Kasus Misterius The Campden Wonder




Beberapa abad yang lalu di Chipping Campden terjadi sebuah kasus yang sangat aneh. Seorang pria warga lokal setempat tak juga kembali ke rumahnya. Keesokan harinya pakaian beserta topinya ditemukan penuh noda darah dekat Ebrington. Tak ada seorang pun yang menemukan jasad sang pria. Kemudian sang pelayan, ibunya, beserta saudara laki-lakinya digantung karena tuduhan melakukan pembunuhan. Namun dua tahun kemudian...

The Campden Wonder adalah sebutan yang diberikan pada sebuah peristiwa aneh dan misterius yang terjadi di Chipping Campden, Gloucestershire, Inggris pada abad ke 17. Peristiwa ini bermula pada suatu hari di tahun 1660.

Namun sebelum kita melihat apa yang terjadi pada tahun 1660 itu, ada sebuah peristiwa aneh yang mendahuluinya setahun sebelumnya. Tahun 1659, rumah seorang pria warga lokal bernama William Harrison dibobol maling pada siang hari saat ia dan keluarganya berada di gereja. Pada peristiwa itu sejumlah uang raib. 

Hanya berselang beberapa minggu kemudian, pelayan Harrison yang bernama John Perry mengaku mendengar teriakan minta tolong dari kebun. Menurut penuturannya ia melihat dua orang pria kulit putih membawa pedang. Namun pihak keamanan Hammersmith kala itu berkata tidak ada peristiwa perampokan tahun 1659.

Hari itu musim gugur tanggal 16 Agustus 1660, William Harrison yang waktu itu sudah berusia 70 tahun pergi meninggalkan rumahnya di pagi hari dan berjalan sejauh 2 mil ke Charringworth untuk menagih uang sewa. Namun Harrison tak kunjung kembali ke rumah padahal hari sudah menjelang malam. Istrinya mulai khawatir. Ia lalu mengirim pembantunya, John Perry untuk mencari suaminya itu.



Namun sampai esok harinya pun keduanya justru tak kembali. Edward Harrison, putra William segera pergi mencari keberadaan keduanya. Saat di perjalanan ke Charingworth, ia bertemu dengan John Perry. John Perry mengatakan dirinya tidak berhasil menemukan majikannya itu.

Edward dan John kemudian mulai mencari ke Ebrington. Di sana keduanya bertemu dengan seseorang yang memang direncanakan untuk ditemui oleh William. Orang tersebut mengatakan bahwa William memang berada di sana pada malam sebelumnya. Edward dan John lalu mencari ke desa Paxford, namun William tak juga ditemukan di sana.

Edward dan John kemudian memutuskan untuk kembali ke Chipping Campden. Saat di perjalanan pulang itulah mereka menemukan beberapa barang milik William yang tercecer di jalan antara Chipping Campden dengan Ebrington. Barang-barang itu meliputi pakaian, topi, dan juga ikat leher. Pada pakaian dan ikat leher milik William ditemukan noda darah. Firasat buruk pun menggelayut dalam benak. Mungkinkah terjadi hal buruk pada William? Lalu di mana keberadaannya?

Hari berganti hari William tak kunjung kembali. Jika memang ia mengalami nasib naas di mana keberadaan jasadnya? Semuanya menjadi misterius.

Saat investigasi dilakukan, John Perry berkata bahwa ia mengetahui William sebenarnya telah dibunuh oleh keluarganya, tapi ia tak terlibat. Ia mengatakan bahwa ibunya, Joan Perry, serta adiknya yang bernama Richard telah membunuh William demi uang dan mereka menyembunyikan jasadnya.

Joan dan Richard Perry terang saja membantah tuduhan itu. Tapi John bersikeras bahwa mereka bersalah. Bahkan John mengatakan keduanya telah menenggelamkan jasad William di sebuah kolam. Kolam yang disebut-sebut John pun kemudian diperiksa, namun tak ada mayat ditemukan di dalam sana.

Proses persidangan pun dilakukan. Para tersangka dijerat dengan tuduhan pencurian uang. Meskipun begitu Joan dan Richard Perry mengajukan pembelaan tak bersalah. Namun keterangan dari John Perry berhasil meyakinkan hakim bahwa mereka bersalah. Namun kemudian John juga ikut terseret dalam kasus ini.

Pada musim semi tahun 1661, John Perry, Joan Perry, dan Richard Perry dinyatakan bersalah atas pembunuhan terhadap William Harrison. Ketiganya kemudian menjalani hukuman gantung di Broadway Hill di Gloucestershire.



Setahun kemudian, tahun 1662, kegemparan terjadi di Chipping Campden. William Harrison kembali! Ia mengatakan kembali ke Inggris dengan kapal Lisbon. William mengklaim bahwa dirinya telah diculik dan dilukai. Dompetnya yang berisi uang dicuri. Ia pergi diam-diam dengan kuda dari Inggris via Deal port di Kent. Ia lalu dipindahkan ke sebuah kapal Turki dan dijual sebagai budak di sana.

William mengatakan setelah lebih dari satu tahun majikannya kemudian meninggal. Ia lalu pergi ke pelabuhan dan menumpang kapal Portugis dan akhirnya kembali ke Dover lewat Lisbon.

Keterangan William Harrison tentu membuat heboh seluruh Chipping Campden. Bagaimana tidak, William sebelumnya dikira sudah dibunuh. Bahkan keterangan John Perry mengatakan bahwa ia memang telah dibunuh oleh ibu dan saudaranya. Yang lebih naasnya lagi tentu saja nasib keluarga Perry yang harus menjalani hukuman gantung untuk sebuah kejahatan yang sebenarnya tak pernah ada.

Lalu mengapa John Perry bersikeras mengatakan bahwa William dibunuh? Tak tanggung-tanggung ia bahkan bersaksi bahwa keluarganya sendirilah yang melakukannya. Apa sebenarnya motif dari tindakan John Perry? Hal ini masih diliputi misteri.

Linda Stratmann dalam bukunya Gloucestershire Murders menyatakan bahwa cerita William Harrison sendiri tampak tak masuk akal. Siapa yang berniat menculik seorang pria lanjut usia berusia 70 tahun? Apalagi untuk tujuan dijual dan dijadikan budak seperti cerita William. Selain itu juga ada hal aneh lainnya dari cerita William yaitu orang yang menyerangnya hingga terluka kemudian justru merawatnya hingga sembuh.



Kasus The Campden Wonder benar-benar aneh dan dipenuhi teka-teki. Bahkan tak ada yang mampu menjelaskan apa motif di balik tindakan konyol John Perry mengakui sebuah kriminal fiktif yang menyebabkan dirinya serta ibu dan saudaranya sendiri dihukum mati. Lalu kisah William Harrison sendiri yang tampak tak masuk akal menambah misteri dalam kasus ini makin tak terpecahkan.

Referensi :

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Campden_Wonder
http://www.chippingcampdenhistory.org.uk/content/new-contributions/the_campden_wonder


0 Response to "Kasus Misterius The Campden Wonder"

Post a Comment