Che Guevara dan Revolusi Kuba




Tidak berhasil memperoleh pekerjaan tetap, bekerja serabutan di Guatemala, mengunjungi koloni penderita kusta, mempelajari Marxisme, secara sukarela berjuang dalam revolusi Guatemala, bertemu dengan kaum revolusioner Kuba, dan menjadi salah satu tokoh revolusioner paling berpengaruh dan dikenang sampai detik ini hingga gambar wajahnya menghiasi setiap sudut Kuba. Dialah Ernesto "Che" Guevara.

Membaca kisah hidup Che Guevara selalu menarik. Bagaimana seorang dokter dari Argentina bisa menjadi tokoh revolusioner dan namanya dielu-elukan di Kuba. Jiwanya yang bebas dan kesukaannya berpetualang dan membantu sesama mengantarkannya kepada Castro Bersaudara pada pertengahan tahun 1955.

Inilah cerita hidup Che Guevara dan semangatnya yang tak pernah padam dalam Revolusi Kuba. Sesuatu yang selalu ingin saya tuliskan di blog merinding.com ini.

Ernesto Guevara Kynch de La Serna lahir di Argentina pada 14 Juni 1928. Ia adalah seorang revolusioner, dokter, pemimpin gerilya, dan juga diplomat. Keluarga Guevara pindah ke Buenos Aires saat ia berusia 17 tahun. Ernesto Guevara kemudian belajar di sekolah kedokteran di Buenos Aires hingga tahun 1951, dan berhasil menerima gelar dokter medis.

Ernesto "Che" Guevara

Pada Januari hingga Juli tahun 1952, Guevara muda mengunjungi Peru, Kolombia, hingga Venezuela. Tujuannya adalah bekerja dan membantu penderita kusta di koloni-koloni yang tersebar di wilayah-wilayah tersebut. Di tahun selajutnya ia melakukan perjalanan ke seluruh Amerika Latin. Di tahun yang sama di Kuba, pemberontakan besar-besaran tengah memanas.


Revolusi Kuba 

Kuba adalah sebuah negara dengan luas sekitar 109.884 km2 yang terletak di Karibia Utara, yaitu pertemuan Laut Karibia, Samudera Atlantik, dan Teluk Meksiko. Negara yang dulu juga sempat ditinggali Ernest Hemingway ini beribukota di Havana.

Peta Kuba
Kuba sebagai sebuah negara memang telah merdeka dari penjajahan Spanyol sejak 1898. Namun sejak itu, negara ini justru dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang korup dan lemah. Silih berganti kepemimpinan di Kuba tak juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Setelah usai Perang Dunia II, terjadilah perang dingin antara dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Perseteruan dua negara ini membawa dampak besar bagi dunia, yaitu perang ideologi di mana negara-negara di dunia banyak terjadi perang saudara, sehingga meletuslah revolusi.

Kuba pernah dipimpin oleh seorang diktator bernama Gerardo Machado. Pada tahun 1933, kepemimpinannya digulingkan oleh kudeta besar-besaran yang dikenal dengan nama Revolt of the Sergeants yang dipimpin oleh Fugencio Batista y Zaldivar. Saat pergantian kepemimpinan itu rakyat tentu berharap banyak pada pemimpin baru mereka Batista.

Fugencio Batista

Namun rupanya pergantian Machado ke Batista layaknya keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Kepemimpinan Batista penuh korupsi, represif terhadap rakyat, hingga media-media diawasi dengan sangat ketat. Tak kurang dari 20000 orang tewas setelah ditangkap dan mendapatkan penyiksaan di bawah pemerintahan Batista. Pada tahun 1944, Batista kalah dalam pemilu demokratis untuk melegitimasi kekuasaannya. Carlos Prio Socarras berhasil mengalahkan Batista.

Namun kepemimpinan Socarras hanya berlangsung singkat. Pada tahun 1952 Batista kembali melancarkan kudeta. Penentangan dan pemberontakan atas Batista terjadi di mana-mana. Ada beberapa gerakan revolusi yang kemudian muncul di Kuba, antara lain The Revolutionary Directorate dipimpin oleh Jose Antonio; The Second Front dipimpin oleh Eloy Guiterrez,dan The 26th Movement di bawah pimpinan Fidel Castro.

