Sebuah Buku yang Membuat Indonesia Dijajah Selama 3,5 Abad




Pada akhir abad ke 16, Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman pertama kali datang ke Indonesia. Masuknya Belanda ke Indonesia ini adalah awal mula penjajahan yang berlangsung hingga 3,5 abad lamanya. Rupanya kedatangan de Houtman ke Indonesia adalah karena sebuah buku yang berisikan petunjuk pelayaran serta mengungkapkan sebuah tempat kaya raya akan sumber daya alam yang dahulunya disebut Hindia Timur dan sekarang bernama Indonesia.

Jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki mereka di tanah Nusantara, bangsa Portugis dan Spanyol rupanya telah lebih dulu tiba di Laut Banda, Maluku pada abad ke 15. Dua bangsa ini bertemu di wilayah yang sama setelah Paus Alexander VI sebelumnya membagi wilayah "Dunia Baru" kepada keduanya melalui mandat resmi kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas.

Paus Alexander VI dan Perjanjian Tordesillas

Dunia Baru yang dimaksudkan adalah Amerika, yang diberikan kepada Spanyol. Sedangkan Portugis diserahkan wilayah Afrika dan India. Setelah itu, Spanyol berlayar ke sebelah barat, sementara Portugis mulai melakukan ekspedisi ke jalur timur. Kedua bangsa ini kemudian akhirnya bertemu di Maluku, tepatnya Laut Banda.

Sekarang kita sedikit mundur ke belakang ke masa Perang Salib berlangsung. Semangat Perang Salib yang dikobarkan oleh Paus Urbanus II untuk merebut Yerusalem rupanya turut pula membuka mata bangsa Eropa dan memberikan pencerahan bahwa ada peradaban yang lebih maju daripada mereka. Bangsa Arab telah lebih dulu menjelajah dunia dan dikenal sebagai pedagang ulung yang dikenal oleh orang-rang lokal. Di nusantara sendiri para pedagang Arab telah mulai masuk sejak abad ke 8 dalam rangka perjalanan dagang mereka ke China.

Para pedagang Arab sudah mulai melakukan jual beli di Indonesia sejak abad ke 8

Nah, dari persinggungan saat Perang Salib inilah, bangsa Eropa menyadari bahwa ada wilayah di Selatan dunia yang kaya akan sumber daya alamnya dengan iklim yang sangat bersahabat. Mereka yang sebelumnya belum berani melayari samudera luas akhirnya mendapatkan ide untuk ekspedisi ke wilayah Selatan di bola dunia.

Kembali lagi ke pertemuan Spanyol dan Portugis di Laut Banda. Bayangkan dua kekuatan bangsa besar datang ke tanah yang sama. Pasti akan terjadi pertempuran untuk merebut kekuasaan di wilayah itu kan? Nah, untuk menghindari hal tersebut kedua bangsa ini kemudian membagi wilayah kekuasaan dengan membuat sebuah perjanjian yang bernama Perjanjian Saragossa pada 5 September 1494.

Pembagian wilayah dalam perjanjian Saragosa

Spanyol dan Portugis berhasil membawa banyak sekali rempah-rempah dan hasil bumi lainnya ke negara mereka masing-masing yang segera terdengar di seluruh daratan Eropa. Banyak yang kemudian berlomba-lomba untuk pergi ke wilayah selatan dunia sekaligus menyebarkan misi imperialisme yang dikenal dengan 3G, Gold, Glory, dan Gospel.

Namun bangsa-bangsa itu harus gigit jari karena belum ada peta perjalanan menuju ke wilayah itu yang kemudian dikenal dengan sebutan Hindia Timur. Orang-orang Portugis dan Spanyol yang telah lebih dulu sampai juga kompak tutup mulut merahasiakan peta yang berisikan jalur perjalana menuju wilayah Asia Tenggara karena tidak ingin wilayah makmur kaya raya itu jatuh pada bangsa lain. Peta itu segera menjadi perburuan di seluruh Eropa.

Namun rupanya kerahasiaan peta itu akhirnya bocor juga. Adalah seorang pelaut Belanda bernama Jan Huygen van Linschoten yang menjual rahasia ini melalui sebuah buku yang ditulisnya tahun 1595 bertajuk Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien atau Petunjuk Perjalanan ke Timur atau Hindia. Buku ini juga memuat peta serta deskripsi rinci tentang jalur pelayaran yang pernah dilakukan oleh Portugis hingga sampai ke Hindia Timur.

Jan Huygen van Linschoten dan bukunya Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien

Jan Huygen van Linschoten ternyata dahulunya pernah bekerja dalam waktu yang cukup lama bersama para pelaut Portugis. Maka tak heran ia mengetahui dengan sangat baik berbagai jalur pelayaran menuju Nusantara lengkap dengan detail peta.

Buku itu kemudian menyebar seantero Belanda. Para penguasa di negara itu berlomba-lomba mengirimkan kapal mereka berlayar menuju dunia selatan yang selama ini tak pernah mereka ketahui. Armada pertama yang berangkat dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1595. Houtman membawa serta 4 buah kapal, 249 orang awak, serta 64 meriam berangkat menuju Asia Tenggara.

Cornelis de Houtman

Pada Juni 1596 setelah berlayar selama kurang lebih 1 tahun, rombongan de Houtman tiba di Pelabuhan Banten yang saat itu adalah pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa. Houtman dikenal sebagai orang yang bengis dan sombong yang terkadang berlaku kasar pada orang pribumi. Ia segera saja tidak disukai dan memantik permusuhan dengan penduduk tempatnya singgah.

Kedatangan Houtman dan armadanya yang dianggap mengganggu akhirnya banyak menimbulkan perselisihan dan konflik. Akibatnya dalam ekspedisi pimpinan Houtman itu, Belanda harus kehilangan satu buah kapal dan hanya menyisakan 89 awak saja. Namun di tiga kapal yang tersisa itu, Houtman berhasil membawa rempah-rempah dan barang-barang berharga lainnya ke negara asalnya.

Kabar keberhasilan de Houtman kemudian dengan cepat menyebar di Belanda. Orang-orang Belanda berpikir jika armada yang dipimpin de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa begitu berhasil bagaimana bila mereka mengirimkan armada dengan kekuatan yang lebih besar dan mengirim orang yang lebih baik daripada de Houtman, mereka pasti akan mendapakan hasil yang jauh lebih besar.

Maka berlomba-lombalah orang-orang Belanda datang ke Hindia Timur dan menjajah hingga 3,5 abad lamanya. Cornelis de Houtman sendiri tewas pada 15 September 1599 dalam pertarungan satu lawan satu di atas kapal melawan salah satu pahlawan wanita Indonesia sekaligus laksamana wanita pertama di dunia, Keumalahayati atau Laksamana Malahayati.

Laksamana Malahayati


0 Response to "Sebuah Buku yang Membuat Indonesia Dijajah Selama 3,5 Abad "

Posting Komentar