Kasus Isidor Fink, Misteri Pembunuhan di Ruang Tertutup




Seorang pria pemilik usaha laundry di New York ditemukan tewas dengan tiga luka tembakan di tubuhnya. Namun anehnya tidak ada harta benda yang hilang, bahkan senjata pembunuh berikut selongsong pelurunya tak pernah ditemukan. Dan yang lebih anehnya lagi peristiwa pembunuhan itu terjadi di ruangan tertutup!

Kisah di atas bukanlah bagian dari cerita detektif conan ataupun novel Sherlock Holmes. Kasus pembunuhan ini, yang kemudian dijuluki dengan "kasus pembunuhan yang sempurna", memang benar-benar pernah terjadi di sebuah apartemen di New York, Amerika Serikat.

Isidor Fink adalah seorang pria berusia sekitar 30an tahun yang pindah dari kampung halamannya di Galacia, Polandia dan pergi mengadu nasib di Amerika. Di Amerika ia kemudian menetap di kota New York dan bekerja sebagai karyawan Laundry. Ia bekerja hingga 10 tahun lamanya demi mengumpulkan uang dan memulai bisnisnya sendiri.

Di kota itu ia menyewa sebuah rumah di wilayah 4 est 132nd street yang juga sekaligus sebagai tempat usahanya. Bisnis laundry-nya yang bernama Fifth Aveue Laundry mengalami kemajuan pesat. Meskipun begitu, Fink tak sembarangan memasukkan orang ke dalam tokonya. Hanya pelanggan-pelanggan yang benar-benar sudah ia kenal dengan baiklah yang diperbolehkan masuk. Sementara itu pada hari-hari biasa, ia kerap mengunci pintu rumahnya karena alasan keamanan. Saat itu di wilayah tersebut memang kerap terjadi kasus kriminal. Jadi untuk berjaga-jaga, Fink selalu mengunci pintu, bahkan ketika ia berada di dalam rumah.



Hari itu tanggal 9 Maret 1929. Isidore Fink baru saja kembali ke tempat tinggalnya di sebuah apartemen yang merangkap pula sebagai tempat bisnis laundry-nya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.15 malam. Fink baru saja pulang dari mengantarkan binatu-binatu kepada para pelanggannya, seperti biasa yang ia lakukan.

Namun malam itu terdapat keanehan. Hanya berselang 15 menit setelah Fink pulang, tetangganya yang bernama Mrs. Locklin Smith mendengar adanya keributan dari dalam rumah Fink. Keributan itu seperti suara orang yang berkelahi.

Mrs. Smith bergegas ingin memeriksa ke rumah Fink apa yang sebenarnya terjadi. Namun pintu rumah itu terkunci dari dalam. Saat itu suara keributan tak lagi terdengar. Karena takut, Mrs. Smith kemudian meminta tolong seorang polisi yang sedang patroli tak jauh dari sana bernama Albert Kattenborn.

Kattenborn segera memeriksa ruangan yang dilaporkan Mrs.Smith. Setibanya di sana ia mengetuk pintu dan mulai memanggil-manggil sang pemilik rumah. Namun tak ada jawaban. Pintu serta jendela-jendela juga semua terkunci dari dalam. Kattenborn kemudian melihat ke atas daun pintu di mana terdapat jendela transome (jendela kecil di atas pintu) yang kebetulan terbuka karena engselnya rusak. Namun jendela itu ukurannya sangat kecil. Hanya tubuh anak-anak yang dapat melewatinya.

Transome, jendela kecil yang berada di atas pintu

Maka Kattenborn pun meminta tolong pada seorang anak yang berpostur kecil untuk menyelinap ke dalam ruangan dan membukakan kunci. Begitu pintu terbuka, mereka mendapati Fink telah terkapar di lantai tak lagi bernyawa. Di tubuhnya ditemukan tiga luka tembakan. Satu luka di pergelangan tangan dan dua lainnya di bagian dada.

Awalnya pihak penyidik menduga bahwa Fink telah bunuh diri. Namun fakta yang diemukan di lapangan seolah membantah teori tersebut. 

Pertama tak ditemukan sama sekali baik senjata pembunuh yang diperkirakan adalah pistol. Selongsong peluru juga menghilang. Bagaimana mungkin orang yang akan bunuh diri masih sempat membuang senjata yang digunakannya. Maka teori ini menjadi tak masuk akal.

Maka teori pembunuhan menjadi satu-satunya kemungkinan. Namun kemudian apa motif pembunuh menghabisi nyawa Fink? Apakah uang? Namun anehnya tak ada barang berharga yang hilang dari ruangan itu. Bahkan uang-uang Fink masih tetap utuh.

