Kisah di Balik Mumi La Doncella, Children of Llullaillaco




Salah satu mumi dengan pengawetan alami terbaik ditemukan di puncak gunung Llullaillaco. Mumi anak perempuan itu mengundang decak kagum mengingat usianya yang lebih dari 5 abad namun memiliki kondisi sangat baik. Bahkan mumi itu seperti jasad yang baru saja meninggal dunia. Namun di balik temuan yang mengejutkan itu terselip kisah menyedihkan...

Mumi itu dikenal dengan nama La Doncella atau The Maiden. Mumi anak remaja perempuan berusia sekitar 15 tahun itu ditemukan oleh Johan Reinhard pada 16 Maret 1999 bersama tim arkeolognya. Mumi yang ditemukan dalam keadaan duduk bersila itu berada di puncak Gunung Llullaillaco pada ketinggian 6.739 meter atau 22.110 kaki di pegunungan Andes, perbatasan antara Chili dan Argentina.

Gunung Llullaillaco dan puncaknya yang bersalju

La Doncella adalah mumi anak suku Inca yang diperkirakan hidup sekitar tahun 1500. Jadi mumi ini sudah berusia lebih dari 500 tahun. Namun yang membuatnya istimewa adalah mumi ini sama sekali tidak mengalami proses pembusukan. Kondisi jasadnya masih utuh sempurna, bahkan kulit dan organ dalam tubuh masih baik, sama sekali tidak seperti mumi di Mesir. Padahal tidak ditemukan zat pengawet mayat apa pun pada mumi La Doncella.


Rupanya keadaan fisik jasad yang terjaga ini dibantu oleh keadaan alam pada tempat mumi ditemukan. Seperti diketahui Gunung Llullaillaco berada di Gurun Atacama, sebuah gurun yang palig kering di bumi. Kondisi lingkungan yang ekstrim inilah yang membuat proses pengawetan berlangsung sangat baik. Ditambah lagi pada puncak gunung memang membeku sepanjang tahun. 

Begitu baiknya kondisi jasad mumi ini, bahkan Johan Reinhard dari National Geographic dalam sebuah wawancara tahun 2007 menyatakan bahwa mumi La Doncella memiliki pengawetan mumi terbaik yang pernah ia lihat.

Mumi La Doncella tengah diperiksa

Pada mumi La Doncella ditemukan infeksi bakteri pada paru-parunya, yang menyebabkan dirinya menderita tuberkulosis hingga ajal menjemput.

Selain La Doncella, masih ada dua mumi lainnya yang juga ditemukan tak berjauhan. Keduanya yaitu mumi anak perempuan berusia 6 tahun yang disebut La nina del rayo (the lightning girl) dan mumi anak laki-laki berusia 7 tahun yang dikenal dengan El nino (the boy).

Mumi La nina del rayo terlihat rusak pada bagian tubuhnya terutama wajah, sebelah telinga, dan sebelah bahunya menghitam. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena sambaran petir pada tubuhnya setelah ia meninggal. Ia mengenakan pakaian tradisional suku Inca dengan seluruh tubuh diselimuti kain wol.

Sementara itu El Nino yang merupakan satu-satunya mumi anak lak-laki ditemukan dengan kondisi terikat. Ia mengenakan tunik abu-abu, gelang perak, sepatu kulit, dan tubuhnya dibalut selimut berwarna merah dan coklat. Anak laki-laki ini diduga mati lemas. Ditemukan muntah dan darah pada pakaiannya.

Mumi La Doncella (kiri), El Nino/The Boy (tengah), dan La nina del rayo (kanan)

Lalu mengapa anak-anak ini bisa berada di puncak gunung yang membeku tersebut? Dan sebuah fakta dan kisah mengerikan pun terbongkar.

Ketiga anak ini rupanya dijadikan korban bagi ritual persembahan yang dilakukan suku Inca pada masa lalu. Mereka ditinggalkan di atas gunung yang membeku sampai mati. Di atas gunung itu mereka ditidurkan dan ditempatkan pada sebuah makam 1,5 meter (4,9 kaki) di bawah tanah dan ditinggalkan begitu saja. Bersama dengan mereka juga ditemukan emas, patung-patung perak, kain, dan tembikar.


Sebuah penelitian dengan analisis biokimia mengungkapkan apa yang dikonsumsi La Doncella dan dua anak tersebut sebelum tewas. Anak-anak itu diberi konsumsi koka dan alkohol beberapa bulan sebelum tiba saatnya hari pengorbanan. Bahan-bahan tersebut merusak jaringan otak dan kesehatan mereka secara perlahan-lahan. Bahkan pada mumi La Doncella ditemukan daun koka di dalam mulutnya.

Keadaan pada mumi Children of Llullaillaco ini sedikit banyak sama dengan beberapa mumi manusia rawa (bog bodies) yang dalam beberapa kasus juga merupakan korban ritual persembahan.

Baca juga : Misteri Bog Bodies

Daun koka sendiri masuk ke dalam bagian dari ritual suci yang dilakukan suku Inca. Konsumsi pada koka dan alkohol menyebabkan para korbannya tenang dan seringkali tak sadarkan diri.

Menurut para arkeolog, ritual pengorbanan semacam ini dimaksudkan untuk kesehatan rakyat, hasil panen yang melimpah, dan cuaca yang baik. Sementara itu arkeolog dari University of Bradford, Dr. Emma Brown mengungkapkan bahwa ritual pengorbanan suku Inca biasanya dilakukan untuk berbagai macam alasan, misalnya untuk mencegah bencana alam, perang, hingga dimaksudkan sebagai ritual rutin.


0 Response to "Kisah di Balik Mumi La Doncella, Children of Llullaillaco"

Post a Comment