Pompeii, Negeri yang Dibinasakan




Hari itu tanggal 24 Agustus 79 Masehi, penduduk kota Pompeii baru saja merayakan festival dewa api Romawi kuno, Vulcanalia. Tak ada satu pun orang yang akan mengira bahwa hari itu adalah hari terakhir mereka. Letusan gunung Vesuvius yang terjadi sore itu diikuti dengan awan panas dengan suhu 850 °C berlari dengan kecepatan 100 mph, mengubur semua yang dilewatinya...


Sekilas Tentang Kota Pompeii Kuno

Pompeii adalah kota pada zaman Romawi kuno yang kini hanya tinggal puing. Kota Pompeii kuno ini dahulunya terletak di wilayah Campania, tepatnya di sebelah tenggara kota Napoli (dekat kota modern Pompeii). Lokasi kota ini berada di sekitar gunung Vesuvius, bersama dengan kota kecil Herculaneum dan Torre Annunziata.



Kota Pompeii kuno memiliki wilayah yang cukup besar dengan pertanian yang subur dan kehidupan masyarakatnya yang makmur. Kota ini dahulunya didirikan oleh orang-orang Osci atau Oscan pada sekitar abad ke 6 SM.

Pompeii boleh dikata kota yang maju kala itu, bahkan merupakan kawasan elit. Kota ini menggambarkan majunya peradaban Romawi kuno dahulu. Hal ini dapat dilihat dari tata kota dan fasilitas yang memadai di sana, yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang berjumlah 20.000 orang pada saat itu.





Di Pompeii terdapat kanal air yang berfungsi untuk menyalurkan air ke 25 air mancur yang ada di kota. Ada pula pemandian umum, perumahan pribadi mewah, hingga amfi teater. Jalan-jalan di Pompeii sudah terlihat mirip dengan jalan-jalan yang berada di kota-kota saat ini. Fasilitas di kota ini pun tak kalah legkapnya. Misalnya saja keberadaan Macellum (pasar makanan), Cauporiore (restoran kecil), Pistrinum (tempat penggilingan gandum), dan Thermopolium (sejenis bar).



Sementara itu kehidupan malam di Pompeii benar-benar tidak ada tandingannya. Bahkan di antara fasilitas-fasilitas itu ditemukan Lupanare (Lupanar) yang merupakan rumah bordil yang terletak sangat strategis yaitu hanya dua blok dari alun-alun pusat kota. Pekerja seks di rumah pelacuran berjumlah berkali-kali lipat dibanding tempat lainnya. Transaksi seksual merupakan hal yang lumrah di sana. Ironisnya praktik seksual bebas ini bukan hanya melibatkan hubungan pria dan wanita, namun juga antara sesama jenis.



Jangan heran pula bila di antara reruntuhan kota ini, kalian dapat menemukan begitu banyak lukisan dan "karya seni" dengan simbol erotis. Bahkan gambar kelamin pria lazim ditemukan dipanjang di depan rumah-rumah penduduk. Bagi mereka hal itu dianggap membawa keberuntungan.




Kehancuran Pompeii

Pada awal Agustus tahun 79 Masehi, mata air hingga sumur-sumur di Pompeii mengering. Pada beberapa hari belakangan itu, memang sering kali terjadi gempa namun dalam intensitas kecil. Gearan gempa ringan mulai dirasakan pada 20 Agustus, dan semakin sering terjadi beberapa hari berikutnya.

Namun orang-orang di Pompeii rupanya memang telah terbiasa diguncang gempa. Bahkan pernah beberapa tahun sebelumnya, yaitu pada 5 Februari 62 Masehi kota itu dilanda gempa yang cukup besar yang banyak menghancurkan bangunan. Namun penduduk Pompeii membangun kembali kota itu.

Hari itu tanggal 24 Agustus 79 Masehi, sehari setelah perayaan festival dewa api Romawi kuno, Vulcanalia, gempa kembali terjadi. Namun kali ini membawa bencana dahsyat yang akan meluluhlantakkan kota dan menguburnya hingga ribuan tahun. Sekaligus menghapuskan kota Pompeii dari peta dunia.

