Attila The Hun dan Kisah Kekejamannya yang Melegenda




"Di mana aku berpijak, di situ rumput tidak akan tumbuh"
-Attila The Hun-


Lebih dari 750 tahun sebelum dunia mengenal Genghis Khan, sang penakluk dari Mongol, orang-orang Eropa pernah menjadi saksi bagaimana kejamnya seorang penakluk dari Hun yang bernama Attila. Dia adalah kaisar Hun yang terakhir sekaligus orang paling berkuasa di Eropa pada pertengahan tahun 400an Masehi. 

Di masa puncak kejayaannya, Attila menguasai hampir seluruh daratan Eropa. Kekuasaannya membentang dari Eropa Tengah ke Laut Hitam serta dari Sungai Danube ke Laut Baltik.

Wilayah kekuasaan Attila

Selama masa kekuasaannya, dia merupakan musuh terbesar bagi Romawi Timur dan Barat. Ia juga tercatat beberapa kali melakukan penyerangan terhadap kekaisaran paling berpengaruh di dunia pada masa itu. Dan berkali-kali pula Romawi dibuat kocar-kacir dan bertekuk lutut yang pada akhirnya harus membayar sejumlah emas kepada kerajaan Hun. Ia bahkan mengusir maharaja Romawi Barat, Valentinian III dari ibu kota Ravenna pada tahun 452.

Namun kekuasaan Attila dan kekaisarannya terkubur tak lama setelah kematiannya. Ia tak meninggalkan apa pun kecuali makamnya yang misterius dan tentu saja kisah kekejamannya yang melegenda.


Asal Usul Suku Huns dan Awal Pemerintahan Attila

Suku Huns Eropa kemungkinan berkembang dari Xiongnu ke arah barat, kumpulan dari proto Mongolian atau proto Turki kaum pengembara dari timur laut Cina dan Asia Tengah. The Huns merupakan suku nomaden yang tinggal di Eropa dan Asia pada abad ke 1-7 Masehi. Suku ini terkenal memiliki banyak sekali prajurit terlatih dengan gerakan tarung yang sangat cepat yang membuat musuh-musuh mereka bahkan ketakutan sebelum bertempur.

Ayah Attila bernama Mundzuk dan merupakan saudara dari Raja Octar dan Rugila yang bersama-sama memerintah kekaisaran Hun pada tahun 420-430an awal. Setelah Raja Octar wafat pada tahun 430 Masehi, Rugila (disebut juga Ruga atau Rua) menggantikannya. Namun Rugila tak begitu lama memerintah Huns karena di tahun 434 Masehi ia meninggal dunia.

Setelah Rugila wafat, kekuasaan kemudian diwariskan kepada kakak beradik Attila dan Bleda. Salah satu hal pertama yang dilakukan keduanya ketika awal memimpin Hun adalah menegosiasikan perjanjian dengan kekaisaran Romawi Timur yang dikenal dengan Treaty of Margus. Menurut perjanjian itu Kaisar Theodosius II sepakat membayar sejumlah 700 pon emas (300 kg) pada Hun setiap tahunnya serta membuka pasar bagi pedagang Hun. 

Tetapi beberapa tahun kemudian rupanya Romawi melanggar perjanjian itu. Attila kemudian melakukan berbagai serangan yang akhirnya menghancurkan Romawi Timur.

Pada tahun 445 Masehi Attila meninggal dunia dibunuh oleh Attila (meskipun banyak pertentangan dari sejarawan mengenai hal ini). Attila kemudian seorang diri menguasai Hun dan sekaligus membawanya pada puncak kejayaan. 

Ilustrasi Attila the Hun di atas kudanya

Kekejaman Attila dan Pasukan The Hun yang Melegenda

Jika kita membuka buku sejarah tentang sosok Attila, maka dapat dipastikan bahwa tertulis di sana sang kaisar adalah sosok manusia super kejam yang suka membunuh. Sesuai dengan perkataannya bahwa di mana pun ia berada, maka tak ada rumput yang tumbuh. Merupakan sebuah perumpamaan bahwa sang kaisar tak akan berpikir ulang untuk membunuh siapa pun, tak peduli apakah itu wanita dan anak-anak setelah penyerangan ke suatu wilayah.

