5 Raja yang Terkenal Kejam dalam Sejarah Kerajaan Nusantara




Dalam sejarah dunia kita sudah biasa membaca atau mendengar tentang raja-raja lalim di berbagai belahan muka bumi yang biasa melakukan penyiksaan dan pembantaian dengan cara-cara yang sangat kejam bahkan di luar nalar. 

Rupanya, raja-raja semacam itu juga ada dalam catatan sejarah Indonesia. Raja-raja Nusantara zaman dahulu ada yang melakukan penyiksaan dan pembantaian baik terhadap lawan politik maupun para kriminal. Cara-cara yang digunakan sangat kejam mulai dari diinjak dengan gajah, memotong anggota tubuh, melemparkan bayi ke tembok, hingga menumbuk kepala hingga hancur. 

Mulai dari penguasa Kesultanan Aceh hingga raja dari Kerajaan di Sulawesi, ini dia 5 raja yang terkenal kejam dalam sejarah kerajaan Nusantara.


1. Sultan Iskandar Muda (Kesultanan Aceh)



Sultan Iskandar Muda (1590/1593-1636) adalah salah satu sultan yang paling besar dan berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Aceh. Pada masa kekuasaannya yaitu tahun 1607-1636, Aceh mencapai puncak kejayaannya.

Pada masa itu wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau hingga Perak. Di dunia Internasional, kesultanan ini terkenal sebagai pusat perdagangan dan pembelajaran Islam. Pada masa itu Inggris, Belanda, Turki Utsmaniyah, hingga Perancis mengirimkan utusannya untuk meminta bantuan hingga mengirimkan hadiah kepada Sultan.

Namun selain terkenal akan keberhasilannya dalam memimpin Aceh mencapai kejayaan, Sultan Iskandar Muda rupanya dikenal kerap menghukum para penjahat dengan cara yang tergolong sadis. Ia memang sangat tidak dapat mentoleransi kejahatan demi menegakkan wibawa kesultanan. 

Maka penerapan hukuman sadis bukan merupakan hal yang aneh misalnya memotong anggota tubuh seperti telinga, hidung, tangan, dan kaki. Bukan hanya itu saja, eksekusi dengan menggunakan gajah juga sering dilakukan. Orang yang dieksekusi akan diinjak oleh hewan besar itu sampai mati.

Sistem penyiksaan lainnya yaitu dengan meletakkan orang pada batang kayu yang dibelah sehingga orang tersebut akan mati terjepit juga sering dilakukan. Cara eksekusi lainnya yaitu dengan menumbuk kepala hingga hancur. Sang sultan konon pula terkadang mandi dengan darah yang berasal dari tubuh penjahat yang dipercaya dapat menghindarkannya dari penyakit.

Seorang pelaut Perancis, Augustin de Beaulieu yang pernah menetap di Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda berkuasa pernah mengungkapkan bagaimana kejamnya Sang Sultan. Dalam buku "Orang Indonesia dan Orang Perancis : Dari Abad XVI Sampai Dengan Abad XX" karya Bernard Dorleans, Beaulieu menggambarkan Sultan sebagai sosok penguasa kejam yang sehari dalam hidupnya tak akan pernah lewat tanpa menghukum orang.

Beberapa dokumen juga menjadi perujuk tentang kejamnya Sultan Iskandar Muda. Pada "Kerajaan Aceh : Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)" karya Denys Lombard bahkan menyebutkan bahwa Sultan pernah menghantamkan bayi ke dinding.

Meskipun watak kejamnya amat dikenal, tetapi hal ini diimbangi pula dengan pesatnya kemajuan Aceh kala itu. Kesultanan ini mengambil peran sangat penting di Sumatera. Tak hanya itu saja Kesultanan Aceh begitu dihormati hingga di negara-negara lain dan nyaris tak ada yang berani mengusik kesultanan ini.


2. Kertanagara (Kerajaan Singasari)



Sri Maharaja Kertanagara adalah raja terakhir yang memerintah Kerajaan Singasari. Cucu Ken Dedes ini dikenal membawa Singasari pada masa kejayaannya. Kertanagara dikenal sangat hebat dan tak segan bertindak kejam bagi para pendatang yang mencoba mengusik kekuasaannya.

