Sejarah dan Asal-Usul Nama Indonesia




Jauh sebelum negara ini bernama Indonesia atau bahkan sebutan Nusantara dikenal secara luas, tanah air tempat kita berpijak ini memiliki banyak nama sebutan yang berbeda-beda. Mulai dari bangsa Arab, India, hingga China yang melakukan aktivitas perdagangan sampai pada kedatangan bangsa-bangsa kulit putih pada abad ke 15. Namun tahukah kalian jika nama Nusantara maupun Indonesia diusulkan dan diperkenalkan oleh orang Belanda dan Inggris?

Nama Nusantara dan Indonesia sebagai sebutan untuk tanah air tercinta ini sungguh memiliki sejarah yang panjang dan sangat menarik. Mungkin beberapa dari kalian sudah mengetahuinya, tetapi mari kita kembali mengingat dan memundurkan waktu jauh sebelum nama Nusantara dikenal secara luas. Inilah sejarah dan asal-usul nama Nusantara dan Indonesia.

Pada awal abad masehi atau bahkan jauh sebelumnya, sebuah catatan dari bangsa China yang terbiasa hilir mudik di tanah air untuk aktivitas perdagangan menyebut kepulauan di tanah air dengan sebutan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan.

Sementara itu bangsa Arab yang mulai masuk ke tanah air di abad ke 7 terbiasa menyebutkan nama Jaza'ir al-Jawi yang berarti Kepulauan Jawa. Kala itu kemenyan Jawa (luban jawi) mejadi salah satu komoditas dagang paling terkenal di kalangan bangsa Arab. Namun uniknya para pedagang Arab ini biasa mendapatkan kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang pohonnya sendiri tumbuh di Sumatera. Jadi mereka terbiasa menyebut orang Sumatera dan luar Jawa lainnya dengan sebutan orang "Jawa". 

Lain bangsa Arab, lain pula bangsa India. Mereka meyebut tanah air kita dengan nama Dwipantara. Sebuah nama yang diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti Kepulauan Tanah Seberang. Bahkan Pulau Sumatera disebut orang India sebagai Suwarnadwipa yang berarti Pulau Emas.

Baca juga : Buku yang Membuat Indonesia Dijajah Selama 3,5 Abad

Lalu bagaimana dengan bangsa Eropa yang menginjakkan kaki mereka di tanah air pada abad ke15? Rupanya bangsa-bangsa Eropa macam Portugis dan Spanyol dahulunya justru menganggap bahwa Asia itu hanya terdiri dari bangsa Arab, India, China, dan Persia. Mereka menganggap bahwa daerah yang berada di antara Persia dan China, salah satunya adalah Indonesia, adalah Hindia.



Akibatnya mereka menyebut "Hindia Muka" untuk wilayah semenanjung Asia Selatan dan "Hindia Belakang" bagi kawasan Asia Tenggara.

Tanah air kita mendapatkan nama yang agak lebih spesifik yaitu "Kepulauan Hindia" (tetap memiliki unsur kata "Hindia"). Sementara itu nama-nama asing lainnya yang melekat pada tanah air kita adalah Indische Archipel, l'Archipel Indien, Indian Archipelago, Oost Indie, Indes Orientalis, dan East Indies.

Sementara itu nama lainnya yang juga seringkali dipakai oleh orang-orang lokal adalah "Kepulauan Melayu" atau Malay Archipelago, Maleische Archipel, dan L'Archipel Malais.

Ketika bangsa Belanda mulai masuk ke tanah air, mereka mulai menggunakan nama resmi untuk menyebut tanah air kita, yaitu Hindia Belanda (Nederlandsch Indie). Dan rupanya tetap saja embel-embel kata Hindia atau India itu disertakan.

Eduard Douwes Dekker atau yang memiliki nama samaran Multatuli adalah salah satu tokoh yang pernah mengajukan nama yang lebih spesifik. Penulis Max Havelaar ini pernah mengajukan nama Insulinde yang berarti kepulauan Hindia. Nama ini berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata insula yang berarti pulau. Namun nama Insulinde sendiri kurang mendapatkan perhatian.

Puluhan tahun kemudian seorang pria kelahiran Pasuruan yang berdarah Belanda memperkenalkan nama bagi tanah air kita tanpa ada unsur kata "Hindia" seperti nama-nama sebelumnya. Nama yang diusulkannya adalah "Nusantara" yang diambil dari kitab Pararaton, sebuah naskah kuno zaman Majapahit. Ia menemukan kitab kuno ini di akhir abad ke 19 di Bali. 

Kitab kuno Pararaton

"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa"

Jadilah kata "Nusantara" yang telah terkubur berabad-abad lamanya menjadi populer dan digunakan secara luas bahkan hingga hari ini. Pengusul itu tak lain adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950). Sosok pejuang yang juga memiliki nama lain Setiabudi. Ia juga adalah salah satu dari tiga serangkai selain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.

Ernest Douwes Dekker (Setiabudi)

Uniknya, kata Nusantara dalam naskah kuno itu sebenarnya berarti pulau-pulau di luar Jawa. Maka oleh Setiabudi nama tersebut diberikan pengertian yang lebih nasionalis. Kata "antara" diambil dari bahasa Melayu asli sehingga kata nusantara memiliki arti baru yaitu nusa di antara dua samudera dan dua benua. Hal ini menjadikan pulau Jawa pun termasuk ke dalamnya.