Fidel Castro

Fidel Castro dan Che Guevara

Hari itu tanggal 26 Juli 1953, 119 orang yang tergabung dalam kelompok pemberontak menyerang Barak Moncada di Santiago de Cuba. Dalam penyerangan itu banyak anggota yang tewas, namun beberapa anggota berhasil selamat. Dua orang di antaranya adalah Castro Bersaudara, Fidel dan Raul Castro.

Mereka berdua bersama dengan beberapa lainnya yang selamat segera diadili di pengadilan yang begitu penuh dengan kepentingan politik. Keduanya dijatuhi hukuman penjara di Isla de Pinos. Namun begitu usai pemilu tahun 1955, semua tahanan politik dibebaskan. Fidel dan Raul mengungsi ke Meksiko dan di sana mereka segera bergabung dengan orang-orang Kuba lainnya yang berencana membebaskan Kuba dari cengkraman diktator Batista.

Sementara itu di Guatemala, Ernesto Guevara secara sukarela ikut berjuang bersama rakyat Guatemala mempertahankan negara itu dari penyerbuan tentara bayaran CIA yang dipimpin oleh Carlos Castillo Armas. Penyerbuan tentara ini berlangsung cepat dan masif. Namun Jacobs Arbenz, pemimpin Guatemala, menolak untuk mempersenjatai rakyatnya.

Pasukan tentara bayaran itu merangsek masuk hingga Guatemala City dan melakukan pembantaian pada pendukung rezim Jacobs Arbenz. Guevara mencari perlindungan hingga ke Mexico. Di sana ia bekerja sebagai dokter di Central Hospital.

Di sanalah Guevara kemudian bertemu dengan Nico Lopez yang kemudian mempertemukan Guevara dengan Raul Castro, adik Fidel Castro. Melalui Raul lah, Guevara kemudian bertemu dengan Fidel Castro. Begitu mengetahui rencana besar revolusi yang akan dilaksanakan oleh Castro Bersaudara, Guevara kemudian bergabung dalam gerilya. Bersama-sama mereka berlatih perang gerilya. Para pejuang Kuba yang mengetahui Guevara berasal dari Argentina, segera memberinya nama julukan "Che" yang merupakan salam khas Argentina.

Che Guevara, Raul Castro, dan Fidel Castro

Pada Desember 1956, sebanyak 82 pemberontak meninggalkan Meksiko dengan menumpang perahu Granma menuju Kuba. Namun dalam pertempuran pertama banyak anggota yang terbunuh, menyisakan hanya 12 orang saja termasuk di dalamnya Castro Bersaudara dan Che Guevara.

Para pemberontak yang berhasil selamat kemudian melarikan diri ke Sierra Maestra. Di sana mereka mendapatkan bantuan dari para penduduk Kuba, mendirikan kamp, dan mendapatkan banyak anggota baru. Di akhir tahun 1957 mereka menemukan markas strategis dan menjadi markas tetap di La Plata.

Fidel Castro dan Che Guevara

Pasukan ini akhirnya memulai serangannya pada tahun 1958. Penyerangan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menuju bagian timur pulau dipimpin oleh Castro Bersaudara. Kelompok kedua menuju ke barat di bawah komando Che Guevara dan Camilo Cienfuegos. Pertempuran Santa Clara pun meletus dan dimenangkan oleh Castro Bersaudara dan Che.

Tepat tanggal 1 Januari 1959, Batista yang telah kalah kemudian melarikan diri ke Republik Dominika. Keesokan harinya para pemberontak berhasil sepenuhnya menduduki Santiago de Cuba dan Havana. Tanggal 8 Januari Fidel Castro dan Che Guevara berhasil mencapai Havana sekaligus menyempurnakan kemenangan Revolusi Kuba.

Pemerintah revolusioner kemudian memproklamirkan Guevara sebagai warga negara Kuba dan mengakui perannya dalam kemenangan Revolusi Kuba. Pada tanggal 2 Juni 1959 Che menikahi Aleida March, anggota gerakan 26 Juli.



Che Guevara kemudian menjadi diplomat Kuba yang kerap wara-wiri menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara lain. Ia juga dikenal dekat dengan Bapak Proklamator kita, Soekarno.

Soekarno dan Che Guevara (tengah)

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Che_Guevara
https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Kuba
http://warofweekly.blogspot.com/2011/06/sejarah-singkat-che-guevara-dan.html

0 Response to "Che Guevara dan Revolusi Kuba"

Posting Komentar