Ada seorang saksi mata yang tinggal di Misenum, sekitar 35 km dari lokasi Pompeii memberikan kesaksiannya yang dicatat oleh Plinius Muda. Menurut kesaksian orang itu, pada sore hari ia melihat gejala luar biasa di sekitar Gunung Vesuvius. Awan besar dan gelap muncul dari mulut gunung. Awan itu kemudian menuruni lereng-lereng gunung dengan sangat cepat dan menutupi semua yang dilewatinya, termasuk laut.



Awan yang digambarkan oleh Plinius adalah aliran piroklastik, yaitu awan gas sangat panas, batu, dan debu yang merupakan hasil dari letusan gunung berapi. Panas awan debu ini mencapai 850 derajat celcius ketika muncul dari mulut gunung.


Penggalian Kembali Kota Pompeii

Tak dapat dihindarkan lagi, debu dari letusan gunung Vesuvius yang dahsyat menimbun kota Pompeii beserta dengan 20.000 orang di dalamnya termasuk hewan ternak, rumah-rumah dan seluruh bangunan. Orang-orang di Pompeii diceritakan tak sempat lagi melarikan diri mencari perlindungan. Kota ini tenggelam sampai beberapa kaki dan hilang selama lebih dari 1.600 tahun sampai akhirnya ditemukan kembali secara tak sengaja.



Kota Pompeii ditemukan kembali pada tahun 1748. Sebenarnya Pompeii telah ditemukan secara tak sengaja pada tahun 1599 oleh arsitek bernama Fontana yang kala itu berniat menggali jalan baru untuk Sungai Sarno, namun baru sekitar 150 tahun kemudian digalakkan kebali upaya serius untuk benar-benar membebaskan kota Pompeii dari timbunan tanah dan debu vulkanik.

Penggalian yang dilakukan benar-benar memberikan pemandangan yang luar biasa. Pemandangan terperinci mengenai kehidupan kota Pompeii beserta masyarakatnya seolah terpotret dan terawetkan dengan sangat sempurna. Hal ini kemudian banyak menguntungkan para arkeolog karena dapat melihat secara terperinci kota Pompeii kuno masa itu.





Banyak didapati raut-raut wajah penuh keterkejutan, putus asa, dan ketakutan, sebagian lagi dengan posisi seperti ingin melindungi diri. Ada yang sedang bersama dengan keluarganya, ada yang sedang duduk putus asa, ada pula yang sedang melakukan hubungan seks.





Penggalian ini menemukan begitu banyak gambar-gambar erotis, benda-benda vulgar yang benar-benar tak senonoh, seolah memang sudah biasa benda-benda seperti itu berada di Pompeii kuno. Arkeolog juga menemukan phallus atau bentuk kelamin jantan sebagai dekorasi yang umum di kota Pompeii sebagai lambang keberuntungan. Tak tanggung-tanggung simbol ini dilukis di banyak tempat publik seperti rumah, jalan, pasar, hingga toko-toko.



Maka tak heran ketika Raja Francis I menghadiri pameran koleksi penemuan kota Pompeii tahun 1819, dirinya segera memerintahkan agar barang-barang erotis itu dipindahkan saja ke museum yang hanya dapat diakses oleh arkeolog.

Kini kota Pompeii kuno hanya tersisa reruntuhannya saja dengan bekas kebudayaan yang tergambarkan sudah begitu maju saat itu. Namun perilaku masyarakatnya yang bahkan sampai pada tahap berperilaku seks menyimpang dan praktik-praktik vulgar ada di mana-mana telah membinasakan kota ini selama-lamanya. Nasib Pompeii benar-benar sama seperti nasib penduduk kota Sodom dan Gomora yang juga binasa.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Pompeii
http://versesofuniverse.blogspot.com/2011/12/pompeii-sodom-jilid-dua.html


0 Response to "Pompeii, Negeri yang Dibinasakan"

Posting Komentar