Kertanagara naik tahta pada tahun 1268 menggantikan ayahnya yaitu Wisnuwardhana. Kertanagara sejak lama berambisi untuk menyatukan wilayah nusantara. Oleh karena itulah, Kertanagara melakukan ekspedisi Pamalayu yang bertujuan menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatera yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan untuk menaklukkan orang-orang Mongol.

Pada tahun 1284, Singasari berhasil menaklukkan Bali dan tahun 1286 berhasil pula menaklukkan Bhumi Malayu. Salah satu cerita mengenai kekejaman Kertanagara yang terkenal adalah bagaimana ia dengan berani mempermalukan utusan Mongol dengan mengusirnya sekaligus memotong telinga utusan tersebut. Padahal kala itu, Mongol adalah salah satu kekuatan besar yang ada di dunia.

Jadi ceritanya pada tahun 1289, seorang utusan Kubilai Khan yang bernama Meng Khi datang ke Singasari. Tujuannya adalah meminta Kertanagara untuk tunduk pada kekuasaan Mongol sekaligus meminta agar kerajaan itu menyerahkan upeti setiap tahunnya. 

Kertanagara menolak keras permintaan itu. Ia bahkan melukai wajah utusan Mongol tersebut. Konon sang raja sampai memotong salah satu telinganya. Setelah itu sang utusan diusir dari Singasari. Mendapati utusannya diperlakukan seperti itu, Kubilai Khan tak tinggal diam. Ia hendak membalas dendam atas tindakan Kertanagara. 

Pada tahun 1293, pasukan yang dikirim Kubilai Khan dipimpin oleh Ike Mese tiba di Singasari. Tetapi saat itu Kertanagara ternyata sudah tewas. Ia meninggal tahun 1292 pada pemberontakan yang dilakukan oleh Jayakatwang.

Baca juga: Perjanjian Tordesillas dan Kedatangan Orang-Orang Eropa ke Nusantara


3. Sultan Agung (Raja Mataram)



Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1593-1645) adalah sultan ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada 1613-1645. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram berkembang mejadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara.

Namun tak ada gading yang tak retak. Kisah keberhasilan Sultan Agung membawa kerajaannya mencapai puncak kejayaan harus dicederai dengan kisah kekejamannya .

Pada tahun 1628, Mataram memutuskan untuk menyerang Batavia yang merupakan salah satu bagian dari rencana Sultan Agung untuk melebarkan wilayahnya di Jawa. Penyerangan yang sengit itu berakhir dengan kekalahan di pihak Mataram. Pasukan Sultan Agung berhasil dipukul mundur oleh pasukan VOC.

Kekalahan yang memalukan ini kemudian membuat Sultan Agung memerintahkan kepada algojonya untuk mengeksekusi mati kedua panglima perangnya. Eksekusi itu dilakukan dengan cara memenggal kepala.

Dalam "Sejarah Indonesia Modern 1200-2008" yang ditulis M.C. Ricklefs disebutkan bahwa VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan dan beberapa di antara mayat itu kepalanya telah hilang.

Serangan berikutnya ke Batavia terjadi pada 1629 dipimpin oleh Dipati Ukur. Sama seperti penyerangan sebelumnya, VOC lagi-lagi mampu memukul mundul pasukan Mataram. Belajar dari pengalaman apa yang menimpa panglima sebelumnya karena kalah dalam pertempuran, Dipati Ukur kemudian melakukan pemberontakan karena dirinya tahu akan menghadapi hukuman penggal jika gagal.


4. Amangkurat I (Kesultanan Mataram)




Sri Susuhunan Amangkurat Agung atau Amangkurat I adalah raja Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1646-1677. Ia tak lain adalah putra Sultan Agung. Namun tak seperti ayahnya yang membawa Mataram mencapai masa keemasan, Amangkurat I justru membawa Mataram secara perlahan menuju kehancuran.

Pada masa kekuasaanya, banyak sekali terjadi ketidakpuasan yang menimbulkan pemberontakan. Penyebabnya tak lain adalah keputusan politiknya yang kontroversial dan gegabah hingga cara memimpinnya yang bengis. Boleh jadi Amangkurat I adalah diktator dalam sejarah kerajaan Nusantara.

