Kutukan Firaun Tutankhamun




Pada tahun 1920an, Howard Carter bersama dengan timnya membongkar makam raja Mesir, Firaun Tutankhamun. Hanya berselang beberapa bulan kemudian satu persatu orang-orang yang terlibat dalam penggalian itu meninggal dunia secara misterius. Hal ini kemudian menimbulkan spekulasi bahwa makam sang penguasa Mesir itu membawa kutukan...

Tutankhamun atau Raja Tut adalah Firaun dari dinasti ke-18 Mesir yang berkuasa pada 1333-1324 SM. Tutankamun yang berarti "jelmaan hidup Amun" mulai berkuasa ketika usianya masih 9-10 tahun. Ia merupakan putra dari Akhenaten (sebelumnya Amenhotep IV).

Pada 4 November 1922, seorang arkeolog Inggris dan juga Egyptologist, Howard Carter beserta timnya berhasil menemukan tangga yang menuju makam Firaun yang terletak di Lembah Para Raja. Lembah Para Raja sendiri terletak di tepi barat Sungai Nil sekitar kota Thebe atau Luxor. 

Howard Carter

Carter kemudian segera memberitahukan hal ini pada Lord Carnarvon. Carnarvon merupakan sponsor, orang yang membiayai penggalian makam. Tanggal 26 November 1922, Howard Carter, Lord Carnarvon, putri Carnarvon yang bernama Lady Evelyn Herbert, dan beberapa orang menghadiri penggalian makam yang terletak di KV62. 



Carter membuat sebuah lubang kecil yang memungkinkan untuk melihat ke dalam makam. Dengan menggunakan cahaya lilin, Carter mengatakan ia dapat melihat harta yang tersimpan di dalam makam tersebut. 

Pada Februari 1923, Carter bersama dengan timnya mulai melakukan penggalian makam sang penguasa Mesir tersebut.

Howard Carter tengah memeriksa mumi firaun

Egyptologist James Henry Breasted bekerja bersama Carter segera setelah pembukaan pertama makam. Menurut cerita Breated, suatu ketika tak lama dari pembukaan makam itu Carter mengirimkan pesan padanya yang disampaikan melalui orang suruhan. 

Pesan itu mengatakan bahwa Carter mendengar suara sama-samar seperti orang menangis. Saat sampai di pintu masuk ia melihat sebuah sangkar burung berisikan ular kobra, simbol dari monarki Mesir. Beberapa waktu kemudian burung peliharaan Carter mati. Hal ini kemudian menjadikan rumor kutukan Raja Tut semakin gencar. Insiden ini sendiri dimuat dalam sebuah artikel The New York Times pada 22 Desember 1922.

Baca juga : 7 Kutukan Paling Mengerikan dan Terkenal di Dunia

Beberapa bulan kemudian, 5 April 1923, Lord Carnarvon meninggal dunia secara misterius. Ia adalah penyedia dana bagi kegiatan pembongkaran makam Tutankhamun. Carnarvon meninggal dunia di kamar hotelnya di Kairo, Mesir. Ia meninggal setelah terinfeksi bakteri yang disebabkan karena gigitan nyamuk.

Menurut cerita yang beredar, Carnarvon digigit nyamuk saat tengah bercukur. Gigitan nyamuk itu menginfeksi dan membuat darahnya terinfeksi racun

Lord Carnarvon

Dua minggu sebelum kematian Carnarvon, Marie Corelli menuliskan sebuah surat imaginasi yang kemudian dipublikasikan di majalah New York World. Dalam tulisannya itu ia menyebutkan bahwa hukuman akan mengikuti orang-orang yang membongkar makam. 

Arthur Weigall melaporkan bahwa 6 minggu sebelum menemui ajal, ia melihat Carnarvon tertawa dan sempat bercanda saat memasuki area makam firaun. Ia juga sempat berkelakar dengan seorang reporter bernama H.V. Morton "I give him (Tutankhamun) six weeks to live".

Pada proses otopsi pertama mumi Tutankhamun, Dr. Derry menemukan luka pada pipi sebelah kiri raja Mesir tersebut. Anehnya, entah kebetulan atau tidak, saat Carnarvon meninggal, ditemukan pula tanda yang sama di pipi kirinya.

Kabar kematian Carnarvon segera menyebar. Media kemudian berspekulasi bahwa Carnarvon adalah korban kutukan Firaun Tutankhamun. Menurut mitos yang beredar, orang-orang yang mengusik dan mengganggu makam firaun akan menemui ajal. 

Setelah itu kabar kematian ini bercampur dengan mitos dan kisah-kisah yang tak terkonfirmasi, seperti misalnya lampu seluruh Kairo mati ketika Carnarvon meninggal (padahal kenyataannya pada masa itu memang pemadaman listrik memang kerap kali terjadi).



Bertahun-tahun kemudian, anggota tim penggalian makam Tutankhamun tahun 1922 yang lainnya juga mengalami nasib yang kurang lebih serupa. Satu persatu mereka meninggal dunia dengan cara aneh. Dan media sekali lagi memberitakan kabar itu dengan agak sedikit berlebihan.

Padahal kita semua tahu bahwa kematian pasti menghampiri setiap orang. Paling tidak hal ini juga disetujui oleh Herbert Winlock. Pada kenyataannya dari sebanyak 22 orang yang terlibat dalam pembongkaran makam itu, hanya 6 orang yang meninggal dunia sampai tahun 1934.

Menurut desas-desus yang beredar, banyak berita yang mengklaim bahwa tim arkeolog Howard Carter sebenarnya telah melihat peringatan yang berada di makam tersebut, tetapi sengaja mengabaikannya. 



Di atas makam tersebut tertulis "Death shall come on swift wings to him that toucheth the tomb of a Pharaoh."

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2002 di British Medical Journal menemukan tak ada pengaruh langsung antara kematian para penggali makam itu dengan rumor kutukan Firaun Tutankhamun.

Jika kita menilik soal kutukan Firaun, Howard Carter yang merupakan ketua dari pembongkaran makam Firaun Tutankhamun seharusnya adalah orang yang paling terkena kutukan tersebut. Namun kenyataannya, Carter meninggal jauh setelah penggalian makam. Ia meninggal dunia di Kensington, London karena penyakit Limfoma pada 2 Maret 1939 di usia 64 tahun.

Hal ini cukup membuktikan bahwa kutukan Firaun yang mengatakan bahwa orang-orang yang memasuki dan mengusik makamnya akan tertimpa sial, mulai dari sakit, hingga kematian, ternyata tidak terbukti.

Sementara itu Lady Evelyn Herbert, putri Carnarvon, meninggal dunia tahun 1980 di usia 57 tahun dan arkeolog Amerika yang juga anggota tim yang masuk ke dalam makam meninggal tahun 1961 atau setelah 39 tahun setelah pembongkaran makam.

Referensi :

https://en.wikipedia.org/wiki/Curse_of_the_pharaohs
https://id.wikipedia.org/wiki/Tutankhamun

0 Response to "Kutukan Firaun Tutankhamun"

Post a Comment