Kisah Zana dari T'khina




Sekelompok pemburu di Rusia menangkap makhluk yang menyerupai manusia dengan tubuh dipenuhi rambut di sebuah hutan. Makhluk berkelamin wanita ini rupanya cukup liar dan selalu menolak untuk berpakaian dan senang memanjat pohon. Sosok makhluk yang kemudian dikenal dengan nama Zana ini kemudian melahirkan beberapa anak yang benar-benar menyerupai manusia dan keturunannya menjalani kehidupan sebagaimana manusia normal.

Pada tahun 1850, sekelompok pemburu liar di Orchamcir, Georgia, Rusia sedang mencari mangsa tatkala mereka melihat ada sesosok makhluk yang menyerupai manusia namun dengan beberapa ciri fisik yang berbeda. Makhluk itu memiliki lengan, kaki, dan jari-jari yang lebih tebal dari manusia normal. Tubuhnya juga dipenuhi dengan rambut tebal dengan dada yang besar dan otot-otot yang kekar.

Makhluk berjenis kelamin betina ini kemudian ditangkap hidup-hidup oleh para pemburu. Mereka lalu membawanya ke sebuah desa di pegunungan yang terisolasi. Desa itu bernama T'khina yang terletak sekitar 50 mil dari Sukhuni. Di sana, ia diberikan pada seorang dermawan bernama Edgi Genaba yang kemudian merawatnya. Makhluk ini kemudian dinamai Zana.

Zana

Selama kurun waktu 3 tahun sejak pertama kali ditangkap, Zana hidup dalam sebuah kurungan. Orang-orang desa yang melihatnya terkadang harus menjauh karena khawatir makhluk ini akan mengamuk. Mereka juga biasanya memberi makan dengan cara melemparkannya dari jauh.

Seiring berjalannya waktu, Zana mulai tampak tak lagi buas. Ia pun berangsur mulai dipindahkan ke tanah lapang yang dikelilingi pagar. Hingga pada akhirnya Zana benar-benar dibiarkan hidup dengan bebas. Ia juga biasanya tidak akan pergi jauh-jauh dari tempat tinggalnya.

Lama kelamaan kemampuan Zana mulai meningkat. Ia mulai bisa diberikan tugas-tugas sederhana seperti menggiling jagung atau membawa kayu-kayu. Zana memiliki fisik yang sangat kuat jauh di atas manusia normal. Ia dapat berlari lebih cepat dari pada seekor kuda dan mampu mengangkut puluhan kilo gandum hanya dengan satu tangan berjalan naik turun menyusuri perbukitan.

Namun Zana sama sekali tak dapat berbicara seperti manusia. Ia hanya bisa meraung atau memekik tatkala marah. Saat sedang marah dan mengamuk, hanya Edgi Genaba yang dapat menghentikannya.

Zana memiliki kebiasaan suka mengaum di dalam hutan dan suka berendam di dalam air ketika musim panas. Zana sangat tidak suka panas, ia biasanya akan merobek pakaiannya saat ia merasa kepanasan. Ia lebih suka berjalan tanpa pakaian. Ia juga suka minum anggur hingga mabuk.

Mungkin karena situasi itulah, ia kemudian dilaporkan hamil. Meskipun begitu tak ada seorang pun penduduk desa yang mau mengakuinya. Zana dilaporkan melahirkan sendiri tanpa bantuan siapa pun. Malangnya, anak-anaknya biasanya akan langsung dimandikannya di sungai yang airnya sangat dingin yang membuat anak-anak Zana tak ada yang selamat.

Penduduk kemudian berinisiatif untuk menyelamatkan anak-anak Zana. Ada 4 anak Zana yang berhasil selamat, dua laki-laki dan dua perempuan. Anak laki-lakinya bernama Dzhanda (1878) dan Khwit (1884), anak perempuannya yaitu Kodzhanar (1880) dan Gamasa (1882).  Menurut sebuah rumor yang beredar, Khwit merupakan anak hasil hubungan Zana dengan Edgi Ganeba. 

Khwit, anak bungsu Zana

Khwit memiliki seorang anak laki-laki bernama Shaliqua yang meninggal karena dibunuh pada tahun 1950. Dari struktur wajah dan rupa, Shaliqua sudah terlihat sangat mirip manusia pada umumnya.

Shaliqua, anak laki-laki Khvit

Anak-anak Zana beserta seluruh keturunannya menjalani kehidupan normal layaknya manusia pada umumnya. Mereka juga mampu berkomunikasi dengan baik. Anak-anak Zana memiliki fisik kulit gelap, dan fisik yang lebih besar dan kuat. 

Zana meninggal dunia tahun 1890, sementara anak bungsunya, Khwit meninggal dunia tahun 1954. Pada tahun 1964, dua orang arkeolog Rusia yaitu Dmitri Bayanov dan VS Orelkin mencoba mencari tahu tentang keberadaan makam Zana. Mereka bermaksud menggali dan mengambil tulang dan tengkoraknya untuk penelitian. Namun mereka tak berhasil menemukan tulang belulang Zana. Yang berhasil mereka temukan adalah makam Khwit. Setelah dilakukan pembongkaran makam, tengkorak Khwit lalu dibawa ke Moscow dan diserahkan pada seorang antropolog bernama M.A. Kolodieva. 

Tengkorak Khwit

Perlu diketahui bahwa arkeolog Rusia yang bernama Dmitri Bayanov itulaha orang pertama yang mempublikasikan kisah Zana ini. Hominolog itu juga menuliskan sebuah buku berjudul "In The Footsteps of The Russian Snowman" yang kemudian membuat dunia mengetahui keberadaan Zana sekitar abad 19.

Dmitri Bayanov

Zana bisa dikatakan sebagai salah satu kisah cryptozoology paling misterius, terutama terkait dengan asal usulnya. Beberapa teori menyatakan bahwa Zana adalah salah satu dari jenis Alma, yaitu Bigfoot dari Rusia. 

Sementara itu seorang Profesor dari Moscow Academy of Sciences bernama Boris Porchnev mengemukakan bahwa Zana sebenarnya adalah sisa dari genus Homo zaman plaistosen yang telah punah yang berhasil bertahan hidup di pegunungan Rusia.

Saat ini keturunan Zana telah berasimilasi dan menikah dengan manusia normal dan memiliki keluarga mereka masing-masing dan sekarang banyak tersebar dan menghuni wilayah Abkhazia. Tak menutup kemungkinan pula bahwa keturunan Zana saat ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia.


0 Response to "Kisah Zana dari T'khina"

Post a Comment