Kisah James Sidis, Orang Paling Jenius Dalam Sejarah




Seorang wanita pemilik sebuah apartemen di Boston berteriak meminta tolong saat mendapati seorang penyewanya tak sadarkan diri. Laki-laki pengangguran yang menyewa kamar kecil itu tergeletak di dalam kamarnya seorang diri. Ia didiagnosis mengalami pendarahan otak yang parah. Nyawanya tak lagi dapat diselamatkan. Tak ada yang mengetahui bahwa pria miskin paruh baya tanpa pekerjaan tetap itu adalah manusia paling jenius yang pernah hidup di bumi!

Kalian pasti sangat familiar dengan nama-nama seperti Albert Einstein, Nikola Tesla, atau Stephen Hawking, sebagai orang-orang paling jenius di dunia. Namun sebenarnya ada satu nama yang luput dari pemberitaan dan jarang sekali terekspos. Namun orang ini sesungguhnya memiliki tingkat kejeniusan yang luar biasa. Bahkan ia dijuluki sebagai orang paling jenius yang pernah hidup di muka bumi. Namanya James Sidis.

William James Sidis lahir di New York pada tanggal 1 April 1898 dari pasangan Boris Sidis dan Sarah Madelbaum Sidis. Boris Sidis adalah seorang psikolog berdarah Yahudi yang bermigrasi dari Ukraina tahun 1887 karena ancaman persekusi. Boris dikenal sebagai seorang psikiaer yang telah menerbitkan berbagai artikel dan buku. Ia juga seorang polyglot yang kelak akan menurun pada William James Sidis. Sementara itu sang ibu, Sarah adalah lulusan dari Universitas Boston jurusan School of Medicine tahun 1897.

Boris Sidis

Nama William James sendiri diambil dari nama Bapak Baptis James Sidis yang merupakan rekan Boris Sidis dan juga filsuf Amerika terkenal bernama William James. 

Kejeniusan James Sidis sudah mulai terlihat dari usia yang masih sangat belia. Bayangkan saja saat masih berusia 18 bulan ia sudah melahap bacaan sekelas The New York Times. Pada usia belum genap 8 tahun ia sudah menguasai paling sedikit 8 bahasa yaitu Latin, Inggris, Jerman, Prancis, Yunani, Armenia, Turki, dan Yahudi. Pada usia 8 tahun ia sudah menyelesaikan beberapa tulisan mengenai anatomi tubuh manusia dan astronomi. Ia juga menulis buku "The Book of Vendergood" di tahun yang sama.

James Sidis 

Kejeniusan Sidis kemudian menyebar luas di Amerika melalui berbagai media cetak. Namanya kerap menghiasi koran-koran di sana. Tak ayal James Sidis kemudian terkenal sebagai anak jenius.




Sang ayah kemudian mendaftarkan Sidis masuk ke Universitas paling bergengsi, Harvard University saat usianya baru menginjak 9 tahun. Namun ditolak. Alasan pihak Universitas Harvard adalah tak ada anak seusia tersebut yang pernah diterima di sana. Dua tahun kemudian, akhirnya Harvard menerima James Sidis. Ia mencetak rekor sebagai mahasiswa termuda yang pernah diterima dalam sejarah Harvard. 

Surat kabar yang memberitakan James Sidis sebagai murid termuda di Universitas Harvard

Apalagi setelah mendengarkan bahasannya tentang "Four Dimensional Bodies" (Jasad Empat Dimensi) di hadapan para profesor matematika di sana. Bahkan salah seorang profesor yang begitu kagum padanya, Profesor Daniel F dari MIT mengatakan bahwa Sidis kelak akan menjadi ahli matematika terbaik di dunia.

James Sidis muda

Sidis memiliki IQ berkisar antara 250-300 dan menguasai 200 bahasa dunia. Ia disebut-sebut mampu menguasai sebuah bahasa hanya dalam waktu satu hari saja. Sidis juga dikenal menaruh minat yang besar pada beberapa bidang antara lain astronomi, matematika, kedokteran, hukum, bahasa, hingga mesin. Pada tanggal 18 Juni 1914 di usia 16 tahun, Sidis telah lulus sarjana Matematika dengan predikat cumlaude.

Setahun kemudian ia menerima tawaran pekerjaan sebagai asisten dosen. Di saat yang sama ia juga melanjutkan pendidikannya pada program doktor di William Marsch Rice pada Desember 1915. Ia juga tercatat sebagai mahasiswa di Harvard Law School pada September 1916. Namun kisah hidup Sidis tak semulus dan seindah yang dibayangkan banyak orang.

Perkuliahan Sidis sempat terbengkalai karena rupanya ada beberapa mahasiswa dan kakak kelasnya yang tak menyukainya dan kerap kali memberikan ancaman padanya. Ia juga keluar dari Harvard Law School pada Maret 1919. Sidis merasa sangat frustasi pada dirinya dan sistem belajar terutama yang diterapkan ayahnya sejak ia masih kanak-kanak.  Ayah James Sidis, Boris Sidis rupanya menjadikan putranya tersebut sebagai percobaan model pendidikan baru sebagai ketidakpuasannya pada sistem pendidikan konvensional. Boris tidak pernah menanyakan apakah James bahagia atau tidak dengan keputusannya. Ia hanya memenuhi ambisi pribadinya. Pada puncak rasa frustasinya, ia bahkan pernah mengatakan bahwa ia sangat membenci matematika. Ketidakpuasaan dan rasa putus asa akhirnya menghantarkan William James Sidis drop out dari kampusnya.

Pada tahun 1919, ia ditangkap pada sebuah demonstrasi besar-besaran Socialist May Day di Boston. Dalam demo itu ia menentang kebijakan wajib militer yang ditetapkan pemerintah menyusul meletusnya Perang Dunia I. James Sidis kemudian ditangkap dan ditahan selama 18 bulan. Penangkapan ini menjadi headline di mana-mana. Maklum, Sidis dikenal publik saat sebagai orang yang jenius. 



Tak memiliki teman atau pun kekasih serta hubungan keluarga yang buruk membuat James Sidis mengambil keputusan untuk pergi dan mengasingkan diri. Sebenarnya ia pernah bertemu dengan seorang wanita muda bernama Martha Foley pada tahun 1919 saat sama-sama berdemonstrasi pada Socialist May Day dan mengaku jatuh cinta padanya. Bisa jadi Foley adalah cinta pertama Sidis. Namun sepertinya tidak ada kisah cinta dalam hidupnya. Mengingatkan pada kisah hidup Nikola Tesla yang juga sama-sama tak tersentuh dengan kisah cinta yang berbunga-bunga seperti kebanyakan orang pada umumnya. 

Setelah menyelesaikan masa tahanannya, tahun 1921 Sidis diketahui pergi ke East Coast lalu kemudian bekerja membuat mesin-mesin di New York. Namun kemudian kabar tentangnya tak terdengar lagi. Sidis menghilang bak ditelan bumi.

Hingga pada suatu hari di musim panas Juli 1944 seorang pemilik apartemen kecil di kota Boston berteriak meminta tolong. Ia menemukan salah seorang penyewa tergeletak tak sadarkan diri di kamarnya. Orang itu tak lain adalah William James Sidis. Ia mengalami pendarahan otak yang parah dan tak tertolong lagi. Di dalam dompetnya terselip sebuah foto seorang wanita yang kemudian dikenali sebagai Martha Foley. Tanggal 17 Juli 1944 manusia jenius itu pergi untuk selama-lamanya.


0 Response to "Kisah James Sidis, Orang Paling Jenius Dalam Sejarah"

Posting Komentar