Siapa Sebenarnya Snouck Hurgronje?




Selama puluhan tahun, Belanda terus menghadapi kegagalan dalam menaklukkan wilayah Aceh yang terkenal akan perlawanan sengitnya. Hingga pada tahun 1904 akhirnya Kesultanan Aceh menyerah, meskipun pada saat itu rakyat masih terus bergerilya. Salah satu penyebab berakhirnya perang tersebut rupanya adalah upaya seorang pria bernama Snouck Hurgronje yang berhasil menyelinap ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, mempelajari Islam, hingga mendekati para ulama. Siapa sebenarnya sosok Snouck Hurgronje ini?

Snouck Hurgronje
adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Pria asal Belanda yang pernah melakukan kunjungan misterius ke Mekah dan Aceh ini adalah seorang orientalis, penasehat pemerintah Hindia Belanda, sekaligus mata-mata yang mengaku telah memeluk agama Islam dan membaur dengan rakyat Aceh.

Dalam berbagai referensi, Snouck Hurgronje menggunakan pengetahuannya tentang agama Islam dan budaya masyarakat Aceh setempat dengan tujuan untuk menghancurkan perlawanan rakyat Aceh yang terkenal gigih daam mengusir penjajah yang datang ke tanah mereka. Pria inilah yang kemudian meninggalkan berbagai warisan yang berhasil melemahkan dan memecah belah umat muslim di Nusantara bahkan hingga hari ini.


Siapa Sebenarnya Snouck Hurgronje?




Christian Snouck Hurgronje lahir di Tholen, Oosterhout, pada 8 Februari 1857. Ia merupakan mahasiswa jurusan Teologi di Universitas Leiden pada tahun 1874. Enam tahun kemudian dirinya memperoleh gelar doktor dengan disertasi berjudul "Het Mekkaansche Feest" (Perayaan Mekah).

Hurgronje belajar berbahasa Arab dan giat mempelajari Islam kepada MJ de Goeje yang membantunya dalam penyusunan disertasi. Setahun kemudian yaitu tahun 1881, Hurgronje menjadi profesor di sebuah Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden.

Pada tahun 1883, ada sebuah konferensi orientalis (ahli ketimuran) yang digelar di Leiden yang diikuti oleh Hurgronje. Pada saat yang sama datang pula ke acara itu seorang pria penjual manuskrip bernama Amin Al-Madani Al-Hawani. Selepas dari acara itu keduanya diketahui masih terus berhubungan lewat surat menyurat. Lewat Amin Al-Madani Al-Hawani inilah, pintu masuk awal Hurgronje ke dalam dunia Islam.


Berhasil Masuk ke Mekah

Pada tahun 1884 dimulailah petualangan sarjana Belanda budaya oriental ini ke dalam dunia Islam. Ditemani seorang konsul Belanda bernama Kruyt, dirinya berangkat ke Jedah. Di sana dirinya berhasil melalui mediasi gubernur Ottoman dan juga lolos pemeriksaan yang dilakukan delegasi ulama dari Mekah tahun 1884. Tepat pada tanggal 21 Januari 1885, Snouck Hurgronje berhasil menginjakkan kakinya di tanah suci Mekah.

Di Mekah ia berpura-pura telah menjadi seorang muslim dan memakai nama Haji Abdul Gaffur. Dengan bermodalkan pengetahuan tentang Islam yang telah dipelajarinya saat masih di Belanda dan juga bahasa Arab yang fasih, dirinya bebas menjalin pertemanan dengan masyarakat di sana. Ia juga berhasil meyakinkan orang-orang dengan sikapnya yang ramah serta kecerdasannya yang sekaligus menjadi modalnya untuk cepat disenangi oleh para ulama.

