Sejarah Mushaf Al-Quran




"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami 
benar-benar memeliharanya." 
(Q.S Al-Hijr [15]:9)


Salah satu bukti diutusnya Nabi Muhammad ﷺ ke muka bumi adalah dengan diturunkannya Al-Quran yang menjadi pedoman hidup umat. Al-Quran adalah kalam Allah yang merupakan kitab segala kejadian yang telah lengkap, sempurna, serta terpelihara. Al-Quran diturunkan secara utuh di suatu tempat di langit dunia yang disebut Baitul Izzah pada saat Lailatul Qadar, lalu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun lamanya.

Al-Quran yang memiliki 114 surah, 6666 ayat, 77.934 kata, dan 323.671 buah huruf, diturunkan di Makkah dan Madinah. Surah yang diturunkan di Makkah disebut Surah Makkiyah, turun semasa Nabi Muhammad ﷺ berdakwah di Makkah. Surah yang turun di Makkah terdiri dari 19 juz. Sementara surah yang diturunkan di Madinah disebut Surah Madaniyah, yakni trurun setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, terdiri dari 11 juz. Jadi semuanya lengkap 30 juz.

Surah Makiyah berisi hal-hal yang menyangkut keimanan, pahala, serta ancaman, dan peringatan. Terdapat pula kisah-kisah yang terjadi pada umat-umat terdahulu. Sementara itu surah-surat Madaniyah menyangkut hukum duniawi, hukum kemasyarakatan, hukum tata negara, hukum perang, dan hukum antaraagama.

Al-Quran terpelihara secara khusus dengan diturunkannya Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad  setahun sekali pada Ramadhan. Hal ini pula dilakukan Rasulullah  kepada para sahabat untuk menetapkan hafalan Al-Quran. Rasulullah ﷺ pada masa itu juga menekankan bahwa hanya Al-Quran yang boleh ditulis, sedangkan hadits dan lainnya dilarang ditulis dengan tujuan agar Al-Quran tidak bercampur aduk di kemudian hari.

Fragmen Al-Quran dari tahun 650-700 Masehi

Ada banyak nama para huffazh (pengikut Rasulullah yang telah mendengar dan menghafal Al-Quran), antara lain Ali bin Abi Thalib, Abu Darda', Zaid bin Tsabit, Salim ibn Ma'qal, Mu'adz ibn Jabal, Utsman bin Affan, Ubay ibn Ka'ab. Di antara deretan para huffazh, Zaid ibn Tsabit adalah yang paling banyak mendokumentasikan Al-Quran dalam bentuk tulisan. Namun pada masa Rasulullah ﷺ Al-Quran belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh.  

Setelah Rasulullah wafat, wahyu telah berakhir turun. Semua wahyu ini dituliskan oleh para juru tulis, lalu dikumpulkan, dan disimpan di rumah Aisyah R.A. Kompilasi manuskrip Al-Quran pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq R.A.

Pada awal kekhalifahannya, Abu Bakar dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar yang berkaitan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Abu Bakar lalu segera menyiapkan pasukan untuk memerangi orang-orang murtad. Salah satu perang itu adalah Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 Hijriyah. Kala itu banyak sahabat yang hafal Al-Quran yang ikut berperang, akibatnya sebanyak 70 sahabat gugur. 

Mengetahui hal ini, Sayyidina Umar bin Khattab khawatir akan semakin sedikitnya sahabat yang hafal Al-Quran dan masih hidup. Maka beliau segera mengusulkan untuk membukukan Al-Quran, dan ditunjuklah Zaid bin Tsabit untuk menghimpun ayat-ayat Al-Quran untuk ditulis kembali di atas lembaran-lembaran serupa dan tersusun menurut tertib ayat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah  .

Para sahabat menamai naskah Al-Quran yang sudah terkumpul itu dengan sebutan shuhuf dan berada dalam penjagaan Abu Bakar hingga beliau wafat.

Mushaf Ustmani yang berada di Imam Library, Uzbekistan

Setelah berpulangnya Abu Bakar, penjagaan shuhuf diambil alih oleh Umar bin Khattab. Beliau lah yang kemudian meneruskan peran dalam mengenalkan kitab suci Al-Quran ke tanah Arab hingga wilayah yang lebih luas. Saat Khalifah Umar bin Khattab wafat, kekhalifahan jatuh pada Ustman bin Affan. Pada masa Ustman, shuhuf disimpan oleh putrinya yang juga istri Rasulullah, Hafshah.

Pada masa Ustman bin Affan menjadi khalifah, timbullah ragam bacaan Al-Quran dikarenakan dialek (lahjah) yang berbeda. Dialek yang berbeda ini timbul karena makin banyaknya umat Islam dari kalangan non Arab yang juga membaca Al-Quran. Pada saat itu kekuasaan Islam meluas hingga ke Mesir, Irak, Syria, hingga daratan Afrika. Perselisihan mencuat dan masing-masing kokoh pada pendiriannya bahwa dialek mereka lah yang paling benar.

Melihat hal ini, sahabat Hudzaifah ibn Yaman memberitahukan pada Khalifah Ustman bin Affan. Setelah itu maka segeralah dibentuk sebuah komisi yang terdiri dari 12 orang yang bertugas membukukan Al-Quran.

Orang-orang ini kemudian menyalin menjadi beberapa lembar mushaf yang dipinjam dari putri Ustman bin Affan, Hafshah. Mushaf-mushaf yang baru kemudian dikirimkan ke setiap wilayah agar terjadi persamaan. Sementara itu mushaf yang lainnya dibakar.

Usaha Ustman bin Affan ini berhasil menghindari perselisihan yang disebabkan oleh perbedaan, sekaligus menjaga isi Al-Quran tetap murni dan terbebas dari penyimpangan serta penambahan ataupun pengurangan. Setelah kodifikasi Al-Quran pada masa Khalifah Ustman bin Affan usai, maka setelahnya tak ada lagi pengumpulan Al-Quran. Kini mushaf A-Quran telah sempurna susunanya. Al-Quran inilah yang kini ada di masjid-masjid dan di rumah-rumah di seluruh dunia, dibaca serta dihafalkan oleh jutaan kaum Muslimin di dunia.

Referensi :

50 Misteri Dunia Menurut Al-Quran (Adrie Mesapati, Arnie Sanib, Mutia Sari)

0 Response to "Sejarah Mushaf Al-Quran"

Posting Komentar