Perpaduan antara pengambilan keputusan yang buruk dan juga sikap keji menimbulkan rasa tidak suka di kalangan tokoh-tokoh kerajaan. Selain itu, tak seperti Sultan Agung yang memusuhi VOC, Amangkurat I justru menjalin kerjasama.

Amangkurat lalu menyingkirkan tokoh-tokoh senior kerajaan yang tak mendukungnya itu. Satu per satu mereka dihabisi. Hal inilah yang kemudian memantik kemarahan adiknya Pangeran Danupoyo atau Raden Mas Alit yang kemudian melakukan pemberontakan. Tetapi sayangnya, Raden Mas Alit tewas dalam pemberontakan tersebut.

Setelah tewasnya sang adik, Amangkurat meyakini bahwa para ulama berada di balik pemberontakan adiknya itu. Lalu ia pun segera mengumpulkan 5.000-6.000 ulama dan seluruh keluarganya di alun-alun Plered. Di sana ulama beserta keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Dalam "Nusa Jawa : Silang Budaya Jilid III" yang ditulis Denys Lombard menyebutkan pengalaman Van Goens yaitu utusan VOC untuk Mataram. Menurut kesaksiannya yang saat itu tinggal di Plered, ia melihat mayat-mayat yang bergeletakan di jalan setelah pembantaian yang terjadi pada tahun 1647.

Kekejaman Amangkurat I rupanya tak hanya sampai di sana. Ia juga mengeksekusi mati orang terdekatnya yakni selir dan ayah mertuanya sendiri.

Jadi ceritanya, Amangkurat I memsng dikenal sering berselisih dengan putra mahkota Mas Rahmat. Mas Rahmat yang kesal kemudian merebut Rara Oyi yang merupakan selir Amangkurat I. Sang raja naik pitam karena kejadian ini. Ia kemudian mengeksekusi mati Pangeran Pekik yang tak lain adalah ayah Rara Oyi. Alasannya karena ia menganggap Pangeran Pekik berperan dalam tindakan Mas Rahmat.

Setelah menghilang beberapa waktu, Mas Rahmat dan Rara Oyi berhasil ditangkap. Tetapi Amangkurat jelas tak akan memaafkan begitu saja. Ia memang mengampuni Mas Rahmat, tetapi sebagai gantinya ia meminta sang putra mahkota untuk membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri.

Baca juga: Sejarah dan Asal-Usul Nama Indonesia


5. La Pateddungi (Kerajaan Wajo)




La Pateddungi yang bergelar Batara Wajo III adalah raja dari Kerajaan Wajo, Sulawesi pada abad ke 15. Batara Wajo III ini berkuasa hanya sebentar (1466-1469). Tak seperti pendahulunya yang dikenal bijaksana dan baik pada rakyat, La Pateddungi boleh dibilang justru kebalikannya. Ia kerap kali melakukan tindakan-tindakan yang tak disukai rakyat.

Salah satu dari tindakan yang mengundang kebencian rakyat adalah kegemarannya berkeliling lalu mengambil istri atau anak gadis orang lain dengan cara paksa. Ia lalu memperkosa wanita-wanita tersebut.

Jika diperhatikan, kekejaman La Pateddungi ini benar-benar berbeda dari raja-raja lainnya dalam daftar ini ya. Jika raja lainnya bisa dibilang sangat berpengaruh dan beberapa di antaranya membawa kerajaannya mencapai masa keemasan walaupun mereka bertindak kejam mulai dari menghukum mati penjahat hingga lawan politik termasuk anggota keluarganya sendiri. Maka apa yang dilakukan La Pateddungi ini sangat memalukan.

Tindakan La Pateddungi ini membuat marah orang-orang istana. Sudah berbuat asusila, memimpin kerajaannya pun ia dianggap tidak becus. Ia lalu diturunkan dari singgasana raja dan diusir keluar dari Wajo.


0 Response to "5 Raja yang Terkenal Kejam dalam Sejarah Kerajaan Nusantara"

Post a Comment