Sejarah Lambang Bulan Sabit dan Bintang Dalam Islam




Sejak beberapa dekade belakangan ini simbol bulan sabit dan bintang seringkali menjadi identitas agama Islam. Apalagi mengingat banyak negara-negara dengan mayoritas muslim memakai lambang tersebut pada bendera negara. Padahal pada masa Rasulullah, lambang ini tak pernah sama sekali digunakan sehingga menimbulkan perdebatan hingga kabar bahwa lambang ini sebenarnya berasal dari ajaran paganisme. Lalu bagaimana sejarahnya hingga lambang ini menjadi identik dengan Islam?

Bagi sebagian besar umat Islam, lambang atau simbol bulan bintang sudah sangat familiar. Lambang ini banyak ditemukan dalam berbagai atribut seperti bendera, buku-buku, hingga bangunan masjid pada bagian atasnya yaitu kubahnya memasang lambang ini. Namun bagi sebagian orang, simbol ini bukanlah simbol Islam.


Sejarah Panjang Simbol Bulan Sabit dan Bintang

Pada masa Rasulullah S.A.W, tidak pernah ada simbol bulan sabit dan bintang, baik itu pada bendera maupun pada surat-surat yang pernah dikirim beliau kepada para raja. Bendera pada masa itu tak memiliki simbol sama sekali, dan hanya memakai warna hitam, putih, atau hijau. Bendera Muhammad biasanya berwarna hitam yang juga dikenal dengan nama al-Uqab atau "The Eagle" tanpa simbol apa pun.

Pada masa itu bendera-bendera umumnya dihiasi dengan kaligrafi islam berupa kalimat Syahadat, Takbir, atau Basmalah. Para pemimpin-pemimpin muslim setelahnya melanjutkan penggunaannya dan tetap tanpa memakai simbol apa pun.

Bendera yang digunakan dengan bertuliskan kaligrafi, tidak ada simbol bulan sabit dan bintang

Simbol bulan sabit dan bintang rupanya mulai dipakai sejak abad ke 19 oleh Kerajaan Turki Ottoman yang kemudian menyebar luas dalam dunia Islam. Penggunaan lambang tersebut erat kaitannya dengan sejarah penaklukkan Konstantinopel yang pernah dikuasai oleh Romawi. Menariknya, lambang ini ternyata telah ada bahkan jauh sebelum Byzantium jatuh ke tangan Romawi. Jadi lambang ini sebenarnya sudah sangat tua sekali.

Baiklah, sekarang kita tarik mundur waktunya. Dalam sejarahnya simbol ini pernah berkembang pada periode Hellenisic sekitar abad 4-1 SM di Kerajaan Pontus, Bosporan, (berlokasi di Krimea Timur) Kerajaan Romawi dan terutama di Byzantium pada abad ke 2 SM.

Dalam versi kebudayaan yang sudah sangat tua, bulan sebenarnya bukanlah digambarkan untuk mewakili sosok perempuan atau dewi, melainkan dewa atau laki-laki. Sementara itu dalam kebudayaan Mesir, representasi dari dewa bulan adalah Thoth.

Dalam kebudayaan Sumeria kuno, dewa bulan disebut Nanna, sementara pada kebudayaan Babylonia, dewa ini dikenal dengan nama Sin. Dalam kebudayaan Babylonia itu sendiri, dikenal pula simbol bintang (khususnya bintang segi delapan) yang dikenal juga dengan Star of Ishtar yang berakar dari paganisme. Menurut kepercayaan mereka, lambang ini mewakili dewi perang sekaligus prostitusi Babylonia yang dikenal juga sebagai dewi Venus.



Dalam kebudayaan Persia, lambang bulan sabit dan bintang telah digunakan dalam mata uang yang mereka gunakan. Bukti ini dapat dilihat pada uang yang diterbitkan pada masa kekuasaan Raja Persia yang bernama Khosrau II.



Ternyata bukan hanya Sumeria, Mesir kuno, Persia, dan juga Babylonia yang telah akrab dengan lambang ini dan menjadikannya sebagai representasi dewa, namun juga digunakan dalam masyarakat Yunani yang mendirikan Byzantium sejak 670 SM. Sama seperti kebudayaan kuno lainnya, di Yunani lambang ini berkaitan erat dengan penyembahan kepada Dewi Artemis/Hecate dan digunakan mewakili Dewi Bulan (Selene/Luna atau Artemis/Diana) dalam era Romawi.

