Fenomena "Sihir" Harry Potter




Pada Maret 2000, media dunia diramaikan oleh pemberitaan pelarangan novel Harry Potter oleh Carol Rookwood, Kepala Sekolah Gereja St. Mary's Island di Catham, Kent, Inggris, untuk dibaca murid-murid sekolah tersebut. BBC melaporkan, alasan pelarangan itu karena novel-novel yang ditulis J.K. Rowling bertentangan dengan isi Al-Kitab. Rookwood menambahkan penggambaran Harry Potter dan teman-temannya sebagai penyihir yang baik sangat bertentangan dengan Al-Kitab yang mengajarkan bahwa tukang sihir, setan, dan iblis, semuanya jahat..

Pelarangan itu akhirnya ditanggapi oleh sang penulis J.K. Rowling. Rowling mengatakan bahwa novel yang ia tulis merupakan buku yang sangat bermoral dan menggambarkan perjuangan kebaikan melawan kejahatan.

Pelarangan novel Harry Potter oleh pihak gereja sebenarnya tidak berbeda dengan pandangan Islam tentang sihir. Seperti pada tulisan sebelumnya, Islam dengan tegas melarang sihir, baik mempelajarinya apalagi menggunakannya. Jadi tidak ada istilah "sihir baik" (white magic) dan "sihir jahat" (black magic) seperti ungkapan pengarangnya. Bahkan kepopuleran novel Harry Potter bisa menjadi hal yang berbahaya karena dengan terang-terangan mengajarkan sihir dan beberapa ritual penyembahan setan (okultisme).

Rizki Ridyasmara, seorang penulis dan pemerhati masalah konspirasi, membongkar sisi gelap novel Harry Potter dalam beberapa artikelnya di media online eramuslim. Ia menemukan banyak hal berbau "ritual okultisme purba" dan ia sepakat untuk memberi nama lain novel Harry Potter yaitu Handbook of Magic. Beberapa hal yang ia temukan dalam novel tersebut antara lain:

  • Nama dan istilah dalam okultisme, seperti Black Cat, Burung Hantu (The Owl), Jubah Hitam, Bolt of Lightning, Ular, Mirror of Erised, dll.
  • Adanya simbol-simbol paganisme seperti Celtics, Druids, bahkan Kabbalah.
  • Nama-nama pemeran yang berbau paganisme dan Kabbalah seperti Albus Dumbledore (Illuminati), Minerva McGonagall (Dewi Kebijaksanaan), Draco Malfoy (Kepercayaan Kepada Setan), Lucius Malfoy (Lucifer, Sang Cahaya), Cassandra Vablastky (Vablastky = Blavastky, pendiri Theosofi Internasional), dll.

Melihat begitu fasihnya J.K. Rowling menulis banyak hal tentang okultisme dan paganisme di dalam serial Harry Potter, tentu timbul pertanyaan, apakah buku itu ditulis seorang ibu rumah tangga biasa tanpa ada niat atau tendensi apa pun dalam penulisannya? Dalam tulisan berikutnya, Rizki Ridyasmara melanjutkan, untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengetahui latar belakang kehidupan sang penulis yang akhirnya membentuk paradigma berpikir seorang J.K. Rowling.

J.K. Rowling

Dari hasil penelitiannya, Rizki Ridyasmara menyimpulkan bahwa ada dua hal yang menjadi kemungkinan terbentuknya pola pikir J.K. Rowling, terutama ketika dia mengambil bahan-bahan untuk serial Harry Potter.

Pertama adalah kota Edinburg, kota di mana J.K. Rowling pernah tinggal selama bertahun-tahun. Kedua adalah University of Exeter tempat J.K. Rowling menyelesaikan kuliahnya. Kota Edinburg adalah kota di Skotlandia yang banyak menyimpan sejarah. Di sanalah para "pelarian" Ksatria Templar bersembunyi dan mendirikan suatu perkumpulan baru yang bernama Freemasonry. Di kota itu pula, perkumpulan yang sering mempraktekkan ritual okultis purba itu mendirikan Rosslyn Chapel. Kapel itu bukan kapel biasa. Kapel itu didedikasikan untuk leluhur masonik dan juga penghormatan kepada dewa-dewi. Maka tak heran banyak simbol paganisme dalam kapel itu. 

Dari akar sejarahnya tersebut, tidak heran orang-orang Freemason banyak meninggalkan jejak dan peninggalan di kota tua itu. Rizki Ridyasmara menyimpulkan, ada kemungkinan J.K. Rowling mendapat inspirasi dari kota yang sempat ditinggalinya itu.

Hal lain yang kemungkinan mempengaruhi J.K. Rowling adalah almamaternya, yaitu University of Exeter, Inggris. University of Exeter adalah universitas yang cukup "unik". Universitas ini memiliki program bergelar Master of Arts Western Esotericism (M.A. Western Esotericism). Bahkan moto universitas tersebut sangat kental dengan aroma okultis paganisme yaitu Lucem Sequimur yang berarti "Kami Mengikuti Cahaya". "Cahaya" tidak saja diartikan sebagai ilmu pengetahuan, tetapi bagi kaum penyembah berhala, "Cahaya" adalah nama lain "Lucifer".

University of Exeter

Dari beberapa fakta tersebut, suatu hal yang tidak aneh jika aroma okultis paganisme tersebar di banyak halaman dalam serial Harry Potter. Lalu mengenai pertanyaan kedua, apakah penulisan serial Harry Potter murni hanya sebatas hiburan atau ada maksud lain, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Wallahu 'Alam...

Referensi : 50 Misteri Dunia Menurut Al-Quran (Adrie Mesapati, Luki Andriansyah, Gemma A.)



0 Response to "Fenomena "Sihir" Harry Potter"

Post a Comment