Lagi pula menurut pemilik rumah tersebut, Max Schwartz, Isidore Fink adalah pribadi yang baik dan tenang meskipun kadang ia terlihat seringkali menyendiri. Namun ia tak pernah bermasalah dengan siapa pun di lingkungan itu. Ia juga diketahui tak memiliki musuh. Lalu apakah motifnya wanita? Menurut keterangan Schwartz dan tetangga sekitar Fink, mereka mengatakan Fink bahkan sedang tak memiliki hubungan khusus dengan wanita tertentu. Lalu apa motifnya? Inilah yang membuat polisi tampak kebingungan.

Sementara itu, bila memang itu pembunuhan lalu bagaimana si pelaku melakukan pembunuhan yang begitu sempurna? Perlu diketahui bahwa hanya ada sedikit darah yang tercecer di koridor dan satu-satunya sidik jari yang ditemukan di ruangan adalah sidik jari milik Fink. Selain itu pula senjata pembunuh dan selongsong peluru sama sekali tak ditemukan, justru yang ditemukan adalah bubuk mesiu dan bekas luka terbakar di pergelangan tangan Fink yang ditembak. Ini artinya penembakan tersebut memang dilakukan dari jarak sangat dekat. Tetapi bagaimana caranya?

Kasus ini mendapatkan perhatian luas publik saat itu dan menjadi berita hangat yang dimuat oleh The New York Times tertanggal 10 dan 11 Maret 1929.

Sebuah teori yang mencoba memecahkan misteri pembunuhan ruang tertutup ini dikemukakan oleh The New York Medical Examines. Jadi menurut teori ini, Fink pulang ke rumahnya malam itu melalui pintu samping yang terhubung dengan koridor. Begitu pintu terbuka, seseorang telah mengancamnya dengan pistol. 

Saat itulah Fink melawan dan terjadi perkelahian seperti yang didengar tetangganya. Lalu pada waktu mencoba merebut pistol, tangan Fink tertembak. Ia mundur lalu sang pelaku menembaknya dua kali di bagian dada. Itulah mengapa darah ditemukan di koridor. Namun setelah ditembak, Fink justru masuk ke dalam rumahnya dan menguncinya. Tanpa disadarinya ia telah menciptakan pembunuhan di ruang tertutup.

Namun banyak yang tak menyetujui teori ini. Pasalnya setelah tertembak hingga dua kali di bagian dada, seharusnya Fink tak sempat lagi masuk ke dalam rumah apalagi sampai repot-repot menguncinya.

Begitu anehnya kasus ini bahkan komisaris kepolisian New York City saat itu, Edward P. Mulrooney dalam sebuah wawancara radio sampai menyebut kasus ini sebagai "insoluble mystery" atau misteri yang tak dapat dipecahkan.

Edward P. Mulrooney

Namun ada sebuah teori yang menarik dari blog ArzaMisteri. Menurutnya, Fink dan pelaku berbicara di dalam ruangan di mana saat itu Fink berbicara sambil mengerjakan aktivitasnya. Lalu begitu si pelaku akan pergi, mungkin Fink mengatakan sesuatu yang menyulut emosi sang pelaku. 

Lalu siapa pelakunya? Bisa jadi pelanggan Fink atau orang bayaran. Dan menariknya orang yang dicurigai sebagai tersangka tak lain adalah polisi patroli bernama Albert Kattenborn yang diminta oleh Mrs. Smith untuk memeriksa rumah Fink. Apa alasannya? Rupanya karena saat tak dapat membuka pintu, Kattenborn malah meminta tolong seorang anak untuk masuk lewat jendela transome, bukannya mendobrak pintu seperti yang lazim dilakukan orang pada umumnya. Diduga Kattenborn khawatir Fink masih hidup dan mampu mengenalinya. Maka ia menyuruh anak kecil masuk ke dalam ruangan itu untuk memastikan.

Lalu apa motifnya melakukan hal tersebut? Masih menurut blog ini, bisa jadi karena Fink menemukan sesuatu saat melaundry pakaian kliennya. Bisa jadi itu sebuah benda yang bisa membuktikan kejahatan seseorang, perselingkuhan, atau sesuatu yang dapat digunakan untuk memeras seseorang. Jadi sang pelaku merasa terancam dengan hal itu.

Bagaimana menurut kalian?

Referensi :

http://arzamkryp.blogspot.com/2017/07/kasus-isidore-finkmisteri-pembunuhan.html
https://the-line-up.com/isidor-fink

0 Response to "Kasus Isidor Fink, Misteri Pembunuhan di Ruang Tertutup"

Posting Komentar