Pada abad ke 2 SM, kota Byzantium jatuh ke tangan Romawi. Namun ajaibnya bukannya mempengaruhi kebudayaan Yunani, justru kebudayaan Romawi lah yang banyak mendapatkan pengaruh. Banyak kepercayaan bangsa Yunani yang diserap oleh Romawi salah satunya adalah penyembahan kepada Artemis. Pada masa Kaisar Constantinus I (306-337 Masehi) lambang bulan sabit dan bintang menjadi lambang kota Konstantinopel yang juga sekaligus ibukota Romawi.

Pada akhir abad ke 12, simbol ini sempat pula digunakan pada koin Crusader dari County Tripoli di bawah kekuasaan Raja Raymond II atau III sekitar 1140-1160. Sementara itu pada abad ke 16, Korenic-Neoric Armonal menggunakan lambang ini pada mantel prajurit Illyria.




Simbol Bulan Sabit Bintang dan Kerajaan Turki Ottoman

Sejak abad ke 15, masyarakat Turki Ustmani (dan masyarakat suku lain seperti Kazakh dan Uzbekh) telah menguasai banyak wilayah Romawi. Pada tahun 1453, Pasukan Turki Utsmani memasuki Konstantinopel dan berhasil menaklukkan wilayah itu sekaligus mengakhiri masa pemerintahan Romawi yang telah dibangun sejak sekitar 2000 tahun.

Di bawah pimpinan dan perintah Sultan Muhammad II, pasukan Turki banyak melakukan perubahan pada kota Konstantinopel. Ada beberapa yang diubah dan diganti seperti misalnya patung-patung dan berhala yang dimusnahkan. Namun ada pula beberapa yang masih tetap dipertahankan yaitu bentuk arsitektur khas Romawi Timur dengan kubah-kubah (yang kemudian diadopsi menjadi model pembangunan masjid di seluruh wilayah Utsmani) dan juga lambang bulan sabit dan bintang.

Hagia Sophia, arsitektur dari Romawi Timur yang tetap dipertahankan

Selain itu ada pula pendapat bahwa lambang bulan sabit dan bintang pertama kali digunakan pada masa Mustafa III (1757-1774) dan pada masa selanjutnya yaitu Abdul Hamid I (1774-1789) dan Selim III (1789-1807).

Sementara itu dengan beralihnya kekuasaan khilafah dari keluarga Abbas (Abbasiyah, Arab) kepada Utsmaniyah (Turki), negeri-negeri Islam mulai memandang dinasti Ustamani dan Konstantinopel sebagai pengayom sekaligus model kehidupan. Di masa inilah kubah-kubah masjid berdiri dengan bulan sabit dan bintang. Segera simbol ini menjadi populer di kalangan dunia muslim.

Banyak negara-negara di dunia yang menggunakan simbol ini pada bendera negaranya, antara lain yaitu Azerbaijan (1918), Libya (1951-1969 dan setelah 2011), Pakistan (1947) Malaysia (1948), Tunisia (1956), Algeria (1958), Singapura (1959), Mauritania (1959), Maldives (1965), Uzbekistan (1991), Turkmenistan (1991), dan Comoros (2001).

Negara-negara dengan lambang bulan sabit dan bintang pada benderanya 

Demikianlah awal mula penggunaan simbol bulan sabit dan bintang menyebar luas ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Namun perlu digaris bawahi bahwa sejatinya simbol bulan sabit dan bintang sama sekali bukan simbol Islam. Apalagi ada saja pihak-pihak yang menuduh bahwa islam menyembah bulan dan bintang layaknya tradisi pagan. Kaum muslim sama sekali tidak menyembah bulan, bintang, maupun matahari.

Tidak ada dalil yang mengatakan bahwa Rasulullah memerintahkan umat muslim untuk menggunakan lambang bulan sabit dan bintang. Rasulullah juga tidak pernah memberikan contoh penggunaannya.

Referensi :

https://en.wikipedia.org/wiki/Star_and_crescent
https://en.wikipedia.org/wiki/Symbols_of_Islam
https://aslibumiayu.net/8788-ternyata-bulan-sabit-dan-bintang-bukan-simbol-islam-lalu-berasal-dari-mana.html

0 Response to "Sejarah Lambang Bulan Sabit dan Bintang Dalam Islam"

Posting Komentar