Sejarah Kelam Eksperimen Senjata Biologi di Unit 731




Entah kebencian seperti apa, perebutan kekuasaan sebesar apa, yang mampu membuat manusia tanpa belas kasihan menyakiti, menyiksa, hingga membunuh sesamanya 
dengan begitu biadab...


Warning : Mohon maaf artikel ini mengandung deskripsi dan gambar yang kurang menyenangkan

Pada akhir masa Perang Dunia I, Jepang menderita kekalahan besar. Kekalahan ini bukan hanya memporak-porandakan negara ini secara finansial, namun juga kehormatan dan harga diri. Maka, pasca kekalahan tersebut, mereka mengobarkan semangat bushido yang kelak dibawa pada Perang Dunia ke II.

Jumlah pasukan Jepang yang tidak begitu besar membuat mereka harus memutar otak. Pasalnya mereka ingin menaklukkan negara-negara utamanya kawasan Asia Timur dengan wilayah dan juga penduduk yang besar. Belum lagi sumber daya alam mereka yang terbatas membuat Jepang merasa perlu untuk melakukan penjajahan yang lebih kejam, agar bangsa yang dijajah tersebut tak berani melakukan perlawanan.

Salah satu bentuk kekejaman itu berada di Unit 731. Unit 731 adalah sebuah unit rahasia yang digunakan untuk pengembangan senjata biologi. Unit ini berkantor pusat di pinggiran kota Harbin dan cabangnya berada di Manchuria. Unit 731 ini merupakan sebuah kompleks laboratorium raksasa dengan 150 gedung yang menampung sebanyak 3000 orang ilmuwan dan teknisi.

Museum Unit 731 saat ini

Tempat ini beroperasi tahun 1937-1945 dan pernah dilakukan penutupan pada tahun 1934, di mana pada saat itu sebanyak 12 orang tawanan yang berada di dalamnya berhasil melarikan diri, dan pasukan China berhasil melakukan penyerangan.

Unit 731 dibuka kembali pada tahun 1936 dan pernah berganti nama menjadi Departemen Pencegahan Epidemik (Unit Ishii), dan tahun 1940 diubah lagi menjadi Departemen Pencegahan Epidemik dan Purifikasi Air. Dan pada akhirnya berganti nama menjadi Unit 731 pada tahun 1941.

Lokasi Unit 731

Sebelum bernama Unit 731, unit rahasia ini awalnya dipimpin oleh Mayor Teronobu Hasebe bersama dengan 40 orang ilmuwan lainnya. Namun rupanya proyek itu tak mengalami kemajuan berarti selama bertahun-tahun. Hingga pada akhirnya Jepang menemukan seorang ahli bedah bernama Shiro Ishii.

Shiro Ishii adalah seorang dokter ahli bedah lulusan Kyoto University tahun 1920. Sebelumnya ia pernah bekerja selama 4 tahun di departemen penelitian Angkatan Darat Jepang sebagai peneliti senjata biologi, setelah kemudian Jepang tertarik akan kemampuan Ishii dan memintanya untuk mempelajari lebih jauh mengenai bakteriologi di Universitas tersebut.

Ishii lulus pada tahun 1927 dengan menyandang gelar PhD. Bukan hanya itu saja, iajuga menikahi seorang wanita yang tak lain adalah putri dari presiden Kyoto University. Pada tahun 1932, Shiro mendirikan sebuah laboratorium yang khusus menangani pencegahan epidemik di sekolah medis militer Unit Togo yang berlokasi di dekat Harbin.

Keberhasilannya dalam eksperimen pencegahan epidemik membuat kagum Jepang yang segera menunjuknya menjadi pemimpin di Unit 731. Penunjukan ini dilakukan langsung oleh seorang Jendral bernama Masaji Kitano.

Namun tak ada yang mengetahui bahwa pria berkacamata itu begitu terobsesi untuk melakukan eksperimen pada manusia. Maka begitu mendapatkan kepercayaan menjabat sebagai pimpinan di Unit 731, maka dimulailah mimpi buruk bagi penduduk Harbin yang bahkan membuat saya tak mampu berkata-kata. Menulis artikel ini sungguh-sungguh berat.

