Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesaksian Nayirah...




Seorang remaja perempuan memberikan pidato singkatnya sembari menangis di sebuah kongres di Amerika. Pidatonya yang dramatis mengenai pembunuhan sadis yang dilakukan tentara Irak di Kuwait seketika mampu mengalihkan perhatian dunia dan menyentuh hati jutaan orang. Tak lama setelah itu, Amerika Serikat menggempur Irak hingga menimbulkan perang yang mengorbankan banyak jiwa. Tak ada yang menyangka bahwa remaja perempuan itu sebenarnya telah berdusta!

Jika ada teori konspirasi yang benar-benar menjadi kenyataan, maka kasus Nayirah ini adalah salah satunya. Semuanya bermula ketika memanasnya situasi di Timur Tengah pada tahun 1990 yang kemudian dikenal dengan Perang Teluk II.

Tanggal 2 Agustus 1990 Irak menginvasi Kuwait. Alasannya karena Irak menuduh Kuwait melakukan pengeboran minyak di wilayahnya. Kuwait tentu saja menolak tuduhan tersebut. Rupanya ada sebuah ladang minyak bernama Rumeila yang menjadi sengketa keduanya lantaran berada di perbatasan kedua negara.

Irak merupakan sebuah negara dengan militer yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Kuwait. Maka dapat diprediksi seperti apa konflik ini akan berlangsung. Kekuatan militer yang sangat timpang akhirnya memaksa Kuwait untuk meminta bantuan kepada Amerika Serikat.

Hari itu tanggal 10 Oktober 1990. Tom Lantos, seorang ketua kaukus hak asasi manusia dari California, membawa seorang remaja perempuan berusia 15 tahun bernama Nayirah. Di hadapan para peserta kongres di Capitol Hill, Nayirah yang ketika itu berpakaian sederhana memberikan pidatonya sekitar 4 menit. 

Dalam pidatonya yang juga diiringi isak tangis itu, Nayirah menceritakan bagaimana ketika pasukan Irak membunuh 300 bayi di sebuah rumah sakit di Kuwait. Bayi-bayi itu diambil paksa dari inkubator dan dibiarkan begitu saja di lantai hingga meninggal dunia.



Pidato kesaksian Nayirah yang disiarkan langsung oleh ABC's Nightline serta ABC Nightly News seketika menyita perhatian para pemirsa dan juga dunia. Kesaksian ini juga diekspos besar-besaran oleh Hill & Knowlton yang juga menyelenggarakan "Citizens for Free Kuwait" di Amerika. Videonya bahkan diputar berkali-kali pada forum-forum Internasional dan tersebar ke seluruh dunia.

Dukungan yang luar biasa besar akhirnya didapat. Amerika akhirnya setuju untuk ikut terlibat dan mengerahkan pasukannya dalam konflik ini. 

Tanggal 16 Januari 1991, sejumlah besar pasukan multinasional di bawah pimpinan Amerika akhirnya melakukan serangan terhadap Irak. Pasukan Irak digempur habis-habisan tanpa henti selama 100 jam dan akhirnya memaksa mereka mengibarkan bendera putih. Akhirnya Saddam Hussein menarik mundur pasukannya dari Kuwait pada tanggal 26 Februari 1991.

Pada Maret 1991, seorang reporter ABC bernama John Martin melaporkan sesuatu yang aneh yang diemukannya di Kuwait. Di sana tak ada pembunuhan 300 bayi di rumah sakit seperti penuturan Nayirah. Kenyataannya adalah beberapa bayi dan pasien rumah saki memang meninggal dunia namun hal itu disebabkan karena tenaga medis yang memutuskan untuk berhenti bekerja lantaran situasi keamanan kala itu.

John Martin

Akhirnya terkuaklah dua fakta mengejutkan. Pertama adalah bahwa pasukan Irak tak pernah melakukan pembunuhan pada bayi-bayi di rumah sakit. Kedua, kesaksian Nayirah di hadapan peserta kongres di Amerika pada 10 Oktober 1990 adalah kebohongan.

John MacArthur, seorang jurnalis senior kemudian menelusuri jejak siapa sebenarnya Nayirah. Hasil investigasinya ini kemudian dipublikasikan oleh The New York Times pada Januari 1992, "Remember Nayirah, Witness for Kuwait?". Hasil investigasi MacArthur ini mengantarkannya meraih penghargaan di bidang jurnalisme tahun 1992 dan 1993, dan tentu saja sekaligus membuat publik terhenyak.

Tulisan John MacArthur "Remember Nayirah, Witness for Kuwait?"

Rupanya Nayirah, remaja yang berpenampilan lugu yang memberikan pidato sembari setengah menangis di Kongres Amerika adalah putri dari Sheikh Saud Nasser Al-Saud Al-Sabah, Duta Besar Kuwait untuk Amerika Serikat. Nayirah atau Nijirah Al-Sabah juga termasuk anggota keluarga kerajaan Kuwait.

Nayirah sebenarnya adalah putri Sheikh Saud Nasser Al-Saud Al-Sabah, duta besar Kuwait untuk Amerika Serikat

Hal yang mengejutkannya lagi adalah Nayirah rupanya telah belajar akting dan dilatih secara profesional untuk berpura-pura di hadapan para peserta Kongres. Dirinya belajar akting di firma public relation bernama Hill & Knowlton. Tugas lembaga ini adalah bagaimana caranya agar Nayirah dapat berakting dengan natural dan membujuk Amerika untuk membantu Kuwait.

Diketahui pula bahwa Tom Lantos, ketua kaukus hak asasi manusia di kongres bekerja untuk organisasi Citizens for Free Kuwait dan dirinya juga bekerja sama dengan lembaga Hill &  Knowlton. Bos lembaga public relation Hill & Knowlton sendiri konon telah menandatangani kontrak dengan keluarga kerajaan Kuwait dengan nilai yang cukup fantastis yaitu 11,9 juta dolar.

Referensi :

http://kaltim.tribunnews.com/2015/05/13/kisah-air-mata-bohong-nayirah?page=1
http://www.enigmablogger.com/2013/04/lima-teori-konspirasi-yang-terbukti.html
https://web.facebook.com/KabarINFOdetik/posts/kebohongan-nayirah-dengan-setengah-menangis/688506434575113/?_rdc=1&_rdr

Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

4 komentar untuk "Kesaksian Nayirah..."

  1. Mantab banget min, saya sudah banyak membaca blog ini baru ini bisa komentar.. Pengen tau kelanjutan hidup Nayirah ini seperti apa setelah terbukti berbohong. Semoga MEERINDING sukses trus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.. sukses juga buat kamu :) ikuti terus merinding yaa..

      Hapus
  2. Ternyata mereka sanggup berbohong demi kuasa dan wang, sungguh menjijikkan perangai mereka.

    BalasHapus
  3. ya begitulah a merica...bumbunya pedas....yang terkuak cuma anak buahnya saja. (belum pernah dengar hukuman/denda/sangsi buat tom lawson, nariyah dan firma nya)...sepertinya mereka bebas aja karena ada petinggi yang melindunginya -

    BalasHapus