Misteri Gulungan Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls)





Pada pertengahan abad ke 20 dunia digemparkan dengan penemuan gulungan naskah manuskrip kuno di wilayah Laut Mati. Gulungan naskah yang ditemukan di dalam guci tembikar dan ditulis dengan tinta karbon ini kemudian dikenal dengan sebutan Gulungan Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls).

Pada tahun 1946 dan 1956 ditemukan 981 naskah kuno ini ditemukan di 11 gua yang terdapat di sekitar pemukiman kuno di wilayah Qumran, Murabba'at, Khirbat, Mrd, Ein Jeda, dan Masada (sebelah pantai barat Laut Mati). Manuskrip yang ditemukan penggembala Badawi dan para arkeolog ini terdapat di dalam guci berbentuk gulungan papirus, lempengan tembaga, dan kulit binatang yang tertulis dalam bahasa Yunani, Ibrani, dan Aramaik.

Gua Qumran, tempat ditemukannya Naskah Laut Mati

Manuskrip ini awalnya ditemukan bada November 1946 oleh penggembala yang sedang berteduh di gua. Awalnya mereka mengira mereka menemukan harta karun, namun ternyata itu adalah tujuh buah gulungan naskah di dalam guci-guci tembikar. Naskah itu ditulis dengan menggunakan tinta karbon dengan formasi tulisan dari kanan ke kiri serta menggunakan tanda baca.

Guci-guci tembikar yang menjadi tempat penyimpanan naskah memiliki beragam ukuran tertentu dan juga bentuk yang unik. Dengan permukaan dan dasar guci yang datar, guci tembikar berbentuk bundar dengan tinggi sekitar 0,5 m. Benda seperti ini diketahui biasanya digunakan oleh orang-orang Mesir pada abad ke 2 SM. Hal ini membuktikan bahwa tempat penyimpanan naskah ini diambil dari tradisi orang-orang Mesir kuno, khususnya pada masa Ramses III (sekitar abad ke 2 SM)

Sampai saat ini naskah atau manuskrip yang berhasil ditemukan sumuanya berjumlah 972 teks dengan fragmen. Meliputi sekitar 30% berupa potongan dari kitab suci Ibrani dan sekitar 25% merupakan naskah keagamaan dari Yahudi Orthodoks yang tidak ada dalam Kitab Suci Ibrani yang. Sementara itu, sekitar 30% naskah mengandung tafsiran dari Al-Kitab serta berbagai teks-teks lainnya, seperti aturan yang terkait peperangan (war scrolls) dan aturan  disiplin (the community rule) serta yang terkait dengan peraturan, kepercayaan, dan tuntutan keanggotaan sebuah sekte Yahudi (Essenes). Sementara itu sisanya sekitar 15% lagi belum dapat teridentifikasi higga sekarang.

Salah satu naskah the dead sea scrolls

Berikut ini adalah nama-nama kitab dan jumlah manuskrip yang telah ditemukan berikut dengan jumlahnya masing-masing: Mazmur (39), Ulangan (33), Henokh (25), Kejadian (24), Yesaya (22), Yobel (21), Keluaran (18), Imamat (17), Bilangan (11), Nabi-nabi Kecil (10), Daniel (8), Yeremia (6), Yehezkiel (6), Ayub (6), dan Samuel (4).

Manuskrip dan naskah-naskah ini kemudian menjadi penting dan sangat berharga karena sebagian besar berisi Perjanjian Lama aau Al-Kitab Ibrani. Manuskrip ini juga sekaligus merupakan satu-satunya dokumen Al-Kitab tertua yang ada sebelum abad 2 SM. Sebelumnya, standardisasi Al-Kitab agama Yahudi dan Kristiani berasal dari tahun 10 M, seperti misalnya Aleppo Codex dan Perjanjian Lama berbahasa Yunani, yaitu Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus Graecucus.

Dengan ditemukannya gulungan naskah kuno ini bisa dijadikan bahan pembanding dengan naskah-naskah Al-Kitab yang sudah lebih dulu ditemukan untuk melihat kembali teori penyusunan teks Al-Kitab modern. Selain iu pula rupanya telah diperoleh keterangan-keterangan yang sebelumnya tidak ada mengenai praktik-praktik dalam Yudaisme.

Saat ini naskah dan manuskrip-manuskrip The Dead Sea Scrolls ini tersimpan rapi di Museum Israel dan sebagian lagi berada di Museum Arkeologi Yordania. Kini lima gulungan The Dead Sea Scrolls bisa dilihat melalui website-website resmi, di antaranya The War Scroll, The Commentary on Habakkuk Scroll, The Great Isaiah Scroll, The Community Rule Scroll, dan The Temple Scroll.

Referensi : 50 Misteri Dunia Menurut Al-Quran


0 Response to "Misteri Gulungan Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls)"

Post a Comment