Shiro Ishii

Unit 731 di bawah komando Shiro Ishii melakukan eksperimen tak manusiawi. Mereka menggunakan para tawanan yang tak lain adalah penduduk untuk dijadikan sebagai bahan percobaan. Tak ada seorang pun juga yang dikabarkan selamat atau berhasil menyelamatkan diri begitu mereka masuk ke dalam tempat ini.

Mereka bukan hanya mengambil tahanan pria-pria dewasa, korbannya bahkan mencakup wanita, anak-anak, hingga bayi-bayi tak lepas dari kebrutalan.

Korban dari usia bayi dan balita

Beberapa dokter melakukan pengembangbiakan bakteri atau virus tertentu pada organ tubuh manusia lalu menyebarkannya ke warga desa. Mereka juga melakukan eksperimen dengan gas beracun serta menginfeksi tawanan perang dengan berbagai virus penyakit seperti antrax, pes, kolera, wabah demam berdarah, hingga penyakit seksual.

Eksperimen yang dilakukan di Unit 731

Sekelompok pria dibawa ke tempat dengan suhu sangat dingin untuk melakukan eksperimen pembekuan manusia untuk kemudian jasad-jasad itu dicairkan. Tak hanya itu saja, darah binatang ditransfusikan ke dalam tubuh manusia untuk melihat reaksinya. Bahkan ada sebuah eksperimen di mana mereka mengeluarkan bola mata dan memecahkannya.

Eksperimen radang dingin

Beberapa tawanan dikubur hidup-hidup. Sebagiannya lagi menjalani pembedahan dan pemotongan anggota tubuh dalam kondisi sadar tanpa anastesi sama sekali. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan dan kesakitan luar biasa yang dialami oleh penduduk saat itu. Jeritan ketakutan, pilu, dan kesakitan yang amat sangat terdengar di segala penjuru. Namun eksperimen tak berperikemanusiaan itu terus dilakukan. Tubuh-tubuh yang telah diamputasi atau pun diambil organnya itu kemudian dibuang atau dibakar.

Para tahanan dikubur hidup-hidup

Pembedahan tubuh saat korban masih hidup tanpa anastesi sama sekali

Selain eksperimen-eksperimen tersebut, mereka juga melakukan percobaan uji senjata. Para tahanan diikat di sebuah tiang dan kemudian ditusuk dengan bayonet atau dilempari granat, bahan peledak, dan api hingga tubuh-tubuh itu bahkan tak dapat lagi dikenali.

Korban yang dijadikan uji coba senjata

Tak kurang dari 200.000 penduduk China menjadi korban dari eksperimen yang dilakukan di Unit 731.



Pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II, seluruh gedung dan peralatan yang ada di Unit 731 dimusnahkan. Shiro Ishii dan para Jendral pergi ke Amerika Serikat menemui Jendral McArthur meminta perlindungan dan imunitas. Sebagai balas budi, mereka menjanjikan akan memberikan informasi mengenai pengembangan senjata biologi.

Pada Sepember 1947, Amerika menyetujui untuk tidak melakukan penuntutan kepada Jepang atas kejahatan perang yang telah mereka lakukan di Unit 731. Bukan hanya bebas, bahkan Ishii dan para jendral tersebut tetap menduduki jabatan tinggi di Jepang.

Publik Jepang sendiri rupanya tidak mengetahui perihal peristiwa ini hingga pada tahun 1981 saat seorang penulis bernama Seiichi Morimura mengekspos sejarah kelam dan memilukan ini ke dalam bukunya "The Devil's Gluttony".

Sebuah film bertajuk "Men Behind The Sun" dirilis di Hongkong tahun 1988 dibuat berdasarkan kisah nyata dari peristiwa bersejarah ini. Sebuah kalimat pembuka yang sangat menohok di awal film : "friendship is frienship, history is history".

Poster film "Men Behind The Sun"

Semoga sejarah kelam dan memilukan seperti ini tak akan pernah terulang lagi di mana pun di muka bumi ini.


0 Response to "Sejarah Kelam Eksperimen Senjata Biologi di Unit 731"

Posting Komentar