Fenomena Peti Mati yang Bisa Pindah Sendiri di Chase Vault




Sebuah buku berjudul Transatlantic Sketches yang terbit tahun 1833 mengisahkan sebuah fenomena aneh. Di sebuah wilayah di Kepulauan Barbados bagian selatan menyimpan sebuah kisah misterius dan ganjil mengenai sebuah makam keluarga. Di dalam makam yang bernama Chase Vault tersebut peti-peti mati dapat berpindah dengan sendirinya...

Kisah mengenai fenomena peti-peti mati yang bisa berpindah tempat secara misterius ini terjadi di Distrik Christ Church, dekat Kota Oistins, Ujung Selatan Pulau Barbados, Kepulauan Karibia, Samudera Atlantik.

Terdapat satu keluarga petani tebu yang kaya raya bernama keluarga Walronds. Keluarga ini membeli sebidang tanah untuk membangun area pemakaman. Salah satu anggota keluarga bernama James Elliot kemudian membangun makam keluarga yang berada di bawah tanah. Ruangan itu cukup besar untuk menampung banyak peti mati di dalamnya dengan pintu makam yang dibuat dengan marmer kualitas terbaik dan sangat berat. Butuh 7 orang untuk membukanya saja.

Jadi setiap kali ada orang yang meninggal, maka jasadnya akan dimasukkan ke dalam peti. Selanjutnya peti itu akan diletakkan di dalam makam. Seelah seluruh prosesi usai, selanjutnya pintu makam akan ditutup dan disemen. Ketika ada pemakaman lain, maka pintu makam itu akan dibuka dengan membongkar semen sebelumnya. Begitu seterusnya.

Walaupun James Elliot yang membagun makam itu, namun ia sendiri tak pernah dimakamkan di sana. Satu-satunya keluarga Walronds yang dimakamkan di sana adalah seorang wanita bernama Mrs. Thomasina Goddard yang meninggal pada 31 Juli 1807. Jasad Mrs.Goddard diletakkan di dalam peti mati yang terbuat dari kayu.

Setahun kemudian tahun 1808, makam itu dibeli dan berpindah kepemilikan pada Keluarga Chase. Nama makam itu pun menjadi Chase Vault yang berarti makam keluarga Chase. Keluarga Chase dikenal sebagai keluarga terpandang dan kaya raya. Namun tersiar kabar bahwa kepala keluarga Chase yang bernama Thomas Chase adalah orang yang dibenci di Barbados. Ia disebut-sebut seringkali memperlakukan budak-budaknya dengan cara yang sangat kejam.

Tak lama setelah pembelian makam itu, putri bungsu Thomas Chase yang baru berusia 2 tahun bernama Mary Ann meninggal dunia. Jenazahnya kemudian ditempatkan dalam sebuah peti mati yang terbuat dari timah, lalu dibawa ke Chase Vault dan diletakkan persis di sebelah peti mati Mrs. Goddard.

Perlu diketahui bahwa peti mati yang terbuat dari timah itu memiliki berat berkali-kali lipat dibandingkan peti mati yang terbuat dari kayu. Untuk membawanya saja dibutuhkan tenaga 6-7 orang pria dewasa. 

Setelah prosesi pemakaman usai, pintu mati itu kemudian ditutup kembali dan disemen.

Bagian dalam Chase Vault

Tanggal 6 Juli 1812, sekitar 5 tahun setelah pemakaman Mary Ann, anak Thomas Chase yang lainnya yang bernama Dorcas Chase. Dorcas diketahui meninggal dunia karena berhenti makan karena depresi dan sebagai bentuk protes kepada sang ayah.

Seperti saudaranya yang lebih dulu meninggal, Mary Ann, jasad Dorcas juga dimasukkan ke dalam peti mai berbahan timah dan diletakkan di Chase Vault. Bagian semen yang menutupi pintu makam dikikis terlebih dahulu. Peti mati Dorcas bersebelahan dengan Mary Ann dan Mrs. Goddard. Setelah proses pemakaman usai tempat itu ditutup kembali dan disemen.

