Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lampu Listrik Mesir Kuno




Sebuah relief dari Kuil Hathor, Dendera, Mesir kembali menjadi topik pembicaraan hangat. Pasalnya, pada relief tersebut terdapat ukiran lampu listrik lengkap dengan tabung lampu, elektroda, filamen, dan gulungan kawatnya. Jika memang benar bahwa ukiran tersebut adalah lampu yang telah digunakan pada masa Mesir kuno, maka itu artinya lampu pijar telah ada jauh sebelum Thomas Alva Edison menemukannya tahun 1879!

Kuil Hathor atau Dendera Temple Complex terletak di sebelah tenggara (2,5 km) dari Dendera, Mesir. Kuil Hathor adalah salah satu kompleks kuil dengan luas 40.000 meter persegi yang dibangun dari susunan bata lumpur yang sangat besar. Kuil ini dibangun pada dinasti ke18 atau sekitar 1500 SM pada masa Fir'aun Nectanebo II berkuasa.

Kuil Hathor yang dikenal juga dengan Tentyra ini dibangun sebagai persembahan kepada Dewi Hathor (Hethert) yaitu dewi yang melambangkan cinta dan feminisme. Dewi Hathor merupakan istri dari Horus dan juga ibu dari Harsomtus. Dewi Hathor juga seringkali disimbolkan sebagai Dewi Sapi Surga dengan matahari serta tanduk di kepalanya.

Pada bagian dinding Kuil Hathor terdapat relief yang memiliki ukiran yang sangat menarik. Ukiran relief itulah yang kemudian menjadi bahan pembicaraan para arkeolog dan ilmuwan dunia.

Pada dinding kuil tersebut terdapat enam buah ukiran yang menyerupai lampu lisrik tapi dengan ukuran yang sangat besar. Anehnya seperti kita ketahui selama ini lampu listrik baru ditemukan pada abad ke 19. Ukiran itu juga dikenal dengan Dendera Lamps.

Dendera Lamps ini berdasarkan pada pemercaya teori lampu Mesir kuno, bahwa lampu ini dipakai di dalam ruangan raja dan hanya berada pada tempat-tempat suci. Padahal pada masa Mesir kuno diketahui sumber penerangan adalah obor, lampu minyak, dan lilin.

Erich von Daniken pada tahun 1996 mengatakan bahwa ia mempercayai bahwa relief itu adalah lampu listrik zaman kuno di mana relief ular yang berada di dalam tabung kaca berfungsi sebagai filamen dan pilar Djed sebagai isolatornya.

Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh penulis Austria bernama Peter Krassa dan Reinhard Habeck lewat buku mereka "Das Licht der Pharaonen" (1992). Menurut dua penulis ini relief yang berada di Kuil Hathor itu memang adalah menggambarkan lampu listrik pada masa kuno. Berikut ini adalah penjelasan bagian-bagian yang terdapat pada lampu listrik Mesir kuno tersebut menurut Krassa dan Habeck:


Keterangan gambar:
  1. Priest
  2. Ionised fumes
  3. Electric discharge (snake)
  4. Lamp socket (lotos)
  5. Cable (lotos steam)
  6. Air god
  7. Isolator (djed-pillar)
  8. Light bringer Thot with knifes
  9. Symbol for "current"
  10. Inverse polarity
  11. Energy storage

Seorang insinyur bernama W. Garn kemudian membuktikan teori lampu listrik kuno ini berdasarkan teori Krassa dan Habeck. Setelah diuji, W. Garn memang berhasil membuat model lampu listrik, namun ternyata masih ada permasalah dalam proses selanjutnya sehingga gagal.

Menurut Frank Dornenburg, pada zaman kuno (Romawi dan Yunani), penggunaan cahaya (lilin, obor, maupun lampu minyak) selalu meninggalkan jejak jelaga di dinding maupun di langit-langit. Dan bila memang relief itu merupakan lampu listrik, maka tentu saja akan memerlukan pembangkit tenaga listrik. Padahal saat itu tentu saja belum ditemukan pembangkit listrik

Kenyataannya selama ratusan tahun proses penggalian arkeolog Mesir, belum pernah ditemukan adanya sisa jelaga dari lampu listrik dan generator listrik. Sebuah benda yang ditemukan pada zaman kuno yang dapat menghasilkan listrik (meskipun masih kontroversi) beberapa di antaranya adalah Baghdad Battery (Baterai Baghdad). 

Baterai Baghdad (Baghdad Battery)

Sementara itu, tidak pula ditemukan adanya satu pun bukti yang mengarah pada pengembangan listrik seperti saat ini. Terlebih lagi bila diperhatikan pembangkit listrik untuk menyalakan lampu listrik seperti yang digambarkan pada relief di Kuil Hathor pasti membutuhkan daya yang sangat besar, mengingat lampu tersebut memiliki penjang hingga 2,5 meter.

Permasalahan lain sekaligus meruntuhkan teori bahwa relief Kuil Hathor adalah lampu listrik mesir kuno adalah dari relief lampu tersebut. Nyatanya dengan enam buah lampu listrik hanya ditemukan1 satu relief saja yang elektrodanya berada di dalam tabung lampu serta lengkap dengan perangkat-perangkat lainnya. Sedangkan lima relief lainnya, elektroda berada di luaratau tanpa elektroda sama sekali. Bahkan beberapa relief tidak dilengkapi dengan Djet, soket lampu, atau generator.

Dari fakta-fakta tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa relief lampu pada kuil Hathor sama sekali bukanlah bola lampu. Interpretasi bahwa relief seperti bola lampu itu adalah lampu listrik zaman Mesir kuno sepertinya hanyalah imajinasi yang didapat dari menyamakannya dengan lampu.

Relief Horus dan Harsomtus

Sementara itu, bunga teratai yang dianggap sebagai soket lampu (gambar no.4) sebenarnya hanya melambangkan simbol matahari dan kekuatan. Sementara itu Djed adalah simbol keabadian. Pada bagian lain Kuil Hathor juga terdapat relief ular, bunga teratai, dan burung elang. Inti dari relief ini ternyata dapat dibaca dari teks hieroglif pada masing-masing relief yang ternyata hanya menampilkan topik perayaan tahun baru. 

Eya
Eya Mystery and World History Enthusiast

Posting Komentar untuk "Lampu Listrik Mesir Kuno"