Potret jemaah haji yang berada di Mekah yang diambil Snouck Hurgronje

Di Mekah itu dirinya bertemu dan bersahabat dengan banyak orang pribumi, khususnya orang Aceh. Ia tak hanya menjalin persahabatan yang erat dengan mereka, namun juga membangun kepercayaan. Namun sejatinya keislaman Hurgronje hanyalah kepura-puraan belaka. Hal ini diketahui dari surat yang dikirimkannya kepada seorang teman kuliahnya di Leiden dulu, Carl Bezold tertanggal 18 Februari 1886. Surat itu hingga kini berada di Perpustakaan Universitas Heidelberg.

Hurgronje diketahui menetap di Mekah selama sekitar 6,5 bulan dan berhasil memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk mempelajari budaya Islam dan menjalin hubungan baik dengan orang pribumi. Ia juga mendatangi majelis-majelis dan dekat dengan beberapa ulama dari Indonesia yang berada di sana. Kedekatan inilah yang kemudian membukakan jalan untuknya untuk dapat mengunjungi Aceh yang saat itu tengah berjuang mengusir penjajah Belanda.


Siasat Licik Snouck Hurgronje Mengobok-Obok Islam

Pertempuran antara Kesultanan Aceh dengan Belanda telah dimulai pada 26 Maret 1873 saat meriam Belanda diletuskan dari kapal Citadel van Antwerpen. Situasi Aceh memanas. Rakyat di bawah kesultanan Aceh saat itu bersiap mengusir pasukan Belanda. Tanggal 5 April 1873 Belanda berhasil mendarat pertama kali di Pante Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler.



Nama-nama pahlawan Aceh seperti Panglima Polim, Teungku Chik di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, hingga Cut Nyak Meutia adalah deretan tokoh-tokoh yang memimpin rakyat Aceh berjuang mengusir pasukan Belanda. Selama puluhan tahun pula Belanda selalu gagal menguasai Aceh karena strategi gerilya yang gigih dilakukan pejuangnya.

Belanda mendapatkan perlawanan sengit dari raja-raja Islam, para guru dan ulama di tanah Aceh. Padahal saat itu hampir seluruh wilayah Nusantara berhasil dikuasai Belanda. Hanya wilayah Aceh inilah tampaknya Belanda mengalami kesulitan hingga harus berperang selama puluhan tahun.

Di tengah buntunya usaha Belanda dalam menaklukkan Aceh itulah, datang Snouck Hurgronje yang kemudian menjadi penasehat J.B. van Heutsz, pemimpin Belanda di Aceh saat itu. Saat itu Belanda memang belum banyak menguasai masalah Islam dan juga kebudayaan penduduk di sana. Nah, di sinilah peran Hurgronje bermain. Ia berbaur di tengah masyarakat Aceh dan menjadi mata-mata. Ia mempelajari budaya lokal setempat dan menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk menarik simpati penduduk lokal.



Snouck Hurgronje melakukan semua itu sambil terus mencari celah untuk menghancurkan perlawanan rakya Aceh. Berkat Hurgronje lah akhirnya perlawanan rakyat Aceh kemudian berhasil diredam sekaligus mengakhiri perang antara kesultanan Aceh dengan Belanda yang telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Di samping itu pula, dirinya berhasil menemukan cara untuk menghadapi Islam di Nusantara.

Selama di Aceh, Hurgronje mengamati dan meneliti secara langsung pola pikir penduduk lokal, bagaimana cara mereka bergaul, dan apa kekuatan sekaligus kelemahan mereka yang tak dapat dibongkar Belanda melalui pertempuran-pertempurannya.



Sekarang kita berhenti sejenak. Coba pikirkan bagaimana tanggapan penduduk Aceh saat itu terhadap kedatangan Snouck Hurgronje yang merupakan orang Belanda asli? Padahal saat itu hubungan Aceh dengan Belanda tengah memanas? Bagaimana kemudian ia juga mendapatkan kepercayaan masyarakat setempat, berhasil mendekati para ulama bahkan hingga mempengaruhi beberapa keputusan dan fatwa?