Asal Usul Nama Indonesia

Setelah diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Ernest Douwes Dekker atau Setiabudi, nama Nusantara secara cepat menjadi populer dan digunakan secara luas. Sementara itu di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah pada tahun 1847. Majalah itu bernama "Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia" (JIAEA).

Jornal of The Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA)

Majalah ilmiah tahunan ini dikelola oleh ahli etnologi asal Inggris George Samuel Windsor Earl dan anak didiknya seorang Skotlandia bernama James Richardson Logan.

Dalam sebuah artikel JIAEA yang terbit tahun 1850 (hal.66-74), Earl menuliskan bahwa sudah saatnya bagi penduduk kepulauan Hindia untuk memiliki nama yang lebih spesifik. Alasannya karena penyertaan kata Hindia dianggap kurang tepat dan seringkali membuat kebingungan lantaran dianggap sebagai penyebutan India yang lain. Oleh karena itu dalam artikel berjudul "On the Landing Characteristics of the Papuan, Australian, and Malay-Polynesian Nations" Earl mengajukan dua opsi nama yaitu Malayunesia atau Indunesia.

George Earl sendiri lebih memilih menggunakan nama Malayunesia saat itu. Alasannya nama Malayunesia dianggap mewakili ras Melayu yang menjadi ras mayoritas tanah air. Menurutnya pula nama Indunesia kurang spesifik karena dapat digunakan di Maladewa dan Ceylon (sekarang Srilanka). Maka jadilah Earl menggunakan nama Malayunesia dalam berbagai jurnal ilmiah dan juga tulisan-tulisannya.

George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan

Sementara itu James Richardson Logan menuliskan artikel berjudul "The Ethnology of the Indian Archipelago" dalam JIAEA volume IV pada halaman 252-347. Sama seperti Earl, Logan juga berpendapat bahwa kepulauan tanah air haruslah memiliki nama khusus karena nama yang berunsur kata "Indian" agak membingungkan. Logan lalu menggunakan nama Indunesia yang tak digunakan oleh George Earl dan menggani huruf "u" menjadi "o" agar pelafalannya lebih baik.

Sejak saat itulah nama "Indonesia" muncul dan pertama kalinya dikenal dunia melalui tulisan James Logan. Dan ketika melahirkan nama tersebut, tampaknya Logan tak menyadari bahwa nama tersebut dikemudian hari benar-benar digunakan sebagai nama resmi bagi negara kepulauan terbesar di dunia ini. "Nama Indonesia" kemudian mulai menyebar di kalangan para peneliti dan juga ilmuwan di bidang geografi dan juga etnologi.


Nama Indonesia Menjadi Populer dan Dikenal Luas Dunia

Pada tahun 1884, seorang ahli etnologi sekaligus guru besar di Universitas Berlin bernama Adolf Bastian menerbitkan sebuah buku. Buku tersebut merupakan catatan hasil penelitiannya saat ia berada di tanah air pada periode 1864-1880. Buku yang berjudul "Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel" memperkenalkan nama Indonesia pada kalangan Belanda, sehingga pada awalnya ada anggapan bahwa Bastian adalah orang pertama yang menciptakan nama tersebut. Padahal kenyataannya, Bastian mengambil nama itu dari tulisan-tulisan karangan Logan.

Adolf Bastian

Di dalam negeri sendiri, nama Indonesia pertama kali digunakan oleh Ki Hajar Dewantara pada tahun 1913. Ia mendirikan sebuah lembaga pers yang bernama Indonesische Pers-bureau. Organisasi lainnya yang kemudian menggunakan nama Indonesia adalah Indonesische Vereeninging yang sebelumnya bernama Indische Vereeninging, yaitu sebuah organisasi mahasiswa di Belanda. Penggagasnya tak lain adalah Bapak Proklamator kita, Mohammad Hatta.

Kemudian setelah itu bermunculan pula organisasi lainya yang menggunakan nama Indonesia yakni Indonesische Studie Club yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada tahun 1924. Kemudian setahun kemudian muncul pula Nationaal Indonesische Padvinderij yang dibentuk Jong Islamieten Bond.

Pada Agustus 1939, tiga orang dari Dewan Rakyat Parlemen Hindia Belanda yaitu Muhammad Husni Thamrin, Sutardjo Kartohadikusumo, dan Wiwoho Purbohadidjojo mengajukan mosi kepada pemerintah Hindia Belanda. Mosi tersebut berisikan agar nama Nederlandsch-Indie diganti secara resmi menjadi Indonesia. Tetapi sayangnya saat itu pihak Belanda menolaknya.

Pada saat tanah air jatuh pada kekuasaan Jepang, nama Hindia Belanda menghilang dan sempat memakai istilah To-Indo yang berarti Hindia Timur pada masa kependudukan Jepang (1942-1945). Namun istilah itu hanya terdengar sebentar karena begitu proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 lahirlah negara merdeka Republik Indonesia.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia

0 Response to "Sejarah dan Asal-Usul Nama Indonesia"

Post a Comment