Pasukan Hun adalah pasukan yang luar biasa hebat. Dengan orang-orang yang terlatih, pasukan ini selalu berhasil melibas musuh-musuhnya. Bahkan dikatakan bahwa sebelum melakukan penyerangan mereka biasanya akan mengeluarkan suara-suara mengerikan yang langsung menjatuhkan mental lawan bahkan sebelum bertarung. Bukan hanya itu saja, pasukan ini biasa melakukan penyerangan dari berbagai arah mata angin, membuat musuh bahkan tak sempat berkutik.

Kekejaman Attila juga dirasakan oleh orang-orang yang menghianatinya. Orang-orang ini akan mendapatkan kematian sekaligus penyiksaan yang kejam. Attila biasanya menggunakan metode sula dan membiarkan orang tersebut mati secara perlahan-lahan.

Saat Attila memutuskan untuk melakukan invasi ke Romawi Barat (sekarang Belgia dan Perancis Timur) pada tahun 451 Masehi, ia melakukan penjarahan dan pembantaian massal. Ia membumihanguskan seluruh sudut kota.

Ilustrasi salah satu sudut Romawi yang dibumihanguskan pasukan Attila

Pasukan Hun dengan brutal juga terus menerus menyerang kekaisaran Romawi tanpa henti. Wilayah-wilayah seperti Balkan, Yunani, Gaul, dan Italia, merupakan beberapa wiayah yang tak luput dari keberingasan sang kaisar.


Kematian dan Makam Attila The Hun yang Misterius 

Pada tahun 453, Attila memutuskan untuk mengambil seorang istri, sebelumnya ia telah memiliki beberapa istri, yang bernama Ildico. Ildico adalah seorang putri Jerman yang muda lagi cantik rupawan. Di hari pernikahannya itu sebuah pesta besar digelar. Attila berpesta dan menenggak banyak minuman.

Keesokan paginya penjaganya mendobrak pintu kamar pengantin karena terdengar sang pengantin wanita menangis histeris. Di ranjang kamar itu tubuh Attila terbujur kaku. Attila the Hun yang legendaris tewas di malam pengantinnya. Tidak ada sediki pun luka ditemukan di tubuh sang kaisar. Rupanya Attila menderita mimisan parah.

Attila yang memang malam itu tengah mabuk berat, tersedak oleh darahnya sendiri dan mati mengenaskan. Ada banyak spekulasi seputar kematian sang penakluk ini. Ada dugaan bahwa kematiannya telah direncanakan oleh Flavius Marcianus, kaisar Romawi Timur. Rencananya itu berjalan mulus dengan bantuan Ildico.

Ilustrasi kematian Attila the Hun

Tak cukup sampai kematiannya yang misterius, makam sang kaisar juga diliputi teka-teki, tentu saja seputar di mana sebenarnya ia dikebumikan. Sama seperti Jenghis Khan, makam Attila the Hun sengaja dirahasiakan oleh orang-orang kepercayaannya, sehingga tak pernah ditemukan.

Baca juga : Genghis Khan dan Makamnya yang Misterius

Menurut beberapa sumber, setelah dinyatakan meninggal, jasad Attila dibawa ke sebuah padang rumput di mana jasadnya ditempatkan di dalam sebuah tenda sutera. Di sana para prajurit mengolesi wajah mereka dengan darah.

Dalam pesan kematiannya, sang kaisar dimakamkan dengan peti mati tiga lapis, yaitu emas, perak, dan besi. Beberapa peralatan perang sang kaisar beserta perhiasan dimasukkan ke dalam peti matinya. Seelah itu ratusan kuda dilepaskan di sekitar makamnya untuk mengaburkan lokasi asli makam. Bagian mengerikannya adalah orang-orang yang mengikuti prosesi pemakaman sang kaisar dibunuh untuk tetap menjaga kerahasiaan makam.

Banyak dugaan berkembang bahwa makam Attila the Hun sebenarnya telah ditemukan beberapa tahun setelah pemakamannya. Segala harta benda yang dikuburkan bersamanya telah habis dijarah.

Kekaisaran Hun di Eropa kemudian runtuh 16 tahun setelah kematian Attila. Terjadi perebutan kekuasaan di antara anak-anak Attila sendiri yang menyebabkan perang saudara. 

Referensi :

https://www.ancientfacts.net/7-shocking-facts-about-attila-that-justified-his-nickname-the-scourge-of-god/?view=all
https://id.wikipedia.org/wiki/Attila

0 Response to "Attila The Hun dan Kisah Kekejamannya yang Melegenda"

Post a Comment