemudian berangkat menuju Nuevo Laredo, Mexico. Di sana keduanya melakukan transaksi penyelundupan. Setelah itu keduanya pergi ke Los Angeles sambil menunggu instruksi selanjutnya. Tampaknya Raoul pun adalah orang suruhan.

Pada Maret 1968, Raoul meminta Ray untuk pergi meninggalkan Atlanta. Pada akhir Maret, tanggal 29, Raoul meminta Ray untuk membeli beberapa senapan. Kemudian Ray pergi ke Birmingham untuk membeli senapan kaliber 243. Menurut keterangan orang yang melayani Ray membeli senjata, pria itu tampak sangat awam dan sama sekali tak mengerti soal senjata.

Raoul kemudian menyuruhnya untuk membeli senapan lainnya lagi pada tanggal 3 April. Senjata itu adalah Renington Game Master. Menurut keterangan Ray, itu adalah terakhir kalinya ia bertemu dengan Raoul. Ray kemudian menyewa sebuah ruangan di gedung yang berseberangan dengan Lorraine Motel sambil menunggu instruksi selanjutnya. Pada tanggal 4 April itulah Ray melancarkan aksi penembakannya.

TKP Penembakan Martin Luther King di balkon Lorraine Motel

Ray sendiri yang sempat menolak segala tuduhan dan mengatakan bahwa dirinya hanyalah korban akhirnya mengakui perbuatannya demi menghindari hukuman mati. Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman 99 tahun penjara padanya.

Pada tahun 1990an, janda dan anak-anak Martin Luther King menyatakan dukungan mereka terhadap klaim James Earl Ray. Mereka percaya bahwa pria itu hanyalah orang yang sengaja dikorbankan. Keluarga King bahkan menyebutkan kalau penembakan terhadap Martin Luther King sejatinya melibatkan pemerintah dan juga militer Amerika.

Putra Martin Luther King sendiri pada awal tahun 1998 sempat mengunjungi Ray. Ray meninggal dunia di penjara pada 23 April 1998. Kematian Ray sedikit banyak membuat kasus ini makin kabur. Mungkinkah suatu saat nanti dalang pembunuhan sebenarnya terhadap Martin Luther King akan terungkap?

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther_King_Jr.
https://internasional.kompas.com/read/2017/04/04/21013381/hari.ini.dalam.sejarah.pembunuhan.martin.luther.king.jr.?page=all
https://www.matamatapolitik.com/siapa-pembunuh-martin-luther-king-jr-keluarga-mereka-penjarakan-orang-yang-salah/

0 Response to "Konspirasi di Balik Pembunuhan Martin Luther King"

Post a Comment