Burung Ababil yang Membawa Batu Sijjil




Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
(Q.S Al-Fiil :3-5)


Salah satu peristiwa bersejarah yang tercatat dalam Al-Quran adalah peristiwa penyerangan Mekkah  yang dilakukan oleh puluhan ribu tentara dan pasukan bergajah. Penyerangan ini dipimpin oleh Abraha, penguasa Yaman ini terjadi pada Muharram 570 Masehi atau dikenal juga dengan tahun Gajah, tahun kelahiran Nabi Muhammad S.A.W

Abraha Al-Ashram adalah seorang jendral yang dikirim oleh Raja Kaleb dari Kerajaan Aksumite. Abraha adalah penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah (sekarang Ethiopia). Setelah menguasai Yaman, rupanya Abraha ingin memperluas wilayah kekuasaannya hingga tanah Arab. Salah satu wilayah yang menjadi targetnya adalah Mekkah. Abraha berencana untuk menghancurkan Ka'bah.

Saat memasuki Mekkah, ia merampas harta benda kaum Quraisy, termasuk di dalamnya 200 ekor unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah.

Setelah menguasai Mekkah, ia lalu mengutus seorang anak buahnya yang bernama Hunata Al-Hiyari untuk menanyakan siapa pimpinan Quraisy saat itu dan menyatakan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Utusan itu juga mengatakan agar penduduk Mekkah mengalihkan kiblat ibadah haji ke Sana'a, Yaman.

Perkataan Abraha rupanya tak diindahkan oleh penduduk Mekkah. Abraha kemudian menyiapkan pasukan dan bala tentara dalam jumlah yang sangat besar. Pasukan Abraha berhasil menduduki Mekkah pada bulan Muharam tahun 570 Masehi. Sebanyak 60.000 bala tentara beserta ratusan pasukan gajah masuk ke Mekkah , sementara itu Abdul Muthalib yang juga merupakan pemimpin kaum Quraisy memerintahkan penduduk untuk meninggalkan Mekkah setelah sebelumnya upaya menghalangi penyerangan terhadap Mekkah gagal dilakukan.

Pada saat itulah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan Mekkah. Sekumpulan burung tiba-tiba datang entah dari mana menghitamkan langit Mekkah saat itu. Burung-burung serupa pipit yang dikenal dengan Burung Ababil ini datang dalam jumlah sangat besar membawa serta masing-masing 3 buah batu yang berada di paruh dan kedua kakinya. Batu-batu tersebut bernama Batu Sijjil.

Ilustrasi kawanan burung Ababil yang membawa batu Sijjil

Seperti apakah batu Sijjil itu? Menurut Ibnu Abbas dan beberapa ahli tafsir, batu Sijjil adalah batu yang berasal dari tanah yang mengeras. Menurut Naufal ibn Abi Mu'awiyah, batu Sijjil menyerupai biji kacang kecil dengan permukaan berwarna merah.  Sementara ahli tafsir seperti Said bin Abi Hilal mengatakan bahwa batu Sijjil merupakan batu yang berasal dari langit.

Sementara itu ada pula yang meyakini bahwa batu Sijjil sebenarnya adalah batu meteor dari komet yang meledak. Diperkirakan batu ini memiliki diameter 10 meter dengan kekuatan 0,06 kiloton TNT dan melesat dengan kecepatan 300 meter/detik dan setiap orang rata-rata dihantam dengan 62 buah batu Sijjil.Bisa dibayangkan jika batu yang dikatakan sangat panas itu menembus tubuh bala tentara Abraha. Maka tak heran bila Al-Quran memberikan perumpamaan seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Namun untuk bentuknya maupun deskripsi Batu Sijjil ini Wallahua'lam, hanya Allah yang tahu. 

Peristiwa maha dahsyat yang terjadi tepatnya di Wadi Muhassir, sebuah lembah di kawasan antara Mina dan Muzdalifah ini diabadikan dalam Al-Qurat Surat Al-Fiil ayat 1-5.

Lokasi Wadi Muhassir

Sementara itu Burung Ababil, menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra. memiliki paruh yang menyerupai burung, kepala seperti burung pemangsa, dan cakar seperti cakar anjing. Kawanan burung-burung tersebut datang dari arah Laut Merah dengan membawa batu di paruh dan kedua cakarnya.

Pada tahun 2012 lalu, seorang pria Arab Saudi mengaku telah menemukan sisa artefak batu Sijjil. Pria bernama Saleh Musfer Al-Gamdi itu mengklaim telah menemukan batu Sijjil di Wadi Jarab, Provinsi Al-Aqiq, Saudi Arabia. Batu yang diperkirakan berumur 1.442 tahun dengan berat 131 gram itu memiliki permukaan yang bergambar kawanan burung dan gajah. 



Namun sayangnya sang pemilik, Saleh Musfer Al-Gamdi enggan menunjukkan batu tersebut untuk dapat diteliti lebih lanjut. Ia hanya bersedia memperlihatkan foto batu tersebut. Tak ayal batu itu membuat penasaran banyak orang. Bahkan menurut sebuah sumber batu tersebut sudah ditawar oleh sebuah lembaga di Mesir seharga US$4 juta. Namun tampaknya ia enggan menjualnya.


0 Response to "Burung Ababil yang Membawa Batu Sijjil"

Posting Komentar