Baiklah, ini dia kehebatan taktik dan siasat pria yang ditunjuk sebagai penasehat Kantor Urusan Orang Pribumi dan Arab (Kantoor voorInlandsche Zaken) ini. Ia tidak serta merta menjadi pendukung rakyat Aceh melawan penjajah. Siasat yang dilakukan Snouck Hurgronje benar-benar halus. Ia mengajak rakyat Aceh agar lebih memperbanyak ibadah dibanding berperang. Ia juga mengatakan bahwa sebaiknya kepentingan agama dijauhkan dari kepentingan politik, khususnya soal peperangan di Aceh. Para ulama sebaiknya tidak mencampuri urusan politik, cukup mengurusi urusan keagamaan saja. Terkesan mendamaikan, namun sebenarnya menghancurkan.

Snouck Hurgronje

Ia kemudian berhasil mengobok-obok Islam di Aceh dan menjadikan wilayah itu takluk di bawah kekuasaan Belanda. Ia juga menuliskan lebih dari 1.400 makalah tentang situasi di tanah Aceh dan posisi Islam di Hindia Belanda yang kemudian segera tersebar luas dan menjadi pengetahuan umum bagi Belanda untuk menguasai Nusantara.

Setelah pergi dari tanah Aceh, Snouck diketahui mengunjungi Jawa Barat dan menikahi seorang wanita bernama Sangkana yang merupakan puteri Raden Haji Muhammad Taik, seorang penghulu di Ciamis pada tahun 1890. Dari pernikahan tersebut ia memperoleh 4 orang anak. Sangkana meninggal saat keguguran anak kelima.

Hanya berselang satu setengah tahun kemudian, Snouck menikah lagi dengan Siti Sadiah, puteri Kalipah Apo, seorang wakil penghulu di Bandung. Dari pernikahan ini ia memperoleh seorang anak. Diketahui kemudian Snouck kembali ke Belanda dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita puteri pensiunan pendeta yang bernama Ida Maria pada tahun 1910.



Snouck Hurgronje menetap di Belanda hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia di Laiden pada tanggal 26 Juni 1936 di usia 79 tahun.


Warisan dan Penyesatan Sejarah oleh Snouck Hurgronje




Warisan Snouck Hurgronje masih dipakai hingga saat ini. Ia berhasil menyesatkan fakta sejarah. Salah satunya adalah mengenai kedatangan islam ke Nusantara. Jika kalian pernah mendapatkan pelajaran sejarah yang mengatakan bahwa Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke 14 Masehi dibawa oleh para pedagang Gujarat, maka itu adalah Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje.

Faktanya adalah, Islam masuk ke Nusantara jauh sebelum itu yaitu pada awal abad ke 7 Masehi yaitu pada masa Nabi Muhammad dan para sahabat. Teori ini dikemukakan oleh Buya Hamka yang disebut juga dengan Teori Mekah.

Islam masuk ke Nusantara pada awal abad ke 7, kemudian terjadi penyebaran-penyebaran sampai akhirnya berdirilah kerajaan Islam, Samudera Pasai pada abad ke 13. Jadi sangat tidak mungkin jika Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke 14 seperti teori yang dikemukakan oleh Snouck.

Sementara itu warisan yang ditinggalkan oleh Snouck yang masih dipercayai hingga hari ini adalah bahwa agama harus dijauhkan dari politik. Ulama, santri, dan juga guru-guru agama tidak boleh berpolitik dan siasat ini berhasil menjinakkan islam politik bahkan hingga hari ini.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Christiaan_Snouck_Hurgronje
https://www.kompasiana.com/chaerolriezal/59d2267e7a70f10c99115f32/aceh-mekkah-kedua-dan-misi-terselubung-snouck-hurgronje
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/11/27/149078-pelajari-islam-di-makkah-snouck-hurgronje-berpura-pura-menjadi-mualaf-


0 Response to "Siapa Sebenarnya Snouck Hurgronje?"

Posting Komentar