Kisah Umar bin Khattab dan Pembebasan Yerusalem




Seorang pendeta dan rakyat Yerusalem tengah menantikan kedatangan Umar bin Khattab untuk penyerahan kota Yerusalem. Namun dari kejauhan yang terlihat justru dua orang berpakaian sederhana dan seekor unta. Salah seorang naik di atas punggung unta, sementara yang seorang lagi berjalan di sampingnya. Orang-orang yang menyangka bahwa sang Khalifah akan datang disertai dengan iring-iringan beserta pasukannya itu terkejut begitu mengetahui pria yang berjalan di samping unta itu tak lain adalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab adalah khalifah yang menjabat setelah Abu Bakar. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Islam mengalami perkembangan yang pesat. Di bawah kekuasaannya, Islam berhasil mengambil alih Mesir, Palestina, Mesopotamia, Syria, sebagian Persia, Afrika Utara, hingga Armenia yang dahulunya dikuasai oleh kekaisaran Byzantium.

Pada masa itu sebenarnya terdapat dua kekuatan besar di dunia, yaitu Romawi dan Persia. Namun keduanya berhasil ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam di bawah pimpinan Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab lah dilakukan banyak sekali reformasi di berbagai bidang. Seperti misalnya pencatatan administratif, kebijakan publik, hingga kodifikasi hukum Islam.

Khalifah Umar bin Khattab dikenal akan kesederhanaannya dan juga sikap tegas dan jujurnya ketika menjadi pemimpin. Ia sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya lah penguasa saat itu. Padahal penguasa lain pada zaman itu dikenal hidup mewah.


Pembebasan Yerusalem (637 Masehi)

Pada masa Umar bin Khattab, ekspansi mulai dilakukan ke wilayah yang berada di Utara hingga menuju ke daerah yang dikuasai Byzantium. Umar lalu mengirimkan pasukan terbaiknya ke wilayah kekaisaran Romawi Timur yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Pada saat penaklukkan itulah terjadi perang yang kemudian dikenal dengan Perang Yarmuk yang terjadi tahun 636 Masehi. Setelah itu, beberapa kota yang ada di Suriah termasuk di dalamnya kota Damaskus, berhasil jatuh ke tangan Islam.



Di bawah pimpinan Muawiyah, wilayah Beirut, Sidon, Tripoli, Latakia, dan Byblos berhasil ditaklukkan. Sementara Yazid Ibn Abi Sufyan berhasil menundukkan wilayah Tyre, Sidon, Acre, dan Haifa.

Setahun kemudian yaitu tahun 637, pasukan Islam mulai mendekati wilayah Yerusalem. Untuk sampai ke Yerusalem, pasukan Islam harus melewati Caesarea, yang ternyata di sana telah menunggu pasukan Byzantium di bawah komando Artavon. Dalam pertempuran dengan pasukan Byzantium itu, pasukan Islam berhasil menang, sementara Artavon melarikan diri ke Yerusalem.

Di Yerusalem, rupanya Artavon berselisih paham dengan Uskup Agung Gereja Yerusalem, Patriarch Sophronius. Artavon tak menginginkan jika Yerusalem diserahkan pada pasukan Islam, sementara Uskup Sophronius ingin agar Yerusalem diserahkan pada pasukan Muslim dengan damai.

Maka dikirimlah beberapa utusan gereja menemui pasukan Muslim. Utusan gereja ini menyampaikan beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk penyerahan kunci kota Yerusalem. Persyaratannya yaitu: penyerahan kota Yerusalem dilakukan dengan jalan damai, pasukan Byzantium dibiarkan menuju Mesir, dan terakhir yaitu Khalifah Umar bin Khattab sendirilah yang harus datang menerima kunci kota Yerusalem. Abu Ubaidah yang menerima utusan gereja kemudian menyanggupi persyaratan tersebut.

Umar bin Khattab yang mengetahui persyaratan ini kemudian segera menuju Yerusalem. Uskup Sophronius dan warga kota Yerusalem yang menantikan kehadiran sang khalifah mengira bahwa pemimpin Islam itu pastilah datang disertai dengan sekelompok pasukan kuda dan juga iring-iringan selayaknya raja-raja pada masa itu.

Namun rupanya mereka salah. Dari kejauhan yang terlihat hanya dua orang pria bersama dengan seekor unta. Salah seorang naik di atas punggung unta sementara yang satunya lagi berjalan di sampingnya. Rupanya itulah Umar bin Khattab. Ia datang bersama dengan seorang pengawalnya. Dalam perjalanan itu keduanya bergantian naik ke atas punggung unta. Nah, saat akan tiba di pintu gerbang kota Yerusalem, Umar bin Khattab kebetulan sedang berjalan di bawah dan pengawalnya yang berada di atas punggung unta.



Melihat hal ini, Uskup Sophrinius terkejut. Pria dengan pakaian sederhana dan tampak lusush dengan perbekalan seadanya itu ternyata adalah khalifah yang berkuasa hingga ke tanah Mesir. Maka makin kagumlah Uskup dan rakyat Yerusalem.

Setelah kunci kota Yerusalem diserahkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Uskup lalu mengajak berkeliling kota. Saat waktu salat tiba, Uskup mempersilahkan Umar untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchr). Namun Umar menolaknya. Ia tak ingin membahayakan gereja tersebut. Umar lalu salat di luar gereja dan 55 tahun kemudian didirikan Masjid Umar bin Khattab tepat di tempat Umar salat. Jadi lokasi gereja itu saat ini dan Masjid Umar saling berhadapan.

Masjid Umar bin Khattab

Pembebasan Yerusalem oleh Umar bin Khattab tercatat dalam sejarah sebagai penaklukkan yang dilakukan tanpa pertumpahan darah. Padahal hanya 23 tahun sebelumnya wilayah Yerusalem pernah jatuh ke angan Persia. Saat itu di sana terjadi pembantaian besar-besaran terhadap rakyat Yerusalem.

Gereja dan masjid yang berdekatan, simbol toleransi di Yerusalem

Umar bin Khattab juga memerintahkan pembersihan terhadap batu tapak Nabi Muhammad S.A.W pada saat peristiwa Isra' Mi'raj yang berada di bawah tumpukan sampah. Saat ini di atas batu itu berdiri kubah batu yang dikenal juga dengan nama Qubah Sakhrah atau Dome of Rock yang dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Khattab
https://kisahmuslim.com/3825-pembebasan-jerusalem-di-masa-umar-bin-khattab.html
https://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/12/10/p0qkh8440-yerusalem-dan-pesan-kebajikan-umar-bin-khattab

0 Response to "Kisah Umar bin Khattab dan Pembebasan Yerusalem"

Posting Komentar