Hanya berselang beberapa minggu setelah kematian putranya, Thomas Chase meninggal dunia. Ia meninggal dengan cara bunuh diri kemungkinan karena depresi berkepanjangan setelah kematian putranya. Seperti dua orang anaknya, jasad Thomas Case dimasukkan ke dalam peti mati timah seberat 108 kg, kemudian dibawa ke Chase Vault. Butuh hingga 7 orang lelaki dewasa untuk membawa peti mati yang sangat berat tersebut.

Hari itu adalah hari di mana misteri peti mati tyang berpindah di makam Chase Vault dimulai.

Ketika makam dibuka dan peti mati Thomas Chase akan dimasukkan, petugas pemakaman dan keluarga Chase sangat terkejut mendapati peti mati yang ada di dalam makam tersebut sudah tidak berada di posisinya. Peti mati Marry Ann bergeser ke bagian sudut ruangan. Keluarga besar Chase marah besar saat itu. Mereka mengira ada seseorang yang telah menjarah makam, namun ketika diperiksa tidak ada satu pun yang hilang.

Mereka kemudian berpikir untuk melupakan kejadian itu. Segera setelah memperbaiki kembali posisi peti Mary Ann, mereka menutup kembali makam itu dan menyemennya.

Satu-satunya pintu tempat keluar masuk di Chase Vault

Empat tahun kemudian makam tersebut kembali dibuka. Salah seorang anggota keluarga bernama Charles Brewster Ames yang baru berusia 11 tahun meninggal dunia. Seperti jasad semua keluarga Chase yang lainnya, Charles ditemptkan di dalam sebuah peti mati timah. Namun saat makam tersebut dibuka, kejadian empat tahun silam terjadi lagi!

Semua peti-peti mati yang berada di makam tersebut berpindah tempat kecuali satu peti yang masih tetap berada di posisinya semula yaitu peti jenazah Mrs. Goddard. Tidak mau ribut-ribut akhirnya keluarga memutuskan untuk kembali meletakkan peti-peti itu ditempatnya semula dan kembali menutup Chase Vault.

Hanya berselang beberapa hari setelah pemakaman Charles, tanggal 17 November 1816 makam Chase Vault kembali dibuka. Samuel Brewster Ames meninggal dunia dan hendak dimakamkan di sana. Jenazahnya juga dimasukkan ke dalam peti mati timah. Petugas pemakaman kemudian kembali membuka makam Chase Vault, dan kalian pasti bisa menebak apa yang erjadi kemudian.

Ya! Peti-peti mati di dalam makam tersebut semuanya telah berindah tempat dan berantakan kecuali peti mati Mrs. Goddard yang terbuat dari kayu. Peti mati Mrs. Goddard tetap berada di tempatnya seperti awal dimakamkan. Kembali petugas-petugas dikerahkan untuk mengangkat 5 peti mati yang berantakan tersebut. Dan makam pun kembali ditutup.

Tanggal 17 Juli 1819, Thomasina Clark meninggal dunia. Tidak seperti keluarga Chase yang lainnya, peti mati Clark terbuat dari kayu. Saat akan dimasukkan ke Chase Vault pemandangan yang sama kembali terulang bahkan hingga 4 kali!

Ilustrasi peti-peti di Chase Vault yang berpindah sendiri

Lord Combermere yang merupakan Gubernur Barbados saat itu juga ternyata hadir pada pemakaman Thomasina Clark. Ia yang mengetahui kejadian aneh ini kemudian segera memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan pada seluruh sudut di Chase Vault tersebut. Kalau-kalau ada semacam jalan rahasia di dalamnya. Tetapi penyelidikan itu sia-sia. Tak ditemukan hal semacam itu di sana. Makam itu tertutup rapat. Satu-satunya jalan keluar masuk hanyalah pintu depan yang setiap kali pemakaman usai akan disemen kembali.

Karena begitu penasaran dengan kasus aneh ini, Lord Combermere kemudian memerintahkan untuk meletakkan pasir di sepanjang lorong-lorong makam tersebut. Bila memang ada seseorang yang masuk ke sana, maka jejak kakinya pasti akan segera terlacak. Tak lupa sebelumnya peti mati Mrs. Goddard yang terbuat dari kayu diikat dengan tali karena peti itu sudah sangat rapuh. Setelah itu pintu makam kembali ditutup bahkan dengan tambahan segel dari pemerintah.

Hari itu tanggal 18 April 1820, atas permintaan Lord Combermere, Chase Vault kembali dibuka. Tujuannya tak lain adalah untuk memeriksa kiranya ada jejak kaki atau semacamnya yang bisa dilacak.

Setelah semen di bagian pintu dikikis, para petugas pemakaman segera memeriksa ke dalam makam. Dan sekali lagi, peti-peti itu berantakan! Namun yang paling aneh adalah tidak ada satu pun jejak kaki atau sebagainya yang mengindikasikan bahwa kejadian tersebut adalah ulah manusia. Tempat itu bersih, kecuali peti-peti keluarga Chase yang sudah tidak berada di posisinya.

Ilustrasi peti-peti mati di Chase Vault yang berpindah

Fenomena aneh ini kemudian menimbulkan teori-teori yang mencoba menjawab bagaimana bisa peti-peti mati tersebut berpindah dengan sendirinya.

Sebuah teori mengatakan kalau pei-peti mati tersebut berpindah karena banjir yang kemudian membuat genangan air di dalam makam Genangan inilah yang kemudian membuat peti-pei tersebut berpindah. Meskipun sepertinya masuk akal, namun teori ini tidak dapat menjawab mengapa peti Mrs. Goddard tetap berada di posisinya dan lagi pula tidak ada bencana banjir besar di wilayah itu.

Teori lainnya mengatakan bahwa peti-peti mati itu berpindah tempat disebabkan karena peristiwa gempa bumi. Namun lagi-lagi teori ini tidak kuat mengingat tidak ada peristiwa gempa bumi yang terjadi di Barbados dalam kurun waktu peti-peti tersebut dimasukkan ke Chase Vault.

Lalu bagaimana peti-peti tersebut dapat berpindah? Mungkinkah ada pihak yang tidak suka dengan keluarga Chase mengingat keluarga ini memang memiliki reputasi yang kurang baik di Barbados. Tak lama setelah itu peti-peti mati di Chase Vault dikabarkan dipindahkan dan jasad-jasad itu dimakamkan di tempat lain. Makam Chase Vault setelah itu dibiarkan kosong.


Penelusuran Kisah Chase Vault

Sir James Edward Alexander adalah orang yang pertama kali mempublikasikan kisah mengenai peti-peti yang berpindah sendiri ini di salah satu bukunya yang berjudul "Transatlantic Chases". Buku itu pertama kali terbit pada tahun 1833.

Sir James Edward Alexander

Pada tahun 1907, seorang peneliti kisah-kisah rakyat yang berasal dari Inggris bernama Andrew Lang melakukan investigasi pada kebenaran kisah yang terjadi pada abad 19 ini. Dalam penelitiannya, Lang tidak dapat menemukan catatan ataupun berita dari surat kabar lokal mengenai peristiwa ini. Peristiwa aneh yang bahkan sampai berkali-kali terjadi tidak mungkin tidak diberitakan.

Andrew Lang

Satu-satunya yang didapat Lang adalah sebuah catatan yang tak terpublikasi karya Nathan Lucas. Menurut catatannya tersebut, dirinya merupakan saksi mata saat peristiwa tahun 1820 terjadi yaitu saat makam dibuka untuk terakhir kalinya. Lalu apakah catatan ini dapat dipercaya?

Tahun 1982, seorang penulis bernama Joe Nickell mengemukakan pendapatnya lewat bukunya "Barbados Restless Coffins Laid to Rest". Menurutnya kisah peti mati yang dapat berpindah di Chase Vault hanyalah cerita rekaan. Dan yang lebih mengejutkannya lagi menurutnya Nathan Lucas adalah satu di antara orang-orang yang ikut serta dalam pembuatan kisah itu dan mempopulerkannya.

Joe Nickell

Di antara semua teori, tampaknya teori yang dikemukakan oleh Nickell ini adalah yang paling masuk akal dan dapat diterima. Namun tahukah kalian bahwa fenomena misterius semacam ini juga terjadi di belahan bumi yang lain yaitu di pemakaman Lutherian di Pulau Oesel, Laut Baltik dan juga di Stantan, Suffolk. Keduanya sama-sama terjadi pada abad ke 19, dan sama-sama misterius dan tak terpecahkan.

Bagaimana menurut kalian?

Referensi : Enigmablogger


0 Response to "Fenomena Peti Mati yang Bisa Pindah Sendiri di Chase Vault"

Posting Komentar